Now Loading

Bab 43

Helsinki, 60° 10′ 15″ N, 24° 56′ 15″ E
Bandara Vantaa


Profesor Mbutu melambaikan tangan ke arah Akiko dan Cecilia. Meskipun baru saja saling mengenal, itupun melalui sebuah cara yang tak lazim, 3 orang mati seperti dalam film gangster hollywood., namun Profesor yang sudah berusia 70 tahun ini tahu bahwa kedua orang dokter yang berbeda latar belakang itu sedang memperjuangkan sesuatu yang besar. Sangat besar.

Dia menghormati mereka. Masih muda namun merasa ikut bertanggung jawab terhadap kelangsungan hidup manusia di bumi ini. Dia sudah tua dan ingin berbuat hal yang sama sebelum mati. Percuma piala Nobel itu menghiasi meja kerjanya jika untuk hal sebesar ini dia berpangku tangan. Sekali lagi Profesor Mbutu melambaikan tangan dari jendela sebelum pesawat khusus itu meraung meninggalkan apron menuju taxi way dan bersiap untuk terbang.

Akiko dan Cecilia menaiki mobil WHO untuk kembali ke selasar tempat check in. Mereka akan menuju Jenewa beberapa jam lagi. Adli Aslan membutuhkan mereka. Meskipun mereka bingung bagaimana cara membantunya jika sudah ada di dalam pusaran intrik politik.

Setidaknya mereka berdua bisa bernafas sedikit lega. Amunisi Pandora sudah lengkap. Tinggal menunggu mereka menggunakan magicnya untuk bersiap-siap menyelamatkan dunia.

Kecuali Akiko. Dia merasa ada sesuatu yang membuatnya merasa kurang. Mereka memang sudah sampai setengah perjalanan dalam misi menyelamatkan dunia. Tapi Andalas tidak. Mungkin saat ini dia sudah lebih dari setengah jalan menuju neraka. Dan Grozny adalah salah satu pintunya.

Akiko melirik Dokter Cecilia. Dokter ini terlihat agak lebih tenang sekarang. Beberapa puzzle sudah ditempatkan di tempat yang tepat. Pandora, Object X, bayi Leopard, tim ilmuwan paling brilian di dunia, kolega yang kompeten, dan Dewi Fortuna. Selama ini keberuntungan masih berpihak kepadanya. Kepada timnya. Tapi apapun itu, semuanya bisa saja berubah semudah membalik telapak tangan.

Tanpa sengaja Akiko melihat sesuatu yang sangat mencurigakan. Seorang pria yang sepertinya berwajah asia buru-buru menutup mukanya dengan koran. Sekilas tadi Akiko melihat pria itu memperhatikan mereka. Akiko menekan mode siaga di kepalanya.

Akiko berbisik kepada Cecilia bahwa dia akan ke toilet dan minta supaya dirinya waspada. Cecilia mengangguk. Bandara ini sangat ramai. Orang pasti berpikir ulang untuk berbuat onar di sini.

Tapi Doha? Heathrow? Cecilia menenangkan dirinya sambil melihat Akiko pergi dan bertingkah seolah kebelet.

Sebenarnya Akiko sedang mencari kesempatan untuk memotret orang yang mencurigakan itu sehingga wajahnya terlihat. Dia akan mengirimkannya ke Andalas. Lelaki itu bisa mengidentifikasi melalui databasenya apakah orang itu berbahaya atau tidak. Tapi dia memerlukan foto wajah orang tersebut sebagai parameter identifikasi.

Ada tambahan perangkat baru dari Dokter Adli tempo hari saat mereka di Boston. Sebuah kamera super mini beresolusi tinggi yang terpasang di kancing baju. Dia tidak perlu lagi berpura-pura selfi atau apa. Tapi cukup dengan berjalan-jalan dan semua obyek yang diincarnya bisa difoto lalu tertransfer secara otomatis ke gawai dan X-One.

Mekanisme kamera itu lumayan lucu. Dia hanya harus mengetuk jam tangannya maka kamera itu akan menjalankan tugasnya memotret obyek yang dikehendakinya.

Maka sibuklah Akiko setelah keluar dari toilet. Wanita muda yang tangguh itu berjalan kesana kemari dengan sesekali berhenti sambil melihat jam tangannya. Terlihat seperti orang yang sedang tak sabar menunggu. Akiko teringat sebuah ilmu dari Andalas. Apabila kau menjumpai pertanda akan bahaya, maka bahaya itu akan tidak hanya satu. Pasti ada bahaya lain yang mengikuti di belakangnya. Karena itu begitu melihat pria bertampang asia itu bersikap mencurigakan, Akiko sekaligus memeriksa nyaris semua orang. Setelah itu dia mengandalkan intuisinya apakah orang itu perlu dipotret atau tidak.

Akiko duduk kembali di samping Cecilia. Mengeluarkan gawai dan sibuk mengirimkan semua hasil fotonya ke Andalas. Cecilia tersenyum kecil saat sekilas melihat nama Andalas di gawai Akiko.

Setelah itu Akiko nampak tenang. Menyandarkan kepalanya ke kursi dan menggamit Cecilia.

"Ada beberapa orang yang menurutku mencurigakan. Hati-hatilah. Selalu waspada.”

Cecilia mendekat mulutnya ke telinga Akiko.

"Kau sudah sangat mirip sekali dengan Andalas. Lekas curiga dan gatal tangan untuk segera menghajar orang.”Akiko tertegun. Lalu sadar bahwa Cecilia sedang mengoloknya. Tertawa tertahan lalu memukul pelan lengan Cecilia.

Sebuah getar di kantong bajunya membuat Akiko buru-buru memeriksa gawainya.

Akiko, orang Asia dengan koran itu fine. Ada 2 orang yang wajib kau waspadai. Seorang perempuan Kaukasian bertampang Nordik dengan tindik di hidung dan seorang pria Turki umur tiga puluhan yang membawa tas gitar.

Kau yakin? Aku sangat mencurigai orang Asia itu.

Yakin. Mungkin dia memperhatikanmu dengan berlebihan karena naksir kamu.

Brengsek kau Andalas.


Akiko memerah mukanya. Dalam hatinya mendadak muncul pertanyaan. Apakah kau tidak naksir aku?

Gawai itu bergetar lagi. Andalas mengirim kembali foto 2 orang yang wajib diwaspadainya. Akiko mengedarkan pandangan ke sekeliling. Itu dia. Perempuan itu nampak cuek terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan seenak hatinya dia mengangkat kaki di kursi ruang tunggu sembari mulutnya tak henti mengunyah permen karet.

Itu satunya. Pria itu memegangi tas gitar erat-erat seolah banyak orang yang hendak merebut dari tangannya. Akiko mengerutkan keningnya. Teringat film Desperado. Salah seorang tokoh dalam film itu mempunyai senapan mesin yang dimodifikasi seperti sebuah gitar. Diam-diam Akiko menggenggam hulu Kaiken di saku bajunya.

Pengumuman boarding. Akiko meminta Cecilia agar menunggu sampai semuanya menaiki pesawat. Mereka naik belakangan. Lagipula mereka duduk di kelas utama yang bisa boarding kapan saja. Cecilia duduk kembali. Andalas style lagi.

Akiko merasa jantungnya berdegup kencang. 3 orang yang dicurigainya itu belum ada yang beranjak untuk boarding. Pria dengan gitar sedang membetulkan tali sepatunya. Perempuan dengan permen karet di mulutnya sibuk mengaduk-aduk isi tasnya. Dan laki-laki di hadapan mereka tetap asik membaca koran.

Perempuan itu berdiri. Lalu dengan seenaknya melempar bungkusan sampah ke belakang. Ke arah Akiko dan Cecilia lalu melenggang masuk gate. Diikuti pria dengan gitar. Laki-laki dengan koran masih duduk manis. Akiko meraba gagang Kaikennya dengan erat.

Terdengar bunyi tik tik lemah. Lalu sebuah ledakan terjadi. Akiko yang punya firasat buruk telah melompat menubruk Cecilia sebelum ledakan terjadi. Cecilia selamat tak kurang suatu apa. Tapi Akiko merasakan rasa sakit menjalari bahunya. Berikut cairan hangat yang membasahi tato pedang samurai yang dililit kalajengking di punggungnya. Setelah itu Akiko merasakan dunia menggelap. Namun telinganya masih sempat menangkap keributan, sebuah teriakan, dan tangisan, sebelum gelap itu benar-benar mendekapnya erat-erat tanpa bisa dicegah lagi.

"Akikooooo!”

* * * * ***