Now Loading

Bab 45

Helsinki, 60° 10′ 15″ N, 24° 56′ 15″ E
Haartman Hospital


Cecilia terpaku bingung. Senang melihat Akiko nampak sangat bergembira dengan kedatangannya ayahnya. Tapi juga kaget melihat ekspresi Andalas yang mengejutkan.

"Andalas!” Hitoshi Nakamura berseru lirih namun tak kalah garang. Tangannya meraba pinggang. Sebilah Wakizhasi ada di sana.

Andalas tak mau kalah. Tangannya juga masuk dalam saku jaketnya. Sebilah Mandau pendek juga ada di sana.

"Heiiii! Kalian kenapa?” Akiko sekarang yang berteriak kebingungan. Ayahnya dan Andalas telah saling mengenal? Sepertinya iya. Dan itu sebuah perkenalan yang kasar nampaknya.

Hitoshi menghela nafas panjang lalu mendekati putrinya. Akiko memeluk ayahnya yang datang mendekat dengan erat. Sudah lama sekali dia tidak bertemu ayahnya semenjak memulai perjalanan dengan Hantaa 01 beberapa bulan yang lalu.

Hitoshi membalas pelukan putri satu-satunya itu lalu memeriksa bahunya yang terluka. Mengeluarkan botol berisi obat-obatan tradisional kuno dari Jepang. Menumpahkan 2 butir dan menyerahkan kepada Akiko berikut segelas air. Semua dilakukan dalam diam. Sambil sesekali melirik Andalas dengan waspada.

Andalas mundur menjaga jarak dengan Hitoshi. Wajahnya yang sedingin es tak bisa ditebak. Tapi gesturnya menunjukkan lelaki itu juga memasang sikap waspada.

Akiko duduk dan menatapnya ayahnya dengan wajah gembira.

"Ayah tahu darimana aku di rumah sakit?”

Hitoshi kembali melirik ke arah Andalas.

"Ayah akan membawamu pulang ke Jepang. Kalau melihat keadaanmu, besok kita bisa berangkat.” Akiko mendadak kaku.

"Tidak ayah! Masih ada hal yang harus kuselesaikan bersama Cecilia dan Andalas.”

Wajah Hitoshi Nakamura mengeras begitu nama Andalas disebut. Putrinya ini dari dulu sangat keras kepala. Dia sama sekali tidak akan bisa memaksanya.

"Ayah tak keberatan kau bersama gaijin yang ini. Tapi dengan dia….?” Hitoshi menatap Cecilia dan menganggukkan kepala tapi menghindari beradu pandang dengan Andalas. Suasana kembali memanas.

Akiko mengerutkan keningnya. Perkenalan ayahnya dan Andalas nampaknya bukan sekedar kasar. Tapi bisa jadi telah disertai kekerasan. Mengingat latar belakang keduanya.

"Ayah, aku sedang menyelesaikan misi bersama Cecilia dan Andalas. Aku tidak melihat mereka gaijin atau tidak, karena hanya dengan merekalah misi ini akan bisa diselesaikan. Kami memulainya bersama. Kami juga akan mengakhirinya bersama-sama.”

Hitoshi Nakamura menatap mata putrinya dengan penuh kasih sayang. Benar-benar keras kepala!

"Kau boleh melanjutkan putriku. Tapi lain kali kau harus sangat hati-hati. Perempuan pelempar bom itu termasuk dalam jaringan teroris One World Consortium. Teroris global yang menginginkan tatanan baru di dunia.”

Akiko, Cecilia, dan bahkan Andalas tersentak kaget. One World Consortium? Apa lagi itu?

Seperti tahu apa yang ada dalam pikiran ketiga orang itu, Hitoshi Nakamura menjelaskan.

"Mereka baru beberapa hari yang lalu mendeklarasikan diri. Konsorsium ini terdiri dari berbagai organisasi teroris di seluruh dunia. Kecuali beberapa yang tidak mau bergabung seperti Chechen, IRA, dan Taliban.”

Andalas mencatat semua dalam hati. Ini informasi baru. One World Consortium? Dia tak bisa membayangkan betapa dahsyatnya kekuatan organisasi baru ini. Untunglah 3 yang disebutkan tadi tidak ikut bergabung.

"Ayah tahu kenapa mereka menyerang kami? Tindakan mereka cukup nekat! Mereka melempar bom di bandara!” Akiko meringis. Merasa bodoh dan kurang waspada.

Hitoshi Nakamura menggenggam tangan putrinya.

"Ayah tidak tahu alasan mereka. Mungkin ada sesuatu yang diincar dari kalian. Senjata, narkoba, atau apa begitu? Jangan khawatir Akiko. Beberapa orang anak buah Ayah sedang mengejar Helda. Tidak ada seorangpun yang boleh melukai anak Hitoshi Nakamura!”

Tokoh besar Yakuza itu mengepalkan tangan sambil melirik Andalas. Suara dari ancaman itu terdengar dingin mengiris-iris. Cecilia yang mendengar merasa cukup gentar. Sedangkan Andalas tetap dengan raut muka dinginnya. Meski dia tahu ucapan itu juga ditujukan terhadap dirinya.

"Baiklah putriku. Ayah tidak akan mungkin bisa memaksamu pulang ke Jepang. Tapi bisakah Ayah meminta Isamu untuk selalu mengawalmu?”

Akiko langsung menggelengkan kepala. Isamu adalah anak buah ayahnya yang paling tangguh dan terpercaya. Isamu selalu menjaga ayahnya di manapun berada. Akiko yakin Isamu sekarang ada di balik pintu kamar.

Hitoshi Nakamura tahu persis apa jawaban putrinya. Dia hanya mencoba tadi.

"Tuan Nakamura, apakah tuan ada hubungan dengan Organisasi?” Cecilia bertanya dengan suara lirih.

Hitoshi Nakamura membelalakkan matanya yang sipit. Dia tidak suka pertanyaan ini tapi mau tak mau harus menjawab.

"Dulu iya. Sekarang tidak.”

Cecilia dan terutama Andalas mengerutkan kening. Mungkinkah dedengkot Yakuza ini berbohong karena ada putrinya? Cecilia tidak melanjutkan pertanyaannya karena kasihan kepada Akiko. Andalas juga tidak mau. Dia bisa mencari sendiri jawabannya.

Akiko memberi tanda kepada Andalas dan Cecilia agar keluar ruangan.

Keduanya beranjak, membuka pintu, dan menyusuri selasar rumah sakit sampai bagian resepsionis ruang rawat ini. Tentu Andalas tidak mau melepaskan pandangan dari pintu kamar Akiko. Di lorong tidak jauh dari pintu, mereka melihat 2 orang Jepang bertubuh tinggi berdiri tegap menunggu. Hmm, pengawal Hitoshi Nakamura. Andalas mengenali salah satunya sebagai Isamu. Tapi Isamu tidak mengenalinya.

"Ayah benarkah? Benarkah ayah tidak ada hubungan dengan Organisasi?” Akiko menatap tajam mata ayahnya.

Hitoshi Nakamura lagi-lagi mengambil nafas panjang. Menghadapi putrinya ini memang sangat rumit.

"Iya untuk menggagalkan misi Dokter Adli Aslan. Tapi tentu tidak untuk menghalangimu.”

Hitoshi Nakamura menjawab dengan lebih rumit.

* * * * *****