Now Loading

Dua Berita Kejutan

Bus yang saya tumpangi berjalan meninggalkan Kota Melaka yang penuh kenangan. Pagi tadi saya dan Muthiah sempat juga berjumpa dan berjalan-jalan ke Bukit Cina. Bahkan di tepi Perigi di Bukit Cina ini pula Muthiah kembali menyatakan cintanya.   Yang tentu saja saya sambut dengan positif sambil membayangkan amarah Laila.

Tidak lama kemudian, bus melaju kencang di jalan bebas hambatan menuju ke Johor Bahru. Tiba-tiba saja sebuah SMS dari Indonesia, sebuah nomor yang tidak saya kenal muncul:

Asep, ini ibu. Ibu meminjam HP teman untuk kirim SMS. Ada berita kurang baik. Adikmu di Jakarta kemarin menghilang. Ibu ingin kamu ke Jakarta secepatnya dan kita ketemu di rumah bibimu di Klender

Saya langsung kaget membaca SMS ini. Saya segera menelepon ke rumah Ibu di Sukagalih dan menanyakan apa yang terjadi.  Sambil menangis ibu bercerita bahwa sejak semalam ada kabar bahwa adik saya yang kebetulan kuliah di Jakarta dan tinggal di rumah bibi di Klender tidak pulang ke rumah sejak kemarin. Sementara ada berita kebakaran besar di sebuah mal di Klender. Ibu takut adik saya ikut menjadi korban.  Akhirnya saya berjanji akan segera pulang secepatnya ke Jakarta.  Sesampainya di Singapura nanti saya akan mencari tiket pulang ke Jakarta.

Sesampainya di hotel di Singapura saya segera menelepon ke Office untuk minta ijin cuti emergency beberapa hari ke Jakarta. Sementara untuk kantor di Jakarta masih belum buka walau manajer dan Mbak Vera sudah saya informasikan juga.

Akhirnya saya bisa mendapat tiket untuk pulang ke Jakarta, yaitu penerbangan terakhir Singapore Airlines yang berangkat sekitar pukul 9 malam lebih dari Singapura.   Saya segera mengabarkan perkembangan ini ke Bang Zai yang kebetulan baru selesai tugas dan ada di kamarnya. Eko dan Azwar sedang tidak ada di hotel dan tidak tahu ada dimana.

Saya kemudian kembali ke kamar untuk bersiap-siap berangkat.  Sebagian besar barang saya akan dititipkan di kamar Bang Zai dan saya hanya membawa tas kecil pulang. Plus sedikit oleh-oleh untuk ibu.

Namun ketika saya membuka kamar, sebuah amplop kecil warna putih tergeletak di lantai. Saya mengambil amplop itu dan membukanya. Ternyata sepucuk surat dari Laila.

Bang Asep yang tersayang,

Pagi tadi, Muallif datang dari Jakarta ke Singapura. Dia menemui saya dan Kak Hamidah di Kandahar Street. Dia akan tinggal di Singapura selama dua malam dan tinggal di hotel Golden Mile di dekat Bugis sini. Dia banyak bercerita tentang teruknya keadaan di Jakarta.

Muallif belum mengetahui bahwa kita sering bertemu di Singapura ini. Tetapi karena mengetahui bahwa Bang Asep dan teman-teman sudah tidak ada di Brunei lagi, dia mengajak saya pulang dulu ke Brunei sampai kuliah saya mulai pertengahan Juni. Baru saya boleh balik lagi ke Singapura.

Baiklah. Untuk sementara kita berpisah.

Namun Laila tahu bahwa kita akan segera bisa berjumpa lagi baik di Singapura atau Brunei.

Salam Rindu dari Laila

Singapura, 15  Mei 1998

Saya segera menutup surat itu dan kemudian berbaring sebentar. Gak nyangka, hari ini saya mendapat dua berita yang mengejutkan. Satu tentang Wawan, adik saya, dan satu lagi tentang rencana Laila pulang ke Brunei.

Dua-duanya merupakan ‘mimpi buruk’.  Namun masalah Wawan harus lebih diprioritaskan.

Malam itu dengan penerbangan terakhir saya mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Dalam penerbangan yang sangat sepi penumpang.

Bersambung