Now Loading

Selamat Tinggal Kak Hamidah

Sesampainya di Singapura, saya kembali cek in dan kali ini dapat kamar yang lain walau tetap di lantai 9. Tidak lupa barang-barang yang saya titip di kamar Asep pun saya ambil termasuk mandau hadiah dari Laili.

Malam itu saya tertidur karena lelah. Namun tiba-tiba saja suara bising membangunkan saya. Ternyata suara itu berasal dari laci dimana saya menaruh mandau dan jimat anti selingkuh. Suara riuh baru berhenti ketika saya membuka laci itu.

Rupanya mereka berdua berkelahi sendiri dan hasilnya adalah kain jimat banyak yang tercabik-cabik. Mau tidak mau, saya memindahkan mandau ke dalam koper besar dan jimat anti selingkuh tetap di taruh di laci. Saya masih ingat ancaman Ditta: “Bang Zai mesti terus membawa jimat ini ke mana saja selama di Singapura, kalau tidak lebih baik Dita minta cerai.”

Suara ribut berhenti. Dan saya bisa melanjutkan tidur.

Bulan Juni sudah menjelang.  Empat Sekawan tinggal sekitar dua minggu lagi bertugas. Ternyata godaan untuk mampir ke Kandahar Street terus menghantui diriku, walau sesekali ada perasaan waswas. Akhirnya sore itu, aku muncul juga di Kandahar Street.  Tujuan utama, minta izin pamit ke Kak Hamidah untuk mengucapkan selamat tinggal dan kemudian berusaha tidak bertemu lagi.

Melihat saya datang, Kak Hamidah tampak senang menyambut.

“Dik Zai, Kakak sudah kangen berat,”

Mendengar rayuan seperti ini, saya langsung lupa akan tujuan utama datang ke Kandahar Street. Kami segera duduk bersama di salah satu meja. Lagi pula suasana resto belum terlalu ramai. Teh tarik juga langsung dihidangkan bersama dengan roti canai.

Kami berdua bercakap-cakap cukup banyak. Tentang situasi di Jakarta. Tentang Laila yang dipaksa pulang ke Brunei oleh Muallif dan juga tentang rencana Kak Hamidah ke depan ini.

Namun sekitar 5 menit kami bercakap-cakap, tiba-tiba saja Kak Hamidah sedikit berubah sikap. Dia tiba-tiba menanyakan soal Dita dan anak-anak saya.

“Dik Zai, sepertinya lebih baik hubungan kita sampai di sini saja. Lebih baik jangan dilanjutkan,”

Saya sedikit kaget. Mengapa tiba-tiba Kak Hamidah yang berubah sendiri. Padahal pada awalnya dia masih sama seperti Hamidah yang dulu saya kenal.

“Mengapa?” tanya saya penasaran. Walau dalam itu hal ini pula yang ingin saya sampaikan kepada Kak Hamidah.

“Saya tidak tahu mengapa, tetapi melihat Dik Zai, saya juga selalu melihat bayang-bayang istri dan anak-anak Dik Zai. Saya tidak mau menjadi perempuan yang merusak keluarga orang lain,” tambah Kak Hamidah lagi.

Saya mulai berpikir, apakah ini pengaruh ‘Jimat anti selingkuh’ yang saya bawa di dalam saku. Apakah jimat ini membuat perempuan lain yang tadinya sayang berubah menjadi benci.

Akhirnya saya pun mohon pamit. Dan Kak Hamidah sendiri hanya mengiyakan sedikit acuh. Tidak ada lagi kemesraan yang dulu pernah kami nikmati bersama.

Ketika saya akan meninggalkan resto di Kandahar Street, sepasang lelaki dan perempuan bergandengan tangan dengan mesra masuk. Mengambil tempat duduk dan memesan makanan.

Ternyata mereka adalah Si Bad dan Meilani. Bad hanya tersenyum melihat saya meninggalkan restoran dengan lesu. Saya juga hanya melambaikan tangan membalas senyuman Bad.

Malam itu  saya mimpi bertemu dengan Dita dan anak-anak. Dita tersenyum manis sekali sambil memeluk diriku.

Esok paginya, mandau di koper sudah sirna. Hilang tanpa bekas.

Bersambung