Now Loading

Bab 46

Mogadishu, 2° 2′ 0″ N, 45° 20′ 0″ E
Pasar Mogadishu


Andalas langsung terbang ke Mogadishu begitu melihat kondisi Akiko telah jauh membaik. Setiap hari Hitoshi Nakamura menemani Akiko di rumah sakit. Hal ini membuat Andalas kikuk sehingga memutuskan sekali-sekali saja menjenguk Akiko. Itupun setelah Cecilia memberikan info ayah Akiko sedang kembali ke hotel atau pergi mengurus hal lain.

Kejadian beberapa tahun yang lampau sangat membekas bagi keduanya. Andalas nyaris menjatuhkan tangan maut kepada Hitoshi dan begitupun sebaliknya. Andalas nyaris mati di ujung pedang Hitoshi.

Semuanya berawal ketika Andalas menyelesaikan order Si Konsultan. Orang ke 5 yang dibunuh Andalas tak tahunya adalah sepupu Hitoshi. Begitu telah memastikan orang itu tewas, Andalas seketika dikepung sekelompok Yakuza pimpinan Hitoshi.

Terjadi pertarungan. Andalas berhasil menjatuhkan beberapa orang anak buah Hitoshi tapi dia sendiri terluka dalam pertarungan itu. Andalas melarikan diri dan dikejar oleh Hitoshi. Dalam pertarungan satu lawan satu di sebuah gang buntu di jalanan Nagoya, meskipun terluka, Andalas berhasil mengalahkan Hitoshi.

Tokoh Yakuza itu memohon agar Andalas menghabisinya. Karena bagi seorang Yakuza, kekalahan dalam pertarungan satu lawan satu itu sangat memalukan. Tapi Andalas mengampuninya karena merasa bahwa Hitoshi bukanlah sasarannya. Bukannya berterimakasih, Hitoshi memaki-maki Andalas sebagai pengecut sebab tidak menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Tak berselang lama. Hanya setahun kemudian. Andalas kembali terlibat bentrok dengan Hitoshi. Kali ini permasalahannya cukup sepele. Andalas membuat babak belur beberapa anak buah Hitoshi yang mengamuk di sebuah kedai sake milik sepasang orang tua di Kyoto. Andalas langsung diburu malam itu juga.

Kala itu Andalas berhasil dilumpuhkan. Saat Hitoshi datang, pimpinan Yakuza itu melepaskannya dan mengatakan bahwa dia sudah balik mempermalukan Andalas. Hitoshi juga mengingatkan bahwa pada pertemuan ketiga kalinya nanti, salah satu dari mereka harus mati.

Karena itulah pertemuan yang sama sekali tak diduga keduanya di rumah sakit tempat Akiko dirawat berlangsung panas. Andalas sama sekali tak menduga jika ayah Akiko adalah Hitoshi Nakamura. Orang yang menyebutnya sebagai musuh abadi.

Begitu juga Hitoshi. Bos Yakuza itu sama sekali tak mengira harus bertemu kembali dengan Andalas. Orang yang telah mempermalukan harga dirinya dengan teramat sangat, di kamar rawat putri yang sangat disayanginya. Apalagi dilihatnya Akiko sangat dekat dengan lelaki itu.

Begitulah akhirnya Andalas meninggalkan Helsinki menuju Afrika Timur untuk kembali berburu Sang Eksekutor. Akiko sudah bisa kembali beraktifitas dan memutuskan segera pergi ke Jenewa sehari setelah Hitoshi Nakamura kembali ke Jepang. Sebelum berpisah, Hitoshi Nakamura meninggalkan Wakizhasi untuk putrinya. Katanya Kaiken terlalu pendek untuk petarung sekelas Akiko.


Sampai di Mogadishu, Andalas tidak menuju hotel atau restoran untuk menelisik keberadaan Sang Eksekutor. Dia memilih pergi ke pasar Mogadishu yang ramai karena sebuah alasan.

Salah seorang kepercayaan Sang Eksekutor bernama Abdelahi adalah bos gerombolan bersenjata yang tangguh di Somalia. Berada di luar pemerintahan namun punya basis dukungan kuat dari parlemen Somalia sehingga sulit digoyahkan posisinya. Baik dari sisi militer maupun politik. Apalagi Abdelahi dipelihara oleh Organisasi sudah cukup lama.

Abdelahi cukup unik. Dia sangat suka belanja di pasar. Membeli buah-buahan, minuman, atau apapun di pasar. Pimpinan Malaa`ig Mogadishu yang berarti Malaikat Mogadishu itu adalah veteran perang. Sangat tangguh di segala medan. Bahkan di laut pun orang-orang Abdelahi sangat menguasai. Entah sudah berapa banyak mereka mendapatkan uang tebusan dari kapal-kapal yang disandera.

Karena itulah sekarang Andalas mengenakan pakaian khas Somalia dan berpura-pura sedang belanja. Dia bisa melihat dari jauh Abdelahi sedang memborong buah-buahan lokal dari pedagang yang kemudian diangkut ke dalam mobil-mobil bercorak militer yang diparkir sembarangan di jalanan.

Sebagian besar anak buah Abdelahi mengenakan tudung kepala dari kain hitam. Tentu maksudnya agar kelak tidak mudah dikenali dan diidentifikasi oleh para agen rahasia dari berbagai negara yang juga banyak berkeliaran di kota ini. Dan itu memang perintah dari Abdelahi.

Andalas berjalan agak cepat lalu mengendap saat melihat 2 orang anggota Abdelahi berjalan mendekati posisinya. Dia akan melumpuhkan satu orang yang posturnya kurang lebih sama dengan dirinya agar bisa menyamar dan berbaur di antara mereka.

Dua orang itu tidak menyadari sama sekali bahwa mereka sedang diikuti. Salah satunya masuk ke dalam toilet setelah menyumpahi pedagang yang menghalangi jalanan. Temannya menunggu di luar sambil merokok.

Saat itulah Andalas bergerak dan bertindak cepat. Orang itu pingsan dan segera diseret oleh Andalas ke toilet kosong. Setelah berganti baju luar orang yang sedang sial itu, Andalas keluar bersiul-siul sambil terus-terusan menghisap rokok. Namun sebelumnya dia menyuntikkan 1 dosis kecil obat bius yang akan membuat orang itu pingsan selama beberapa jam. Andalas juga merusak kunci dan memasang tanda toilet rusak yang kebetulan ada pada pintu toilet di sebelahnya.

Temannya yang sudah keluar lebih dahulu dari toilet heran dengan Andalas yang terlihat lebih tinggi ukuran tubuhnya. Shit! Aku lupa mengganti sepatuku. Andalas merutuk dalam hati. Untunglah orang itu tidak memperdulikan lebih lanjut karena Andalas mengajaknya pergi sambil menawari rokok.

Andalas mengedipkan matanya sambil meletakkan beberapa lembar uang di depan pedagang yang tadi menjadi saksi saat dia melumpuhkan anak buah Abdelahi. Pedagang itu hanya bengong tapi kemudian tersenyum lebar dan mengacungkan jempolnya.

Tiba-tiba saja terdengar tembakan gencar dari arah luar pasar. Diikuti sebuah ledakan besar yang menjungkir balikkan salah satu mobil rombongan Abdelahi. Terdengar teriakan-teriakan dari anak buah Abdelahi.

Shaydaan Mogadishu! Shaydaan Mogadishu! Yang berarti Iblis Mogadishu.

Andalas paham. Terjadi saling menyerang antara 2 organisasi kriminal terbesar di Mogadishu. Keduanya memang sudah bersaing sejak lama. Meskipun sebetulnya jarang terjadi bentrokan di antara mereka. Bahkan mereka sering bekerjasama ketika membajak kapal-kapal yang melintasi lautan Somalia.

Memang pernah terjadi beberapa kali bentrok kecil-kecilan yang bermula dari masalah sepele. Namun entah kenapa hari ini Iblis Mogadishu sampai harus meledakkan mobil segala.

Andalas ikut berlari keluar pasar sambil sesekali berlindung di balik bangunan. Menghindar dari tembakan beruntun yang dilepaskan oleh anggota Shaydaan Mogadishu.

Andalas melihat Abdelahi merunduk di samping pos di perempatan jalan. Tidak jauh darinya. Andalas membidik. Seorang anggota Shaydaan terkapar tepat di belakang Abdelahi. Pemimpin Malaa`ig Mogadishu itu mengacungkan jempol dan memberi isyarat Andalas agar mendekat.

Andalas merunduk agar tidak terkena tembakan ngawur Shaydaan yang makin gencar. Begitu sampai di samping Abdelahi, pemimpin Malaa`ig itu mengatakan kepadanya bahwa sebuah mobil akan menjemputnya. Andalas disuruh melompat ke belakang dan berjaga-jaga dari serangan. Abdelahi bergerak mendekati jalan dengan mengendap-endap. Andalas mengikuti dari belakang.

Terdengar rem mobil berdecit-decit saat sebuah pick up dengan senapan mesin di bagian belakang berhenti tepat di samping Abdelahi. Pemimpin Malaa`ig itu masuk dengan tergesa-gesa ke jok depan mobil. Andalas mengikutinya dengan melompat di bak belakang.

Rupanya penembak yang seharusnya memegang senapan mesin ini telah tewas. Mayatnya tergeletak di bak mobil dengan banyak luka tembak di tubuhnya. Andalas menggantikan posisinya.

Berbarengan dengan melesatnya mobil menembus jalanan yang masih hingar bingar dengan saling jual beli tembakan, Andalas mengokang senapan mesin itu ke seberang jalan. Rentetan tembakan dari moncong M2 Browning itu rupanya membuat kecut lawan. Tembakan dari seberang jalan berhenti sejenak.

Ini membuat mobil pick up militer itu bisa melaju dengan cepat meninggalkan jalanan pasar Mogadishu yang hiruk pikuk dengan tembakan dan teriakan. Andalas terus menghamburkan peluru kaliber besar senapan mesin ke udara. Dia hanya ingin membuat takut orang yang berniat mengejar.

Jangan sampai Abdelahi celaka. Dia membutuhkannya untuk membuka pintu persembunyian Sang Eksekutor.

* * * * ******