Now Loading

Bab 40

Barcelona, 41° 23′ 0″ N, 2° 11′ 0″ E
Casa Mila


Cecilia selalu kagum dengan monumen penting peninggalan sejarah. Baginya keagungan masa lalu membuktikan bahwa manusia sebenarnya punya jejak peradaban yang benar.

Sayangnya memang saat ini manusia berada pada tahapan yang lebih dari serakah. Hutan-hutan yang sebenarnya merupakan loker-loker aman penyimpan rahasia bumi, dibuka satu persatu dengan paksa. Lautan yang sesungguhnya adalah periuk dapur dalam jangka panjang, diaduk habis-habisan demi mengeruk yang disebut bahan bakar. Industri mengambil alih semua tatanan. Langit menjadi tempat sampah industri yang paling terkena.

Ketika langit sampai pada batas kemampuan untuk menampung semua kekotoran industri, koyaklah pertahanannya. Lapisan ozon yang merupakan tirai pelindung robek di sana sini. Bumi yang sebelumnya sangat stabil menjaga suhu tubuhnya, terus menerus menghangat secara eksponensial.

Perubahan iklim terjadi secara ekstrim. Akibatnya ekosistem apapun saja yang ada di bumi membutuhkan revolusi agar bisa menyesuaikan diri dengan perubahan suhu. Pola panen menjadi lebih panjang atau memendek namun dengan kualitas yang jauh menurun. Migrasi ikan kecil dan krill juga berubah yang mengakibatkan mata rantai predator di atasnya putus atau berantakan. Akibatnya laut menjadi kerajaan tanpa tatanan sehingga menyulitkan para nelayan.

Tekanan udara yang sangat dipengaruhi oleh perubahan suhu mengalami lonjakan amplitudo yang tidak semestinya hingga akhirnya siklus badai atau taifun menjadi semakin sering dan lebih punya daya menghancurkan.

Semua hal  dikerjakan dengan serba cepat. Padahal sebetulnya tidak. Manusia seperti diburu-buru menimbun harta dan mengakselerasi ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Padahal seharusnya tidak.

Semua perubahan yang terjadi berikut butterfly effectnya sesungguhnya dipicu oleh manusia sendiri. Lalu setelah semuanya menimbulkan efek buruk dan terjadi secara masif dan massal, manusia kemudian berupaya buru-buru memperbaikinya. Tentu saja akan gagal. Karena memperbaiki satu saja elemen kunci dari alam, itu membutuhkan evolusi. Bukan revolusi.

Kedua dokter yang sedang mengemban amanat luar biasa bagi kemanusiaan itu meninggalkan Casa Mila yang menakjubkan dengan enggan. Ingin mereka berlama-lama menikmati setiap dinding bangunan yang begitu artistik, namun mereka tidak mau membuang waktu. Saatnya mencari dan bertemu dengan Profesor Raul Hernandez di kampus University of Barcelona. Salah satu kampus tertua di Spanyol.

Profesor Raul sedang memberikan kuliah umum di hall A bagi semua mahasiswa jurusan teknik. Keahliannya dalam Fisika Kuantum yang rumit dan kompleks telah diakui dunia. Profesor Raul menghabiskan banyak waktu untuk terbang kesana kemari memberikan kuliah di universitas-universitas ternama, seminar organisasi profesi, maupun konvensi ilmuwan fisika sedunia.

Kali ini Cecilia dan Akiko mengenakan baju kasual seperti layaknya mahasiswi pasca sarjana asing yang memang banyak terdapat di Universitas Barcelona. Akiko mengintip di pintu besar yang sedikit terbuka. Hall besar itu hanya terisi oleh beberapa belas orang. Padahal kapasitasnya bisa menampung setidaknya 120 orang.

Dengan penuh percaya diri, Akiko diikuti Cecilia melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di deretan kursi paling depan yang kosong melompong. Nyaris semua mata yang kesemuanya laki-laki memperhatikan kemunculan 2 wanita cantik ini.

Profesor Raul adalah pria paruh baya yang tampan dengan tubuh proporsional. Rambutnya yang sebagian sudah memutih menambah kharismanya sebagai seorang ahli pada keilmuan yang jarang diminati orang. Caranya mengajar sangat enak. Diselingi guyonan segar yang mengalir layaknya komedian. Akiko heran kenapa jumlah orang yang mengikuti kuliah umum ini sangat sedikit. Padahal dosennya sangat menarik dan pintar. Pasti karena mata kuliahnya yang bisa memecahkan isi kepala. Akiko pura-pura memperhatikan. Cecilia mengambil buku catatan. Sibuk membuat coretan di atasnya.

Profesor Raul sedang menjelaskan bagaimana Fisika Kuantum mempelajari kemungkinan hancurnya sebuah planet yang diawali oleh partikel-partikel sub atomik yang ditarik gaya gravitasi dan menumpuk di inti. Akibatnya massa yang tidak tertampung kemudian saling berfusi yang pada akhirnya memicu reaksi nuklir yang menghabiskan seisi planet. Akiko menguap lebar. Sementara Cecilia masih tekun mencoret-coret catatannya.

Akiko melirik Cecilia dengan pandangan heran. Apa mungkin dokter ahli virulogi ini sangat tertarik pada bintang katai dan partikel atomik yang menyusunnya dan sekaligus juga telah menghancurkannya seperti yang dikatakan Profesor Raul dalam kelanjutan kuliahnya? Akiko penasaran.

Selama setengah jam berikutnya Profesor Raul terus bicara dengan semangat bagaimana mekanika kuantum akan mempunyai peranan yang luar biasa penting di masa depan dalam membuka dimensi waktu. Akiko nyaris tertidur kalau saja tidak dikejutkan dengan suara kertas dirobek di sampingnya. Wah, mungkin catatan Cecilia tentang mekanika kuantum sudah penuh dan dia ingin menyimpannya di kantong baju sebagai kenangan yang menyenangkan.

Akiko hampir tidak kuat lagi menahan ketawa atas pikirannya sendiri itu jika tidak tiba-tiba saja Cecilia mengayunkan tangannya. Sebuah benda putih yang dibentuk seperti pesawat melayang-layang di ruangan kelas menuju tempat Profesor Raul berdiri di panggung bawah. Astaga Cecilia! Akiko terperangah.

Profesor Raul memungut pesawat kertas itu dan membukanya. Wajahnya yang semula cemberut karena ada mahasiswi asing yang mengganggu perkuliahannya mendadak berubah cerah. Tak lama Profesor itu tertawa terpingkal-pingkal sehingga seisi kelas menjadi bengong.

Profesor Raul membuka kertas itu dan menunjukkan isinya kepada seluruh mahasiswanya. Nampak gambar karikatur dirinya sedang berdiri memberikan kuliah di hadapan para mahasiswa yang duduk terkantuk-kantuk. Salah satunya bahkan digambarkan tertidur. Dan orang itu adalah Akiko. Akiko gantian yang cemberut. Mukanya memerah karena malu. Sialan!

Profesor Raul menghentikan tawanya. Mengangguk kepada Cecilia dan memberi kata penutup bahwa kuliah umum selanjutnya akan diadakan bulan depan di hari dan jam yang sama.

Ketika semua mahasiswa sudah keluar dan Profesor Raul masih membereskan berkas-berkasnya, Cecilia maju ke depan.

"Kau pasti memerlukan bantuanku mengenai sesuatu yang berkaitan dengan Fisika Kuantum sampai harus memancingku dengan karikatur yang lucu itu. Terus terang aku akan membantumu. Dengan syarat kau harus menggambar utuh karikatur dirimu.”

Cecilia tersenyum lebar. Profesor yang satu ini sangat menyenangkan.

"Nama saya Cecilia dan ini teman saya Akiko. Kami memang membutuhkan bantuan dari Profesor mengenai ini.”Cecilia menyerahkan laptopnya yang telah tersambung dengan earphone kepada Profesor Raul sambil memberi tanda agar mendengarkannya secara seksama.

Cecilia dan Akiko memperhatikan ekspresi Profesor Raul yang makin lama makin pucat. Wajahnya yang segar dan berseri-seri berubah luyu dan suram. Rupanya rekaman dari terjemahan chip itu membuatnya terpukul dan gundah.

"Apakah kamu serius dengan ini Nona?”Cecilia mengangguk.

"Oke jadi kau memintaku berbuat apa?”

"Gabung ke dalam tim ilmuwan kami untuk menemukan obatnya.”

"Di mana?”

"Laboratorium Pandora. Kutub Utara.”

Profesor Raul mengangkat kepalanya.

"Aku sudah menduga. Semuanya akan berawal dari sana.”

Akiko menyela,"apa yang berawal Prof?”

"Peristiwa seperti Planet Katai yang musnah karena kehabisan energi untuk menghidupi dirinya sendiri.”

* * * *