Now Loading

Jimat Anti Selingkuh

Bulan Mei sudah mendekati akhir, sebagaimana janji saya dengan Dita ketika menanggapi suratnya yang dititip ke Mpok Leha di Pasir Ris lalu, saya harus pulang ke rumah hingga akhir Mei ini untuk minta maaf secara langsung kepadanya.

Walau dalam hati saya ada perasaan suka kepada Kak Hamidah, namun tetap saja rasa cinta kepada Dita yang telah menjadi istri cukup lama jauh lebih besar. Akhirnya saya mengikuti akal sehat dan hati nurani untuk pulang ke Depok. Kebetulan ada libur dua hari sehingga saya bisa naik pesawat terakhir dari Singapura pada hari Kamis, 28 Mei 1998 ini.

Ketika saya tiba di Bandara Soekarno-Hatta, suasana Jakarta yang saya lewati di malam hari memang belum kembali normal seperti biasa. Sedikit rasa aneh melihat bukti-bukti kerusuhan sekitar dua minggu lalu itu. Namun rasa rindu kepada anak-anak dan Dita membuat saya lebih fokus untuk pulang.

Pada mulanya Dita bersikap dingin kepada saya. Namun dengan keahlian merayu tingkat dewa yang saya miliki akhirnya hati Dita pun luluh. Dia bersedia memaafkan saya dengan janji tidak akan mengulangi lagi perselingkuhan dengan Kak Hamidah.  Tentu saja saya bersedia berjanji dan berkata bahwa tugas saya sendiri di Singapura tinggal sekitar dua atau tiga minggu. Jadi tidak akan terjadi apa-apa antara saya dan Kak Hamidah. Juga kami sebenarnya hanya berteman biasa saja.

Namun Dita juga tidak mau percaya begitu saja. Keesokan harinya Dita memberikan saya sebuah kantung kecil berbentuk kain hitam. Menurut Dita saya harus membawa benda ini ketika besok kembali ke Singapura. Benda itu harus terus saya bawa dan ketika pulang nanti pertengahan Juni harus ditunjukkan kembali kepada Dita.

Pada mulanya Dita tidak mau memberitahu benda apa yang diberikan. Tetapi karena saya mendesak terus, akhirnya Dita berkata:

“Bang Zai, itu jimat anti selingkuh yang saya dapat dari Encing Rahmat.”

Saya terkaget-kaget mendengarnya. Namun saya tidak berani berkomentar atau membantah Dita. Dita juga sempat mengancam minta cerai dan semua anak-anak ikut dia kalau saya berani selingkuh lagi. Dalam hati saya berjanji akan mencoba setia. Melupakan Kak Hamidah selama di Singapura.

Namun tiba-tiba saya ingat akan sebilah mandau yang pernah diberikan Laili. Mandau itu saya tinggal di titipkan di kamar Asep di hotel. Semoga mandau itu baik-baik saja dan hubungan dengan Laili toh belum ada apa-apanya dibandingkan dengan hubungan yang cukup dekat dengan Kak Hamidah.

Apalagi, Dita juga belum tahu tentang hubungan saya dengan Laili?

Tanggal 30 Mei, Saya kembali lagi ke Singapura. Apakah benar-benar tidak akan berani berkunjung ke Kandahar Street. Apa yang akan terjadi dengan jimat yang saya terpaksa saya bawa di dalam tas saya ini?

Bersambung