Now Loading

Bab 36

Amerika Serikat
Boston


Akiko memarkir mobilnya di halaman kampus MIT. Dia dan Cecilia yang akan masuk dan Andalas menunggu di luar. Tampang dingin Andalas cukup mudah dicurigai orang. Dia hanya harus bersiaga di kemudi jaga-jaga kalau mereka harus melarikan diri dengan cepat dari tempat itu.

Kedua dokter itu tadi sempat mematut dandanan sebelum ke sini. Penampilan mereka sekarang nampak sebagai ilmuwan dengan kacamata tebal bertengger di hidung dan rambut diikat seadanya. Mereka berjalan dengan langkah tergesa-gesa. Seolah ada hal penting yang dikejar atau mengejar mereka.

Di depan meja informasi, Akiko mendaftarkan diri. Menuliskan nama Doktor Asuke dari Universitas Tokyo, dan Doktor Celine dari Oxford University, ingin bertemu dengan Profesor Lian Yang untuk membicarakan proyek Milky Way.

Resepsionis meminta mereka menunggu. Akiko dan Cecilia duduk dengan tenang di kursi tamu. Tak lama masuk 2 orang pria berkebangsaan China berbicara dengan resepsionis bahwa mereka sudah ada janji dengan Profesor Lian Yang. Resepsionis juga mempersilahkan tamu asing itu menunggu. Keduanya duduk berseberangan dengan Akiko dan Cecilia.

Tak lama juga berselang, seorang lelaki paruh baya dengan rambut putih dan mata sangat sipit memasuki ruangan dan mendaftarkan diri untuk juga bertemu dengan Profesor Lian Yang. Akiko yang selalu waspada terperanjat. Lelaki itu salah satu dari orang yang ditandai Andalas di Bristish Airways!

Tapi Akiko memutuskan bersikap tenang. Dia hanya mengirimkan pesan lewat gawainya kepada Andalas mengenai perkembangan tak terduga yang terjadi di ruang tunggu kantor Profesor Lian Yang.

Andalas membalas pesan dengan meminta Akiko mengambil foto 2 orang yang sedang bersama mereka secara diam-diam.

Akiko melaksanakan pesan Andalas. Dengan gaya seorang ilmuwan asing yang ceriwis dia meminta koleganya Cecilia untuk mengambil gambarnya di depan meja resepsionis, logo MIT, dan beberapa tempat lagi di ruangan yang cukup besar itu.

Cecilia sama sekali tidak terkejut. Ini berarti ada apa-apa. Dia juga mesti ikut waspada.

Dengan berbagai macam gaya, Akiko diambil fotonya oleh Cecilia. Di semua gaya yang berbeda-beda, Akiko selalu memasukkan kedua tangan ke saku jas putih laboratoriumnya yang panjang. Satu tangan memegang gagang Glock dan satu tangan lagi mencengkeram Kaiken.

Tidak terjadi apa-apa. Ketiga tamu yang lain sepertinya tidak ambil peduli dengan keceriwisan ilmuwan dari Jepang itu. Diam-diam Akiko bernafas lega. Dia duduk kembali sambil tertawa-tawa genit. Cecilia tersenyum geli dalam hati. Putri Yakuza ini memang berbakat menjadi seorang agen rahasia.

Akiko mengirimkan fotonya yang berlatar belakang 2 orang dari China itu kepada Andalas. Menunggu dengan hati berdebar siapa sesungguhnya mereka. Tak lama balasan Andalas muncul di gawai Akiko.

Cepat pergi dari situ! 2 orang itu anggota Sang Eksekutor!

Akiko tidak mau pergi. Dia bangkit berdiri dan tanpa ba bi bu langsung menerjang keduanya. Kedua hit man yang sama sekali tidak menyangka Akiko memulainya dengan cepat, tidak sempat menghindar. Sebuah pukulan sisi tangan Akiko menghajar leher 1 orang dan tendangan melingkarnya menghantam dagu seorang lainnya.

Kedua orang itu tentu bukan orang sembarangan. Mereka segera bangkit dan melakukan perlawanan. Terjadilah pertarungan sengit di ruang tunggu Profesor Lian Yang. 1 wanita lawan 2 laki-laki. Cecilia, resepsionis wanita, dan orang tua bermata sangat sipit itu berlindung di balik partisi meja resepsionis.

Sebentar saja ruangan itu porak poranda. Akiko sanggup mengimbangi mereka. Bahkan dalam sebuah kesempatan tendangannya mendarat telak di kepala salah seorang di antara lawannya. Orang itu terjatuh tak bergerak lagi. Satunya karena merasa sangat kewalahan, mencabut pistol dari balik jasnya dan mulai menembak.

Akiko melenting tinggi sambil mengayunkan tangannya saat pria itu mulai menarik pelatuk senjata. Tembakan terdengar hanya sekali saja. Mengenai logo MIT di belakang meja resepsionis dan menjatuhkan sebuah lukisan di sebelahnya. Pria itu sendiri tergeletak di lantai dengan darah mengucur deras dari dadanya yang tertancap Kaiken Akiko.

Andalas menerobos masuk dengan tergesa-gesa. Melihat Akiko baik-baik saja lelaki dari Indonesia itu menarik nafas lega.

Kelegaan yang sementara. Karena dari balik meja resepsionis keluar Cecilia yang mengangkat kedua tangan dengan sepucuk pistol menekan belakang kepalanya. Lelaki tua bermata sangat sipit itu berjalan perlahan ke tengah ruangan dengan Cecilia sebagai tameng.

Andalas mengangkat kedua tangan setelah meletakkan pistolnya. Akiko melakukan hal yang sama. Orang bermata sangat sipit itu melotot dan menyuruh keduanya berendeng.

Pintu sebelah dalam ruangan  Profesor Lian terbuka tiba-tiba. Seorang lelaki kurus usia mendekati 50 an berdiri terpaku di sana. Orang bermata sangat sipit itu nampak sangat terkejut dan menoleh. Begitu melihat siapa yang sedang berdiri kebingungan dia membidikkan pistolnya. Andalas yang melihat kesempatan yang hanya sepersekian detik, melakukan gerakan jungkir balik 2 kali dengan kaki kanan mendarat di kepala lelaki bermata sipit itu yang langsung terjengkang sehingga bidikannya ke Profesor Lian meleset. Peluru itu menghantam kaca pintu yang langsung pecah berantakan.

Akiko juga bertindak cepat. Tangannya langsung menyambar Cecilia dan dibawanya berlindung di balik pilar besar di tengah ruangan. Andalas melanjutkan serangannya dengan menghantamkan sikunya ke perut lelaki penyerang yang sedang berusaha bangkit berdiri. Lelaki itu kembali jatuh terlentang. Perlawanannya sudah habis.

Andalas memberi isyarat dengan gerakan tangan kepada Profesor Lian yang masih nampak terdiam namun mulai terlihat panik untuk tenang dan bahwa mereka tidak akan mencelakainya. Ruangan depan kantornya ternyata jadi ajang pertarungan orang-orang yang tak dikenalnya ini. Dia tadi memang tidak bisa segera menerima tamu karena masih melakukan conference call dengan para koleganya di Brazil dan Mesir.

Cecilia mendekati Profesor Lian sambil mengatakan bahwa dia adalah teman Willy Booth dan Willy lah yang mengirim mereka ke sini. Profesor Lian mengangguk. Mulai percaya bahwa mereka tidak akan mencelakainya. Sisa tatapannya masih menyisakan kengerian menyaksikan 3 tubuh yang bergelimpangan di ruang depan kantornya.

"Apakah mereka mati?”Tangannya menunjuk tubuh-tubuh itu dengan gemetar.

Akiko yang menjawab sambil dengan santai mencabut Kaiken dari dada pria China itu.

"Yang ini iya. Satu pingsan terluka. Dan bapak tua yang di sana itu kelihatannya tidak mati tapi juga tidak baik-baik saja.”

Profesor Lian bergidik. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

"A..apa aku harus menghubungi keamanan kampus?”

"Tidak Prof. Biar kami yang urus semuanya. Pasang saja tanda closed di depan pintu.”Cecilia mengangguk menenangkan. Dia mengambil X-One dan menghubungi Dokter Adli Aslan.

Profesor Lian membawa kedua orang itu ke dalam. Sementara resepsionis sibuk menutup pintu kantor termasuk tirai-tirainya. Cecilia berpesan jika nanti ada mobil van berlogo WHO tiba di depan kantor harap dibukakan pintu.

"Jadi apa maksud kedatangan kalian? Termasuk kenapa kalian saling berbunuhan di kantor saya?”Profesor Lian mempersilahkan Akiko dan Cecilia duduk. Andalas tinggal di luar bersama resepsionis.

"Kami sedang mengerjakan proyek bersama Willy Booth dari NASA. Willy meminta kami menemui Profesor untuk meminjam perangkat yang dinamakan Star Vision. Kami ingin dia membaca ini.”Cecilia sengaja memperlihatkan chip dari Pandora kepada Profesor Lian Yang. Dia ingin melihat reaksinya seperti apa sekaligus memancing keingintahuannya. Urusan selanjutnya tentang pinjam meminjam perangkat pasti lebih mudah.

Sesuai dengan yang diduga Cecilia, mata Profesor Lian membesar dan terpaku diam menatap chip di tangan Cecilia. Profesor Lian menyodorkan tangannya untuk melihat lebih teliti.

"Boleh?”Nampak sekali keingintahuan dari sorot matanya.

Cecilia mengangguk sembari memberikan chip itu kepada Profesor Lian. Ahli Fisika Bintang itu membolak-balik chip sambil menghela nafas panjang.

"Benda ini adalah harta karun ilmu pengetahuan yang tak terkira nilainya.”Gumamannya mirip sekali dengan perkataan Willy Booth.

Profesor itu diam lagi sambil terus memperhatikan chip itu berulang-ulang. Seolah benda kecil di tangannya itu sesuatu yang suci.

"Hmm, kalian boleh menggunakan Star Vision. Tapi ada syaratnya. Biarkan Willy mengerjakannya di sini. Aku juga berhak tahu karena kalian menggunakan perangkat milikku.”

Cecilia dan Akiko saling berpandangan. Permintaan yang masuk akal. Lagipula apa ruginya bekerjasama dengan orang sepintar Profesor Lian Yang.

Mereka kemudian berunding dengan serius mengingat faktor keamanan yang rawan di MIT yang begitu mudah disusupi orang-orang berniat buruk seperti tadi.

Akhirnya disepakati bahwa Star Vision akan dibawa dan diamankan oleh Akiko. Mereka tidak tahu alasan orang-orang berbahaya tadi mencari Profesor Lian. Apalagi salah satunya jelas-jelas ingin membunuhnya. Mereka akan membaca chip itu bersama-sama di kabin Profesor Lian yang berada di Mount Vermont.

Akiko menyimpan Star Vision yang kecil dan ringan itu di dalam tasnya. Mereka kemudian keluar diantar Profesor Lian Yang yang benar-benar sangat terkejut melihat ruangan depannya sudah bersih seperti sediakala. Tidak ada mayat dan perabot yang berhamburan. Tidak ada ceceran darah maupun bekas-bekas pertarungan.

Profesor Lian hanya bisa membatin bahwa dia sedang berurusan dengan orang-orang penting yang diback up orang super penting sehingga cepat sekali membereskan kekacauan.

* * * ******