Now Loading

Laila oh Laila

Bulan Mei 1998 baru saja usai dan Juni mulai menjelang. Perubahan politik sangat cepat terjadi di tanah air. Presiden Suharto akhirnya lengser keprabon setelah berkuasa sekitar 32 tahun.  Namun kesedihan masih menggelayut di Singapura.

Sudah hampir dua minggu sejak raibnya Keris Brunei dan Laila pun sudah tidak ada kabar beritanya. Bahkan dalam mimpi pun dia sudah tidak hadir lagi.  Bukan hanya Laila, Muthiah pun hilang lenyap karena dia tidak pernah lagi membalas SMS yang saya kirimkan.

Sore itu, karena ingin tahu perkembangan yang terjadi dengan Laila, saya mencoba mampir ke Kandahar Street. Siapa tahu ada berita dari Auntie Hamidah.

Suasana resto agak sepi sore itu. Hanya ada satu meja yang terisi. Saya masuk dan segera duduk di pojok sehingga bisa memperhatikan siapa saja yang keluar masuk.  Auntie Hamidah lagi tidak terlihat sehingga saya memesan roti canai dan teh tarik lebih dahulu.

Sekitar 10 menit menunggu, barulah Auntie Hamidah terlihat turun dari lantai atas. Melihat saya ada duduk di pojok, Auntie Hamidah segera menghampiri dan kemudian memberi salam serta langsung menghujani aku dengan banyak pertanyaan.

“Asep, apa kabar?”

“Saya baik-baik saja. Tapi saya ingin tahu kabarnya Laila,” tidak sengaja saya bertanya.

“Dik Zai juga. Apa kabarnya?”

“Bang Zai baik-baik saja. Apa dia tidak pernah mampir ke sini?” Saya balik bertanya.

Auntie Hamidah kemudian bercerita bahwa Bang Zai banyak berubah sejak kepulangannya ke Jakarta. Mungkin dia takut dengan Dita, istrinya.

Kami berdua akhirnya banyak bercerita tentang hal lain karena Auntie Hamidah juga tidak mendengar kabar tentang Laila semenjak diajak atau dipaksa pulang ke Brunei oleh Muallif.

Selagi kami berdua asyik berbincang-bincang, tiba-tiba sepasang lelaki dan perempuan masuk ke restoran.  Rupanya Si Bad, lelaki yang dulu kami kenal di masjid Gadong. Dia datang dengan perempuan yang rupanya bernama Meilani, teman Dita.

Bad dan Meilani mengambil tempat duduk di meja yang tidak jauh dari tempat duduk kami. Tidak lama kemudian dia menghampiri Auntie Hamidah dan menyerah sebuah amplop coklat

Bad juga minta maaf karena sebenarnya kemarin sempat mampir ke Kandahar Street ini ketika baru datang dari Brunei namun lupa membawa amplop yang merupakan titipan ayah Laila.  Ternyata Si Bad juga masih kenalan dengan ayah Laila  yang merupakan abang Auntie Hamidah.

Auntie Hamidah segera membuka isi amplop dan sebuah surat  Jemputan alias Undangan ada di dalamnya.  Auntie sempat kaget membacanya dan kemudian menyuruh saya membaca sendiri Kad Jemputan alias Surat Undangan tersebut.

Isinya membuat Saya terdiam terpaku. Laila akan menikah dengan Muallif pada hari Minggu, 14 Juni 1998.  Pesta pernikahan sendiri akan dibuat secara sederhana karena hanya mengundang keluarga dekat.

Auntie Hamidah langsung menghiburku dengan kata-kata bahwa barangkali saya memang belum berjodoh dengan Laila. Saya mencoba tegar walau hati terasa sakit seperti tersayat sembilu.

Segera saya minta diri dari Kandahar Street. Sempat tersenyum kepada Si Bad dan Meilani. Dengan langkah lunglai saya berjalan menuju ke Stasiun MTR Bugis.

Namun, baru jalan beberapa langkah, terdengar Si Bad memanggil-manggil dan kemudian mengejar.  Dia memberikan sebuah amplop kecil yang merupakan surat titipan dari Laila. 

Apa isi surat ini? Mungkinkah ucapan selamat tinggal dan himbauan agar melupakan Laila?

Laila oh Laila, Engkau memang mungkin bukan jodohku. Apakah Saya masih harus memperjuangkan cinta ini?

Bersambung