Now Loading

Bab XVII-Tamat

Perang besar seringkali berdatang hilang
Mengikuti peradaban manusia yang memang tak lepas dari lintang-
pukang
Sejarah akan dicatat oleh sang pemenang
Meski kebenaran akan sulit sekali diungkapkan
Dan kebatilan belum tentu tersingkirkan

Bab XVII

Garahan, perbatasan Majapahit-Blambangan.  Persiapan luar biasa ada di kedua belah pihak yang sedang bertikai.  Perang besar sepertinya hanya tinggal menunggu waktu.  Majapahit benar-benar mempersiapkan diri untuk menyerang Blambangan.  Sementara Blambangan juga telah bersiap-siap menahan serangan.  Markas perbatasan yang dibangun oleh Majapahit sudah dipenuhi oleh pasukan reguler dan Sayap Sima.

2000 orang pasukan reguler yang dipimpin oleh seorang panglima perang terdiri dari 1000 pasukan darat dan 1000 pasukan berkuda telah bersiap menunggu perintah untuk menyerang.  200 orang pasukan Sayap Sima yang tangguh  juga  telah berkumpul semua di markas.  Dipimpin langsung oleh Ki Tunggal Jiwo dan diperkuat oleh Argani, Aswangga, Ki Biantara, Maesa Amuk, Bledug Awu Awu dan Sepasang Siluman Lembah Muria.  Tampak juga Dyah Puspita diantara mereka. Gadis cantik itu sama sekali tidak kelihatan bersemangat, wajahnya yang ayu terlihat kuyu.  Tubuhnya jauh lebih kurus dibandingkan dulu. 

Di lain pihak, Blambangan juga telah menyiagakan pasukan yang tidak kalah kuat.  1000 pasukan berkuda ditambah 500 pasukan reguler.  Selain itu, 500 anggota perkumpulan Malaikat Darah, 200 pasukan Istana Laut Utara dan 20 pasukan khusus Penakluk Sukma dari Nusakambangan.  Dipimpin oleh Ki Hangkara yang sakti dibantu oleh Tiga Danyang Kawah Ijen dan murid keponakannya yang manis Arawinda.  Bergabung juga Malaikat Darah Berbaju Merah beserta 4 pembantunya, Raja Iblis Nusakambangan, Laksamana Utara beserta putrinya yang cantik, Putri Anjani.  Bergabung juga Lima Begal Garahan yang kini tinggal bertiga.  Bahkan nampak nenek sihir sakti Nyai Genduk Roban di antara mereka. 

Benar-benar hampir seluruh tokoh sakti tanah Jawa berkumpul di Alas Garahan.  Tak terbayangkan seperti apa jalannya pertempuran yang akan terjadi.  Pasukan yang jumlahnya ribuan dan dipimpin oleh panglima-panglima perang berpengalaman.  Ahli-ahli silat tangguh dan sihir-sihir hebat yang tak terbayangkan.  Semua akan bergumul di Alas Gung Liwang Liwung ini.

Pagi itu hujan deras datang dengan tiba-tiba.  Langit benar-benar murung.  Anak-anak petir dikirimkan secara bertubi-tubi ke bumi.  Di tengah cuaca menakutkan itu, markas besar perbatasan Kerajaaan Blambangan sedang diramaikan dengan sebuah pertemuan besar.  Sebuah meja panjang di aula dipenuhi oleh orang-orang penting. Nampak Ki Hangkara memimpin pertemuan didampingi oleh Panglima Narendra, Laksamana Utara dan Nyai Genduk Roban.  Berjajar-jajar di depan mereka, Tiga Danyang Kawah Ijen, dan Arawinda.  Kursi di jajaran kiri diisi oleh Begal Garahan dan Putri Anjani.  Sebelah kanan dipenuhi oleh rombongan Malaikat Darah Berbaju Merah dan Raja Iblis Nusakambangan.

Ki Hangkara membuka perbincangan,

”Berdasarkan laporan telik sandi yang baru saja melapor,  kekuatan Majapahit sudah bisa kita ketahui sekarang.  Perbatasan ini adalah titik penting kemenangan atau kekalahan Blambangan.  Jika kita bisa menaklukkan perbatasan dan mengalahkan para tokoh Majapahit di situ, maka gerak pasukan kita tidak akan terbendung sampai bisa menaklukkan Trowulan.”

Semua orang mengangkat kepala penuh semangat mendengar uraian Ki Hangkara.  Putri Anjani menyahut,

”Saat ini pasukan Garda Kujang sedang memperkuat perbatasan Galuh Pakuan dipimpin oleh Pangeran Andika Sinatria sendiri.  Telik sandiku menebarkan desas-desus bahwa pasukan Majapahit sedang bergerak secara besar-besaran ke arah perbatasan.”

Putri Anjani melanjutkan,

”Kalau Majapahit mendengar kabar Galuh Pakuan sedang memperkuat perbatasan, tentu mereka akan mengirimkan pasukan dengan segera dan bukan sekedar desas-desus lagi.  Kekuatan mereka akan terpecah, terutama beberapa tokoh pasti akan ditarik ke barat.  Kita di sini jadi lebih mudah menghadapinya.  Mereka sangat tangguh kalau bergabung seperti ini.”

Laksamana Utara mengutarakan pendapatnya,

”Kita tetap harus berhitung kekuatan sesuai mereka yang ada saat ini.  Dari sekarang kita harus mengatur siapa di antara kita yang harus menghadapi siapa.  Kita petakan kelemahan masing-masing mereka.”

Semua yang hadir mengangguk-angguk.  Raja Iblis Nusakambangan berkata panjang lebar dengan suaranya yang parau dan kasar.

“Aku akan menghadapi pimpinan Sayap Sima si Tunggal Jiwo.  Kau lawanlah Biantara.  Anakmu yang cantik ini pasti sanggup mengalahkan Argani.  Nenek sihir itu biarlah hadapi Bledug Awu Awu.  Urusan Aswangga serahkan kepada Arawinda.  Si kerbau gila itu akan dihadapi oleh Malaikat Darah Berbaju Merah dan pembantu-pembantunya.  Nahh terakhir begal-begal keparat ini bisa menghadapi Dua Siluman Muria.  Biar Ki Hangkara bisa beraksi dengan ilmu-ilmu setannya dibantu Tiga Danyang.” 

Ki Hangkara mengerutkan alisnya mendengar rencana yang sangat asal-asalan itu.

“Sungguh tidak salah kau dipanggil iblis.  Pikiranmu buntu.  Kau tidak perhitungkan ada anak Tunggal Jiwo ada di sana sekarang?  Gadis itu sangat tangguh.  Aku bahkan tidak yakin kau sanggup mengalahkannya.  Lalu kau akan melawan Ki Tunggal Jiwo yang bahkan kau tidak tahu kelemahannya di mana...”

Pimpinan barisan Blambangan itu melanjutkan,

”Aku sedang menunggu kedatangan paman guruku ke sini.  Jika dia ada, maka tidak terlalu sulit bagi kita untuk membagi tenaga.”

“Rencanaku jika paman guru sudah datang adalah; dia melawan Ki Tunggal Jiwo.  Aku melawan Biantara.  Laksamana Utara hadapi Maesa Amuk.  Raja Iblis Nusakambangan lawan Argani, Malaikat Darah Berbaju Merah hadapi Aswangga, Nyai Genduk Roban melawan Bledug Awu Awu, Dua Siluman Muria akan dilayani 3 Malaikat Neraka,  terakhir Dyah Puspita akan ditangani oleh Begal-begal Garahan.”

“Arawinda dan Putri Anjani mempunyai tugas khusus membuat kocar-kacir barisan musuh dari belakang.  Ciptakan kekacauan di sisi belakang akan membuat keuntungan bagi kita.  Tiga Danyang Kawah Ijen juga akan membuat berantakan pasukan musuh dari sisi kanan dan kiri.”

“Yang perlu mendapatkan perhatian dari kita adalah apakah masih ada bala bantuan musuh yang belum sempat kita ketahui sehingga kita tidak kecolongan pada saat pertempuran nanti.”

Ki Hangkara yang memang seorang ahli strategi ulung, membeberkan semua taktik luar biasa agar musuh, meskipun lebih banyak jumlahnya merasa kalah jumlah dan seperti terkepung.  Semua akhirnya sepakat menjalankan apa yang direncanakan secara rinci oleh Ki Hangkara. 

--------

Di sisi lain perbatasan.  Di waktu yang hampir sama.  Rupanya terjadi pertemuan serupa di pihak Majapahit.  Pertemuan dipimpin oleh Ki Tunggal Jiwo dan Panglima Bolodewo.  Dyah Puspita, Ki Biantara, Maesa Amuk, Bledug Awu Awu, Dua Siluman Lembah Muria, Argani, Aswangga duduk berjajar menghadap Ki Tunggal Jiwo.  Pembicaraan yang terjadi sangat serius karena menyangkut strategi Majapahit dalam menghadapi perang yang tak lama lagi pasti pecah. 

Sepanjang pertemuan, Dyah Puspita hanya menunduk saja.  Gadis itu menghela nafas panjang berkali-kali.  Wajahnya terlihat menanggung kepedihan yang sangat dalam.  Matanya kosong seperti sumur kekeringan merindukan air hujan.  Sudah beberapa hari dia ada di sini.  Banyak hal yang harus dilakukannya sesuai perintah dari pimpinan tertinggi Sayap Sima yaitu Ki Tunggal Jiwo, ayahnya.  Namun hati dan pikirannya tertinggal di Alas Roban.  Tempat terakhir dia melihat tambatan hatinya terkapar tak berdaya.  Entah bagaimana keadaan Arya Dahana sekarang.  Dyah Puspita yakin pemuda itu masih hidup.  Dia percaya kepada gadis Sunda cantik yang lihai itu.  Hanya saja perasaan kehilangan setelah berpisah dengan pemuda itu tak bisa lenyap dari hatinya.

Dia ditugaskan oleh ayahnya untuk memimpin sekelompok pasukan Sayap Sima menyerang dari arah kiri jika pertempuran berlangsung.  Tugasnya sangat sederhana.  Porak-porandakan formasi pasukan musuh.  Dia tidak diberi tugas khusus melawan salah seorang tokoh yang membela Blambangan.  Dyah Puspita tahu ayahnya sengaja memberi tugas yang sederhana karena melihat Dyah Puspita tidak mempunyai semangat sama sekali.  Hukuman yang dijatuhkan mengharuskan Dyah Puspita bertempur membela Majapahit dengan taruhan nyawanya.  Tapi hukuman itu tidak menyebutkan secara rinci tugas apa yang harus dilakukan.  Sehingga Ki Tunggal Jiwo pun bebas untuk memberikan tugas yang seperti apapun yang penting Dyah Puspita tidak melarikan diri.

Pertemuan itu diakhiri dengan masing-masing orang mendapatkan tugas apa yang harus dilakukan pada saat perang berkecamuk.  Namun mendadak sebelum para peserta pertemuan membubarkan diri, seorang berbaju hitam-hitam tergesa-gesa masuk dengan peluh membasahi seluruh tubuhnya.

“Panglima...Ki Tunggal Jiwo...ada berita maha penting yang harus saya sampaikan segera...mohon maaf menganggu pertemuan andika sekalian...” dengan terengah-engah telik sandi itu melaporkan.

“Hamba melihat ada bala bantuan datang ke markas Blambangan.  Cuma satu orang...tapi ini...ini...mengerikan..”

Ki Tunggal Jiwo mengangkat alisnya,

”Sabar kisanak...tenang dulu...apa maksudmu dengan bala bantuan...dan kenapa dengan satu orang itu..?”

Telik sandi itu mencoba menenangkan diri sambil menghela nafas panjang panjang,

”Tadi...hamba melihat ada seorang kakek sangat tua....mendatangi markas perbatasan Blambangan....sendirian...ta...tapi...ternyata di belakangnya mengikuti banyak sekali...mahkluk mahkluk mengerikan....se...sepertinya mahkluk mahkluk itu...genderuwo...banaspati....wewe gombel...dan lainnya yang hamba sendiri bahkan tidak tahu apa namanya....hhhhhh....hiiiiiiii.....”

Kelihatan sekali betapa berubahnya wajah beberapa tokoh tua di ruangan itu.  Ki Tunggal Jiwo sendiri bahkan saking terperanjatnya hanya terdiam meski Dyah Puspita menggamit lengannya beberapa kali bertanya.  Ki Biantara seperti orang tercenung dan sedang berpikir keras.  Yang paling kentara reaksinya sangat kaget dan jerih adalah Bledug Awu Awu.  Tokoh sihir andalan Majapahit itu menundukkan mukanya yang pucat pasi.

Ki Tunggal Jiwo bergumam lirih namun cukup jelas untuk didengar oleh seisi ruangan,

“Hmmmm... ini gawat sekali.  Tidak ada satu orangpun di ruangan ini yang bisa menghadapi kekuatan sihirnya.”

Bledug Awu Awu menyahut lemas,

”Kenapa tokoh mengerikan ini muncul lagi??...untuk menghadapi  Nyai Genduk Roban saja aku kewalahan...apalagi ada datuk dari segala datuk sihir datang membantu Blambangan...belum lagi kekuatan sihir dan teluh Ki Hangkara dan Tiga Danyang Kawah Merapi....ahhhhh....Raja Iblis Nusakambangan dan pasukannya juga tidak kalah mengerikan...”

Semua yang berada di dalam ruangan terdiam.  Jika ahli sihir andalan Majapahit saja sudah pasrah seperti ini, bagaimana nasib pasukan Majapahit nantinya?  Ilmu sihir dan semacamnya mungkin masih bisa dilawan dengan kekuatan tenaga batin orang-orang yang berhati bersih.  Namun hanya sedikit orang-orang seperti itu di kalangan pasukan Majapahit.  Hampir semuanya adalah manusia kebanyakan yang tidak punya kelebihan di tenaga batinnya.

Ki Biantara melompat berdiri,

”Heiiii...ayolah kawan-kawan.  Jangan putus asa.  Semuanya pasti ada jalan keluarnya.”

Seruan ini dalam sekejap membangkitkan semangat semua orang.  Namun padam lagi seketika mengingat betapa ngerinya situasi yang sedang mereka hadapi.

Ki Biantara melanjutkan,

”Kita sebenarnya bisa minta bantuan seseorang yang pernah menaklukkan datuk sihir ini.  Namun begitu kecil kemungkinannya.  Tidak ada yang tahu di mana keberadaannya.  Tidak juga ada yang tahu apakah orang ini masih hidup atau sudah mati.  Si Bungkuk Misteri selalu misterius dari sejak jaman dia masih muda.”

Ki Tunggal Jiwo mengangguk membenarkan,

”Biantara benar.  Mohon bantuan Si Bungkuk Misteri adalah jalan keluar terbaik bagi kesulitan kita saat ini.  Namun tokoh sakti ini sangat sulit dicari...sekarang kita serahkan saja semua pada kekuatan Biantara dan Bledug Awu Awu untuk menanggulangi sihir mereka...”

Argani yang sedari tadi berbisik-bisik lirih dengan Aswangga mengangkat tangannya,

”Ki Tunggal Jiwo, ada satu pilihan lagi sebenarnya yang bisa kita harapkan bantuannya.  Ratu Laut Selatan punya kekuatan gaib dan sihir yang tidak terukur.  Bagaimana kalau...”

Ucapan Argani terputus dengan sergahan Maesa Amuk.

“Waaaahhhh....minta bantuan ratu gaib itu sama saja dengan bunuh diri...apakah kau mau dijadikan tumbal sebagai imbalannya...?!”

Argani terlihat tersinggung sekali disela seperti itu.  Namun ditahannya kemarahannya, karena semua orang kecuali Aswangga mengangguk-angguk mengiyakan.

Ki Biantara menengahi pertikaian yang bisa saja pecah menjadi pertarungan itu dengan berkata lantang.

“Baiklah.  Sekarang yang bisa kita lakukan adalah menahan sihir mereka sebisa mungkin.  Aku dan Bledug Awu Awu akan berusaha semampunya menahan serangan sihir mereka.  Sisanya kita serahkan kepada Sanghyang Widhi Wasesa...ehhh sebentar, aku sepertinya punya jalan keluar.  Bledug Awu Awu, bantu aku menemukan seseorang...”

Bledug Awu Awu mengangguk mengerti sambil mengikuti Ki Biantara ke sudut ruangan.  Kedua tokoh jago sihir ini bersila berhadapan sambil memejamkan mata dan mempertemukan kedua telapak tangan mereka. Dengan mata masih terpejam, Ki Biantara berbisik-bisik sementara Bledug Awu Awu mengangguk-angguk. 

Untuk beberapa lama ruangan itu sehening kuburan tua.  Semua orang memperhatikan kedua tokoh yang sedang melakukan ritual langka yang disebut Mencari Jejak Roh.  Ilmu yang digunakan untuk menemukan keberadaan seseorang dimanapun orang itu berada.  Itupun jika orang yang dicari tidak sedang menutup diri.  Ilmu kebatinan tingkat tinggi yang hanya bisa dilakukan oleh segelintir orang saja di dunia persilatan Tanah Jawa.

Setelah beberapa kejap, kedua tokoh ini membuka mata dan berdiri dengan keringat bercucuran di dahi dan leher.  Tampak sekali mereka kelelahan setelah melakukan ritual ini.  Namun terlihat Ki Biantara tersenyum puas sekali.

“Ki Tunggal Jiwo, andika pasti masih ingat kisah ajaib di Ranu Kumbolo beberapa waktu yang lalu.  Muridku adalah pewaris kitab Ranu Kumbolo yang sakti.  Aku tahu pasti muridku sudah menamatkan isi kitab sihir sakti itu.  Aku yakin dia bisa menahan dan menandingi sihir Datuk Rajo Bumi.   Aku sudah menemukan tempat di mana dia berada.  Tidak berapa jauh dari sini.  Mengherankan apa yang dilakukannya sedekat ini dengan perbatasan  Blambangan.  Padahal dia bertempat tinggal jauh di kulon sana.”

Dyah Puspita yang tadi masih menduga-duga, sekarang bersinar-sinar wajahnya dan berkata,

”Maksud Paman Biantara, murid paman itu gadis cantik jelita dari Tanah Sunda?  Dewi Mulia Ratri kah namanya?”

Ki Biantara menoleh kepada Dyah Puspita dan mengangguk membenarkan.  Dyah Puspita menyahuti lagi dengan cepat,

”Bolehkah aku saja yang mencarinya Ayah? Paman?  Tunjukkan dimana tempatnya.  Aku pasti bisa membawanya kesini dengan cepat.” Wajah cantik itu berseri-seri penuh harap.

Ki Tunggal Jiwo bertatap mata dengan Ki Biantara kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling.

“Aku adalah pengawas pengadilan atas kesalahan Dyah Puspita.  Aku berhak memutuskan apa saja selama dia tidak melarikan diri dari hukuman yang sudah dijatuhkan.  Aku percaya dia tidak akan melarikan diri jika diberi tugas penting ini.  Tapi aku harus tahu bahwa kalian semua menjadi saksi atas keputusanku ini.  Jika ada yang keberatan silahkan angkat tangan kalian.” 

Argani dan Aswangga mengangkat tangan mereka dengan cepat.  Ki Tunggal Jiwo melanjutkan,

”Dua orang keberatan.  Ada yang tidak keberatan dengan keputusanku ini?  Silahkan angkat tangan kalian.”

Semua tangan teracung ke atas kecuali Argani, Aswangga dan Dua Siluman Lembah Muria.

“Jadi yang keberatan hanya dua orang.  Yang lain akan menjadi saksiku nanti jika dua orang ini mencoba memutar balik fakta kelak.  Baiklah...putriku berangkatlah sesuai petunjuk arah Biantara.  Bawalah gadis itu kemari secepatnya.  Aku takut perang akan terjadi tidak lama lagi.”

Dyah Puspita mengangguk gembira.  Semua mendung yang menaungi wajahnya sirna seketika.  Gadis itu mendatangi Ki Biantara yang sudah menuliskan sesuatu yang mirip peta pada gulungan kecil lontar dan memberikannya kepada gadis itu.  Tanpa menunggu lebih lama, Dyah Puspita keluar ruangan lalu menggerakkan tubuhnya berkelebat lenyap dari tempat itu.  Ki Tunggal Jiwo menggeleng-gelengkan kepala melihat perubahan mendadak dari putrinya itu.  Dia sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi.

--------

Dewi Mulia Ratri dan Sima Lodra yang menggendong Arya Dahana mulai memasuki kawasan pegunungan Meru Betiri dan beristirahat di sebuah tempat yang cukup lapang di pinggir sebuah telaga kecil.   Mereka sudah menempuh perjalanan selama beberapa hari.  Dewi Mulia Ratri tidak tahu dan tidak peduli kemana mereka akan menuju.  Dia hanya mengikuti kemana Sima Lodra melangkah dan berlari. 

Satu-satunya hal yang dia peduli saat ini adalah kesembuhan pemuda yang terbaring di depannya dan sedang dia bersihkan dengan lembut wajah dan tubuhnya dengan kain yang dibasahi.  Dia tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan hatinya.  Selalu saja menyuruh untuk dekat dengan pemuda ini.  Rasa cemas dan khawatir saat bangun tidur di pagi hari, membuatnya cepat-cepat memeriksa keadaan pemuda yang punya kebiasaan pingsan selama berhari-hari ini. 

Rasa senang dan bahagia menyaksikan wajah kurus dan bandel itu memerah karena aliran darah yang mengalir lancar, membuatnya berbunga-bunga penuh harapan yang entah berwujud apa.  Ini konyol sekali! Pikir Dewi Mulia Ratri mencoba membantah hatinya.  Ada pangeran sakti dan tampan di negeri pasundan sana yang telah menjatuhkan hatinya lewat rasa suka dan kekaguman.  Namun ada juga pemuda dekil kurus di sini yang tanpa diduga-duga sama sekali membuat hatinya jungkir balik tidak karuan. Hhhhhh...sangat konyol! Pikiran itu berulang-ulang melenyap hilang namun berulang-ulang pula menyergap datang.

Hari ini Sima Lodra seperti kebingungan arah.  Namun setelah melihat sekeliling sesaat, harimau perkasa ini melompat masuk ke dalam hutan.  Dewi Mulia Ratri hanya memandang saja bayangan binatang raksasa itu lenyap ditelan pepohonan.  Dia memandang pemuda yang masih pingsan itu dengan cermat.  Ini hari ke enam Arya Dahana pingsan.  Kenapa pingsan kok bisa begitu lama ya? Dewi Mulia Ratri bergelut lagi dengan pikirannya.  Rasa iba yang begitu dalam menjejak masuk dalam perasaannya.  Untung saja pemuda ini selalu punya teman dalam perjalanannya.  Kalau tidak bagaimana bisa dia bertahan hidup jika dalam kondisi seperti ini. 

Semakin lama rasa iba itu menggetarkan perasaannya yang terdalam.  Diusapnya wajah itu.  Dibelainya rambut gondrong yang masih terawat karena dia rajin membersihkan setiap hari meski pemuda itu masih pingsan.  Digenggamnya kedua tangan kurus namun kokoh itu dengan erat.  Dia sangat merindukan saat-saat dicarikan ikan oleh pemuda itu setiap pagi dan dia selalu menolaknya dengan kejam.  Dia ingat betapa perhatiannya pemuda itu kepadanya setiap hari.  Dewi Mulia Ratri benar-benar tak pernah terlupa ketika pemuda itu dengan begitu romantisnya menuliskan sebuah sajak ketika orang-orang mulai menjuluki mereka sepasang pendekar air dan api.  Tanpa sadar tangan gadis itu merogoh dalam kantung bajunya dan mengeluarkan gulungan lontar itu.  Tidak ada bosan dia membacanya setiap hari;

Kisah Air dan Api-Satu Benang

Kita ini seperti diciptakan dari satu benang. Bergabung dalam satu tenunan, menerbangkan layang-layang dalam satu gulungan. Serat yang menyusun pun berwarna sama terang. Dengan kekuatan tarik dan ulur yang sama seimbang.

Kita ini dilahirkan dari satu rahim alam. Bergumul dengan kumalnya sungai dan lautan. Menggurat langit dan bulan yang termenung kesepian. Membuat surat bernada cinta kepada geram dan kusam.

Kita ini dipertemukan oleh bibir kawah berapi dan puncak-puncak awan. Mencari melati di antara bulu-bulu jerami yang beterbangan. Menemukannya telah menjadi seikat kenangan. Bersumpah janji akan memberikan tanah petani, segunung kesuburan, sesamudera kebaikan, sesumur kebajikan.

 

“....bagus ya Ratri? Itu adalah sajak curahan hati...”

Dewi Mulia Ratri terlonjak kaget seperti tersengat kalajengking.  Suara itu begitu mengejutkan, begitu menenangkan, begitu menyenangkan, sekaligus juga menyebalkan karena telah berani menelanjangi harga dirinya. Ditariknya tangan yang tadi menggenggam erat tangan pemuda itu.  Dilihatnya Arya Dahana sedang duduk dengan susah payah sambil tersenyum memandangi dirinya.  Dia siuman! Terimakasih Sanghyang Widhi! Kau kabulkan doaku yang penuh dengan rindu ini.  Dewi Mulia Ratri mengucap rasa syukur sedalam-dalamnya dari lubuk hati. 

Namun yang keluar dari mulutnya yang manis itu,

”Puisinya bagus Dahana.  Hanya sayang, si penulis puisi ini adalah orang paling menyebalkan yang pernah aku kenal..huh!” digulungnya daun lontar itu dengan kasar.  Dimasukkan kembali ke kantong bajunya dengan lagak seolah itu adalah barang yang tak berguna.

Arya Dahana gantian terperangah.  Gadis ini agak sombong rupanya.  Tadi jelas-jelas dia menikmati membaca sajak itu dengan memegang erat tangannya.  Tapi begitu dia tersadar bahwa dirinya sudah siuman, cepat-cepat ditutupinya kemesraan hati itu dengan kesombongan yang semena-mena.  Namun pemuda itu adalah pemuda yang sedikit penggoda.  Diraihnya tangan halus gadis cantik itu sambil berkata dengan ringan.

“Bukankah tadi seperti ini Ratri...tanganmu ini membuatku tersadar dari pingsan...kalau kau lepaskan...aku takut pingsan itu kembali datang lagi...nantinya kamu akan repot mengurusiku lagi....” wajah kurus itu nyengir dengan sia-sia karena yang diberi senyuman malah mendelik lalu melengos dengan sadis.  Anehnya, tangannya yang dipegang oleh Arya Dahana tidak berusaha untuk dilepaskannya.

Terdengar suara gemerisik halus di balik pepohonan di belakang dua muda-mudi ini.  Dewi Mulia Ratri melepaskan tangannya dengan tergesa-gesa.  Sedangkan Arya Dahana menoleh ke arah sumber suara dan terperangah untuk kedua kalinya.

“Pus.....Pus....Puspa....” tergagap-gagap pemuda itu menyapa sosok yang sekarang berdiri dengan anggun di hadapan mereka.

Dyah Puspita tersenyum dengan terpaksa,

“Arya, kamu terpukau oleh kecantikan gadis Sunda ini sehingga caramu memanggilku sama dengan memanggil seekor kucing....bagaimanapun aku senang kamu sudah mulai pulih kembali.”

Suara Dyah Puspita sedikit mengandung isakan dan kini menatap Dewi Mulia Ratri yang sedang berdiri memandang dirinya dengan kikuk dan jengah.

“Terimakasih telah menjaga dan merawatnya dengan baik adik yang cantik....aku hanya ingin sampaikan jika kau tidak keberatan bahwa Ki Biantara sekarang sedang menunggumu di markas pasukan perbatasan Kerajaan Majapahit di Alas Garahan...tolong datanglah...bawalah Arya bersamamu...aku berjanji tidak akan mengganggumu..”

Setelah menyelesaikan kalimatnya dengan cepat, gadis cantik itu berkelebat lenyap dari hadapan Dewi Mulia Ratri dan Arya Dahana.

Dewi Mulia Ratri yang masih tertegun bingung hanya memandang dengan pasrah kepergian Dyah Puspita.  Dia benar-benar merasa bersalah kepada gadis cantik itu.  Dia tahu gadis itu sangat mencintai Arya Dahana.  Dan tanpa sengaja dia menyakiti hatinya karena telah berpegangan tangan dengan Arya Dahana.  Berpegangan tangan?! Diayunkannya tatapan garang kepada pemuda itu.

“Dasar genit tidak ketulungan!....ayo kita  pergi ke Alas Garahan...” ditariknya lengan Arya Dahana dengan kasar.  Pemuda yang sedang dalam perasaan tidak karuan karena pertemuan dan kejadian yang sama sekali tak terduga-duga tadi, menyerah saja ditarik sedemikian rupa oleh Dewi Mulia Ratri.  Akibatnya tentu seperti yang sudah dibayangkan.  Tubuh pemuda yang beberapa hari tidak makan dan dalam kondisi lemah luar biasa itu seperti layang-layang mainan saja.  Melayang ke depan dan tanpa bisa dicegah lagi terjatuh keras di antara semak semak berduri tajam. 

Dewi Mulia Ratri yang tidak menyangka perbuatannya berakibat buruk kepada Arya Dahana, kontan saja melesat ke depan menolong pemuda itu yang sedang susah payah bangkit sambil meringis menahan kesakitan akibat duri-duri yang menusuk tubuhnya.  Melihat Arya Dahana meringis-ringis seperti itu, melelehkan gugup, amarah dan rasa bersalah  Dewi Mulia Ratri.  Dipeluknya lengan pemuda itu dengan lembut dan dituntunnya agar bisa keluar dari jeratan duri-duri tajam.  Gadis itu bisa merasakan bahwa Arya Dahana masih sangat lemah.  Dituntunnya pemuda itu duduk dengan baik.  Diambilnya dengan cepat daging asap perbekalan mereka.  Diberikannya kepada Arya Dahana.  Lalu tubuhnya melesat seperti kilat mengambilkan air minum.

Ketika dilihatnya Arya Dahana hanya bengong saja sambil memegang daging asap itu, Dewi Mulia Ratri menjadi tidak sabar.  Diambilnya kembali daging itu kemudian duduk di sebelah Arya Dahana.  Dengan penuh perhatian disuapkannya potongan-potongan daging itu ke mulut Arya Dahana.  Pemuda itu memandangnya penuh rasa terimakasih sambil tetap meringis-ringis menahan rasa sakit tertusuk duri-duri tadi.  Sesiangan itu Dewi Mulia Ratri merawat Arya Dahana dengan penuh kasih.  Tapi semua dilakukannya dalam diam.

Arya Dahana pun tidak banyak berkata-kata.  Setelah makan, pemuda itu segera duduk bersila sambil mengerahkan hawa murni di tubuhnya untuk memulihkan diri.  Mereka sudah sepakat bahwa sore ini harus segera berangkat ke Alas Garahan.  Dewi Mulia Ratri khawatir pasti ada apa-apa kalau sampai gurunya memanggil dirinya.  Sore itu Arya Dahana merasa sudah cukup segar dan kuat untuk melanjutkan perjalanan.  Sima Lodra dengan setia berjalan di sampingnya.  Sepertinya berjaga-jaga siapa tahu dia terjungkal lagi dengan tiba-tiba.

Karena Arya Dahana belum bisa sepenuhnya mengerahkan Ilmu Meringankan Tubuh, perjalanan itu menjadi lambat.  Menjelang siang keesokan harinya, baru mereka mulai memasuki Alas Garahan.  Kedatangan mereka disambut dengan teriakan-teriakan perang, denting logam beradu, suara-suara mengaduh dan siutan-siutan angin pukulan orang-orang berilmu tinggi yang sedang bertempur dengan ganas di kejauhan.

Tempat peperangan yang sedang terjadi ini berada di padang rumput yang cukup luas yang bisa menampung ribuan orang.  Dewi Mulia Ratri dan Arya Dahana serta Sima Lodra menyaksikan pertempuran itu awalnya dari kejauhan.  Namun tanpa disadari, tubuh sepasang muda-mudi semakin mendekat ke gelanggang pertempuran.

Pertempuran yang terjadi memang luar biasa dahsyat.  Pasukan Majapahit dan pasukan Blambangan bertempur seperti layaknya pasukan yang terlatih.  Formasi-formasi perang bergantian terjadi sesuai dengan strategi panglima masing-masing.  Dewi Mulia Ratri dan Arya Dahana juga menyaksikan banyak gelanggang-gelanggang yang lebih kecil tempat para tokoh-tokoh sakti saling beradu ilmu dan kemampuan. 

Pertama kali yang dilihat adalah pertarungan antara Argani melawan Raja Iblis Nusakambangan.  Dua tokoh sesat yang berbeda kepentingan itu bertukar pukulan dengan hebat.  Meski terlihat bahwa perlahan namun pasti, Argani terdesak oleh serangan-serangan Raja Iblis Nusakambangan. 

Tidak seberapa jauh dari situ, terlihat debu mengepul berhamburan akibat pukulan-pukulan dahsyat yang dilontarkan.  Laksamana Utara sedang bertarung melawan Maesa Amuk.  Dua tokoh ini bertarung dengan seimbang.  Kemampuan keduanya setara dan belum nampak mana yang terdesak dan mana yang mendesak.

Muda-mudi ini tidak ada sama sekali yang memperhatikan.  Meskipun saking penasarannya mereka kini sudah sangat dekat sekali dengan gelanggang pertempuran.  Mereka sekarang mendekati pertarungan antara Aswangga dan Malaikat Darah Berbaju Merah.  Pertarungan yang juga seimbang.  Akan butuh waktu lama bagi kedua orang ini untuk menyudahi pertarungan.

Di ujung gelanggang pertempuran dekat dengan pasukan berbaju merah-merah yang sedang bertempur dengan satu regu pasukan Sayap Sima,  bertarunglah Tiga Malaikat Neraka melawan Dua Siluman Lembah Muria.  Pertarungan yang menarik karena melibatkan banyak orang.  Saking cepatnya pertarungan ini, yang nampak hanya bayangan-bayangan berkelebatan.  Belum nampak siapa yang lebih unggul dari gelanggang yang ini.

Dari tadi sejak mereka memasuki kancah peperangan yang sangat hiruk-pikuk ini.  Mata Arya Dahana mencari kesana kemari.  Dia sangat mengkhawatirkan Dyah Puspita.  Gadis itu kemarin pergi dengan luka menganga di hati.  Dia khawatir gadis itu akan sangat nekat tanpa memperhatikan keselamatan lagi.  Diperhatikannya Dewi Mulia Ratri juga terlihat sedang mencari-cari seseorang di kecamuk pertempuran ini.

Sampailah mereka di sudut lapangan yang berbatasan dengan hutan.  Terjadi pertarungan yang sangat aneh dan tidak lazim di sini.  Bledug Awu Awu melawan Nyai Genduk Roban.  Dua tokoh ini saling menciptakan sihir-sihir yang aneh dan langka.  Bledug Awu Awu menciptakan pasukan serigala berbulu abu-abu berjumlah puluhan.  Pasukan serigala ini dihadapi oleh puluhan pasukan serigala berbulu putih ciptaan Nyai genduk Roban.  Tidak terlalu jauh di belakang Nyai Genduk Roban.  Berdiri dan bersiaga Begal Garahan.  Begal yang sesungguhnya tinggal tiga orang ini mendapatkan tugas khusus dari Ki Hangkara untuk mengawal nenek ahli sihir ini.  Karena jika ada yang menyerangnya menggunakan ilmu kanuragan, nenek ini tak akan bisa melawan sebab tidak mempunyai ilmu kanuragan.

Dewi Mulia Ratri bisa melihat dengan jelas bahwa pertarungan sihir ini sangat seimbang.  Tapi gadis ini juga menyadari jika Bledug Awu Awu menyerang menggunakan ilmu-ilmu kanuragan.  Nenek itu pasti akan mudah dikalahkan.  Dilihatnya tiga orang yang sedang berdiri memperhatikan pertarungan ini pastilah penjaga sang nenek jika sewaktu-waktu diserang menggunakan ilmu kanuragan.

Sepasang muda-mudi ini melanjutkan pencarian ke arah timur gelanggang pertempuran.  Di sana-sini korban-korban pertempuran bergeletakan.  Mayat-mayat bertumpuk-tumpuk pasrah seolah sedang menanti burung Nazar menghabisi tubuh-tubuh dingin mereka.  Tubuh-tubuh luka bergelimpangan menunggu pertolongan.  Rintihan kesakitan terdengar sangat menyayat hati.  Membubung tinggi ke langit menodai awan-awan yang menggelap dengan cepat.  Sepertinya malaikat kematian akan semakin banyak mengirimkan hujan.  Untuk membasuh angkara yang sedang meraja diraja di tanah lapang gelanggang pertempuran.

Dewi Mulia Ratri dan Arya Dahana menghentikan langkah mereka.  Kali ini mereka disuguhi sebuah pertarungan luar biasa dahsyat antara Ki Hangkara melawan Ki Biantara.  Pertarungan tingkat tinggi ini sangat mendirikan bulu roma.  Awan hitam bergulung-gulung menutupi tubuh keduanya.  Keduanya sama-sama tangguh dalam ilmu kanuragan.  Keduanya juga sangat ahli dalam hal ilmu sihir.  Tak terbayangkan bagi orang awam bagaimana kedahsyatan pertarungan ini.  Tingkatan ilmu kanuragan dan kemampuan sihir mereka benar-benar seimbang.  Entah kapan pertarungan hidup mati itu akan berakhir.

Rupanya Ki Biantara menyadari kehadiran muridnya di situ.  Tokoh ini melompat jauh ke belakang menghindari serangan Ki Hangkara sambil berbisik lirih melalui ilmu Mengirimkan Suara kepada Dewi Mulia Ratri.

“Muridku, kalau kau nanti melihat Datuk Rajo Bumi mulai masuk dalam kancah pertempuran.  Bantulah kami menghadapinya.  Sihirnya sangat tinggi luar biasa.  Hanya kamu yang sanggup menandinginya.  Tapi jika dia mengeluarkan ilmu kanuragannya, kamu belum sanggup menandinginya anakku.  Mintalah bantu Dyah Puspita dan pemuda di sampingmu itu.”  Setelah mengirimkan pesan singkat, Ki Biantara bergerak menyerang lagi Ki Hangkara. 

Dewi Mulia Ratri mengangguk mengerti.  Digamitnya lengan Arya Dahana agar mereka segera pergi mencari Dyah Puspita.  Arya Dahana menurut saja mengikuti langkah Dewi Mulia Ratri pergi dari tempat itu.  Sima Lodra dengan waspada mengikuti sepasang muda-mudi itu.

Akhirnya sampailah mereka ke gelanggang terakhir pertarungan antara para tokoh Majapahit dan Blambangan.  Ki Tunggal Jiwo bertarung melawan Tiga Danyang Kawah Ijen.  Meskipun dikeroyok oleh tiga orang, tokoh nomor satu Sayap Sima ini tidak nampak kewalahan.  Namun tidak juga bisa mendesak hebat. 

Sekarang Dewi Mulia Ratri mulai kebingungan.  Dia jelas tidak akan menerjunkan diri ke pertempuran ini kecuali jika Datuk Rajo Bumi telah mulai turun tangan sesuai pesan gurunya.  Dyah Puspita tidak nampak di mana-mana.

Mendadak suasana berubah gempar di arena pertempuran para pasukan biasa.  Pasukan Majapahit yang berhasil menguasai pertempuran mendadak kocar-kacir.  Formasi yang dibentuk oleh panglima perang mereka menjadi berantakan.  Dari sisi kiri formasi menyerbulah Arawinda beserta pasukan pilihan Blambangan.  Dari sisi kanan, pasukan Majapahit diserang oleh Putri Anjani yang diikuti oleh puluhan Pasukan Istana Laut Utara.  Dari barisan depan formasi pasukan Blambangan, muncullah 20 orang pasukan khusus Nusakambangan.  Serangan mereka sangat aneh karena tidak menggunakan senjata atau sejenisnya.  20 orang itu bersama-sama merapal mantra-mantra menggidikkan yang membuat pasukan garis depan Majapahit seperti kehilangan semangat bertempur.  Pada kondisi seperti itu pasukan Blambangan dengan mudah membantai pasukan Majapahit yang sudah terpengaruh mantra penakluk itu satu demi satu. 

Yang lebih mengerikan lagi, bagian belakang formasi pasukan Majapahit diserang oleh makhluk-makhluk dari alam gaib dan pasukan orang mati yang dibangkitkan dari kuburnya.  Kontan saja orang-orang yang tidak kuat batinnya langsung jerih dan mencoba melarikan diri tanpa sedikitpun berusaha melawan.

Dewi Mulia Ratri tergerak hatinya melihat pertempuran berubah keseimbangannya karena permainan sihir dan teluh.  Dia berkata pelan kepada Arya Dahana dan Sima Lodra.

“Dahana, aku akan menangani serangan gaib dan teluh itu.  Kau tahanlah serangan Putri Laut Utara dari sisi kanan.  Sima Lodra, bantulah pasukan di sayap kiri yang diserang oleh gadis manis aneh entah siapa itu...” setelah berkata singkat, Dewi Mulia Ratri berlari ke bagian belakang pasukan Majapahit.  Dilihatnya pasukan gaib dan orang mati itu ternyata tidak sekedar menakut-nakuti namun bertempur sungguhan dan membunuhi orang dengan cepat.  Cara membunuhnya pun bermacam-macam tapi semuanya serba mengerikan.

Dewi Mulia Ratri meneguhkan hati melihat pemandangan mengerikan itu.  Diangkatnya kedua tangan ke langit.  Dikerahkannya ilmu Menaklukkan Roh yang dipelajarinya dari Kitab Ranu Kumbolo.  Dikibaskannya kedua tangan ke arah pasukan gaib dan orang mati itu berkali-kali.  Kabut putih tiba-tiba melingkupi seluruh area di sekitar pasukan aneh itu.  Tubuh-tubuh fana makhluk-makhluk bukan fana itu rontok ke bumi dengan seketika begitu kabut putih itu menyentuh mereka.  Pasukan gaib dan orang mati itu lenyap tanpa bekas seperti ngengat yang disiram api.

Pasukan Majapahit yang sebelumnya berantakan tidak karuan kini kembali pada formasi.  Ratusan orang pasukan itu memandang takjub dan penuh terimakasih kepada Dewi Mulia Ratri. 

Gadis itu hanya mengangguk pelan tanpa senyum membalas pandangan terimakasih mereka.  Dia lalu bergerak ke formasi depan yang semakin hancur karena perbuatan teluh 20 pasukan Nusakambangan.  Dewi Mulia Ratri tidak tahu bagaimana cara menghadapi teluh penakluk ini.  Namun gadis ini tidak berpanjang-panjang pikir.  Diayunkannya kedua tangannya ke depan dan muncullah 20 orang yang persis bermuka dan bertubuh sama dengan 20 pasukan itu.  Pasukan baru ini menyerang pasukan Nusakambangan dengan serempak.  Serangan yang dilancarkan ternyata serupa dengan pasukan aslinya.  20 orang pasukan yang terbiasa bermain-main dengan mantra dan teluh itu terperanjat bukan main ketika duplikat dari diri mereka sendiri menyerang dengan hebat. 

Putuslah aliran teluh yang tadi mempengaruhi pasukan barisan depan Majapahit karena para pelempar teluh itu sekarang sibuk bertempur melawan 20 orang pasukan Nusakambangan palsu.  Sambil bersorak-sorai pasukan Majapahit kembali merangsek maju menyerbu pasukan Blambangan.  Pertempuran memanas lagi dengan cepat.

Dewi Mulia Ratri tersenyum tipis melihat pertempuran kembali berimbang tanpa ada campur tangan sihir di dalamnya.  Diedarkannya pandangan ke sekeliling mencari keberadaan Arya Dahana.  Ketemu! Arya Dahana sedang bertempur melawan Putri Anjani.  Tapi pemuda itu terdesak hebat.  Dewi Mulia Ratri mengerutkan alis melihat itu.  Dia tahu Arya Dahana hanya punya satu ilmu pukulan namun tenaga dalamnya sangat luar biasa hebat.  Tidak mungkin secepat ini dia terdesak oleh gadis dari laut utara itu.  Diperhatikannya dengan cermat apa yang sesungguhnya terjadi.  Hmmmm...dasar pemuda dungu dan genit.  Banyak mengalah hanya karena melawan seorang gadis yang cantik. Huh! Awas kau nanti!  Dewi Mulia Ratri menahan kegeramannya dalam hati.

Gadis itu kemudian mengamati sisi lain.  Sima Lodra melaksanakan perintahnya menahan serbuan Arawinda dan pasukannya.  Namun ternyata Sima Lodra sekarang malah sudah bertarung lagi melawan harimau hitam Datuk Rajo Bumi.  Sehingga Arawinda dengan leluasa kembali menerjang barisan kiri pasukan Majapahit bersama pasukan yang bersamanya.  Dewi Mulia Ratri menghela nafas panjang sambil menyerbu ke depan menghadapi gadis manis aneh itu yang juga disambut dengan cepat oleh Arawinda.  Arawinda terpekik kaget merasakan betapa serangan gadis cantik jelita ini sangat besar tenaganya.  Dia cepat-cepat mengubah serangannya menjadi lambat dan tidak mau beradu tenaga karena sadar tenaga dalamnya tidak bisa menyamai tenaga Dewi Mulia Ratri.

Di tengah-tengah pertarungan dan pertempuran yang makin dahsyat.  Terdengar jerit panjang melengking tinggi dari arah sebelah kanan Arya Dahana.  Pemuda ini melirik di tengah tengah pertarungannya melawan Putri Anjani.  Dyah Puspita!  Dilihatnya gadis cantik itu menyerang membabi buta seperti harimau kehilangan anaknya kepada... Datuk Rajo Bumi!

Hati pemuda ini tercekat.  Didorongkannya tenaga ke arah Putri Anjani yang terdorong mundur terkena angin pukulannya, lalu dia melompat menerjang kerumunan menuju Dyah Puspita.  Putri Anjani berniat mengejar lawannya namun sesosok tubuh berkelebat mencegatnya dan berkata lantang.

“Apa yang kau lakukan di sini putri cumi cumi?  Bukankah kau sebaiknya tidak mencampuri urusan peperangan ini?”

Dewi Mulia Ratri sengaja meninggalkan pertarungannya dengan Arawinda agar bisa lebih dekat ke Arya Dahana sehingga dapat melindunginya dan....melihat reaksi pemuda itu saat berdekatan dengan Dyah Puspita!  Kebetulan pula dilihatnya Putri Anjani berniat mengejar pemuda itu.

 

Putri Anjani terperangah kaget.  Dilihatnya Dewi Mulia Ratri bersedekap memandang ke arahnya dengan mata berapi-api.

“Heeiii...dan apakah yang sedang kau lakukan di sini gadis sihir?  Apakah ini yang dinamakan tidak memihak?”

Dewi Mulia Ratri tersenyum mengejek,

”Pulanglah ke Galuh Pakuan putri cumi-cumi.  Pangeran pujaanmu menunggumu di perbatasan...”

Putri Anjani mendidih darahnya mendengar ejekan itu.  Digerakkan tubuhnya menyerang Dewi Mulia Ratri dengan dahsyat.  Pertarungan tingkat tinggi untuk kesekian kalinya kembali terjadi antara dua gadis yang sama-sama saling tidak suka ini.

Kembali kepada Dyah Puspita yang sedang menyerang kakek sakti Datuk Rajo Bumi.  Gadis yang sedang putus asa dan patah semangat itu menyerang habis-habisan datuk nomor satu itu.  

Datuk Rajo Bumi membalas serangan dahsyat itu dengan gembira.  Ada lawan tangguh meski masih semuda ini.  Kakek itu sengaja tidak mengeluarkan ilmu sihirnya karena dilihatnya gadis ini sangat lihai dalam hal kanuragan namun kurang memiki kemampuan sihir.  Terjadilah pertarungan menarik beda generasi ini.  Kekuatan serangan Dyah Puspita berlipat-lipat karena amarahnya juga berlipat-lipat.  Gadis itu sama sekali tidak perduli dengan pertahanan diri.  Seperti orang yang sedang dalam misi bunuh diri.

Pertempuran besar antar pasukan ternyata sudah berhenti.  Sesuai kesepakatan perang.  Saat matahari mulai tenggelam, maka kedua belah pihak akan sama-sama menarik pasukannya.  Yang tersisa dari pertempuran hanyalah antara Dyah Puspita dan Datuk Rajo Bumi dan Sima Lodra melawan harimau hitam peliharaan sang datuk.

Dua pihak menghitung sisa pasukannya.  Dua pihak sama-sama menderita ratusan orang tewas dan terluka.  Majapahit kehilangan hampir separuh dari pasukannya.  Sementara Blambangan kehilangan tiga per empat dari seluruh pasukannya, belum termasuk anggota perkumpulan Malaikat Darah yang hampir semuanya tewas, dan sebagian besar pasukan Istana Laut Utara juga gugur dalam salah satu pertempuran terdahsyat di tanah Jawa ini.

Majapahit kehilangan Argani.  Tokoh sesat ini tewas di tangan Raja Iblis Nusakambangan.  Kehebatan ilmu pukulan Racun Dari Timurnya ternyata tidak mampu mengimbangi kedahsyatan ilmu pukulan mematikan si Raja Iblis.  Argani tewas dengan mengenaskan setelah kepalanya hancur terkenal pukulan telak si Raja Iblis yang kejam itu. 

Maesa Amuk terluka parah meskipun dia berhasil menewaskan Laksamana Utara.  Sebenarnya pertarungan berlangsung seimbang.  Hanya saja Laksamana Utara kalah dalam ketahanan tubuh.  Maesa Amuk mempunyai ilmu luar biasa yang membuat tubuhnya bisa sekeras batu dan setebal baja.  Mendekati siang tadi, keduanya beradu pukulan berkali-kali.  Hal inilah yang menyebabkan Laksamana Utara tewas karena luka-lukanya yang sangat parah, sementara Maesa Amuk tidak sampai tewas karena memiliki ketahanan tubuh yang lebih.  Meski sebenarnya diapun menderita tingkat keparahan luka yang sama. 

Aswangga dan Malaikat Darah Berbaju Merah sama-sama tewas setelah luka terlalu parah yang diderita akibat pertempuran tadi tidak segera ditangani oleh tabib.  Kedua tokoh sesat yang saling berseberangan ini bertarung habis-habisan.  Aswangga mendapatkan pukulan beracun Malaikat Darah, sementara Malaikat Darah Berbaju Merah sendiri tewas dengan tubuh menghitam setelah terkena pukulan Wedus Gembel yang dahsyat.

Yang paling mengejutkan adalah berita bahwa Ki Hangkara ternyata tewas di tangan Ki Biantara.  Ki Biantara sendiri terluka sangat parah sehingga harus ditandu keluar dari gelanggang pertempuran.  Ki Hangkara sebenarnya adalah salah satu dari tokoh Delapan Penjuru Mata Angin yang paling sakti.  Namun yang dihadapinya adalah salah satu pendekar linuwih yang juga mempunyai kesaktian tinggi.  Keduanya juga sama-sama mempunyai kemampuan sihir yang hebat.  Ki Hangkara tewas karena terlalu lengah. Saat itu pukulannya berhasil mengenai dada Ki Biantara yang langsung saja terluka hebat dan tergeletak tak berdaya.  Waktu Ki Hangkara akan menghabisi pendekar itu, kelengahan menghampiri tokoh sesat ini.  Dia terlalu menyepelekan Ki Biantara yang dikiranya sudah tidak mampu berbuat apa-apa, tapi malah berhasil mendahuluinya memasukkan pukulan mematikan.

Panglima Narendra juga tewas dalam pertempuran ini.  Panglima Blambangan yang gagah berani ini tewas bersama ratusan anak buahnya di tangan ribuan pasukan Majapahit.  Panglima yang akan selalu dikenang Blambangan sebagai seorang prajurit yang tidak pernah mundur satu langkahpun demi membela tanah airnya yang tercinta.

Yang termasuk juga dalam hitungan tokoh yang tewas adalah dua dari Tiga Danyang Kawah Ijen di tangan Ki Tunggal Jiwo. Orang nomor satu Sayap Sima ini terlalu tangguh bagi Tiga Danyang Kawah Ijen.  Meskipun dikeroyok, namun Ki Tunggal Jiwo berhasil menewaskan musuhnya satu bersatu.  Tinggal satu orang yang masih tersisa dan itupun terluka dengan cukup parah.

Tiga Malaikat Neraka diketahui ternyata juga tewas di tangan Dua Siluman Lembah Muria yang harus kehilangan satu di antaranya.  Pertarungan yang berlangsung di antara mereka luar biasa seru.  Jika satu lawan satu, sudah bisa dipastikan Tiga Malaikat Neraka akan kalah dengan mudah.  Namun saat mereka bergabung, kekuatannya cukup bisa mengimbangi dua tokoh dari Lembah Muria yang lihai itu.  Meskipun pada akhirnya mereka bertiga tetap saja tewas dalam pertarungan, tapi ikut membawa serta salah satu dari Siluman Lembah Muria tewas bersama mereka.

Blambangan jauh lebih kehilangan tokoh-tokohnya dibanding Majapahit.  Pertempuran besar satu hari ini dimenangkan oleh pihak Majapahit.  Berita tewasnya tokoh-tokoh penting dari kedua belah pihak disampaikan secara resmi oleh utusan khusus yang berkeliling gelanggang pertempuran kepada para tokoh-tokoh yang masih hidup.

Berita kekalahan telak ini telah sampai ke telinga Raja Blambangan.  Raja yang bijak namun berdarah panas ini segera memerintahkan menarik mundur semua pasukannya di perbatasan untuk memperkuat ibukota Blambangan.  Rupanya sang raja tetap bersikukuh mempertahankan kerajaannya dengan genangan darah daripada harus menyerah. 

Pihak Majapahit sendiri tidak menarik pasukannya dari perbatasan dengan Blambangan.  Bahkan perintah dari Mahapatih Gajahmada sudah jelas.  Penaklukan Blambangan tinggal menunggu waktu.

Kembali pada pertarungan antara Dyah Puspita dengan Datuk Rajo Bumi.  Dyah Puspita sekarang terdesak hebat.  Ilmu kakek tua ini masih beberapa tingkat di atasnya.  Namun dia tidak akan pernah menyerah atau berhenti hingga mati.  Suatu saat sebuah pukulan kakek sakti itu mengenai bahunya dengan cukup telak.  Dyah Puspita menjerit penuh kemarahan.  Sepertinya rasa sakit luar biasa di bahunya tidak dirasakannya.  Gadis itu terus menyerang secara membabi-buta. 

Arya Dahana yang menyaksikan hal ini merasa sangat iba sekaligus bangkit amarahnya.  Tanpa aba-aba lagi tubuhnya bergerak menyerang kakek sakti itu dengan sekuat tenaga yang dipunyai menggunakan Ilmu Pukulan Geni Sewindu.  Dewi Mulia Ratri yang juga masih bertempur melawan Putri Anjani melihat keadaan pertempuran di sebelahnya dengan giris.  Dyah Puspita terluka dan Arya Dahana sedang memuncak amarahnya.  Artinya tak lama lagi pemuda itu pasti juga akan terluka terkena pukulannya sendiri yang membalik.

Dewi Mulia Ratri bingung harus melakukan apa.  Dia tidak bisa meninggalkan pertarungan dengan Putri Anjani karena putri laut utara itu menyerangnya dengan hebat.  Dewi Mulia Ratri melompat tinggi ke belakang.

“Cukup Putri...! mengingat kita sama-sama mengabdi pada kerajaan Galuh Pakuan, hentikan pertarungan antara kita ini.  Blambangan yang kau bela telah kalah.  Ayahmu telah tewas.  Bahkan panglima dan pimpinan pasukan Blambangan yaitu Ki Hangkara juga tewas.  Apalagi yang kau kejar sekarang?”

Putri Anjani tersulut murkanya.  Hatinya sedang dalam keadaan sedih dan penuh amarah.  Dia mendengar kabar ayahnya telah tewas di tangan Maesa Amuk.  Pasukan Istana Laut Utara juga banyak yang tewas.  Semua gara-gara Majapahit! Semua gara-gara gadis di depannya yang tadi membantu Majapahit menaklukkan sihir-sihir Blambangan!  Gadis ini harus mati!  Barulah dia akan tenang dan kembali ke Galuh Pakuan atau Istana Laut Utara.

Sebelum putri cantik penuh amarah ini melepaskan pukulan-pukulan mautnya kembali kepada Dewi Mulia Ratri, sebuah bayangan memasuki gelanggang pertarungan dan memisahkan mereka berdua.

“Putri dan Dewi.  Harap tenangkan diri kalian.  Aku sudah mendengar bahwa kalian telah ikut campur dalam pertempuran antara Majapahit dan Blambangan yang seharusnya tidak kalian lakukan. Sebagai panglima Garda Kujang yang juga membawahi kalian, aku perintahkan kalian hentikan pertarungan dan segera kembali ke ibukota kerajaan Galuh Pakuan untuk memohon ampun kepada Raja..” Pangeran Andika Sinatria berkata tegas kepada dua gadis yang sedang diamuk nafsu berkelahi itu.

Putri Anjani seperti disiram air es hatinya.  Dia melangkah mundur dan menunggu bagaimana reaksi saingannya ini.  Dewi Mulia Ratri tidak berbuat hal yang sama.  Dia malah melotot kepada Andika Sinatria.  Kemudian tanpa berkata apa-apa melompat dan berlari terjun membantu Arya Dahana dan Dyah Puspita melawan Datuk Rajo Bumi.  Kakek sakti ini makin gembira.  Anak-anak muda yang hebat.  Dia masih ingat yang dua orang ini.  Dua orang muda yang bisa menahan pukulan dan sihirnya belum lama berselang. 

Andika Sinatria menghela nafas melihat reaksi Dewi Mulia Ratri yang keras kepala itu.  Dia menoleh kepada Putri Anjani,

”Pulanglah Putri.  Aku akan di sini sampai semua urusan aneh ini selesai.”

Seperti kerbau dicocok hidungnya, Putri Anjani mengangguk dan kemudian melambai kepada sisa pasukan Istana Laut Utara yang masih setia menunggu di belakangnya,

”Baiklah Pangeran.  Aku akan kembali ke Galuh Pakuan segera setelah aku memakamkan ayahku terlebih dahulu.  Terimakasih Pangeran...aku pergi dulu.”

Andika Sinatria bernafas sedikit lega.  Dia takut gadis ini sama keras kepalanya dengan Dewi Mulia Ratri.  Sekarang dia bisa memusatkan perhatiannya kepada gadis yang diam-diam telah menjatuhkan hatinya ini.  Pertarungan terakhir hari ini saat malam benar-benar tinggal masuk melangkahkan kaki di bumi, masih berlangsung. 

Datuk Rajo Bumi tidak terdesak sama sekali meski dikeroyok bertiga.  Apalagi keadaan Dyah Puspita yang terluka di bahunya membuat kemampuannya berkurang.  Dewi Mulia Ratri sangat tangguh dalam hal sihir namun ilmu kanuragannya masih beberapa tingkat di bawah kakek sakti itu.  Arya Dahana apalagi.  Satu-satunya ilmu pukulan yang dia kenali hanya Geni Sewindu.  Ilmu kuno yang dahsyat sebetulnya jika tenaganya utuh dan tidak terganggu oleh pembalikan tenaga pukulan.

Andika Sinatria tidak berpikir panjang lagi.  Diterjunkannya dirinya dalam pertarungan melawan tokoh hebat yang susah dicari tandingannya itu.  Dikeroyok berempat ternyata membawa perubahan juga.  Datuk Rajo Bumi mulai sedikit kewalahan.  Yang paling diwaspadainya adalah pukulan-pukulan Geni Sewindu Arya Dahana yang berhawa panas ini.  Tenaganya luar biasa dahsyat.  Lengah sedikit saja, nyawanya bisa terancam dengan mudah.

Sambil bertempur, datuk sesat yang aneh ini berpikir keras.  Ilmunya masih lebih tinggi dari semua yang ada di sini.  Namun jika ini dilanjutkan bisa-bisa ada bala bantuan lagi dari Majapahit mengeroyok dia.  Kakek sakti ini berseru,

”Baiklah baiklah..kalian anak-anak muda hebat.  Aku menyerah kalah kali ini...Maung, ayo kita pergi..”

Belum selesai juga kalimatnya tubuh kakek sakti itu sudah lenyap dari pandangan orang-orang.  Diikuti harimau hitam yang menghentikan pertarungannya melawan Sima Lodra dan melompat pergi.

Suasana mendadak hening.  Keempat pemuda pemudi itu sama-sama saling melempar pandangan ke arah yang berbeda-beda agar tidak saling bersirobok mata.  Andika Sinatria memandang Dewi Mulia Ratri sambil mengulurkan tangannya.

“Dewi ayo kita pulang.  Galuh Pakuan dan Garda Kujang perlu kita tata secepatnya.  Situasi agak genting di perbatasan.  Aku mengkhawatirkanmu jadi aku mencari dan menyusulmu...”

Dewi Mulia Ratri menjadi jengah mendengar perkataan penuh perhatian dan uluran tangan mesra itu.  Dia melirik ke Arya Dahana yang memandang kejadian ini dengan melongo.  Dasar pemuda tolol tak berguna! Ayo ucapkan sesuatu.  Cegah aku pergi dari sini! Pikiran Dewi Mulia Ratri berharap dengan sangat.

Sebelum Arya Dahana membuka mulutnya, terdengar keluhan pendek.  Tubuh Dyah Puspita terhuyung-huyung hampir jatuh.  Dengan sigap Arya Dahana memeluk tubuh lemas itu.  Dewi Mulia Ratri melotot melihat pemandangan ini.  Matanya berkilat penuh amarah yang tertahan.

“Dahana, aku pergi dulu.  Kau rawatlah kekasihmu itu baik-baik.”

Arya Dahana mengangkat mukanya.  Matanya bertemu dengan mata indah yang sedang menatapnya penuh amarah itu.  Pemuda ini makin bingung.  Menggeleng-gelengkan kepala untuk mengusir pikirannya yang kosong.

“Baiklah Ratri.  Berhati-hatilah.  Suatu saat kelak aku akan mengunjungimu ke Galuh Pakuan.  Terimakasih untuk semuanya.  Semoga kau tidak pernah melupakan aku.”

Tatapan Dewi Mulia Ratri makin membara.  Apalagi saat matanya melihat pelukan Arya Dahana begitu erat di pinggang ramping Dyah Puspita.  Dia tidak sanggup lagi menatap berlama-lama.  Dipalingkannya muka dan ditariknya tangan Andika Sinatria yang masih terjulur dari tadi.  Pemuda tampan dan gadis cantik itu berlalu dengan cepat ditelan kegelapan malam yang sudah benar-benar datang.

Arya Dahana menatap kosong kepergian gadis sunda itu.  Ada sesuatu yang terbetot di relung sukmanya yang terdalam.  Rasa kehilangan yang sangat besar.  Sambil menghela nafas panjang, diperiksanya denyut nadi Dyah Puspita yang sekarang memandangnya dengan mata sayu.

“Kau mencintainya Arya.  Kejarlah....tinggalkan aku. Aku bisa mengurus diriku sendiri.”  Suara itu begitu lirih dan penuh kesakitan.  Rasa sakit yang timbul dari bahu yang terluka dan rasa sakit yang tertoreh dari hatinya yang lebih terluka.

Arya Dahana tersenyum sambil melihat iba gadis cantik itu,

”Puspa, jangan bercanda.  Kau pikir aku akan meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini? Tidak!  Ayo kita pergi dari sini.  Tempat ini mengerikan sekali bagiku.  Macan, ayo!”

Sima Lodra mengaum pendek dan mengikuti langkah Arya Dahana yang berjalan perlahan sambil menggendong Dyah Puspita.

Malam telah benar-benar jatuh di Alas Garahan.  Sunyi kembali menggiriskan hati.  Angin tidak bertiup sama sekali.  Bulan yang tinggal separuh terlihat berduka dan hanya mengirimkan sinarnya yang cuma temaram ke permukaan bumi.  Alas Garahan menjadi saksi bagaimana angkara tergilas dan menggilas.  Bagaimana kebaikan dan kejahatan tidak bisa dibedakan pada saat kepentingan sesaat saja yang mengemuka. 

Yang tertinggal hanyalah tumpukan mayat dan genangan darah.  Serta kengerian yang tercatat dalam sejarah bagi yang menang maupun yang kalah.  Tidak ada kemenangan yang mutlak.  Seperti juga tidak ada kekalahan yang abadi.  Semua yang terlibat akan terseret dalam peti, pada akhirnya.

Potongan hati dan jiwa pilu bagi anak-anak muda yang terseret oleh gelombang cinta dan tetesan air mata, tidak lantas mengakhiri kisah ini.  Sebab masih banyak lagi petualangan yang harus dilalui.  Masih banyak lagi haru-biru yang akan menyertai.  Seperti perjuangan memanjat Gunung Himalaya di negeri Kali yang tak akan pernah berhenti, sampai bisa menginjakkan kaki di puncaknya yang penuh dengan salju abadi.

 

Kisah Air dan Api

Ada api yang terlahir dalam kedinginan. Ibunya seorang pejuang tak ada tandingan. Tak tahu bapanya bersaudara dengan siapa. Sebatangkara, seolah muncul dari bumi begitu saja.

Ada air yang tercipta dari kehangatan. Ibu bapanya pejuang tak kenal henti. Terus berkelana tunaikan janji bakti.

Apinya menyala dalam diam. Airnya mengalir dalam diam. Bertemu dalam rindang pepohonan. Berjumpa di rindangnya pantai berhutan. Kemudian terjebak dalam kerumitan yang menyenangkan.

Apinya sangat mencintai air dalam kesombongan yang diam. Menyayangi sepenuh hati dalam angkuhnya ketakutan. Airnya hanya terdiam tak dapat menterjemahkan. Terheran heran atas apa yang terjadi, dalam diam.

Sesungguhnya yang terjadi amatlah menyebalkan. Apinya menyala nyala, memohon agar air memadamkan, tapi tanpa kata, tanpa suara. Airnya mengalir ke sana kemari, tanpa bisa mendengarkan permohonan, karena hening yang terjadi sangatlah mencekam.

Sebenarnya yang terkisah kemudian sungguh menyayat hati. Apinya pergi, terbawa angin mencari jati diri, setelah cintanya kandas  dalam peti mati. Airnya sampai ke muara, dengan penuh tanda tanya di kepala. Bagaimana bisa, kediaman ternyata memasung membabi buta.  Membawa serta kepedihan dan patahnya sebuah cerita.

 

****************************T A M A T*********************************