Now Loading

Lenyapnya Keris Brunei

Setelah 3 malam di Jakarta dan akhirnya tidak ada berita mengenai Wawan, Saya kembali ke Singapura. Pesawat masih penuh dan banyak sekali penerbangan ekstra walau kerusuhan di Jakarta sudah usai. Namun situasi politik masih hangat-hangat nya Presiden Suharto dalam jurang kejatuhan. Sekembalinya beliau dari Kairo, dukungan kian habis dan demo mahasiswa yang mulai menduduki Gedung MPR DPR di Senayan kian menghebat. Jakarta masih bak medan perang. Walau kehidupan sudah mulai bergulir.

Malam itu, saya tiba di Singapura. Kembali cek ini di hotel yang sama walau saya dapat kamar yang berbeda, tetapi tetap sama di lantai 9.  Saya ke kamar Bang Zai untuk mengambil barang-barang saya yang dititipkan. Bang Zai sendiri bercerita bahwa akhir Mei akan pulang ke Jakarta untuk membujuk Dita.  Katanya Dita sudah agak tenang sekarang walau masih marah.

Malamnya saya langsung tertidur. Namun dalam tidur saya bermimpi bertemu Laila di Perahu Mahligai di Brunei.  Kami berdua bergandeng tangan menuju ke Water front dan kemudian naik perahu di Sungai Brunei.

“Bang Asep, mana Keris Brunei yang Laila berikan dulu, “ Kata Laila tiba-tiba.

Tiba-tiba saja saya terbangun dan ingat bahwa sudah beberapa hari saya melupakan Keris Brunei. Saya ingat bahwa saya ternyata tidak membawa Keris itu ke Jakarta. Ketika saya cari di koper yang saya titipkan di kamar Bang Zai, keris itu juga tidak ada.  Saya kemudian ingat bahwa keris itu tertinggal di laci di kamar saya yang lama. Waktu saya cek out saya lupa membawanya. Besok pagi saya akan tanyakan ke resepsionis atau concierge mudah-mudahan ada yang menemukan.

Malam itu saya tidak bisa tidur lagi.

Sebelum berangkat tugas, ke Office, saya mampir ke concierge untuk menanyakan nasib Keris Brunei yang tertinggal di kamar saya yang lama. Namun jawabannya tidak ada laporan atau ada yang menemukan keris tersebut. Namun pihak hotel berjanji akan menanyakan dahulu kepada petugas pembersih kamar saya pada hari itu.  Nanti sore kalau ada berita akan dilaporkan perkembangannya,

Saya pergi tugas dengan pikiran terus bercabang. Antara ibu yang masih terus bersedih karena kehilangan Wawan, serta Laila yang sudah pulang ke Brunei serta Keris Bruneinya yang hilang. Sesekali saya juga memikirkan Muthiah.

Sorenya untuk memastikan kepulangan Laila, saya mampir ke Kandahar Street. Namun hanya ada Auntie Hamidah di sana. Tidak ada Laila. Segera saya pulang ke hotel untuk mencari tahu perkembangan nasib Keris Brunei. Namun hasilnya tidak menggembirakan. Keris itu hilang tanpa bekas. Banyak kemungkinan. Bisa saja ditemukan oleh cleaning service, namun bisa juga ditemukan oleh tamu berikut yang menginap sesudah saya cek out.

Yang jelas Keris Brunei lenyap, dan malam harinya kembali Laila menghampiri saya dalam mimpi menanyakan Keris Brunei tersebut.

Bersambung