Now Loading

Bab 42

Stockholm, 59° 19′ 46″ N, 18° 4′ 7″ E
Värtahamnen-Helsinki


Kapal Feri Viking Line ini akan membawa mereka selama 17 jam mengarungi Laut Baltik. Akiko yang selama 2 jam berputar-putar di kota Stockholm menghindari pengejaran polisi, telah bergabung dengan Cecilia dan Profesor Mbutu. Karena kasihan kepada pemilik motor yang sempat didorongnya jatuh, Akiko meninggalkan 10 ribu Krona di bagasi motor yang diparkirnya di sebuah gang buntu sebelum dengan tenang menaiki trem yang menuju Pelabuhan Värtahamnen.

Cecilia menyewa kabin dengan kapasitas 4 orang agar mereka tetap bersama dan Akiko bisa melindungi Profesor Mbutu yang rupanya juga diburu oleh Organisasi.

Profesor Mbutu melipat buku yang dibacanya sejak Viking Line melepas sauh dan meninggalkan pelabuhan. Pandangannya tertuju kepada Cecilia yang sedang menikmati kopi keduanya hari ini. Menuntut penjelasan.

"Profesor tentu telah mendengar semua script dari makhluk Extra Terrestrial tadi. Kami sebenarnya tidak ingin membawa Profesor dengan cara seperti ini. Namun rupanya Organisasi, ini adalah nama dari organisasi rahasia yang selama ini selalu merintangi semua upaya kami untuk bersiap-siap menghadapi pandemi Mollivirus sibericum dan Baccilus antracis, di seluruh dunia.”

Cecilia menghirup lagi kopinya.

"Profesor kami butuhkan untuk bergabung dengan tim kami di Pandora yang sedang mempelajari Object X dari Arctic dan bayi Leopard dari Cuvette Centrale Kongo. Kedua obyek tersebut adalah modal kita untuk menemukan serum bagi virus dan bakteri super berbahaya tersebut.”

Profesor Mbutu terus mendengarkan dengan tekun. Di telinganya masih terngiang-ngiang rekaman script yang luar biasa itu.

"Profesor mempunyai sebuah keahlian yang jarang dimiliki orang. Kimia Karbon. Tim kami membutuhkan keahlian Profesor untuk mengurai radiasi kosmik dan gamma di tubuh Object X sesuai advis dalam script tersebut.”

Cecilia kembali menghirup kopinya. Hari-hari terasa makin melelahkan.

"Di mana aku harus mengerjakan bagianku Nak?” Profesor Mbutu bertanya dengan lembut. Dia tidak perlu diyakinkan dengan penjelasan panjang lebar jika ini adalah misi kemanusiaan.

"Laboratorium Pandora Prof. Di sebuah tempat rahasia di Arctic.”Cecilia menjawab sambil mengira-ngira seperti apa ekspresi Profesor Mbutu.

"Apakah aku bisa menghubungi keluargaku agar mereka tahu aku baik-baik saja?”Cecilia tidak mengira Profesor Mbutu sama sekali tidak kaget. Cecilia mengangguk. Melanjutkan penjelasan bahwa Profesor Mbutu tidak ditawan atau semacamnya. Dia boleh menghubungi keluarganya kapan saja. Fasilitas komunikasi tersedia lengkap di sana.

Akiko mendengarkan sambil memandangi laut Baltik yang mulai temaram. Senja sudah datang. Dia teringat peringatan Andalas di X-One. Lelaki itu sedang berada di wilayah yang sangat berbahaya. Entah apa yang dikerjakannya di Grozny. Salah satu dari sedikit kota paling berbahaya di dunia.

Ingatan Akiko juga berpusar pada pertarungannya tadi melawan para ninja. Dia tidak mempunyai kesempatan membuka topeng salah satu dari penyerang tersebut tapi dia 100% yakin bahwa mereka adalah orang-orang Jepang. Seandainya dia tadi punya kesempatan melihat punggung atau dada mereka, Akiko yakin akan bisa mengidentifikasi mereka dari klan Yakuza yang mana.

Mengenai Yakuza, sudah pasti mereka adalah anggotanya. Tidak ada sindikasi selain Yakuza di Jepang yang memburu orang hingga sejauh negeri di wilayah Skandinavia. Ada satu hal menakutkan yang merasuki pikiran Akiko. Jangan sampai para penyerang tadi anak buah Hitoshi Nakamura. Ayahnya.

Perjalanan 17 jam ini dimanfaatkan oleh Akiko dan Cecilia untuk istirahat. Profesor Mbutu sendiri dengan tenang berbaring di ranjang kapal feri sambil membaca buku.

Sebelum benar-benar memejamkan mata, Cecilia kembali menghubungi Dokter Adli Aslan. Kali ini tanpa Profesor Sato. Saat coba dihubungi via X-One Profesor Sato mengatakan ada peristiwa penting yang terjadi pada Object X. dia harus mengawasinya langsung.

Cecilia sebenarnya sangat penasaran dengan kabar itu. Tapi dia juga paham bahwa Profesor Sato sama sekali tidak bisa diganggu. Cecilia memulai chat dengan Dokter Adli Aslan.

Kami sudah mengamankan Profesor Mbutu. Dia bersedia menjadi bagian dari tim. Mohon penjemputan di Bandara Vantaa Helsinski.

Oke Cecil. Aku akan urus.

Beberapa orang menyerang kami tadi di Stockholm. Menurut penjelasan Akiko berdasarkan informasi dari Andalas, para penyerang adalah suruhan Organisasi.

Oke Cecil. Andalas sedang mengurus Organisasi. Dia sedang berada di Grozny.

Menurutmu apa yang harus kami kerjakan setelah mengantar Profesor Mbutu ke Helsinski?

Pergilah kalian berdua ke Jenewa. Aku perlu bantuan dari kalian di sini. Marc rupanya terus menekanku dengan menggunakan jaringan diplomatik yang dia punya. Ada kemungkinan aku diturunkan sebagai Direktur Jenderal WHO karena Mosi Tidak Percaya yang bertubi-tubi datang dari beberapa negara.

Baik Dokter. Kami akan terbang ke Jenewa dari Helsinki besok sore.

Cecilia menutup X-One. Dilihatnya Akiko sudah tertidur pulas di ranjang atas. Profesor Mbutu juga terbaring lelap dengan buku terbuka yang menutupi wajahnya.

Cecilia menguap. Berharap tidur nyenyak dan tidak lagi didatangi mimpi tentang kota-kota yang diisolasi.

* * * * **