Now Loading

Bab XIV

Setia kepada hati
Belum tentu setia terhadap takdir
Karena takdir terkadang berkata lain.
Itu bukan sebuah kesalahan
Itu bukan sebuah kekhilafan
Itu tetap bernama kesetiaan
Pada hati
Yang tak mungkin bisa dihindari.

Bab XIV

Alas Roban.  Dyah Puspita dan rombongan kecilnya memasuki Alas Roban tepat ketika matahari sedang marah-marahnya. Terik begitu memanggang.  Rerumputan tidak sempat bersolek lagi karena debu terlalu menguasai udara.  Jalan setapak yang biasanya menjadi tempat binatang bermalas-malasan, kini sepi.  Semua memilih untuk bersembunyi.  Berdiam diri hingga hujan atau embun datang lagi mengambil alih.  Atau hingga sang matahari menurunkan tirainya menuju peraduan malam. 

Alas Roban adalah jalan pintas bagi orang-orang pemberani yang ingin mempercepat waktu tempuh perjalanan ke Majapahit dari Galuh Pakuan atau sebaliknya. Bagi yang tidak mempunyai nyali, melewati Alas Roban sama saja dengan bunuh diri.  Begal, rampok, dedemit, memedi adalah rintangan yang harus dihadapi.  Butuh waktu beberapa hari untuk menempuh hutan gung liwang liwung itu hingga sampai ke jalan besar yang sebenarnya.  Terdapat beberapa jalan setapak di dalam hutan besar itu.  Semakin pendek jaraknya, semakin pula banyak gangguan yang akan ditemui.

Dyah Puspita sengaja mengambil jalan setapak yang tersulit.  Dia berusaha agar mereka tidak banyak berpapasan dengan manusia.  Tujuannya datang kesini adalah untuk mencari keterangan kepada satu tokoh “ajaib” dunia persilatan yang bertempat tinggal di hutan ini.  Tokoh itu dikatakan ajaib karena sama sekali tidak mempunyai kemampuan kanuragan.  Namun mempunyai keahlian sihir yang luar biasa.  Tokoh ini sama sekali tidak terkenal di dunia persilatan karena memang tidak pernah mencampuri urusan apapun dan siapapun. 

Hanya sedikit orang yang tahu bahwa Nyai Genduk Roban ini adalah salah satu datuk di dunia sihir.  Kemampuan sihirnya bisa disejajarkan dengan Setan Sihir Negeri Seberang yang merupakan raja diraja sihir dan merupakan guru dari Hulubalang Setan Tanah Baluran dan Ki Mangkubumi.  Bisa dibayangkan, jika Ki Hangkara saja bisa membangkitkan pasukan orang mati, maka Nyai Genduk Roban pasti bisa berbuat lebih dari itu.

Sebagai orang yang sangat memahami seluk beluk sihir.  Dyah Puspita berharap Nyai Genduk Roban punya kemampuan yang sama dengan Setan Sihir Tanah Seberang.  Bisa menyembuhkan kutukan sihir Ratu Laut Selatan pada Arya Dahana.  Atau paling tidak, bisa memberikan informasi di mana keberadaan raja diraja sihir itu.  Sehingga mereka mempunyai tujuan yang lebih pasti dan tidak lontang-lantung berbulan-bulan mengembara.

Dyah Puspita memperoleh informasi bahwa tempat kediaman Nyai Genduk Roban adalah di tempat paling gelap dalam hutan itu.  Dia tidak tahu tepatnya namun dugaannya mengatakan tempat paling gelap adalah tempat yang tidak pernah didatangi manusia dan tentu saja tidak ada jalan setapak di dalamnya.  Arya Dahana sudah berkali-kali kambuh kutukannya.  Sehingga Dyah Puspita sekarang hafal harus melakukan apa jika Arya Dahana sedang kambuh.  Dia hanya menjaga agar pada saat kambuh, Arya Dahana tidak sedang di bibir jurang, sedang mandi di sungai atau sedang di tempat berbahaya lainnya.  Karena ujung-ujungnya pemuda itu pasti pingsan dengan wajah yang menyisakan ketakutan teramat sangat.

Melakukan perjalanan berbulan-bulan dengan Arya Dahana membuat Dyah Puspita semakin sayang kepada pemuda itu.  Di balik tingkahnya yang kadang menjengkelkan, Arya Dahana pada saat tidak kambuh, sangat memperhatikan kebutuhan Dyah Puspita.  Setiap hari ada saja yang dilakukan pemuda itu agar membuat Dyah Puspita senang dan tertawa.  Buah-buahan, ikan, binatang buruan, bahkan sayur-sayuran yang enak dimakan selalu diusahakan ada.  Bahkan pernah saking inginnya membuat Dyah Puspita merasa bahagia, Arya Dahana diam-diam membuatkan sebuah seruling cantik dan indah yang terbuat dari bambu langka yang mereka temui di sebuah pinggiran sungai pegunungan Meru Betiri.  Seruling itu dibuat dengan begitu hati-hati dan penuh perhitungan.  Arya Dahana hanya akan membuat seruling itu kala sedang tidak bersama sang gadis.  Terang saja, butuh waktu hingga hampir sebulan untuk menyelesaikan seruling itu. 

Arya Dahana menyerahkan hadiah seruling itu saat pagi hari di pinggir sebuah danau indah.  Seperti biasa jika menjumpai danau atau sungai, pagi-pagi buta Arya Dahana selalu mencari ikan untuk santapan mereka.  Tugas Dyah Puspita adalah membersihkan dan memasak ikan-ikan itu.  Arya Dahana sengaja menyelipkan seruling itu di dalam keranjang ikan disertai sebuah rangkaian kata-kata indah yang dia tuliskan di daun lontar. 

Saat Dyah Puspita hampir selesai membersihkan ikan, gadis itu terkejut ketika dilihatnya ada sebuah seruling indah di antara ikan-ikan itu.  Bahkan di gagangnya yang cantik, tergantung sehelai daun lontar yang digulung rapi.  Penasaran dengan isinya, Dyah Puspita tidak sabar untuk membuka hingga habis semua ikan dibersihkan. Gadis cantik itu terperangah dan terpesona membaca apa yang tertulis di situ;

Mengarungi perjalanan bersamamu
Ibarat membaca birunya langit
Begitu sejuk dan tenang di mata.
Ibarat bercermin di lautan tanpa gelombang
Sangat damai dan membelai hati.
Ibarat mendaki gunung tanpa licin dan ngarai
Menakjubkan seperti meniti tangga ke surga.
Seruling ini bukan cuma benda,
Tapi pertanda,
Bahwa banyak nada yang akan tercipta dalam perjalanan kita

Untuk Dyah Puspita dari Arya Dahana

Mata Dyah Puspita berkaca-kaca.  Digulungnya kembali daun lontar itu.  Dimasukkan dalam saku bajunya. Ditimangnya seruling indah itu dengan hati-hati.  Pemuda yang baik hati, lembut, penuh kehangatan meskipun sedikit mata keranjang. Dia tersenyum dalam keharuannya yang sangat dalam.  Sanghyang Widhi membuatnya jatuh cinta pada orang yang tepat tapi tidak pada waktu yang tepat.  Usianya terpaut lebih dari sepuluh tahun dengan pemuda itu. Apa kata ayahnya jika mengetahui hal ini.  Apa dengung bisik-bisik yang akan membahana di istana Majapahit saat mengetahui salah satu tokoh Sayap Sima yang perkasa, jatuh cinta dan menikah dengan pemuda ingusan dan dekil seperti ini.  Menikah? Pikiran Dyah Puspita semakin menerawang jauh ke depan. 

Ditepiskannya semua angan angan seketika saat Arya Dahana dengan bersiul-siul datang mendekatinya.  Nampak sekali dia sangat bahagia, pikir Dyah Puspita ikut tersenyum.  Tanpa disadarinya dia memegang tangan Arya Dahana saat pemuda itu tiba di sampingnya,

”Terimakasih Arya. Kamu baik sekali memberikan hadiah istimewa ini buatku dan...rangkaian kata-katamu sangat indah sekali.”

Yang dipuji agak tersipu namun tersenyum hangat sekali menyambut tangan si gadis cantik,

”Ah...itu bukan apa-apa Puspa.  Hanya sebuah seruling dari bambu biasa...tidak sebanding dengan kebaikanmu selama ini kepadaku yang sebatangkara..”

Dyah Puspita meremas tangan pemuda itu dan berkata dengan penuh perasaan,”Arya, kamu tidak pernah sendirian.  Aku di sampingmu dulu waktu masih kecil.  Aku di sampingmu sekarang.  Dan aku akan berada di sampingmu selamanya....jika kau mau..” matanya sedikit mengembun ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu.  Suaranya bergetar menahan haru biru di dada.        

Arya Dahana sangat tersentuh melihat pemandangan di depannya, apalagi mendengar kalimat-kalimat yang sangat mengharukan dan penuh pengharapan seperti itu.  Dia sangat sayang sekali dengan gadis di depannya ini.  Bahkan teramat sangat berhutang budi.  Diraihnya pundak Dyah Puspita.  Direngkuhnya dalam pelukan yang hangat dan lama. 

Lamunan panjang Dyah Puspita terputus saat jalan setapak di depannya ternyata bercabang dua.  Kini dia harus mengandalkan perasaan atau tebakan saja jalan mana yang harus dilalui.  Namun dia teringat sesuatu,

“Sima, kesini...jalan mana yang harus kita lalui.  Tunjukkan arah mana yang mempunyai aura sihir paling kuat...”

Harimau perkasa itu mendekati Dyah Puspita dan mengendus udara bergantian di dua cabang jalan setapak itu.  Kemudian menoleh kepada Dyah Puspita sambil berjalan pelan memasuki cabang sebelah kiri.  Dyah Puspita dan Arya Dahana mengikuti.

Jalan setapak itu semakin menyempit dan akhirnya terputus sama sekali ketika mendekati sebuah lembah dengan pepohonan yang sangat lebat.  Dan seketika itu juga hawa dalam hutan itu berubah drastis.  Yang tadinya angin membawa garangnya kemarau.  Kini hawa dingin sangat menusuk.  Yang tadinya suara burung ramai mengeluhkan panas menyengat.  Kini suara burung-burung itu terasa sangat merdu dan indah. Yang tadinya sungai-sungai kecil yang ditemui hampir sekarat mati tak ada air.  Kini gemericik air mengalir tak henti-henti. 

Perubahan ini dirasakan benar-benar oleh muda-mudi dan harimau sakti itu.  Mereka seperti bertemu surga setelah kelelahan berkeliaran di neraka.  Dyah Puspita sampai-sampai tidak tahan untuk tidak menyelupkan kaki dan membasuh muka di sungai jernih yang sangat sejuk itu.  Arya Dahana bahkan membuka baju atasnya dan menceburkan tubuh di air sepinggang itu.  Sima Lodra tak mau kalah, direndamnya seluruh badan raksasanya hingga hanya tampak mata dan hidungnya saja di atas permukaan air. 

Untuk beberapa saat mereka betul-betul menikmati surga kecil itu.  Sampai akhirnya Dyah Puspita tersadar bahwa bukan itu tujuan mereka pergi kesini.  Dia segera memanggil Arya Dahana dan Sima Lodra untuk segera naik ke daratan dan melanjutkan perjalanan.  Dengan enggan Arya Dahana dan Sima Lodra mematuhi perintah itu.

Semakin ke dalam, hutannya semakin lebat dengan pepohonan yang bertajuk lebar sekali hingga menutupi matahari.  Lantai hutan sangat lembab dan dingin.  Jika bukan langkah kaki yang terlatih dengan ilmu kanuragan, pasti akan terpeleset dengan mudahnya.  Dyah Puspita tidak meninggalkan kewaspadaannya sama sekali.  Bisa saja kegelapan hutan menyimpan sesuatu yang lebih ngeri daripada misteri.  Sebelum melangkah di lantai hutan yang basah, dia selalu melemparkan batu atau kayu terlebih dahulu.  Takut jika ada semacam jebakan di situ.  Sampai sejauh ini semuanya berjalan dengan baik.  Hingga akhirnya mereka keluar dari kerimbunan yang mencekam itu dan sampai di sebuah tempat yang akan membuat siapapun tercengang!

Di depan mereka, terpampang hamparan luas padang rumput hijau yang asri.  Dihiasi oleh sepasang air terjun yang tidak terlalu tinggi namun cantik bukan main. Air yang mengalir dari air terjun itu membentuk sebuah sungai bening yang mengalir membelah padang rumput. Di tengah tengah padang rumput itu ada sebuah taman bunga yang luar biasa indah.  Beraneka ragam bunga ada di situ.  Beraneka warna mekar di situ.  Beraneka wangi semerbak mengharumi seantero lembah.

Dan di sebuah sudut lembah yang dipunggungi oleh tebing-tebing yang curam, berdiri kokoh sebuah pondok cukup besar yang terbuat dari kayu.  Pondok itu tidak bisa dibilang sederhana.  Kayu-kayunya adalah kayu pilihan.  Bahkan atapnya terbuat dari anyaman bambu yang begitu halus sehingga nampak seperti genting istana.  Dindingnya juga terbuat dari bambu keras yang dijalin sedemikian rupa hingga rapat dan menyebabkan kesulitan bagi angin yang berusaha menerobos.

Dyah Puspita yang sangat menyukai keindahan bunga, terpesona oleh pemandangan di depan matanya.  Berdecak kagum tak henti-henti atas siapapun yang telah membuat taman dengan begitu indahnya.  Membuat pondok di tengah belantara yang begitu menawannya.  Arya Dahana yang rasa penasarannya lebih besar dibanding kekagumannya, mendekati pondok itu dengan hati hati. 

Kalau memang ini pondok Nyai Genduk Roban, maka dia harus waspada.  Nenek itu ahli sihir tingkat dewa yang bisa menyimpan jebakan-jebakan sihir.  Di belakangnya Sima Lodra terlihat santai dan tidak tegang.  Hal ini rupanya tidak diperhatikan oleh Arya Dahana.  Padahal salah satu kelebihan Sima Lodra adalah bisa merasakan aura sihir berdasarkan penilaian nalurinya.  Yang jauh lebih matang dibandingkan seorang jago sihir sekalipun.

Semua yang ada di sini sangat terawat rapi.  Bahkan sedikit debu pun tak nampak di rumah indah itu.  Arya Dahana sudah sampai di depan pintu.  Sebelum dia sempat mengulurkan tangannya untuk mengetuk.  Tahu-tahu pintu itu terbuka dan seorang gadis muda muncul di depannya.  Gadis itu tinggi langsing dengan kulit putih.  Wajahnya sangat cantik.  Bersinar-sinar seperti matahari pagi.  Senyumnya sangat ramah ketika dia menyapa Arya Dahana,

”Kisanak yang baik.  Apakah kamu tersesat? Ada yang bisa dibantu?”

Yang disapa hanya terbengong-bengong.  Ini pasti sihir lagi...tak mungkin Nyai Genduk Roban semuda dan secantik ini...pikir Arya Dahana mereka-reka. Si gadis sekali lagi tersenyum ramah.

“Kisanak, ada yang bisa aku bantu? Atau kamu mau minum dulu?  Sepertinya kamu habis ketemu hantu...”

Arya Dahana tergagap gagap menjawab,

”Oohh...ehh..ahh...ehmm...ya ya boleh. Aku memang ketemu hantu tadi....hantu harimau itu...” Tangannya menunjuk ke arah Sima Lodra.

Sima Lodra sepertinya tahu apa yang dikatakan Arya Dahana.  Dia menggeram-geram sambil menampakkan taring  besarnya ke Arya Dahana.  Rupanya dia jengkel dijadikan alasan oleh Arya Dahana demi berkenalan dengan seorang gadis asing.

Gadis cantik itu terlonjak kaget dan baru menyadari bahwa di belakang Arya Dahana ada seekor harimau yang sangat besar.  Dan hantu harimau itu sekarang menggeram-geram marah!  Hampir saja dia buru-buru menutup pintu karena ketakutan.  Namun Arya Dahana menggerakkan tangannya menahan,”ehhhh... tunggu...tunggu..hantu harimau itu sudah kujinakkan... lihat...” mulutnya komat-kamit sambil melambaikan tangan mengusir Sima Lodra.

Sima Lodra makin jengkel melihat gaya Arya Dahana.  Namun dia menahan kejengkelannya ketika dilihatnya mata Arya Dahana berkedip sebelah ke arahnya tanpa terlihat gadis cantik itu.  Sambil menahan geram dan kesal, Sima Lodra melompat menghilang dari tempat itu.

“Tuh kan...hantu itu sudah aku kuasai...sekarang mana air minumnya?”

“Baiklah...tunggu di sini ya?”

Arya Dahana tersenyum semanis mungkin sambil tak henti-henti mengagumi dirinya sendiri yang begitu hebat berlakon.  Tentu saja dalam hati mentertawakan Sima Lodra yang kelihatan sekali kesal tadi. 

Sambil melihat-lihat pemandangan sekitar rumah, Arya Dahana bersiul-siul pelan.  Siulannya mendadak terhenti karena ada yang menarik telinganya dari belakang,

”Ehhh..Puspa...tamannya cantik sekali bukan...tentu saja tidak secantik dirimu jika sedang marah begini....” Arya Dahana nyengir sambil berkata gugup. 

Dilihatnya Sima Lodra di belakang gadis cantik itu menatap nyengir juga sambil menggoyang-goyangkan ekornya.  Arya Dahana mendelik ke Sima Lodra.  Pengadu!

Dyah Puspita sebenarnya tidak mau melepaskan tangannya dari telinga Arya Dahana.  Namun ketika dilihatnya senyum nyengir yang minta dikasihani itu, dia tidak tega.

“Arya...kamu memang punya bakat mata keranjang...hmmm...ya sudahlah...siapa gadis itu tadi?...”

Arya Dahana semakin melotot ke arah Sima Lodra.  Ih, pengadu ini bercerita lengkap rupanya.  Yang ditatap semakin nyengir dan goyangan ekornya semakin bahagia.

“Aku belum tahu namanya Puspa...tapi mungkin saja itu tadi Nyai Genduk Roban sendiri yang sedang memasang guna-guna..” Arya Dahana berkelit sambil bertambah nyengir-nyengir kuda.

Dyah Puspita menoleh pada Sima Lodra,” Sima, apa yang kau rasakan?  Adakah aura sihir gelap di sini?”

Sima Lodra menjawab dengan mengaum pelan.

“Tidak? Baiklah...Arya, ayo ketuk pintunya.”

Arya Dahana mengangguk lalu mengetuk pintu kayu itu beberapa kali.  Pintu itu terbuka dan si gadis cantik itu menyodorkan sebuah gelas bambu yang berisi air kepada Arya Dahana sambil tetap tersenyum ramah.  Pemuda itu menjadi salah tingkah sambil melirik-lirik Dyah Puspita.  Disodorkannya gelas bambu dan berkata pelan,

”Terimakasih Nyai muda.....minumlah Puspa.  Kamu terlihat kehausan..”

Dyah Puspita menerima gelas itu dan meminumnya sampai habis.  Arya Dahana sampai melongo melihat cara Dyah Puspita minum.  Benar-benar sekali tenggak air minum dari gelas bambu besar itu langsung habis?!

Sekarang gadis cantik tuan rumah itu yang gantian melongo.  Tamu-tamunya hari ini sangat aneh.  Seorang pemuda konyol, seekor harimau jadi-jadian, dan seorang gadis jelita yang cara minumnya sangat tidak masuk akal.  Neneknya sedang pergi keluar. Biasanya sang nenek tidak mau menerima tamu lama-lama. Tapi dia butuh teman!  Cepat-cepat dibukanya pintu itu lebar-lebar dan dipersilahkannya tamu-tamu itu masuk rumah.

Gadis itu memperkenalkan diri dengan nama Ayu Wulan.  Dia tinggal di pondok ini bersama neneknya yang sering dipanggil sebagai Nyai Genduk Roban.  Sudah belasan tahun dia tinggal bersama neneknya.  Kedua orang tuanya sudah meninggal dunia.  Sehingga neneknyalah satu-satunya kerabat yang masih tersisa.  Neneknya jarang sekali kedatangan tamu.  Sehingga sejak kecil, jika yang jarang-jarang itu terjadi, Ayu Wulan sangatlah bahagia.  Dia bisa minta tamu neneknya bercerita tentang dunia luar itu seperti apa.  Apakah ada hutan-hutan lain yang lebih indah dari hutan ini.  Dan masih banyak pertanyaan lagi yang biasanya mengalir tiada henti-hentinya.

Sesorean itu Dyah Puspita bercakap-cakap dengan Ayu Wulan.  Dia jatuh iba kepada gadis yang kelihatan sekali sangat kesepian itu.  Diceritakannya dengan semenarik mungkin bagaimana dunia di luar Alas Roban sangatlah luar biasa.  Ayu Wulan benar-benar tertarik mendengar cerita gadis jelita itu.  Dia tidak lagi memperdulikan Arya Dahana dan Sima Lodra yang duduk terkantuk-kantuk mendengar cerita yang amat sangat panjang lebar itu.

Setelah puas bercakap-cakap.  Malam itu Ayu Wulan membuat makan malam yang sangat enak buat mereka.  Daging ayam, daging rusa, ikan bakar dan sayuran segar.  Arya Dahana yang sudah sangat lama tidak menikmati masakan yang benar-benar dimasak dengan bumbu lengkap seperti orang kalap hingga kekenyangan.  Dyah Puspita juga menikmati makan malam itu dengan tenang dan nyaman.  Hanya Sima Lodra yang terlihat agak cemberut karena porsi makan untuknya hanya sedikit saja. 

Begitu semua hidangan telah lenyap dalam perut, Sima Lodra melompat keluar rumah menyelinap dalam hutan.  Sepertinya makanan tadi hanya kudapan saja baginya.  Arya Dahana sendiri melompat juga ke dalam..... selimut.  Tak kuat lagi menahan kantuknya.  Apalagi setelah melihat ternyata Ayu Wulan telah menyiapkan alas tidur yang empuk dan menggiurkan kantuk di ruang depan.  Dyah Puspita berpamitan keluar rumah sebentar agar bisa berlatih.

Malam berlalu dengan penuh ketenangan.  Pagi dibuka dengan sangat ceria.  Suara burung Cucakrawa menyapa keheningan.  Diikuti jeritan panjang Owa Jawa yang sedang bermain-main dengan saudara-saudaranya.  Berebut embun yang menggelantung lemas di pipi dedaunan.  Gemericik air sungai yang terdengar bahkan mengalun berirama seperti gamelan yang tidak pernah tertidur.

Dyah Puspita terjaga dari tidurnya.  Dilihatnya Arya Dahana sudah tidak ada di kantung tidurnya yang beralas empuk.  Masih terdengar dengkur halus di kamar sebelah.  Tanda Ayu Wulan masih nyenyak tertidur.  Dyah Puspita keluar mencari udara segar pagi hari.  Matanya mencari-cari Sima Lodra.  Mereka bertiga sudah berjalan dan berpetualang bersama selama berbulan-bulan.  Harimau itu ibarat sudah menjadi keluarga baginya.

Matanya bertemu dengan sepasang mata yang sedikit menatap curiga kepadanya.  Mata seorang perempuan tua yang terlihat masih menyisakan gurat-gurat kecantikan masa lalunya. 

“Kamu siapa Nduk?  Apa yang kamu lakukan di sini?”

“Namaku Dyah Puspita nek...aku kesini mau ketemu dengan Nyai Genduk Roban..nenek kah orangnya?”

“Nek..aku yang mempersilahkan mereka kemarin siang.  Aku rasa mereka orang baik-baik Nek..” tiba-tiba Ayu Wulan muncul di samping Dyah Puspita dan terus berjalan memeluk perempuan tua itu. 

Nyai Genduk Roban tersenyum sabar.  Dibelainya rambut cucunya yang masih tergerai kusut,

Ora opo opo nduk cah ayu....baiklah Dyah Puspita.  Kenapa kamu mencari aku?”

Belum sempat Dyah Puspita mengutarakan maksud kedatangannya.  Tiba-tiba terdengar suara angin dingin bersuitan yang diikuti kelebatan dua bayangan yang tiba di depan mereka.

Laksamana Utara dan Putri Anjani berdiri bersisian sambil memandang Dyah Puspita, Ayu Wulan, Nyai Genduk Roban bergantian. 

“Nyai Genduk Roban, sudah lama kita tidak saling jumpa.  Lebih dari 20 tahun aku rasa.  Kamu masih tetap cantik seperti dulu.” Laksamana Utara menyapa.

“Huntara, aku tidak menduga bisa bertemu denganmu di sini.  Angin apa yang membawamu ke pondok burukku ini?”

“Aku membawa pesan dari Ki Hangkara, Nyai.  Dia sangat berharap kau datang memenuhi undangannya pergi berkunjung ke Blambangan,” lanjut Laksamana Utara.

Nyai Genduk Roban menaikkan alis matanya,

”Untuk apa iblis jahat itu mengundangku?! Aku tidak ada urusan apapun dengan dia.”

Putri Anjani membungkukkan badannya,

”Nyai Genduk.  Saya tidak tahu urusan apa yang membuat Nyai membenci Ki Hangkara.  Namun saya tahu Nyai punya urusan yang belum selesai dengan Majapahit.  Kami membutuhkan orang orang seperti Nyai sekarang.  Majapahit sedang bersiap-siap membantai Blambangan.  Tentu Nyai tidak akan membiarkannya seperti apa yang terjadi pada padepokan Nyai puluhan tahun lalu bukan?”

Nyai Genduk Roban terlihat termenung beberapa saat.  Ingatannya kembali ke jaman dia masih gadis.  Dia hidup dengan damai dan bahagia bersama keluarganya di Padepokan Geger Pulau Madura.  Pada masa itu Majapahit sedang giat-giatnya melebarkan sayap penakukkannya.  Kerajaan di Madura pun diserbu.  Madura mempertahankan diri dibantu oleh padepokan-padepokan di seluruh Madura.  Namun Majapahit terlalu kuat.  Semua padepokan yang membantu kerajaan Madura dibumihanguskan.  Termasuk padepokan Geger.  Nyai Genduk Roban dan keluarganya berusaha melarikan diri.  Namun hanya Nyai Genduk Roban yang berhasil.  Semua keluarganya tertangkap dan dihukum mati oleh Majapahit.

Sejak saat itulah Nyai Genduk Roban berkelana hingga ke negeri seberang.  Menuntut ilmu dan diterima sebagai murid seorang guru besar sihir bernama Rajavarma.  Dan akhirnya menguasai ilmu sihir hingga tingkatan tertinggi.  Namun dendamnya pada Majapahit belum terlampiaskan hingga sekarang. 

Bayangan keluarganya yang mati sia-sia dihukum mati oleh Majapahit membuat Nyai Genduk Roban mengangkat kepalanya,

”Apa yang harus aku lakukan untuk membantu kalian membumihanguskan Majapahit?” suaranya lirih namun berapi-api penuh dendam yang menyala-nyala. 

Putri Anjani tersenyum,

“Nyai tidak perlu khawatir.  Majapahit sedang terkepung oleh banyak pemberontakan dan perlawanan di sana-sini.  Apa yang perlu Nyai lakukan hanya membantu Ki Hangkara yang sedang menyusun kekuatan sekarang di perbatasan Blambangan.  Ki Hangkara memerlukan bantuan sihir hebat untuk melawan Ki Bledug Awu Awu.  Hanya Nyailah yang sanggup melawan sihir kuat Ki Bledug Awu Awu.”

Nyai Genduk Roban mengangguk-anggukkan kepalanya.  Namun kemudian matanya bertemu dengan mata Ayu Wulan yang memandangnya tidak mengerti.  Dia berpikir sejenak lalu berkata,

”Baiklah.  Aku akan pergi ke Blambangan.  Tapi tidak sekarang.  Aku akan tiba di sana sebelum purnama ini datang.”

Dyah Puspita sedari tadi hanya diam dan tidak mau ikut campur urusan ini.  Urusan Sayap Sima Majapahit adalah  masa lalunya.  Dia tidak mau ikut terseret lagi gejolak intrik politik dan kekuasaan kerajaan.  Hidupnya sudah bahagia sekarang.  Dia menjalani hidup sederhana bersama orang yang peduli kepadanya.  Dia mempunyai tujuan dan cita-cita yang tidak boleh terganggu oleh hal-hal lainnya, apapun itu.  Menyembuhkan orang yang dicintainya adalah misi utamanya.

Rupanya mata Laksamana Utara yang jeli bisa melihat bahwa Dyah Puspita sama sekali tidak ambil pusing dengan urusan ini.  Oleh sebab itu dia tidak ingin membangunkan macan tidur.  Tapi rupanya Putri Anjani berpikir berbeda.

“Ayah..kita berbicara begini terbuka tapi di depan kita berdiri orang penting Sayap Sima.  Aku takut rencana ini akan bocor ayah...bagaimana kalau kita bungkam saja dia ayah..”

Laksamana Utara menyahuti putrinya,

”Tenang putriku.  Gadis ini tidak akan mencampuri lagi urusan Majapahit.  Dia sudah dicap sebagai pemberontak sejak peristiwa Ranu Kumbolo dulu.  Bahkan dia ini juga dicari-cari oleh Majapahit untuk diadili dan dihukum.  Apalagi dia kemana-mana pergi dengan anak seorang pemberontak pula..”

Dyah Puspita mengangkat mukanya.  Berniat membalikkan badan dan pergi dari situ untuk mencari Arya Dahana.  Namun sebuah suara keras menahan langkahnya.

“Wah wah...cucuku.  Rupanya kita menampung tokoh Sayap Sima di sini tadi malam.  Tahu begitu dari tadi sudah kupanggang dia di pucuk pohon angsana besar di hutan itu!”  Nyai Genduk Roban berteriak marah kepada Dyah Puspita.

“Nyai, jangan salah paham dulu.  Saya sudah lama tidak lagi mencampuri urusan kerajaan Majapahit.  Saya tidak sudi lagi berurusan dengan kerajaan manapun.  Saya punya urusan sendiri yang harus saya selesaikan.  Termasuk satu urusan sedikit dengan Nyai...” Dyah Puspita menjawab dengan lugas.

Nyai Genduk Roban mengendorkan pelototan matanya kepada Dyah Puspita setelah mendengar jawaban itu.  Dia merengkuh bahu Ayu Wulan dan berkata kepada Laksamana Utara,

”Nah sekarang pergilah Huntara.  Aku akan mempersiapkan cucuku dulu sebelum aku tinggal ke Blambangan dalam waktu yang cukup lama.”

Laksamana Utara mengangguk mengerti.  Digamitnya lengan Putri Anjani yang terlihat masih ngotot mempermasalahkan keberadaan Dyah Puspita di sini.  Putri Anjani dengan alis berkerut berkelebat mengikuti ayahnya pergi.

Dyah Puspita menghela nafas lega.  Dia sudah terlalu lelah untuk berdebat dengan orang-orang itu.  Dia menoleh kepada Nyai Genduk Roban.

“Nyai yang baik.  Sebenarnya urusan saya ingin bertemu Nyai adalah memohon bantuan untuk menyembuhkan pemuda teman saya.  Dia mendapatkan kutukan sihir Ratu Laut Selatan.  Dalam sehari setiap minggunya dia pasti mengalami kambuh penyakit yang disebut ‘ketakutan terhadap yang paling menakutkan’...pada saat dia kambuh, tidak ada yang bisa menolongnya melewati rasa takutnya yang teramat sangat terhadap suatu hal...dengan segala kerendahan hati, saya mohon bantuan Nyai untuk bisa menyembuhkannya..”

Nyai Genduk Roban terbelalak mendengar nama Ratu Laut Selatan disebut.  Namun wajahnya kembali biasa lagi mendengar jenis kutukan itu;

”Aku rasa aku bisa menyembuhkannya.  Tapi aku minta bayaran untuk ini Nduk...itu bukan kutukan sembarangan.  Meski bukan juga kutukan terkuat dari ratu gaib itu.”

Ayu Wulan seperti tersengat lebah mendengar kata-kata neneknya.  Dipeluknya sang nenek dengan penuh kasih,

”Nek, baru kali ini aku mendengar nenek meminta bayaran untuk hal yang bisa dibantu oleh nenek.  Bukankah selama ini nenek dengan senang hati mau menolong orang tanpa bayaran sepeserpun?”

Nyai Genduk Roban mencium kening cucunya dengan sayang,

”Cucuku, aku tidak meminta bayaran uang.  Tenang sajalah.  Aku akan menyelesaikannya dengan gadis cantik ini.”

“Nahh bagaimana nduk?  Kalau kau bersedia memenuhi bayaran yang aku minta.  Aku akan menyembuhkan temanmu itu.”

Tanpa pikir panjang lagi Dyah Puspita menyahut,

”Aku sanggup Nyai.  Apapun bayarannya itu.  Bahkan jika harus dengan nyawaku sekalipun..”

Ayu Wulan terbelalak mendengar jawaban tegas itu.  Dia menoleh kepada neneknya seperti memohon jangan minta bayaran yang aneh-aneh.

Nyai Genduk Roban menghela nafas panjang,

”Aku tidak meminta nyawamu Nduk.  Aku hanya minta kau jagalah cucuku ini selama aku pergi.  Kau boleh membawanya kapan saja dan kemana saja selama aku pergi.  Satu lagi, kau ajarkanlah sedikit ilmu kanuragan supaya dia bisa membela diri suatu saat dibutuhkan.  Aku hanya bisa mengajarkannya ilmu sihir karena aku sendiri tidak bisa kanuragan.”

“Sebagai imbalannya aku akan mengajarkanmu ilmu sihirku.  Kau sudah punya ilmu yang sangat tinggi.  Akan sangat mudah bagimu mempelajari sihirku.  Aku punya waktu dua minggu untuk mengajarimu sebelum aku memenuhi janji pada Huntara tadi.”

“Aku mempercayaimu Nduk.  Aku yakin kau dapat menjaga cucuku satu-satunya ini.  Satu-satunya keluargaku yang masih tersisa....” sedikit isakan terdengar saat Nyai Genduk Roban melanjutkan ucapannya.

Dyah Puspita yang tidak menyangka bahwa semuanya menjadi begitu mudah, ikut terharu melihat mata perempuan itu berkaca-kaca.  Tanpa terasa dia sudah maju dan memeluk Nyai Genduk Roban dengan penuh perasaan simpati.

“Jangan khawatir Nyai.  Aku akan menjaganya dengan segenap jiwaku.  Aku akan mengajarkannya ilmu kanuragan yang aku punya.  Selain itu dia juga bisa mengajarkan aku cara memasak yang enak...”

Nyai Genduk Roban semakin terharu.  Dipeluknya kedua gadis itu. Matanya mengeluarkan airmata namun tanpa suara.

Sejak hari itu, Arya Dahana menjalani ritual pengobatan sihir untuk menghilangkan kutukan Ratu Laut Selatan.  Ritual yang harus dijalaninya luar biasa aneh.  Dia harus bersamadi selama 10 hari 10 malam di bawah air terjun kecil tanpa mengenakan pakaian sama sekali.  Waktu jedanya hanya pada saat dia harus makan atau keperluan pribadi lainnya.  Dia juga harus merapalkan mantra pembalik yang sangat rumit selama bersamadi.  Dengan telaten Ayu Wulan bergantian dengan Dyah Puspita menyediakan semua keperluan Arya Dahana.  Tentu saja mereka tidak menunggui karena posisi bersamadi yang aneh tadi. 

Hanya saat mengantarkan makanan atau baju saja mereka akan datang.  Itupun cukup diletakkan di sebuah batu besar di pinggir sungai air terjun tadi.  Sima Lodra lah yang dengan setia menjaga Arya Dahana.  Harimau itu tidak pernah bergerak kemana-mana.  Sepertinya ikut juga bersamadi di pinggir sungai.

Dyah Puspita juga mulai diajarkan ilmu-ilmu sihir oleh perempuan tua yang baik hati itu.  Siang dan malam.  Ayu Wulan belum mulai belajar ilmu kanuragan.  Dia akan mulai belajar pada saat neneknya pergi nanti.  Dyah Puspita memutuskan bahwa nanti pada saat Nyai Genduk Roban pergi, dia dan Arya Dahana akan menetap sementara di hutan Roban hingga saat Naga Merapi terbangun dari tidurnya beberapa tahun lagi.

Ini hari ke sepuluh Arya Dahana menjalani ritual penyembuhan.  Empat hari yang lalu adalah saat yang paling berat.  Hari saat seharusnya dia kambuh.  Tapi ternyata dia tidak kambuh.  Hanya saja dia merasa semua tulang-tulangnya hampir copot.  Aliran darahnya seperti mengalir terputus-putus.  Detak jantungnya melambat.  Matanya berkunang-kunang.  Dan yang paling parah adalah dia harus muntah berkali-kali tanpa boleh berhenti bersamadi.  Muntah yang dikeluarkannya bukan berupa makanan atau air, namun berupa asap biru hitam.  Arya Dahana melalui hari itu dengan siksaan terberat yang pernah dialaminya.

Sekarang tubuhnya terasa sangat segar.  Bahkan hawa murni berlawanan yang seringkali saling mengancam di dalam perutnya, sangat jauh berkurang.  Ritual itu juga ternyata bermanfaat mengendalikan hawa murni di dalam tubuhnya. Telinga dan matanya menjadi jauh lebih tajam.  Seperti saat dia mendengar suara teriakan-teriakan layaknya orang sedang bertempur.  Arya Dahana kaget bukan main.  Itu suara yang sangat dikenalinya.  Suara Dyah Puspita. 

Diliriknya Sima Lodra tetap memejamkan matanya di pinggir sungai tanpa menyadari sesuatu telah terjadi.  Arya Dahana menjadi gundah.  Ritualnya baru selesai sore hari.  Dia sama sekali tidak boleh meninggalkan area air terjun itu.  Waktu jeda yang dia punyapun sangat terbatas.  Karena jika dia melanggar aturan ritual itu, maka kutukan kabut itu akan berdiam selamanya dalam tubuh.

Arya Dahana benar-benar merasakan kebingungan yang teramat sangat sekarang.  Apalagi setelah didengarnya teriakan-teriakan itu semakin gaduh.  Bahkan di sela-sela teriakan dia mendengar suara Dyah Puspita mengaduh.  Arya Dahana berusaha berteriak pada Sima Lodra.  Tapi tak ada suara sedikitpun yang keluar dari mulutnya.  Ahhh...dia lupa bahwa selama ritual dia memang tidak bisa mengeluarkan suara, berlari, melompat dan mengerahkan  hawa murni.  Pantas saja Sima Lodra tidak pernah beranjak sedikitpun dari tempatnya.  Pasti Dyah Puspita telah memerintahkan si harimau untuk menjaganya apapun yang terjadi. 

Sebenarnya apa yang terjadi di rumah Ayu Wulan?

Pagi tadi saat Dyah Puspita sedang berlatih memperdalam ilmu-ilmu sihir yang diajarkan Nyai Genduk Roban bersama Ayu Wulan.  Mendadak terdengar suara ramai orang mendatangi tempat itu.  Awalnya Dyah Puspita menyangka bahwa yang datang adalah anak buah Laksamana Utara atau rombongan Blambangan yang akan menjemput Nyai Genduk Roban.  Namun hatinya terkesiap ketika rombongan itu mulai nampak dari kejauhan saat mereka mulai memasuki padang rumput.  Umbul-umbul itu sangat dikenalinya.  Itu pasukan Sayap Sima Majapahit! 

Hatinya semakin mencelus saja ketika dilihatnya rombongan berjumlah puluhan orang itu dipimpin oleh empat orang yang sudah dikenalnya dengan baik.  Dua orang di kanan kiri adalah kakak beradik dari lembah Muria.  Dua tokoh yang terkenal dengan sebutan Dua Siluman Lembah Muria.  Sedangkan yang di tengah kanan adalah tokoh sakti berangasan Maesa Amuk.  Dan yang di tengah kiri adalah seorang tua tinggi kurus berjubah abu abu.  Tokoh sihir rahasia Majapahit yang jarang dikenal orang, Ki Bledug Awu Awu. 

Rombongan itu akhirnya tiba di depan pondok Ayu Wulan.  Dyah Puspita memberi tanda kepada Ayu Wulan agar diam sampai mereka menyampaikan maksud kedatangannya.  Maesa Amuk membuka pembicaraan,

”Wah wah...ternyata ada putri Ki Tunggal Jiwo di sini.  Pucuk dicinta ulampun tiba.  Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.  Nak...kami mendapatkan perintah dari ayahmu untuk menangkap para pembelot dan pemberontak Majapahit.  Nyai Genduk Roban salah satunya.  Dan kamu juga ada dalam daftar buronan kami.”

Dyah Puspita hanya diam tidak menanggapi.  Percuma saja dia membantah.  Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh para dedengkot hitam di Sayap Sima.  Ayahnya sendiri tidak berdaya karena keputusan seperti ini biasanya datang dari Mahapatih Gajahmada sendiri. 

Ki Bledug Awu Awu menambahkan,

”Di mana Nyai Genduk Roban, Nak?”

Ayu Wulan sudah tidak tahan lagi untuk tidak menyela,

”Nenek sedang keluar mencari ramuan Paman.  Tapi Paman bisa menyampaikan maksud tujuan Paman sekalian kepada saya.  Saya Ayu Wulan. Cucu dari Nyai Genduk Roban.”

Para tokoh Majapahit itu sekarang memperhatikan Ayu Wulan.  Gadis cantik yang nampak lugu ini sepertinya bisa dipercaya.  Maesa Amuk berkata lebih lanjut,

”Baiklah baiklah.  Kalau memang demikian.  Kami akan menunggu nenekmu pulang.  Sementara menunggu, kami harus mengamankanmu lebih dahulu Dyah Puspita.”

Dyah Puspita tidak bisa lagi menahan kemarahannya sekarang.  Dia menarik lengan Ayu Wulan agar menjauh dari arena.

“Maesa Amuk...aku percaya sekali bahwa kau adalah seorang tokoh besar.  Dan aku yakin bahwa kau pasti tidak mudah percaya terhadap isu dan desas-desus.  Namun  kali ini kepercayaan dan keyakinanku ternyata salah besar...”

“Kalau kalian memang mau menangkapku, lakukan saja.  Tapi jangan ganggu seujung rambutpun gadis ini.”  Dyah Puspita mulai bersiaga penuh.

Maesa Amuk yang memang terkenal dengan ketidaksabarannya.  Bergerak maju dengan maksud melumpuhkan gadis  ini dengan satu dua pukulan.  Sikap memandang remeh ini hampir membuat Maesa Amuk terkena getahnya.  Pukulan main-mainnya tadi bertemu dengan tangan halus Dyah Puspita.

“.....Dessss...Dessss....Wuadoooohhhhh...”

Maesa Amuk tergetar hebat tubuhnya saat Dyah Puspita yang juga tidak mau melukai tokoh ini hanya mengerahkan tidak sampai setengah tenaganya.

Kali ini Maesa Amuk sadar bahwa gadis putri Ki Tunggal Jiwo ini memang sangat tangguh dan lihai.  Tokoh berangasan ini merangsek maju dengan ganas.  Kelebihan paling utama Maesa Amuk adalah jika dia sudah mengeluarkan pukulan Sewu Maesa Amuk yang akan melipatgandakan tenaganya hingga puluhan kali dan membuat tubuhnya bahkan kebal terhadap senjata tajam.

Dyah Puspita juga tidak mau memandang remeh tokoh satu ini.  Ayahnya pernah bercerita dulu bagaimana cara menghadapi tokoh-tokoh hebat Tanah Jawa.  Namun setelah menghadapi langsung salah satunya, tetap saja terasa berat.  Dyah Puspita sadar bahwa pasukan ini tidak berniat baik.  Jadi sebaiknya dia harus mengulur waktu sampai ada bantuan datang.  Ya, sore ini Arya Dahana sudah selesai melakukan ritual pengobatannya.  Yang berarti ada dua bala bantuan yang sangat berharga.  Karena Sima Lodra juga akan terjaga.  Selain itu, Nyai Genduk Roban sudah pasti tidak akan tinggal diam begitu dia datang. 

Didasari dengan pemikiran ini, Dyah Puspita sekarang hanya mencoba bertahan sambil sesekali juga menyerang.  Gadis cantik ini memainkan jurus-jurus ajaran ayahnya yaitu pukulan Braja Musti yang sudah mendekati sempurna.  Agar tidak terlalu terdesak, Dyah Puspita menyelingi juga dengan pukulan Geni Sewindu yang dahsyat warisan Arya Prabu.  Meskipun belum sesempurna Arya Dahana dalam menguasai pukulan sakti ini, namun ternyata mampu membuat dia bertahan dari desakan Maesa Amuk.

Untung saja bagi Dyah Puspita, tokoh-tokoh Sayap Sima yang datang kali ini bukanlah orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai kemenangan, termasuk melakukan pengeroyokan.  Bledug Awu Awu hanya mengawasi sekitar dengan cermat.  Dua Siluman Lembah Murialah yang geregetan ingin ikut menyerang agar tugas mereka cepat selesai.  Dua tokoh kembar ini memang bukan termasuk golongan hitam.  Namun mereka layak dimasukkan dalam golongan abu-abu.  Golongan yang terkadang melanggar aturan sendiri dan sering berbuat seenaknya dan sekehendak hatinya. 

Tapi tentu saja dua siluman ini tidak berani mencampuri pertarungan Maesa Amuk.  Tokoh berangasan ini akan balik menyerang mereka jika sampai tersinggung karena dibantu dan itu sama saja menganggap dia tidak mampu. 

Pertarungan sudah memasuki jurus ke tiga puluh, ketika Dyah Puspita sedikit lengah dan terkena serempet pukulan Maesa Amuk.  Inilah suara mengaduh yang sempat didengar oleh Arya Dahana tadi.  Namun Dyah Puspita hanya meringis kesakitan sebentar saja.  Pukulan itu tidak telak sehingga dia tidak terluka dalam.  Pertarungan berlangsung terus dengan Dyah Puspita semakin lama menjadi pihak yang semakin terdesak. 

Sementara matahari mulai tergelincir ke arah barat.  Hangatnya sore ternyata tidak membuat hati yang sedang bertempur menjadi hangat.  Dyah Puspita harus mengakui bahwa tokoh sakti ini memang luar biasa tangguh.  Beberapa kali pukulannya mengenai tubuh Maesa Amuk.  Namun sepertinya sama sekali tidak dirasakan oleh orang tua itu.  Tubuhnya kebal luar biasa. 

Dyah Puspita merasa aneh ketika tiba-tiba tubuhnya diselimuti oleh kabut tipis.  Kelelahan yang tadinya mulai mendera perlahan-lahan mulai sirna.  Semangatnya bahkan menjadi berlipat sekarang.  Dyah Puspita terheran-heran.  Pasti ada yang membantunya.  Dalam satu kesempatan dia melihat Ayu Wulan seperti sedang terpekur sambil komat-kamit.  Wah ternyata gadis cantik itu sedang membantunya. 

Dyah Puspita sekarang gantian mendesak Maesa Amuk.  Tubuhnya berkelebatan semakin cepat.  Gadis itu teringat sebuah pelajaran dari ilmu sihir Dewa-Dewi Nyai Genduk Roban.  Ilmu sihir itu akan memperkuat ilmu kanuragan jika si empunya ilmu mempunyai hati yang bersih.  Dyah Puspita mengerahkan sihir yang baru dipelajarinya sambil tetap memainkan Pukulan Braja Musti.  Akibatnya memang luar biasa.  Pukulan sakti itu lebih berbahaya sekarang.  Angin panas menderu-deru keluar dari lengan dan tangan Dyah Puspita.  Maesa Amuk makin terdesak.  Dia bisa bertahan lebih karena kekebalan tubuhnya yang memang luar biasa meskipun beberapa pukulan Dyah Puspita telah mampir dengan telak di tubuhnya.

Ki Bledug Awu Awu yang sedari tadi memperhatikan jalannya pertarungan mengebutkan lengannya.  Sebuah sinar berwarna kebiruan meluncur ke tengah pertarungan.  Sinar biru itu sekarang menyelimuti tubuh Maesa Amuk.  Jalannya pertarungan kembali berimbang.  Rupanya sinar biru tadi adalah sihir yang serupa dengan yang dilakukan Ayu Wulan.  Membantu mengembalikan tenaga  Maesa Amuk yang memang sudah dilanda kelelahan.

Dua Siluman Lembah Muria menjadi tidak sabar melihat pertarungan itu tidak akan cepat selesai.  Dua orang ini menerjang maju ke dalam pertarungan dan menyerang Dyah Puspita dengan hebat. 

“Maesa Amuk....maafkan kami.  Kita mempunyai tugas yang harus segera diselesaikan.  Kami bukan meremehkan kemampuanmu.  Tapi kita berburu dengan waktu....” salah satu dari dua siluman berteriak kepada Maesa Amuk.

Dyah Puspita terkejut diserang sedemikian rupa oleh dua siluman ini.  Sekarang dia terdesak luar biasa hebat.  Dua tokoh ini masing-masing mempunyai kemampuan yang tidak kalah dengan Maesa Amuk.  Terang saja dia tidak akan bisa menandingi mereka bertiga sekaligus.  Apalagi dia menyadari bahwa Ki Bledug Awu Awu membantu Maesa Amuk secara diam-diam.

Hanya masalah waktu saja hingga Dyah Puspita terluka hebat atau bahkan bisa tewas dalam pertempuran itu.  Kini dia hanya mempertahankan diri dengan mengerahkan semua ilmu dan kemampuannya.  Di saat-saat yang sangat kritis terhadap keselamatan dara cantik itu, tiba-tiba cuaca sore yang tadinya cerah berubah mendadak menjadi gelap seperti waktu tengah malam.  Angin kencang menderu-deru menguasai tempat itu.  Ribuan daun-daun beterbangan membentuk awan pekat berwarna kehijauan.  Anehnya awan dedauan itu bergulung-gulung menyerang tokoh-tokoh Sayap Sima.  Tidak ada satupun yang menyerang Dyah Puspita.

Bledug Awu Awu terperanjat bukan main.  Ini pertunjukan sihir tingkat tinggi.  Tokoh sihir Majapahit ini segera bertindak.  Tangannya terangkat ke atas dengan mata terpejam. Saat dia menurunkan kedua tangannya dengan serentak, tercipta angin lain yang berbentuk seperti Lesus kecil.  Angin Lesus itu berputar-putar mengejar awan dedaunan.  Seperti ribuan lebah menyerbu sarang bunga.

Pertunjukan sihir yang luar biasa dari Bledug Awu Awu itu memaksa Nyai Genduk Roban yang tadi menciptakan awan dedaunan keluar dari persembuyiannya.  Digerak-gerakkan tangannya dengan cepat.  Kini awan dedaunan yang terbentuk tidak hanya satu.  Tapi puluhan!  Semuanya mengejar Maesa Amuk dan Dua Siluman Lembah Muria.  Bahkan ada yang menerjang Bledug Awu Awu.

Bledug Awu Awu tidak mau kalah.  Kembali dia mengerahkan sihirnya menciptakan lesus-lesus kecil untuk menandingi awan-awan dedaunan itu.  Kancah pertarungan menjadi sangat kacau.  Dyah Puspita bisa sedikit bernafas lega sekarang.  Perhatian tiga lawannya terpecah dengan serangan-serangan awan-awan dedaunan itu.  Tetap saja, Dyah Puspita belum bisa berbuat lebih banyak.  Dia hanya bisa bertahan terhadap serangan gencar tiga lawan berat itu tanpa bisa menyerang balik.

Matahari semakin tergelincir.  Senja mulai mengintip dari ujung langit.  Pertarungan masih jauh dari tanda usai.  Sebuah bayangan berlari seperti kilat memasuki kancah pertarungan.  Arya Dahana yang baru saja selesai melakukan ritual penyembuhan langsung terjun ke dalam pertarungan dengan hati geram.  Pukulan Geni Sewindu yang hampir sempurna itu menyelimuti lengan dan setengah badannya dengan api biru.  Kekhawatiran yang sedari tadi terpendam terhadap keselamatan Dyah Puspita.  Kemudian melihat Dyah Puspita dikeroyok tanpa bisa berbuat banyak, menerbitkan kemarahan yang meluap-luap di hati pemuda itu.  Kemarahan itu mendorong semua hawa murni dalam tubuhnya bergolak.  Separuh tubuhnya yang kiri kini berubah warna menjadi pucat kehijauan.

Maesa Amuk dan Dua Siluman Lembah Muria yang sedang mendesak hebat Dyah Puspita terkejut bukan main ketika pemuda aneh dekil itu mengeluarkan pukulan-pukulan dahsyat yang berlainan unsur secara bersamaan.  Keseimbangan pertarungan kembali berubah.  Pukulan-pukulan Geni Sewindu yang dahsyat itu bahkan membuyarkan sihir Bledug Awu Awu yang berupa angin.  Lesus-lesus itu pecah berhamburan terkena angin pukulan pemuda itu.  Giliran pihak Majapahit yang makin lama makin terdesak. 

Bledug Awu Awu dan Nyai Genduk Roban sekarang bertempur dengan cara aneh luar biasa.  Keduanya diam mematung sambil memandang angkasa.  Hanya kedua tangan yang bergerak gerak.  Mengendalikan binatang ciptaan mereka yang sedang bertarung di angkasa.  Seekor serigala raksasa terlihat sedang bertarung melawan anjing raksasa. 

Ayu Wulan yang jadi penonton terbelalak ngeri melihat pertarungan semakin lama semakin hebat.  Dia sangat mengkhawatirkan dua sahabat barunya.  Hampir saja dia melompat  ketika ada bulu-bulu kasar menyentuh lengannya.  Saat menengok ke samping, Ayu Wulan tersenyum lega sambil mengelus kepala Sima Lodra yang nampak jauh lebih kurus dibanding sepuluh hari yang lalu.  Ayu Wulan memandang harimau sakti itu lalu menudingkan telunjuk ke arah gelanggang pertarungan.  Harimau itu hanya menggeram lirih kemudian berbaring dengan santainya disamping Ayu Wulan.  Gadis muda itu tentu saja tidak paham apa yang dimaksud Sima Lodra.  Namun karena dilihatnya harimau itu begitu tenangnya duduk berbaring, dia juga menjadi ikut tenang.

Malam mulai datang.  Kegelapan tidak lagi mengendap-endap.  Tubuhnya yang hitam sudah nampak secara keseluruhan.  Melilit erat langit yang kian lama kian tak terlihat.  Namun gelanggang pertempuran di sekitar pondok Nyai Genduk Roban sangat terang benderang seperti siang hari.  Sinar itu datang dari angkasa di mana pertarungan antara dua binatang raksasa ciptaan dua tokoh sihir luar biasa berlangsung. 

Dyah Puspita dan Arya Dahana bahu membahu menghadapi tiga tokoh sakti Sayap Sima.  Puluhan pasukan Sayap Sima hanya berdiri mengelilingi gelanggang pertempuran sambil tetap bersiaga penuh.  Mereka tidak akan ikut bertempur jika tidak ada perintah dari pimpinannya. 

Jika melihat dari keseimbangan pertarungan, maka pertarungan antara Bledug Awu Awu melawan Nyai Genduk Roban sangat seimbang.  Belum ada satupun yang bisa mendesak yang lain.  Serigala dan Anjing raksasa tetap bertarung dengan hebatnya.

Pertarungan yang terjadi antara Dyah Puspita dan Arya Dahana melawan tiga tokoh Sayap Sima perlahan mulai terlihat siapa yang terdesak.  Dua muda mudi itu sedang terdesak mundur oleh gempuran hebat para tokoh itu.  Bukankah tadi di awal pertarungan saat Arya Dahana datang sepertinya tiga tokoh itu terdesak?  Ternyata jawabannya terletak pada semakin melemahnya Arya Dahana.

Kemarahannya yang meluap-luap tadi memang membanjirkan pukulan-pukulan mengerikan Arya Dahana.  Tiga tokoh hebat itu bahkan tadi terdesak begitu hebatnya.  Namun seiring dengan berjalannya waktu.  Penyakit yang sudah bertahun-tahun mengendap di tubuh Arya Dahana kembali menampakkan akibatnya.  Kemarahan itu kembali membalikkan hawa murni pemuda itu memukul balik dirinya sendiri.  Tentu saja kian lama tenaganya kian habis dan luka dalam di dalam tubuhnya kembali meradang.

Dyah Puspita menyadari hal ini.  Namun dia sendiri sedang sibuk melindungi dirinya dan juga Arya Dahana dari pukulan-pukulan deras lawan-lawan mereka.  Dyah Puspita bersuit ke arah Sima Lodra.  Harimau itu bangkit dengan cepat menerjang ke tengah-tengah pertempuran.  Sehebat-hebatnya Sima Lodra, tetap saja keseimbangan pertarungan tidak berubah banyak.  Dyah Puspita yang setengah mati bertarung sambil melindungi Arya Dahana yang sekarang mulai terhuyung-huyung seperti orang mabuk, tidak mampu lagi berbuat banyak melawan Dua Siluman Lembah Muria.  Sedangkan Sima Lodra juga terlihat tidak sanggup mengimbangi kehebatan Maesa Amuk.

Keadaan menjadi sangat berbahaya.  Tidak satupun di situ yang bisa membantu mereka lagi.  Ayu Wulan tidak mungkin membantu.  Dia baru belajar dasar-dasar ilmu kanuragan.  Sihirnya juga belum terlalu kuat untuk mempengaruhi ketiga tokoh sakti itu. 

Dyah Puspita mulai mendapatkan satu dua pukulan di tubuhnya.  Arya Dahana malah sudah berkali-kali.  Benar-benar genting sekali keadaan muda-mudi itu.  Tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan putih ke tengah-tengah pertarungan.  Bayangan putih itu bergerak luar biasa cepat sembari mengeluarkan pukulan dan serangan terhadap tiga tokoh sakti Majapahit itu dengan luar biasa dahsyat.

Maesa Amuk dan Dua Siluman Lembah Muria melompat mundur ke belakang sambil berseru untuk menghentikan pertarungan karena mereka sadar jurus dan pukulan pendatang baru ini sangatlah berbahaya.  Tokoh-tokoh ini memperhatikan ketika bayangan putih itu berjalan membelakangi mereka dan menghampiri Dyah Puspita serta memeluknya.

“Kakak cantik doaku terkabulkan.  Ternyata dirimu bisa tersembuhkan dari luka parah yang kau derita di Ranu Kumbolo.”

Dyah Puspita tersenyum di antara kelelahan yang memburunya,

”Terimakasih adik yang baik dan jelita.  Kau selalu datang di saat yang tepat menolong kami....eehhhh....”

Dyah Puspita belum sempat menyelesaikan omongannya karena dilihatnya Arya Dahana menggelosoh tumbang setengah pingsan agak jauh dari tempatnya berdiri.  Sebelum dia sempat bergerak, Dewi Mulia Ratri telah melesat terlebih dahulu menangkap tubuh kurus pemuda itu.  Dyah Puspita hendak mengambil alih menggendong tubuh Arya Dahana namun langkahnya dihadang oleh Maesa Amuk.  Tokoh berangasan itu berkata menggelegar,

”Putri Ki Tunggal Jiwo.  Menyerahlah! Ikutlah baik-baik dengan kami.  Aku akan menjamin bahwa kau  akan mendapatkan pengadilan dan pembelaan yang jujur dari kerajaan...Aku akan memastikan itu.  Percayalah Nak.  Aku mengagumi kehebatanmu.  Aku juga tidak percaya kalau kau melakukan pengkhianatan pada kerajaan....”

Dyah Puspita menautkan kedua alis indahnya.  Matanya menyala ketika dia berkata berang,

”Minggirlah Maesa!  Kalau kau percaya aku tidak melakukan kejahatan, maka pergilah! Ajak cecunguk-cecungukmu ini minggat dari sini!”

Dua Siluman Lembah Muria yang berada di sebelah Maesa Amuk mendengus tak sabar.  Tanpa peringatan apa-apa lagi lalu menerjang Dyah Puspita.  Gadis jelita itu melompat menghindar kemudian melesat ke arah Dewi Mulia Ratri sambil berkata kepada Maesa Amuk,

”Maesa....aku akan ikut dengan secara sukarela.  Tapi aku punya beberapa syarat..”

Maesa Amuk mengangkat tangannya menahan Dua Siluman Lembah Muria,

”Apa syaratnya?”

“Aku adalah buronan nomor 1 Majapahit.  Mereka tidak ada kaitannya sama sekali dengan aku.  Biarkan mereka semua bebas.  Termasuk Ayu Wulan dan neneknya.  Jika kau berkeras, mari kita tumpahkan darah kita semua di sini....”

Maesa Amuk mengangguk cepat dan memberi tanda kepada Bledug Awu Awu yang masih berhadapan dengan Nyai Genduk Roban namun sudah menghentikan pertempuran sihirnya.  Setelah itu memberi tanda juga kepada Dua Siluman Lembah Muria yang dengan merengut melangkah mundur.  Kemudian terakhir memberi isyarat kepada pasukan Sayap Sima yang masih melingkar siaga untuk mundur.  Pasukan itu dengan patuh bergerak mundur.

“Semua syarat akan kupenuhi.  Aku sendiri yang akan menjagamu hingga tiba di ibukota Majapahit dengan taruhan nyawaku...”

Dyah Puspita mengangguk percaya.  Tokoh satu ini memang sangat berangasan, tapi dia adalah satu dari sedikit orang yang paling bisa dipercaya di dunia ini.  Dyah Puspita melangkah ke sebelah Dewi Mulia Ratri sambil berbisik lirih.  Suaranya bergetar ketika berkata,

“Adik yang baik...aku sangat mempercayaimu...bawalah Arya Dahana pergi.  Selamatkan dia.  Dia akan pulih kembali selama kau rawat....penyakitnya belum akan bisa sembuh sampai beberapa tahun lagi....Tolonglah....aku akan pergi ke Majapahit untuk menyelamatkan kita semua...setelah itu aku akan menyusulmu untuk merawat dia....” 

Dewi Mulia Ratri melihat mata Dyah Puspita begitu pilu saat memohon.  Bahkan dari kedua sudut mata indah itu mengalir air mata duka.  Dewi Mulia Ratri benar-benar tidak tega untuk menolak permintaan itu.  Dia mengangguk sambil memegang tangan Dyah Puspita untuk menguatkan hatinya.  Diapun sudah berhitung.  Jika pertempuran ini dilanjutkan, maka mereka ada di pihak yang lebih lemah.  Belum lagi jika bantuan ke Sayap Sima mengalir datang.

Hanya dia dan Dyah Puspita yang sanggup mengimbangi tokoh tokoh Sayap Sima itu.  Nyai Genduk Roban tidak akan bisa membantu dengan sihirnya karena Bledug Awu Awu pasti akan mengalihkan semua perhatiannya.  Gadis cantik yang sekarang sedang bersama Nyai Genduk Roban itu malah tidak bisa diharapkan sekali karena jelas jelas tidak punya ilmu kanuragan yang mumpuni.

Dyah Puspita menghapus air mata yang menetes dari sudut matanya.  Hatinya seperti teriris pisau berlimau.  Membayangkan berpisah dengan Arya Dahana dan tidak tahu kapan akan berjumpa lagi membuatnya sangat pedih.  Dia menatap pemuda kurus yang masih dalam gendongan Dewi Mulia Ratri itu.  Diusapnya pipi pucat pasi itu dengan penuh perasaan.  Hhhhhhh...dikuatkan hatinya dan mengangguk terimakasih sekali lagi kepada Dewi Mulia Ratri.  Dia berjalan ke arah pasukan Sayap Sima yang sudah bersiap mengawalnya dalam tahanan pulang ke ibukota Majapahit.

“Kak Puspa...namaku Dewi Mulia Ratri...”  seru Dewi Mulia Ratri ke arah Dyah Puspita yang berjalan tertunduk. 

Dyah Puspita menoleh dan mengangguk.  Diusapnya kepala Sima Lodra yang berjalan mengikuti di sampingnya.  Dilanjutkannya langkah menemui Nyai Genduk Roban dan berbisik-bisik di telinga nenek ratu sihir itu. Nyai Genduk Roban terlihat tertegun sejenak kemudian mengangguk tanda mengerti.  Dyah Puspita melanjutkan langkahnya sambil menggamit Ayu Wulan mengajaknya pergi.  Ayu Wulan yang sudah menerima isyarat dari neneknya, dengan patuh mengikuti. 

Pasukan Sayap Sima itu akhirnya berderap pulang dengan keberhasilan menangkap salah satu buronan kerajaan yang paling dicari.  Ayu Wulan ikut dalam rombongan itu atas permintaan Dyah Puspita.  Maesa Amuk tidak keberatan sama sekali.  Dia sudah sangat gembira dengan penyerahdirian itu.

Begitu rombongan itu telah tidak terlihat lagi, Nyai Genduk Roban juga pergi dengan kepala tertunduk. Berpisah dengan cucunya adalah hal terberat yang pernah dirasakannya. Tapi dia percaya Dyah Puspita akan melindungi Ayu Wulan. Dendamnya kepada Majapahit semakin berkarat. Blambangan adalah tujuan utama supaya dendamnya bisa terlampiaskan.

Dewi Mulia Ratri  kebingungan setelah ditinggal sendiri.  Dia tidak tahu apa yang harus dikerjakannya sekarang.  Arya Dahana masih dalam gendongannya.  Dia tidak tega menurunkan pemuda itu.  Lagipula pemuda itu tidak berat.  Tubuh pemuda itu sangat aneh rasanya.  Sebelah kanan tubuhnya sangat panas sekali, sedangkan tubuh sebelah kirinya sedingin es.  Diperhatikannya muka tirus yang menarik itu sangat pucat pasi.  Ada bekas-bekas darah di mulutnya yang terkatup rapat.  Dewi Mulia Ratri melihat sekeliling.  Ada pondok tidak jauh dari situ. 

Dewi Mulia Ratri membaringkan Arya Dahana di teras rumah yang terawat dengan baik itu.  Diambilnya gayung dalam rumah.  Diisinya dengan air lalu disekanya wajah belepotan darah itu dengan hati-hati.  Pemuda inilah yang dulu menatap beringas k