Now Loading

Mimpi Buruk

Malam hari pesawat Singapore Airlines saya mendarat mulus di Bandara Soekarno-Hatta Terminal 2. Dari sekian banyak perjalanan saya pulang ke tanah air, ini adalah perjalanan yang paling aneh. Pesawat Airbus 310 yang saya tumpangi terlihat sangat lengang tanpa penumpang. 

Pramugari bercerita bahwa pesawat akan penuh kembali ke Singapura. Selain membawa penumpang, pesawat juga banyak membawa makanan untuk para petuhas dan karyawan di bandara yang sudah beberapa hari tidak bisa pulang.

Sesampainya di terminal kedatangan, tidak ada taksi yang bisa membawa saya ke Klender. Akhirnya ada juga seorang lelaki yang menawarkan kendaraannya, sebuah mobil kijang untuk membawa saya ke Klender dengan ongkos lima kali lebih mahal dari pada ongkos taksi sewaktu normal.

Mobil Kijang saya melaju kencang di malam hari melewati tol bandara, anehnya tidak ada penjagaan di tol dan kita bebas melaju kencang. Begitu juga ketika melewati tol dalam kota. Sebagian besar kota masih porak poranda dan sebagian besar lampu jalan juga padam. Demikian juga dengan lampu-lampu bangunan. Mendekati Klender dan lewat Yogya Departemen Store, saya  melihat bangunan itu sudah hangus terbakar.

Sampai di rumah bibi di Klender, ibu sudah ada di sana. Dia langsung memeluk saya dan menangis sambil menyebut nama Wawan, adik saya.  Ibu bercerita bahwa Dia sampai denigra dua jam lalu diantar Mang Yana, kakak ibu.  

Sebenarnya cerita mengenai Wawan juga masih simpang siur. Bahkan kejadian sebenarnya mengenai kerusuhan di Mal Klender juga ada banyak versi. Namun menurut Bibi, Wawan sebenarnya tidak ke mana-mana sejak siang itu, dan kemudian disuruh ke sana karena adik pacarnya diberitakan terperangkap di mal yang sedang terbakar. Wawan masuk mencoba mencari adik pacarnya, namun tidak pernah keluar lagi.  Hingga sekarang masih belum jelas nasib Wawan dan kami semua masih akan mencoba mencarinya lagi besok.

Bahkan sampai dua hari kemudian yaitu tanggal 16 dan 17 Mei, keberadaan Wawan juga tetap tidak jelas. Saya terus menghibur ibu dan mencoba ikhlas bahwa ini semua  sudah takdir. Negeri kita memang sedang kacau balau dilanda bencana yang dibuat oleh manusia sendiri.

Saya sendiri sempat keliling ke sebagian kota Jakarta dan melihat kota ini bak medan perang. Toko-toko, sekolah dan kantor masih tutup, gedung-gedung yang hitam bekas terbakar masih menghias di seantero kota dan orang-orang masih takut keluar rumah kalau tidak perlu benar.

Namun tanggal 18 Mei saya harus kembali ke Singapura. Melanjutkan kembali tugas sampai satu bulan ke depan. Dan saya tidak tahu apa lagi yang akan terjadi. Apalagi setelah Laila dipaksa pulang ke Brunei.

Bagi saya kepulangan ke Jakarta dan bertemu ibu bagaikan suatu mimpi buruk. Saya berharap segera terbangun dan semua kembali normal.

Bersambung