Now Loading

Nakara dan Gendang Labik pun Sirna

Semenjak reuni Empat Sekawan di Ang Mo Kio, saya lebih banyak ketemu dengan Eko karena banyak tugas dalam waktu yang sama. Sementara Bang Zai dan apalagi Asep banyak mempunyai kesibukan sendiri. Bang Zai dengan Auntie Hamidah dan Asep dengan Laila atau cewek baru dari Melaka, Si Muthiah.

Yang saya tahu Asep baru saja kembali dari Melaka dan kemudian minta izin cuti ke Jakarta karena terjadi sesuatu dengan Wawan, adiknya. Kemarin malam dia sudah balik dari Jakarta dan kelihatan wajahnya agak murung sehingga Saya agak segan mengganggu atau menanyakan perihal dirinya.

Sementara saya dan Eko baik-baik saja walau memang Irma dan Noor juga sudah lama tidak ada berita dan kabarnya. Mungkin mereka juga ikut pulang bersama Laila ke Brunei.  Kemarin saya dengar dari Bang Zai bahwa Laila sudah pulang ke Brunei karena disusul Muallif.

“Azwar apa kabar?” Asep tiba-tiba menepuk punggung saya.

“Ayo duduk di sini,” kata saya mempersilahkan Asep duduk di meja yang sama. Suasana restoran tempat kami makan pagi masih cukup sepi.

Akhirnya Asep duduk bersama di meja saya. Dan sambil makan dia pun bercerita. Bahwa sudah dua malam ini dia terus dikejar Laila dalam mimpi karena Keris Bruneinya hilang. Dia sendiri masih bingung.

Saya langsung ingat akan nakara hadiah dari Irma. Sudah beberapa hari ini saya hanya meninggalkannya di laci. Baiklah nanti habis makan pagi akan saya cek keberadaannya. Barangkali bisa mendatangkan Irma dalam mimpi nanti malam.

Saya dan Asep terus mengobrol ketika tak lama kemudian Eko pun muncul.  Kita memang janji akan berangkat bersama.

“Azwar, Gendang Labik saya hilang lenyap tak tentu rimbanya.” Kata Eko dengan mimik sedih.

“Kapan terakhir kamu melihatnya?” tanya Asep.

“Kira-kira tiga atau empat hari lalu.”

Saya makin khawatir. Keris Brunei Asep lenyap, itu karena dia lupa menyimpan di laci dan kemudian cek out. Tetapi Gendang Labik Eko seharusnya tetap ada. Bagaimana dengan nasib nakara saya.?

Saya kemudian mempercepat makan pagi dan minta izin duluan balik ke kamar. Saya langsung membuka laci dan rasa khawatir saya terbukti. Nakara itu sudah lenyap tanpa bekas. Saya sempat mencari ke seluruh kamar. Namun tetap tidak ada.

Saya kemudian melapor ke concierge dengan harapan mungkin ada cleaning service yang sempat melihat atau memindahkan.  Saya hanya dijanjikan untuk diselidiki lebih lanjut.

Ketika Saya dan Eko berangkat bersama, Eko juga ternyata sudah melakukan hal yang sama sebelum makan pagi tadi dan dijanjikan hal yang sama.

Singkatnya kami bertiga sudah mengalami hal yang mirip, yaitu kehilangan Keris Brunei, Nakara, dan Gendang Labik.  Saya belum tahu dengan Bang Zai, karena pagi tadi saya tidak berjumpa dengannya.

Apakah ada pertanda buruk bagi kami dengan lenyapnya benda-benda tersebut?

Bersambung