Now Loading

Awda dan Uang Tunjuk

 Desember 1997

Ketika  Indonesia dan Asia Tenggara menjelang krisis ekonomi dimana banyak bisnis berjatuhan dan nilai tukar rupiah yang mulai tidak stabil, tiba-tiba saya dan beberapa teman mendapatkan tugas untuk berangkat ke Brunei. Tugas pertama adalah dalam waktu dua minggu mulai pertengahan hingga akhir Desember 1997.

Ini adalah perjalanan saya yang pertama bersama 3 orang teman sejawat yaitu Azwar, Zainuddin yang biasa kita panggil Bang Zai, dan Eko ke Negara Brunei Darussalam. Dan pertamakali pula naik pesawat Royal Brunei Airlines atau Penerbangan Diraja Brunei.

“Mana uang tunjuknya”, demikian minta petugas di terminal keberangkatan di Terminal 2 D Bandara Soekarno-Hatta. Ternyata setiap warga negara Indonesia diharuskan  membawa uang minimal 1 juta Rupiah atau ekuivalen sekitar 400 USD sesuai nilai tukar pada saat itu. Rupanya uang ini biasanya nanti diminta untuk ditunjukan di petugas imigrasi sewaktu kedatangan di Bandar Seri Begawan.

Selain itu hal unik pertama yang saya pelajari ketika menjejakkan kaki di dalam pesawat Brunei ini adalah pengumuman pramugari yang menyebut penumpang dengan istilah awda yang sekilas merupakan terjemahan langsung untuk anda, namun sesungguhnya adalah singkatan dari awang dan dayang yang merupakan panggilan untuk lelaki dan perempuan kebanyakan di Brunei. Jadi kata awda sendiri lebih tepat diterjemahkan bapak dan ibu.

Penerbangan selama dua jam lebih berlangsung mulus. Saya sangat antusias sekali mempelajari banyak hal baru tentang Brunei di dalam pesawat ini. Salah satunya adalah aturan tidak boleh membawa minuman beralkohol ke negri ini bagi penumpang yang beragama Islam. Dan di dalam pesawat juga tidak dihidangkan minuman yang mengandung alkohol. Lucunya tetap disediakan minuman semacam bir yang alcohol free.

"Selamat Datang di Brunei Darusalam”, demikian sambutan yang ada di terminal kedatangan di Bandara yang tergolong sepi, maklum pada saat itu hanya ada pesawat kami yang landing. Dan di bandara ini pula, untuk pertama kali saya memegang uang Ringgit Brunei yang nilai tukarnya pada saat itu sekitar 1,64 Ringgit per 1 US Dollar.

Singkatnya kami akan menghabiskan waktu sekitar dua minggu di negri petro Dollar di Asia Tenggara dengan penduduk  hanya  sekitar 350 ribu jiwa ini.  Yuk nikmati saja kota Bandar Seri Begawan yang terasa lengang dan sepi dibandingkan Jakarta yang ramai dan macet.

Selama di Brunei , kami tinggal di salah satu hotel yang lumayan top di pusat kota Bandar Seri Begawan yang disebut Bandar. Hotel ini terletak di Jalan Tasek , tidak jauh dari Lapau atau Jabatan Adat Istiadat Negara dimana Sultan Hassanal Bolkiah, sultan ke 29 negara Brunei dimahkotai sebagai sultan pada 1968. Di depan Lapau ini saya sering membaca semboyan yang bertuliskan “Adil Laila Bahagia”.

Tepat di seberang Lapau juga terdapat sebuah museum berbentuk kubah raksasa yang disebut dengan nama Royal Regalia, atau nama resminya adalah "Muzium Alat Kebesaran Diraja " yang memamerkan perlengkapan Sultan dan kerajaan Brunei.

Selama beberapa hari pertama di Brunei, saya dan teman-teman belum banyak pergi ke berbagai tempat kecuali di sekitar hotel yang bisa dicapai dengan jalan kaki sampai ke Yayasan Sultan Hassanal Bolkiah yang merupakan mal terbesar di Brunei pada waktu itu.kalau kita berjalan kaki antara mal di Yayasan menuju ke hotel, maka akan melewati semacam Stadion yang disebut Taman Haji Sir Muda Omar Ali Saifuddien.

Di belakang taman ini terdapat sebuah masjid yang konon paling ikonik di seantero negara Brunei yaitu Masjid Sultan Omar Ali Saifiddien yang berkubah emas. Sultan ini adalah sultan Brunei ke 28 yang merupakan ayah Sultan Hassanal Bolkiah yang berkuasa sekarang ini. Masjid yang memiliki perahu batu di tengah danau inilah Saya pertama kali berjumpa dan berkenalan dengan seorang perempuan muda .

Bukan perempuan muda biasa, melainkan perempuan yang wajahnya bak pinang dibelah dua dengan perempuan yang duduk disebelah teman saya , Bang Zai , di pesawat Royal Brunei menuju Bandar Seri Begawan pada awal 2020. Setelah 22 tahun kemudian. 

Bersambung