Now Loading

Bab XII

Cinta bisa kapan saja mengetuk pintu hati

Cinta bisa kapan saja membuka ruang di hati

Cinta bisa kapan saja menyalakan manisnya mimpi

Cinta bisa kapan saja memadamkan keinginan untuk bermimpi

Cinta bisa kapan saja melarikan gaduh dari sepi

Cinta bisa kapan saja mengunci ramai dalam sepi

 

Bab XII

Hutan Larangan Pegunungan Meru Betiri.  Hutan yang dipenuhi oleh hawa mistis.  Seram mungkin adalah sebuah kata yang sangat sederhana untuk menggambarkannya. Perlu diciptakan kata yang dalam dibanding hanya seram saja.  Dyah Puspita berjalan menembus rimbunnya semak dan pepohonan.  Di sampingnya berjalan tersaruk-saruk Arya Dahana. 

Kemarin dia kambuh lagi akibat kutukan Ratu Laut Selatan.  Dan itu menguras tenaganya.  Sehingga hari ini dia terlihat sangat lemah sekali.  Sima Lodra sudah mendahului dari tadi masuk ke dalam lebatnya hutan.  Mencari binatang buruan untuk makan mereka hari ini.  Begitulah mereka melalui hari-hari.  Dyah Puspita tidak mau melewati desa atau kota.  Dia takut jika Arya Dahana kambuh di keramaian. 

Bukan takut untuk mengurusnya, namun takut dia tidak bisa menahan diri jika ada yang menghina Arya Dahana.  Apalagi keberadaan Sima Lodra bersama mereka tentu akan membuat orang-orang keheranan dan ketakutan.

Untuk mendapatkan informasi keberadaan Setan Sihir Tanah Seberang dan Si Bungkuk Misteri, Dyah Puspita sendirian turun ke desa atau kota atau bertanya kepada orang yang sekedar lewat dan berpapasan dengannya.  Tentu saja orang kebanyakan tidak mengenal nama julukan yang aneh-aneh itu.  Sehingga sampai saat ini dia belum memperoleh informasi yang cukup berharga untuk diikuti. 

Sekarang Dyah Puspita tidak mau lagi memikirkan tugasnya.  Meski dia tahu bahwa keadaan sedang mulai memanas antara Majapahit dan kerajaan-kerajaan di sekitarnya.  Dia yakin ayahnya akan mengatasi situasi itu.  Satu-satunya yang ada dalam pikirannya hanyalah terus bersama pemuda di sampingnya ini.  Mencarikan obat penawar atau apapun namanya agar pemuda yang dikasihinya ini sembuh. 

Selain itu, sepanjang perjalanan dia melatih ilmu pukulan Geni Sewindu.  Sesuai pesan Arya Prabu, Arya Dahana memberikan kitab sakti peninggalan ayahnya itu kepada Dyah Puspita dan juga memberikan petunjuk bagaimana cara mempelajarinya. Kini Dyah Puspita telah menguasai ilmu itu meskipun harus terus mengasahnya agar sempurna.  Dia tidak akan sesempurna Arya Dahana menguasai ilmu itu karena pemuda itu mempunyai tenaga yang luar biasa kuat.

Dyah Puspita memutuskan untuk istirahat di suatu tempat yang cukup lapang di dalam hutan larangan itu.  Hari sudah menjelang sore.  Sima Lodra belum kembali dan Arya Dahana perlu istirahat yang cukup untuk memulihkan tenaganya.  Cuaca sedang kering saat ini.  Jadi dia memutuskan untuk tidak membangun pondok berlindung.  Mereka bisa beristirahat di tempat terbuka tanpa khawatir kehujanan.  Malam ini dia akan coba memecahkan teka-teki dalam surat Arya Prabu.  Kemunculan Naga Merapi tinggal beberapa tahun lagi dan dia masih tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat hari itu tiba.  Teka-teki ini sangat rumit dan aneh.

“Arya...kamu tahu arti petunjuk mendapatkan mustika naga dari ayahmu ini?” Dyah Puspita bertanya sambil terus memutar otaknya.  Arya Dahana membaca surat itu lalu menggeleng-gelengkan kepala putus asa. 

“Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dimaksud dalam surat ini Puspa...Aku yakin kamu bisa memecahkannya nanti.”

Setelah makan malam binatang buruan yang dibawa oleh Sima Lodra, Dyah Puspita menenggelamkan diri dalam samadi.  Itupun setelah dipastikannya Arya Dahana telah mendengkur halus tanda pulas tidur.  Dia berusaha selalu menemani Arya Dahana berbincang atau apa saja agar pemuda itu tidak luruh semangatnya.  Saat Arya Dahana tidurlah dia baru bisa bersamadi atau berlatih.  Seperti yang sedang dilakukannya sekarang.

Dyah Puspita terjaga dari samadinya saat didengarnya suara auman harimau yang terasa begitu dekat.  Diedarkannya pandangan dan dilihatnya Sima Lodra juga sedang pulas tidur.  Lagi-lagi auman itu mengguncang malam yang sedang hening.  Dyah Puspita meningkatkan kewaspadaannya.  Dia tidak takut pada harimau atau binatang buas lainnya di hutan.  Selain dia sanggup menjaga diri, juga selama ini tidak pernah ada yang mengganggu mereka karena Sima Lodra selalu menjaga dengan setia.  Yang paling dikhawatirkannya adalah jika Arya Dahana sedang kambuh dan mereka diserang.

Auman itu lagi! Dyah Puspita sekarang bangkit berdiri dan membangunkan Sima Lodra yang membuka matanya dengan malas-malasan.  Bahkan menutup mata tidur lagi!  Dyah Puspita menjadi jengkel.  Ditariknya telinga harimau raksasa itu.  Sima Lodra menggeram lirih dan bangkit dari berbaringnya.  Dia mengerti kalau bukan keadaan yang sangat serius tidak mungkin Dyah Puspita bersikeras membangunkannya.  Dyah Puspita memberi isyarat kepada Sima Lodra ketika auman yang menggetarkan itu terdengar lagi. Sima Lodra menegakkan telinganya.  Namun dia lalu memandang Dyah Puspita dengan tatapan datar tanda tidak mendengar apa-apa dan bersiap untuk tidur lagi.  Dyah Puspita semakin kesal hatinya.  Sekarang dia mengusap-usap pipi Arya Dahana agar bangun.  Sama seperti Sima Lodra tadi.  Arya Dahana membuka mata sedikit kemudian mendengkur lagi.

“Arya...Arya...ayo bangun.  Coba dengarkan baik-baik.  Dari tadi terdengar auman harimau di dekat sini...ayo bangun...”  Dyah Puspita mengguncang-guncang tubuh pemuda itu.  Arya Dahana mendengar nada penuh kekhawatiran Dyah Puspita.  Dia segera bangun dan menajamkan pendengarannya.  Hanya semilir angin dingin yang sedang lewat di atas kepala mereka.  Lalu suara jangkrik bersautan lirih.  Tidak ada suara harimau sedikitpun.  Arya Dahana memandang tidak mengerti.  Dyah Puspita menghela nafas panjang untuk meredam kejengkelannya. 

Suara auman itu sekarang bahkan tidak henti-henti mengarungi kegelapan di sekitar mereka.  Dyah Puspita sama sekali tidak bisa tenang.  Suara auman itu benar-benar dekat sekarang.  Mungkin hanya beberapa depa di depan mereka.  Dia mencabut pedang di pinggang yang sedari tadi sudah dipasangnya.  Melawan binatang buas lebih baik menggunakan senjata. 

Arya Dahana yang masih melirik-lirik heran, sekarang bangun dengan jauh lebih terheran-heran.  Dilihatnya Dyah Puspita hilir mudik memandang ke suatu tempat dan menghunus pedangnya.  Arya Dahana melihat Sima Lodra masih mendengkur dengan pulas.  Jika ada binatang buas, Sima Lodra pasti bangun dan mengusirnya. Begitu pula jika ada ilmu hitam atau teluh yang berusaha menyerang, Sima Lodra pasti merasakannya terlebih dahulu dan cepat bereaksi.  Arya Dahana berpikir keras.  Ini pasti lebih dari semua itu.  Karena yang bisa merasakan kedatangannya hanya Dyah Puspita.  Kenapa?

Gadis itu memang yang paling tinggi tingkat ilmunya dibandingkan dia atau Sima Lodra.  Namun gadis itu juga tidak terlalu tahu mengenai sihir, teluh dan sebangsanya.  Hmmm... pasti penyerang itu sengaja melepas ilmu sihir khusus kepada Dyah Puspita.  Arya Dahana teringat sesuatu.  Di dalam kitab sakti warisan ayahnya memang hanya ada satu ilmu yang diajarkan.  Namun di salah satu bab, dibahas khusus mengenai bagaimana Geni Sewindu bisa melihat jika ada gejala sihir dan ilmu hitam lainnya.  Termasuk menangkalnya menggunakan ilmu itu. 

Arya Dahana memejamkan mata dan mengerahkan ajian itu.  Tangan kanannya tiba-tiba berkobar oleh nyala api.  Sambil terus mencoba menyalurkan tenaga tapi berusaha tetap tenang tanpa kemarahan, api yang menyala merah tadi perlahan menghilang digantikan api berwarna kebiruan.  Inilah puncak kedua tertinggi dari Geni Sewindu.  Arya Dahana menggerakkan tangannya ke arah yang masih dilihat terpana oleh Dyah Puspita.  Api kebiruan itu menyambar semak-semak dan terjadilah ledakan keras.  Terdengar suara mengaduh lirih lalu hening. 

Dyah Puspita menatap Arya Dahana dengan bingung.  Suara auman itu mendadak berhenti.  Hatinya yang dari tadi terasa tercekam. Kini kembali biasa lagi.

“Puspa...hati-hati.  Itu sejenis ilmu sihir yang bisa mempengaruhi orang untuk bertindak di luar kesadarannya...” Arya Dahana memegang tangan Dyah Puspita yang masih terbengong-bengong.  Dyah Puspita tersentak kaget.  Kemudian mendengus marah dan menghantamkan pukulan ke semak-semak tempat Arya Dahana mengirimkan Geni Sewindu tadi.  Kali ini tidak ada ledakan tapi sesosok bayangan melompat tinggi menghindar dari api yang mematikan itu.

Seorang gadis yang sangat manis berpakaian aneh muncul di hadapan mereka.  Wajahnya tersenyum samar ke Arya Dahana.  Terlihat lesung pipi yang menambah manis wajahnya.  Pandangannya sekarang menyelidik bergantian kepada Dyah Puspita dan Arya Dahana.  Dan sempat mencibir pada Sima Lodra yang berbaring dengan tenang.

“Benar namamu Arya Dahana?” Gadis itu bertanya pelan sambil memandang Arya Dahana.

“Putra dari Arya Prabu?...cucu keponakan dari Raja Blambangan?” Lanjutnya memastikan.

Arya Dahana terpana sebentar saat memperhatikan wajah itu.  Bukan main manisnya.  Seperti gula batu yang digulai oleh gula jawa.  Ungkapan yang pas, pikir Arya Dahana puas.

“Heiii...ditanya malah senyum-senyum sendiri.  Kesambet ya kangmas?” Gadis itu melemparkan potongan ranting kecil yang dengan telak mengenai jidat Arya Dahana.  Pemuda itu merengut kesakitan sambil mengusap jidatnya yang memerah.  Dyah Puspita yang sedari tadi memperhatikan adegan ini menjadi panas hatinya.  Meski kasihan melihat Arya Dahana meringis-ringis kesakitan, namun dia berlagak tidak peduli.  Huh! Pemuda pujaan hatinya ini ternyata punya bakat penyuka wajah cantik manis.  Dia menyarungkan pedang lalu melangkah ke hadapan gadis manis yang nampak tidak peduli dengan kehadirannya.

“Kau menggunakan guna-guna dan sihir busuk tadi kepadaku.  Sekarang aku mau lihat bisakah kau masih gunakan itu jika kutampar wajahmu yang manis itu?!”

Gadis manis itu menjawab dengan tanpa rasa bersalah sedikitpun,

”Kakak yang cantik jelita, namaku Arawinda.  Kalau aku berniat jahat tadi kepadamu, bukan hanya auman saja yang aku kirimkan.  Tapi seluruh suara isi hutan ini aku kirimkan ke dalam benakmu.  Aku hanya berurusan dengan pemuda konyol yang cengingas cengingis itu.  Bukan denganmu.  Jadi minggirlah...biarkan aku menyelesaikan urusanku terlebih dahulu dengannya..”

“Hmmm...dia memang Arya Dahana putra dari Arya Prabu...tapi aku tidak tahu sangkut pautnya dengan Blambangan.  Nah, semua sudah terjawab.... sekarang aku akan menamparmu sekali karena telah mengirimkan guna-guna tadi kepadaku..”

Dyah Puspita menanggapi cepat.  Hatinya semakin terbakar karena dilihatnya Arya Dahana kelihatan sekali terpesona dengan gadis bernama Arawinda itu. 

“Baiklah kakak cantik.  Terimakasih atas jawabanmu.  Namun pemuda tengil itu harus menjawabnya sendiri.  Terserah bagaimana caranya.  Sebuah anggukan atau gelengan, sudah cukup bagiku...”

Arya Dahana tanpa sadar mengangguk-anggukkan kepalanya berulang-ulang seperti burung pelatuk.  Melihat ini, Arawinda tersenyum geli.  Tapi Dyah Puspita tidak.  Diraihnya lengan Arya Dahana, disentakkannya ke belakang.  Arya Dahana yang masih seperti orang kesambet gelagapan mempertahankan keseimbangan tubuhnya.  Tak urung terjungkallah dia ke tanah karena sentakan itu begitu keras dan tak terduga.  Sima Lodra yang menyaksikan semua dengan tenang, menggeram-geram lirih seperti sedang tertawa terbahak-bahak.

Dyah Puspita cepat-cepat mendatangi Arya Dahana yang berusaha bangkit dari terjengkang.  Diraihnya kembali lengan pemuda itu dan dibimbingnya agar cepat berdiri tegak kembali.  Arawinda yang melihat ini, memerah pipinya.  Ini adalah pertunjukan cinta kasih.  Begitu romantis, pikirnya tercenung.  Tiba-tiba hidupnya yang terbiasa sendiri terasa sunyi.  Aaaahh, kenapa aku jadi terbawa perasaan begini? Digeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir bayangan kesunyian yang tadi mendadak mengiris hatinya.

“Baiklah Arya Dahana.  Kau sudah mengakui semua dengan anggukan kepalamu yang menjengkelkan itu.  Sekarang, kau ikut denganku pulang ke tanah kelahiranmu Blambangan.  Raja Blambangan menugaskan aku membawamu kembali.  Dan aku selalu menuntaskan tugasku.”

Sebelum Arya Dahana mengangguk-angguk tak karuan lagi, Dyah Puspita memotong dan berseru,” Eeeiiittt...tunggu dulu!  Kau tidak bisa seenaknya membawa dia pergi.  Dia tanggung jawabku sekarang.  Tidak ada seorangpun yang boleh mengambil alih tanggung jawabku tanpa persetujuan dariku..”

Arya Dahana mengangguk-angguk lagi.  Giliran Dyah Puspita yang tersenyum geli.  Pemuda sableng!

Arawinda menjadi semakin jengkel sekarang.  Dia tidak mau berpanjang lebar lagi.  Digerakkan kakinya mendekati Arya Dahana sambil mengangkat tangannya.  Bersiap menotok bagian tubuh Arya Dahana agar lemah dan bisa dibawanya pergi.  Sebelum jarinya berhasil menyentuh pundak Arya Dahana, sebuah tangan halus menangkis tangannya. 

duukk...dukkk...

Tangan Arawinda terpental ke belakang.  Tubuhnya terhuyung-huyung menahan desakan tenaga hebat Dyah Puspita. Melihat kedua gadis jelita ini siap melanjutkan pertarungan, Arya Dahana secara tidak sadar memegang tangan Dyah Puspita dan juga tangan Arawinda secara bersamaan. 

Waaahh kedua tangan ini sama-sama halus dan hangat, pikir Arya Dahana dengan genit.  Kedua gadis ini sama-sama terperangah.  Anehnya, mereka berdua sama-sama tidak mau melepaskan pegangan Arya Dahana.  Lalu sama-sama tersipu dan serentak melepaskan pegangan itu. 

“Sudahlah... hentikan pertarungan yang tidak perlu ini.  Aku tidak mungkin ikut denganmu Arawinda.  Aku akan ikut kemana Puspa pergi.  Ayahku berpesan agar aku selalu mematuhinya.” Arya Dahana berkata dengan bijak dan tegas.  Hilang sudah sikap konyolnya yang seperti burung pelatuk tadi. 

“Aku belum pernah gagal melaksanakan tugas selama ini.  Aku tidak mau ini jadi yang pertama.  Kalau kau tidak mau ikut dengan sukarela.  Aku akan memaksamu dengan caraku...”

Arawinda berkomat-kamit sejenak.  Kedua tangannya terangkat seperti sedang memohon ke langit.  Tiba-tiba saja cuaca yang sebelumnya cerah, menggelap dengan cepat.  Kabut seperti datang dari langit dan menghunjam tempat itu.  Dyah Puspita bahkan tidak bisa melihat lebih dari satu depa di depannya.  Arya Dahana merasakan denyut dahsyat di jantungnya.  Rupanya kabut ini hampir serupa dengan kabut yang diciptakan oleh Ratu Laut Selatan waktu itu.  Namun ini jauh lebih kelam.  Dia sadar bahwa begitu dia tenggelam lebih dalam, maka tubuhnya akan melemah dengan cepat. 

Dikerahkannya hawa panas ke tubuh bagian kanannya.  Kembali dia memasuki tingkat tertinggi dari Geni Sewindu yang dikuasainya. Api kebiruan memancar dengan terang menerangi tempat itu.  Dia harus mencari sumber dari kabut ini baru dia bisa memecahkan sihirnya.  Kabut ini tadi seperti tiba-tiba saja datangnya dan entah berasal darimana.  Namun dia teringat tadi Arawinda seperti memohon kepada langit. 

Langit? Ya...sudah pasti kabut ini berasal dari atas sana.  Ketika dirasakannya hawa api kebiruan itu sudah mencapai puncaknya, Arya Dahana mendorongkan tangannya ke atas.  Api ledakan kali ini jauh lebih dahsyat daripada yang tadi.  Bunga api berpijaran menerangi malam.  Rupanya kabut ini jauh lebih kuat dan pekat dari yang diduganya.  Oleh karena itu, Arya Dahana berkali-kali mengerahkan pukulannya ke atas di beberapa titik yang berbeda.  Ledakan-ledakan itu semakin sering terdengar. 

Langit seperti terkuak saat kabut itu ambyar begitu terkena pukulan Geni Sewindu.  Arya Dahana sekarang bisa melihat dengan jelas titik pusat kabut itu di atas.  Dia memejamkan mata, mengerahkan segenap hawa panas murni dari dalam tubuhnya dan menghantamkan pukulan ke titik pusat kabut yang menyerupai angin lesus berputar itu.  Akibatnya sungguh luar biasa.  Suara ledakan begitu kerasnya memenuhi tempat itu.  Titik pusat kabut hitam lenyap digantikan oleh pemandangan langit yang cerah tak berawan segumpal pun. 

Arawinda terengah-engah menahan himpitan di dadanya yang sangat kuat.  Ilmu sihir tingkat tinggi yang dinamakan Kabut Lingsir Wengi ini diwarisinya dari paman gurunya.  Meskipun dia bilang bahwa dia tidak tertarik mempelajarinya, namun sebenarnya ilmu aneh ini ditekuninya secara diam-diam.  Sekarang ilmunya ambyar oleh pukulan api biru si pemuda tolol ini. 

Arawinda adalah gadis yang penuh perhitungan.  Dia sadar bahwa ilmu sihir tidak ada gunanya.  Pemuda ini sudah menguasai Ajian Geni Sewindu dengan cukup sempurna.  Ajian itu bukan sihir, namun mampu mementahkan sihir jika si empunya ilmu sudah menguasainya dengan baik.  Arawinda juga sadar bahwa jika dia sekarang mencoba berkeras menggunakan ilmu kanuragan, gadis cantik yang bersama Arya Dahana ini pasti bisa mengalahkannya.  Gadis itu hanya lemah terhadap sihir, tapi luar biasa dalam olah kanuragan.  Bahkan tingkatannya masih lebih tinggi dari pemuda yang menarik hati ini.  Eehh...menarik hati? Kenapa ada kata itu terselip dalam pikiranku? Arawinda tanpa sadar tersenyum tersipu sendiri.

Melihat gadis manis itu kini tidak melakukan gerakan apa-apa, malah senyum-senyum sendiri, Dyah Puspita yang tadinya sudah lilih hatinya, kembali memanas.  Tanpa banyak basa-basi lagi tangannya melayang....plakkk.  Arawinda terkejut bukan main.  Pipinya terasa panas oleh tamparan gadis jelita itu. 

“Kakak cantik, aku terima kesalahanku.  Kau sudah menamparku.  Jadi kita seimbang sekarang.  Baiklah, aku akan pergi.  Tapi bolehkah aku mengetahui namamu?  Agar aku bisa mengingatmu kelak jika suatu saat kita bertemu lagi.” Arawinda berkata sambil memegang pipinya yang terasa panas.

Dyah Puspita tersenyum sekarang.  Hatinya mendingin dengan cepat,

”Adik Arawinda yang manis, namaku Dyah Puspita.  Aku akan membawa Arya Dahana sampai dia sembuh dari segala sakit anehnya.  Setelah itu dia bebas menentukan apakah pulang atau tidak ke Blambangan.”

Arawinda tersenyum tipis dan menoleh ke Arya Dahana,

“Pemuda tengil, ingatlah untuk pulang ke Blambangan.  Sang raja mengharapkan kedatanganmu.  Ngomong-ngomong, kamu lumayan jago mematahkan sihir.” Sekali lagi gadis manis itu tersenyum manis kepada Arya Dahana lalu melangkah pergi.  Kata perpisahan Arawinda sangat berkesan bagi Arya Dahana.  Apalagi senyum yang bukan main manisnya itu.  Dia tersenyum membalas dengan berusaha semanis mungkin.  Tapi yang diberi senyuman ternyata sudah lenyap dari depan matanya.  Jadilah senyum yang dibuat semanis mungkin itu bengkok menjadi agak pahit.

Dyah Puspita melangkah mendekati.  Ditepuknya pipi pemuda itu dengan lembut,

”Gadis yang sangat manis ya?  Kau ingin mengikuti dia? Ayo pergilah sana...”

Arya Dahana menatap gadis cantik di depannya.  Wajahnya murung seperti diselimuti kabut.  Arya Dahana tersadar.  Gadis yang selalu hadir dalam liku liku kehidupannya ini terluka oleh sikapnya yang tidak semestinya tadi.  Dia memegang tangan halus itu dan berkata pelan,

”Puspa, maafkan aku.  Aku terlihat mata keranjang ya tadi?  Mataku tidak bisa dicegah melihat dan mengagumi keindahan.  Tapi percayalah, hatiku tidak seburuk itu.”

Dyah Puspita memandang sendu.  Dia balik memegang tangan Arya Dahana,

”Arya, semangatku sekarang adalah mencari cara agar bisa menyembuhkan sakitmu,  kasih...cinta...biarlah Sanghyang Widhi yang menentukannya.”

Gadis itu berbalik dan membaringkan tubuhnya.  Malam masih agak panjang.  Mereka perlu istirahat karena besok perjalanan akan dilanjutkan menuju Alas Roban.

************