Now Loading

Jakarta -Bandar Seri Begawan

Ini adalah perjalananku yang kesekiankalinya ke negara Brunei Darussalam.  Sebuah negeri kecil di pantai utara pulau Borneo yang dikelilingi oleh Laut Tiongkok Selatan dan  negara bagian Sarawak di Malaysia Timur. Sebuah negeri mungil yang aman, damai, dan makmur yang sering saya juluki kampung saya yang kedua.

Setiap kali mampir ke negeri ini, saya memang selalu berasa pulang kampung, karena sejak kunjungan pertama di akhir abad lalu dan sempat menetap sementara selama beberapa bulan dalam sekian kali periode, saya menemukan banyak teman dan sahabat yang hingga saat ini terus melekat di hati.

Kunjungan kali ini, di awal Januari 2020 juga dikarenakan sebuah Jemputan atau Undangan untuk menghadiri resepsi pernikahan atau Majlis Bersanding putra seorang teman lama di Bandar Seri Begawan.

Kalau saya ingat-ingat, teman saya ini dulu  tinggal di kawasan Kampung Kiulap, tidak terlalu jauh dari Masjid Jame Assr Hassanal Bolkiah di Gadong.  Dari rumahnya di Jalan Kiulap ini juga kita bisa bertemu dengan Sungai Kedayan yang meliuk bagai ular membelah kota Bandar Seri Begawan sampai ke kawasan Gadong dan berlanjut ke Kawasan Berakas di sekitar Lapangan Terbang.

“Panggilan untuk Bapak Zainuddin.......,  penumpang Penerbangan Diraja Brunei BI 736 menuju Bandar Seri Begawan diharap datang ke petugas di Boarding Gate”, Tiba-tiba saja pengumuman ini menghentak  lamunan saya.    Rupanya karena penumpang kelas ekonomi penuh dan ada overbooking, maka saya mendapatkan upgrade ke kelas bisnis.  Maklum karena saya juga sudah sejak lama menjadi ‘ahli’ atau member Royal Skies yang merupakan program loyalti untuk pelanggan setia maskapai yang dikenal dengan RB ini.

Setelah menerima Boarding Pass yang baru, tidak lama kemudian penumpang dipersilahkan naik ke pesawat Airbus 320 yang didominasi warna kuning dengan lambang negara Brunei tertera di belakangnya.

Penumpang lumayan penuh pada penerbangan ini sehingga ketika saya sampai di tempat duduk, sudah ada seorang gadis muda berusia kira-kira 19 atau 20 tahun yang duduk di sebelah saya.  Dari dandanannya saya bisa perkirakan bahwa gadis ini merupakan gadis Brunei yang mungkin habis liburan atau wisata belanja baik di Jakarta atau pun Bandung.  Maklum tempat wisata belanja di kawasan Mangga Dua juga cukup populer bagi warga Brunei.

“Permisi,”  tukas saya ketika hendak duduk di kursi saya di dekat jendela selepas meletakan tas tangan di overhead compartment.  Kebetulan gadis itu tengah membulak-balik majalah Muhibah, yang merupakan Inflight Magazine penerbangan ini.  Dia hanya mengangguk sopan sambil menarik sepasang kaki mendekat ke tempat duduk dan melemparkan seyum kecil dengan lusung pipit di pipinya.  

Wajahnya tampak cantik manis dalam kesederhanaan hiasan dan berbalut hijab serderhana  warna biru muda yang cerah. Sangat serasi dengan baju kurung panjang yang juga berwana biru dengan motif kembang-kembang yang dipakainya.

Sekitar 30 menit setelah pesawat lepas landas dan terbang dengan ketinggian jelajah 37 ribu kaki di atas Laut Jawa mendekati pulau Kalimantan, barulah saya dengan lebih leluasa mengamati wajah perempuan muda ini.  Saat itu pramugari sudah mulai bertugas menghidangkan makanan yang lumayan sedap, nasih lemak dengan ikan dan juga kerupuk disertai sambal plus minuman ringan dan teh.

Saat itulah saya baru sadar bahwa garis wajah dan raut muka perempuan ini sepertinya sudah tidak asing  dalam kehidupan saya. Namun untuk mengingatnya, saya harus secara perlahan membuka kembali lembaran memori yang sudah lebih dua puluh dua tahun di tutup rapat-rapat.