Now Loading

Bab 44

Helsinki, 60° 10′ 15″ N, 24° 56′ 15″ E
Haartman Hospital


Akiko merasa dirinya sedang berada di hutan Aokigahara yang kelam. Dia merasa dikelilingi pepohonan hitam yang mengeluarkan hawa dingin tak terkira. Tubuhnya menggigil. Tapi dia adalah anak Histoshi Nakamura. Tokoh Yakuza paling terkenal di zamannya. Dia tidak takut. Meski saat ini dikepung oleh belasan samurai yang menggenggam Katana dengan dua tangan mereka. Bersiap menyerangnya.

Akiko bersiap. Katana buatan Masamune di tangannya bergetar. Siap meminum darah mereka yang jahat. Siap melindungi mereka yang teraniaya. Gerombolan samurai itu menerjang ke arah Akiko dengan jerit-jerit peperangan. Akiko tak mau kalah. Dia mengeluarkan jeritan perang paling heroik yang pernah diteriakkan seorang samurai perempuan.

Telapak tangan kasar menggenggam tangannya yang bergetar-getar. Terasa seperti aliran listrik yang mengejutkan kesadarannya. Akiko membuka mata. Merasakan rasa sakit di bahunya. Merasakan sepasang mata dingin menatapnya dengan hangat. Andalas!

Akiko membuka mata selebar-lebarnya. Kegelapan hutan Aokigahara telah menghilang. Digantikan tatapan lembut dari mata sedingin es di depannya. Di sebelahnya sepasang mata sembab dan kurang tidur terlihat berseri-seri melihatnya terjaga dari koma.

Cecilia memeluk Akiko dengan rasa haru dan bahagia yang tak terkatakan. Airmata dokter dari Inggris itu membasahi pakaian rumah sakit yang dikenakan Akiko.

"Kau mengorbankan dirimu untuk menyelamatkanku Akiko. Terimakasih untukmu dan terimakasih untuk Tuhan karena telah memberimu kesempatan lagi,”bisikan itu keluar dari bibir Cecilia yang terus saja meneteskan airmata bahagia.

Akiko tersenyum tipis. Dia menunggu Andalas mengeluarkan kata-kata juga. Dia ingin mendengarnya. Tapi yang didapatnya hanya genggaman erat di tangan dan sebuah senyuman samar. Akiko terkekeh dalam hati. Bagaimana bisa dia berharap seorang pembunuh kelas wahid di dunia berlaku romantis kepadanya.

Cecilia kemudian bercerita. Ledakan bom itu berasal dari bungkusan sampah yang dilempar oleh perempuan dengan tindik di hidung. Bom berdaya ledak rendah namun cukup mematikan dalam radius 10 meter dari ledakan.

Akiko cukup beruntung meskipun mengalami luka yang cukup parah dan membuatnya koma selama 2 hari. Pria dengan koran menutupi wajah di hadapan mereka tewas di tempat saat itu juga.

Perempuan itu kabur dari bandara melewati garbarata. Andalas sedang melacaknya.

"Perempuan itu sangat berbahaya. Namanya Helda Kilstorm. Julukannya Pembunuh dari Baltik. Aku sama sekali tidak melihat ada kaitan dengan Organisasi. Sepertinya dia dibayar orang lain lagi untuk membunuh kalian.”

Cecilia menatap Andalas. Dari tatapannya terlihat tanda tanya. Siapa lagi? Andalas memberi isyarat pendek. Aku masih menyelidikinya.

"Kenapa kau ada di sini? Bukankah seharusnya kau sedang berada di Grozny.”Akiko bertanya menyelidik sambil menatap tajam mata Andalas. Yang ditanya tetap berwajah dingin namun tersenyum. Samar.

"Tentulah dia mencemaskan keadaanmu Akiko. Begitu mendengar kabar dariku, Andalas langsung terbang ke sini.”

Akiko tersipu. Cecilia melongo. Bisa juga seorang perempuan Yakuza malu-malu.

"Aku sudah mulai menemukan jejak Sang Eksekutor di Grozny. Aku mengintainya selama beberapa hari. Tapi aku tidak bisa mendekatinya. Dia dikelilingi oleh puluhan orang pasukan. Aku berhasil menangkap salah seorang dari mereka dan mengorek keterangan. Hari ini Sang Eksekutor sudah berpindah tempat ke Mogadishu.”

Andalas berhenti sejenak. Mengambilkan gelas air minum untuk Akiko yang terbatuk-batuk. Meminumkannya sambil menyangga punggungnya agar tak tersedak. Cecilia menyaksikan momen romantis itu dan berdehem keras. Akiko kembali tersipu. Andalas tetap sedingin kulkas.

"Jadi kapan kau akan pergi ke Mogadishu?”Akiko bertanya seolah sambil lalu.

"Sampai kau mulai pulih dan bisa menjaga diri sendiri serta Cecilia.”

Cecilia menukas dengan cepat,"apa tidak sebaiknya kau menunggu Akiko benar-benar sembuh lalu kita bertiga menyelidiki Organisasi?”

Andalas menggeleng pelan,"Tidak. Lebih aman bagi kalian jika urusan ini aku tangani sendiri.”

Akiko melengos. Andalas benar. Dengan kondisinya saat ini memang lebih baik Andalas bekerja sendiri. Tapi dia lebih suka jika bisa menemaninya menyelidiki Organisasi.

Cecilia berpikir lebih jauh lagi. Urusan Organisasi tidak bisa diabaikan. Mereka selalu mencoba menghalangi apapun yang mereka lakukan untuk memitigasi kemungkinan pandemi yang terjadi karena Mollivirus sibericum dan Bacillus antracis.

Sampai sejauh ini mereka belum benar-benar paham apa motif Organisasi sampai sedemikian kuatnya berupaya menggagalkan setiap langkah mereka.

Andalas sedang menuju ke arah sana. Dia dan Akiko bisa membantu sejauh yang diperlukan tanpa harus ikut terjun ke lapangan. Lagipula saat ini titik rawan ada pada posisi Dokter Adli Aslan. Jika sampai Direktur Jenderal WHO itu dilengserkan, mereka tidak tahu akan bagaimana nasib Pandora dan kelanjutan misinya.

Cecilia menyampaikan pendapatnya kepada Akiko yang mengangguk paham. Mereka memang tetap harus membagi tim. Andalas bekerja sendiri sedangkan dia dan Cecilia harus segera pergi ke Jenewa. Menyelamatkan Dokter Adli Aslan adalah prioritas utama sekarang.

Pintu kamar rumah sakit diketuk. Seorang perawat mengangguk ramah kepada mereka sambil mempersilahkan seseorang masuk.

Seseorang itu lelaki setengah baya yang kelihatan sangat berwibawa dengan bekas luka di dahi kirinya.

"Ayah!”Akiko menjerit kaget.

"Hitoshi Nakamura!" Andalas mendesis garang.

* * * * ****