Now Loading

Bab 41

Stockholm, 59° 19′ 46″ N, 18° 4′ 7″ E
Normalmstrog Square


Cecilia dan Akiko bersantai di alun-alun yang sangat cantik itu. Sore sangat cerah. Musim semi yang indah menyapa semua pengunjung Normalmstrog Square. Mereka baru mendarat siang ini dari Barcelona.

Kemarin mereka sempat mengantarkan Profesor Raul Hernandez ke Bandara El Prat. Profesor Raul terbang ke Keflavik. Di sana sudah menunggu pesawat penjemput yang akan menerbangkannya ke Pandora.

Profesor Raul tidak keberatan menjadi bagian dari tim Profesor Sato. Apalagi Dokter Adli Aslan yang telah lama dikenalnya juga menelpon langsung. Lagipula Profesor Raul sudah langsung mengambil keputusan begitu mendengarkan penjelasan Cecilia mengenai isi rekaman script dari chip yang ditemukan bersama tubuh seorang wanita yang dibekukan dan sekarang masih dalam keadaan koma.

Misi Cecilia dan Akiko saat ini adalah mencoba mengajak Profesor Mbutu ikut bergabung dalam tim. Profesor Mbutu adalah ahli Kimia Karbon yang pernah mendapatkan penghargaan Nobel atas jasanya terhadap ilmu pengetahuan.

Profesor berdarah Guyana itu seorang jenius. Riset-risetnya banyak dipakai oleh raksasa industri kimia untuk mengembangkan berbagai macam produk kebutuhan manusia. Profesor Mbutu orang yang sangat rendah hati. Sama sekali tidak mengejar materi. Padahal jika saja dia mau, riset-risetnya yang dipakai industri akan menghasilkan jutaan Euro. Dia akan menjadi kaya raya.

Seluruh hidupnya didedikasikan untuk riset pada bidang ilmu yang ditekuninya. Bagi Profesor Mbutu, adalah sebuah kebahagiaan melihat risetnya berguna bagi kepentingan banyak orang.

Rumah yang ditinggalinya di Stockholm adalah pemberian dari Raja Swedia yang sangat kagum dengan dedikasi Profesor Mbutu pada ilmu pengetahuan.

Meskipun telah memutuskan pensiun dari pekerjaannya sebagai dosen di MIT, namun Profesor Mbutu tidak pernah berhenti mengembangkan Kimia Karbon melalui beberapa riset calon-calon doktor yang dibimbingnya.

Cecilia sengaja tidak bertamu ke rumah Profesor Mbutu. Dia tidak mau mengganggu privasi. Lagipula Cecilia sudah mendapatkan informasi bahwa setiap sore Profesor Mbutu pasti menghabiskan waktunya di Normalmstrog Square. Menikmati ketenangan sambil membaca buku.

Akiko yang melihat terlebih dahulu. Seorang tua berjalan perlahan menuju taman sambil menjinjing tas kecil. Tangan kanannya memegang tongkat dari kayu yang dipergunakannya mengetuk lantai ubin seolah sedang berjalan sambil memainkan musik.

Cecilia tersenyum dan hendak menghampiri. Tapi gerakannya ditahan oleh Akiko yang memperlihatkan X-One miliknya.

Dokter, hati-hati. Aku sedang berada di Grozny. Aku mendapatkan informasi penting. Orang-orang suruhan Organisasi sedang memburu Profesor Mbutu. Mereka ingin menggagalkan rencana kita dengan melenyapkan Ahli Kimia Karbon nomor satu di dunia. Belum ada yang bisa mendekati kemampuan Profesor Mbutu. Lindungi dia.

Oke noted Hit Man. Sekali lagi kau memanggilku dengan tidak menyebut nama, aku akan terus memanggilmu pembunuh.

Cecilia tersenyum simpul melihat respon Akiko. Dia ingin menggodanya. Tapi yang rencana hendak digoda sedang berlari cepat sambil mencabut Kaikennya.

Akiko sedang berburu cepat dengan 3 orang yang terlihat berlarian ke arah Profesor Mbutu. 3 orang yang semuanya menggenggam Katana. Profesor Mbutu sendiri sama sekali tidak menyadari dirinya dalam bahaya. Masih terus berjalan dengan tenang sambil memainkan tongkatnya di lantai ubin.

Profesor Mbutu baru sadar setelah seorang wanita cantik berteriak ke arahnya agar berlari. Profesor itu otomatis menoleh ke belakang karena mendengar derap langkah kaki berlarian. 3 orang mengacungkan samurai menuju ke dirinya.

Cecilia yang ikut berlari, menarik tangan Profesor Mbutu ke rumpun bunga yang bersemak tebal. Keduanya menyaksikan Akiko menyambut kedatangan 3 penyerang yang menggunakan tutup muka ala ninja itu. Akiko berdiri menghalangi mereka dari terus memburu Profesor Mbutu yang sekarang bersama Cecilia. Cecilia sendiri telah mengeluarkan Glocknya dengan tangan gemetar.

Sejenak 3 penyerang itu berhenti melihat seorang wanita muda menghadapi mereka sambil menggenggam belati kecil khas Jepang. Ketiganya saling berpandangan sebelum akhirnya bersama-sama melengkingkan jerit peperangan dan menyerang Akiko.

Akiko segera tahu bahwa para penyerang ini adalah para Samurai Jepang. Dengan sengit dokter tangguh ini bertahan dari serangan 3 orang yang terlihat ganas itu. Terjadilah pertarungan dahsyat dan menakutkan di tengah-tengah Normalmstrog Square yang tenang. Seorang wanita muda dikeroyok oleh 3 orang bertopeng dengan ganas.

Cecilia tetap memegangi lengan Profesor Mbutu yang berjongkok di sebelahnya. Dia benar-benar khawatir dengan keselamatan Akiko. Bagaimanapun dia adalah dokter muda dan bukan petarung jalanan.

Namun kekhawatiran Cecilia dijawab dengan action Akiko yang mengagumkan. Putri ketua Yakuza itu mampu merobohkan satu orang dengan menyelipkan Kaiken di sela-sela belikatnya. 2 orang lagi tanpa mengenal takut terus menyerang Akiko dengan membabi buta.

Akiko menggulingkan tubuh menghindar dari serangan pertama. Tangannya meraih Katana yang terjatuh dari penyerang yang telah berhasil ditewaskannya tadi. Dokter muda itu berdiri kembali sambil menggenggam Katana yang berkilat-kilat dengan kedua tangannya.

Saat serangan kedua datang bergelombang, Akiko yang seperti mendapatkan mainan baru yang menyenangkan, berteriak nyaring menangkis serangan lalu balas menebas perut si penyerang yang langsung juga tewas seketika di tempat. 

Satu penyerang yang tersisa kelihatannya mulai jerih. Namun tetap saja dia membawa tubuhnya ke depan menerjang Akiko dengan serangan mematikan. Akiko tidak mau bermain-main. Dia takut masih ada orang-orang lagi di belakang mereka. Oleh karena itu, lagi-lagi dengan teriakan lantang, Akiko menjatuhkan penyerang ketiga itu dengan leher yang terbuka lebar.

Akiko membuang Katana di tangannya lalu mencabut Kaiken dari dada penyerang pertama yang ditewaskannya. Setelah itu Akiko buru-buru memberi tanda kepada Cecilia agar segera lari ke parkir mobil. Orang-orang yang tadinya hanya berani menonton dari kejauhan rupanya sudah menelpon polisi. Sirine meraung-raung terdengar mendatangi.

Profesor Mbutu menurut saja saat Cecilia menarik tangannya menuju mobil yang diparkir di seberang jalan. Glock di tangannya telah disimpan kembali di dalam tasnya.

Tidak ada yang memperhatikan sama sekali keberadaan Cecilia dan Profesor Mbutu meskipun mereka berlari dengan tergesa-gesa. Semua orang sedang fokus kepada Akiko yang berlari ke seberang jalan yang lain, menarik jatuh seorang pengendara motor yang juga asik menonton, lalu melompat ke atas motor dan menarik gas sekuatnya meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi.

Cecilia menghidupkan mobil sambil mengenakan headset. Dia yakin Akiko tak lama lagi akan menghubunginya. Benar saja.

Aku mengarah keluar kota Cecil! Aku akan mencoba mengecoh polisi-polisi yang mengejarku. Pergilah ke hotel dan yakinkan Profesor Mbutu. Kita bertemu di pelabuhan penyeberangan Fery. Kita ke Finlandia!

Akiko mematikan sambungan telponnya.

Cecilia mengemudikan mobilnya menuju hotel. Profesor Mbutu yang duduk di sampingnya sedari tadi hanya mengurut dada. Dia sama sekali tidak suka kekerasan. Wanita di sebelahnya ini tadi melindunginya. Profesor Mbutu sangat percaya wanita itu tidak akan melukainya. Jika memang berniat begitu, sedari tadi dia bisa saja melakukannya.

Sesampainya di hotel, Cecilia berkemas dengan cepat sambil bercerita kepada Profesor Mbutu. Cecilia juga sempat meminta Profesor Mbutu mendengarkan script dari laptopnya.

Selesai berkemas Cecilia memandang Profesor Mbutu yang nampak terpaku di sofa sambil menatapnya.

"Benarkah ini semua Nona?”Sama persis dengan pertanyaan Profesor Raul saat di Barcelona. Cecilia mengangguk tegas. Lagipula siapa sih yang bisa langsung percaya begitu mendengarkan script yang luar biasa itu.

"Kau akan membawaku kemana Nak?” Profesor Mbutu berdiri begitu melihat Cecilia bergegas melangkah keluar kamar.

Cecilia menoleh dan menatap Profesor dengan kesungguhan permohonan.

"Profesor please ikut saya. Saya akan menjelaskan semuanya di perjalanan ke Finlandia.”

Profesor Mbutu tidak menjawab tapi dia mengikuti Cecilia masuk ke lift yang membawa mereka ke lobi hotel di mana taksi yang akan membawa ke pelabuhan fery Stockholm sudah menunggu.

* * * *-*