Now Loading

Bab 34

Washington DC, 38° 54′ 17″ N, 77° 0′ 59″ W
Di Sebuah Kedai Kopi

"
Aku pernah melihat benda seperti ini. Sama persis namun dengan ukuran yang lebih besar. Sebuah chip yang menempel di panel navigasi pesawat UFO di Area 51.”Will mencondongkan tubuhnya saat memberi penjelasan. Suaranya sangat lirih sehingga hanya Cecilia saja yang bisa mendengar.

"Bisakah kau membuka dan menerjemahkannya untukku Will? Please?”Cecilia ikut mencondongkan tubuhnya. Wajah mereka menjadi sangat berdekatan.

Will buru-buru menarik badannya ke belakang. Aroma Cecilia terlalu menggoda baginya. Wanita itu tahu dia sangat memujanya.

"Aku bersedia saja Cecil. Hanya saja aku harus masuk ke fasilitas Area 51 dan itu butuh clearance berbulan-bulan jika tidak ada project khusus.”Mata Will terlihat kebingungan.

"Tapi ada satu fasilitas lagi yang tidak seketat Area 51. Seorang Profesor di MIT membuat prototype yang sama dengan instrumen yang ada di Area 51. Jika aku bisa mendapatkan perangkatnya itu, aku tinggal install programku di sana dan chip ini tidak akan lagi menjadi sebuah rahasia.”

"Siapa Will?”Cecilia tertarik.

"Profesor Lian Yang. Ahli Fisika Bintang.”

"Kau tahu di mana Profesor Lian Yang menyimpan perangkatnya?”

"Setahuku dia menyimpan Star Vision, eh perangkat itu di ruang kantornya di kampus MIT. Pada saat membangun perangkat itu, Profesor Lian beberapa kali memintaku untuk melakukan test.”

Cecilia mengecup pipi Willy Booth. Mengambil chip di tangannya dan berbisik sebelum keluar meninggalkan cafe.

"Aku akan kembali kepadamu dengan perangkat itu.”

Willy hanya terpaku sesaat. Memandang tangannya yang kosong lalu meraba pipinya. Masih terasa aroma Cecilia di sana. Willy tersenyum.

Tak lama setelah Willy Booth meninggalkan cafe, Andalas dan Akiko membayar minuman mereka dan beranjak pergi. Sebuah trip lagi ke Boston hari ini. Cecilia pasti tidak mau menunggu hingga esok hari.

Di hotel, Cecilia menghampiri Akiko dan Andalas yang baru memasuki lobi.

"Kita berangkat sekarang. Aku sudah sewa mobil. Bawa saja medical stuff , Akiko. Barang lainnya tinggalkan saja.”

Andalas dan Akiko saling berpandangan. Ini sudah mereka duga.

Perjalanan ke Boston akan memakan waktu tak kurang dari 7 jam via darat. Cecilia mengurangi resiko dengan tidak menggunakan pesawat terbang. Bandara dan pesawat membuatnya sedikit trauma.

Akiko mengemudi dengan Cecilia di sampingnya. Andalas duduk di belakang.

"Andalas, setelah berhasil meminjam perangkat Star Vision, kita harus berpisah. Aku dan Akiko akan melanjutkan rencana kita dan kau harus menyelesaikan urusan Organisasi. Aku curiga dengan kegigihan mereka. Ini bukan sekedar ingin mencuri ide atau apa. Tapi mereka benar-benar tidak menghendaki serum ini bisa ditemukan. Mereka sengaja membiarkan pandemi ini terjadi!”

"Untuk kepentingan apa? Apakah mereka sekumpulan idiot yang menguasai raksasa farmasi?’Akiko menyela sambil memperhatikan jalanan di depannya.

"Tidak. Ini lebih dari itu semua. Tujuan mereka jauh lebih besar dari keuntungan finansial atau apapun. Mereka sepertinya ingin menjadi tangan kiri Tuhan.”

Andalas hanya diam saja di bangku belakang. Dia mengkhawatirkan keselamatan Cecilia tapi juga yakin dengan kemampuan Akiko. Organisasi ini memang harus segera ditangani. Jika tidak, pada kesempatan yang lain, mungkin mereka akan berhasil membunuh mereka. Aku harus menghubungi Si Konsultan untuk urusan ini. Itu berarti dia harus terbang ke Hongkong.

Sepanjang sisa perjalanan, mereka bergulat dengan pikiran masing-masing. Cecilia sangat berharap urusan meminjam perangkat Profesor Lian ini berjalan lancar dan terhindar dari kesulitan. Tapi apa susahnya mencuri dari seorang profesor yang tidak dibatasi kawat berduri dan moncong senapan? Cecilia memejamkan mata. Berusaha tidur sebisanya.

Akiko sedang berpikir apa yang akan dia lakukan kalau Organisasi ternyata menyewa jasa ayahnya. Akiko benar-benar bingung. Dia sudah berkomitmen kepada diri sendiri akan menyelesaikan urusan MS-BA-30 ini hingga tuntas. Tapi jika nanti harus berseberangan jalan dengan ayahnya? Berhadapan dengan kekuatan Yakuza? Dia tidak takut. Satu-satunya yang ditakutinya di dunia hanyalah jika dia mati dalam keadaan tidak berharga.

Mereka berhenti 5 kali untuk makan, isi bensin, dan ke toilet. Selebihnya mobil dipacu sekencang mungkin. Andalas menggantikan Akiko yang langsung tertidur di jok belakang. Cecilia juga tidur. Benar seperti dugaannya. Perjalanan darat jauh lebih tidak beresiko.

Tapi mata Andalas yang awas bisa melihat ada 2 mobil wagon yang sedari tadi terus mengikutinya. Semenjak meninggalkan perbatasan New York, 2 mobil itu selalu membayang-bayanginya. Andalas yang belum terlalu paham medan di tanah Amerika membangunkan Cecilia.

"Setelah high way ini adakah tempat perhentian yang cukup besar?”Cecilia hampir mengomel panjang pendek. Masa dia dibangunkan hanya untuk pertanyaan seremeh ini? Bukankah Andalas bisa mencarinya di peta? Tapi Cecilia kemudian tersadar. Andalas selalu punya maksud serius di setiap perkataan yang keluar dari mulutnya.

"Ada apa? Kau lapar? Ingin makan enak?”Sudah beberapa lama mereka memang selalu makan makanan cepat saji. Selain praktis juga karena menghindari berdiam di satu tempat cukup lama.

Andalas menggeleng. Dia hanya menunjuk ke kaca spion.

"Ada yang mengikuti kita. Aku akan menyelesaikannya di sebuah tempat yang luas untuk menghindari collateral damage.”

Akiko terbangun. Dia sempat mendengar percakapan tentang makan enak dan korban sampingan.

"Kita hajar saja mereka di jalan ini!”Akiko meraih Heckler & Koch MP5 yang diletakkan di kabin belakang.

"Jangan! Aku juga ingin menangkap salah seorang dari mereka agar bisa mengorek keterangan. 2 pramugari palsu yang telah diamankan Dokter Adli Aslan tidak sempat dimintai keterangan apapun. Mereka bunuh diri meminum sianida dengan menelan pil yang selalu terselip di gigi geraham.”

"Aah kasihan. Mereka sebenarnya hanya pion yang sedang dimainkan orang-orang besar.”Cecilia merasa iba.

"Sang Eksekutor tidak pernah mengampuni kegagalan. Ingat pemuda yang tertangkap di bandara Doha? Dia juga ditemukan tewas keracunan sianida di sel tahanannya.”Andalas menjelaskan.

"Ok. Setelah dari Boston kami akan kembali ke Washington untuk menemui Will lagi. Dan apa rencanamu Andalas?”Cecilia memandang wajah dingin itu dari samping.

"The Consultant. Hongkong.”Andalas menyahut ringkas.

"Apa yang akan kita lakukan terhadap mereka Andalas?”Akiko bertanya sambil menghitung berapa banyak magazin MP5 yang tersedia. Dia menyukai senjata ringan ini.

Tanpa menoleh Andalas membalas pendek,”Kita ledakkan mereka di rest area. Sisakan 1 orang untuk kita tanyai.”

Cecilia tersentak. Bulu kuduknya meremang. Lelaki ini sangat berbahaya bagi siapapun yang memusuhinya.

* * * ****