Now Loading

Bab IX

Misteri adalah kenyataan yang masih tertutupi
Ketidaktahuan adalah tahu yang terselimuti
Ketidakpercayaan timbul akibat rasa percaya yang hilang
Ketidakmampuan ada karena niat yang tidak lagi berbilang
Misteri terbuka jika ada campur tangan Tuhan di dalamnya
Bukan karena kebetulan belaka
Atau ilmu pengetahuan semata.

Bab IX

Pesisir Plengkung Blambangan. Sebuah pantai paling misterius di wilayah kerajaan Blambangan.  Menurut sebagian orang, pantai ini mengandung cerita-cerita mengerikan tentang kerajaan makhluk halus, sarang Banaspati, tempat berkumpulnya Genderuwo dan kisah-kisah lain yang cukup mendirikan bulu roma bagi siapa saja yang mendengarnya.  Jarang sekali manusia menjejakkan kaki di wilayah yang singup ini. 

Padahal sebenarnya jika mata fana melihat wilayah ini.  Hanya keindahan yang nampak.  Pesisir yang dihampari beludru pasir berwarna putih.  Dipagari oleh pepohonan raksasa tegap berjajar seperti pasukan terrakota Dinasti Qin.  Angin bertiup lemah membawa bau asin air laut.  Menggoda ikan dan udang berenang hingga ke pinggir pantai.   Mencoba menikmati sinar matahari yang sedang bersembunyi di ujung langit. 

Sima Lodra menurunkan Arya Dahana perlahan di pantai yang bersih.  Dyah Puspita buru-buru memeriksa keadaan pemuda yang diam-diam dicintainya ini.  Wajahnya masih pucat pasi tapi tidak lagi kehijauan.  Sepanjang jalan menuju ke daerah asing ini.  Sima Lodra sering menurunkan Arya Dahana dan memberikan isyarat kepada Dyah Puspita untuk membuat ramuan obat dari dedaunan dan akar-akaran yang ditemui di hutan atau pinggir sungai.  Selama beberapa hari melakukan perjalanan bersama Sima Lodra membawa Arya Dahana yang masih terus-terusan pingsan, membuat Dyah Puspita banyak mengerti tentang bahasa isyarat harimau sakti itu.  Ramuan yang dibuatnya ternyata cukup membuat Arya Dahana bertahan hidup meski tidak bisa pulih sepenuhnya.

Dyah Puspita bernafas sedikit lega.  Hatinya trenyuh melihat keadaan pemuda ini.  Gara-gara dialah pemuda yang disayanginya ini jadi begini.  Dipandanginya wajah polos yang menarik hatinya itu.  Diusapnya bibir kurus yang mulai ditumbuhi bulu-bulu halus di atasnya.  Hmmmm...ganteng juga, pikir Dyah Puspita setelah memperhatikan lebih seksama.  Cepat-cepat dibuangnya rasa tidak karuan yang mendadak datang tadi. 

Sekarang dia fokus pada memeriksa nadi, detak jantung dan pernafasan Arya Dahana.  Semuanya lemah tapi tetap berdetak teratur.  Dia memeriksa sekeliling.  Barangkali ada gua atau tempat apapun yang bisa dijadikan tempat berlindung jika hujan tiba.  Tidak ada gua.  Dyah Puspita memutuskan membuat sebuah pondok sederhana di bawah sebuah pohon Trembesi raksasa.  Dia memberi isyarat pada Sima Lodra.  Si harimau putih itu menggeram halus dan masuk ke hutan untuk berburu buat makan malam mereka.

Dyah Puspita membaringkan Arya Dahana di pondok yang selesai dibuatnya.  Kemudian mencari air tawar dan bersih untuk mandi dan juga sekaligus untuk membersihkan tubuh Arya Dahana nanti.  Siang itu banyak hal yang dilakukan Dyah Puspita.  Setelah membersihkan tubuh dan muka Arya Dahana menggunakan air bersih yang dibawanya dari sungai, Dyah Puspita  menyalakan api untuk menghangatkan tubuh malam ini.  Cuaca sedang cerah.  Hujan sepertinya masih jauh musimnya.  Sambil tersenyum gembira dia menganyam daun-daun kelapa muda untuk alas tidur.  Entah mengapa perjalanan kali ini membuatnya menjadi riang.  Jauhnya jarak yang harus ditempuh.  Sulitnya medan dan kelelahan mencari daun dan akar obat serta selalu merawat Arya Dahana setiap pagi dan sore hari,  tidak terasa sama sekali.  Dia melakukannya dengan senang hati. 

Didengarnya suara gemerisik dari rimbun hutan di belakangnya.  Dilihatnya Sima Lodra datang dengan membawa seekor rusa muda.  Ekornya dikibas-kibaskan pertanda banyak berlimpah binatang buruan di dalam sana.  Dyah Puspita tersenyum dan segera membawa rusa muda itu ke sungai untuk dibersihkan.  Sementara Sima Lodra duduk tenang di samping Arya Dahana sambil menjilati badannya.  Malam itu mereka bersantap malam dengan nyaman dan tenang.  Arya Dahana belum tersadar sehingga seperti biasa Dyah Puspita hanya meneteskan air bersih di mulutnya agar tubuhnya tidak kehilangan air dengan cepat.  Dyah Puspita belum tahu persis apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan di sini.  Tapi dia percaya sepenuhnya kepada Sima Lodra.  Besok dia akan bertanya kepada harimau putih apa yang harus mereka lakukan selanjutnya di sini.  Bertanya pada binatang? Hmmmm...rupanya aku sudah setengah gila...pikir Dyah Puspita geli.

Keesokan harinya, Dyah Puspita terbangun dengan tubuh segar bugar.  Dia memulai pagi yang hangat dengan berlatih ringan di pantai.  Dilanjutkan berlatih berat pukulan Braja Musti di laut yang sepinggang dalamnya.  Matahari memandikan tubuhnya yang molek segar.  Terlihat seperti peri yang tersesat sendirian dan bermain air laut sebagai pelampiasan kesepiannya.  Setelah selesai berlatih, Dyah Puspita kembali melakukan aktifitas rutin memandikan Arya Dahana.  Menyiapkan makan pagi dan bersiap-siap mencari ikan di laut untuk santap siang nanti. 

Saat dia sedang asyik memancing di laut dengan menggunakan pancing seadanya yang dibuat sendiri.  Terdengar auman lirih di belakangnya.  Dyah Puspita menengok dan melihat Sima Lodra duduk menunduk dengan takzim sambil mengaum lirih tiada henti.  Matanya menatap ke tengah lautan dengan tajam.  Semilir angin yang tadinya menghembus pelan, sekarang berhenti sama sekali.  Kicau burung yang sebelumnya ramai bersahutan, kini tak kedengaran lagi.  Bahkan debur ombak yang tadinya bersemangat menghempas batu karang, sekarang kecipaknya tak terdengar sama sekali.  Alam terdiam.  Suasana menjadi hening.  Benar-benar sunyi.  Seperti kuburan mati. 

Dyah Puspita meremang semua bulu di tubuhnya.  Belum pernah dia menghadapi situasi semengerikan ini.  Hawanya benar-benar lain.  Seperti semua roh sedang berkumpul, menghisap nyawa dan keberanian manusia di sekitarnya.  Dyah Puspita menggigil mengingat semua cerita yang pernah didengarnya tentang tempat ini.  Tidak salah jika manusia enggan menginjakkan kaki di wilayah horor ini.  Dunia serasa terpisah di luar.  Ini adalah tempat iblis dan setan memulai dan menutup hari. 

Hiiiiihhh..... Dyah Puspita semakin merinding.  Dia tidak takut bertarung menghadapi berapa ratuspun manusia.  Sesakti apapun.  Tapi kalau setan dengan penampakan yang seram-seram? Uuuuhh...bagaimanapun dia adalah seorang gadis muda yang sering giris melihat sesuatu yang di luar nalar.

Dyah Puspita berlari ke pondok.  Duduk di samping Arya Dahana yang masih tergolek lemah.  Tanpa disadarinya dia memegang erat tangan Arya Dahana.  Hangatnya tangan Arya Dahana ternyata sedikit memulihkan keberanian.  Hangat? Sanghyang Widhi!

Bukannya tadi pagi waktu terakhir memeriksa, tangan Arya Dahana masih sedingin embun?!  Dia menoleh menatap wajah pemuda di sampingnya yang sedang tersenyum lemah kepadanya.   Tersenyum?! Dyah Puspita hampir terlonjak berdiri.  Dipegangnya tangan itu semakin erat.  Ditatapnya wajah yang kini tersenyum geli.  Tanpa bisa dicegah lagi, direngkuhnya tubuh kurus pemuda itu dalam dekapannya.  Bahkan saking gembiranya, lagi-lagi tanda disadarinya, dia mencium pipi kanan kiri pemuda itu dengan begitu bersemangat.  Dyah Puspita baru berhenti menciumi saat Arya Dahana terbatuk-batuk menahan sesak nafas didekap sedemikian erat olehnya.  Pipi Dyah Puspita seperti udang rebus yang terlalu matang sekarang.  Sangat merah dan tersipu-sipu.  Dijauhkannya dirinya dari pemuda itu dan menunduk malu.  Namun di pelupuk matanya mengembang sedikit air mata dan isakan pelan.

“Kakak Puspa...kenapa menangis?...hey, aku sudah kembali...” Arya Dahana memegang pundak Dyah Puspita dan mengguncangnya pelan.  Bukannya berhenti, Dyah Puspita malah semakin terisak-isak.  Arya Dahana meraih tubuh Dyah Puspita dan memeluknya dengan hangat.  Gadis jelita itu semakin sesenggukan.  Tubuhnya terguncang-guncang di pelukan Arya Dahana.  Pemuda itu tersenyum sabar.  Memegang kedua pundaknya kemudian membimbing gadis cantik itu duduk.  Dyah Puspita yang merasakan ketenangan sangat mendalam saat dalam pelukan Arya Dahana tadi, tetap terisak tapi tersenyum samar sambil memegang pipi Arya Dahana.

“Kamu telah menyelamatkan aku beberapa kali tanpa berhitung keselamatanmu sendiri Arya.  Aku sangat berhutang budi kepadamu.  Ayahmu menitipkanmu kepadaku agar menjagamu.  Tapi ternyata kamulah yang banyak menjagaku...” isak Dyah Puspita terharu. 

Arya Dahana tersenyum lebar sekarang,” jangan berkata seperti itu...aku pernah bilang dulu bahwa kita akan saling menjaga bukan?  Kamu juga telah menyelamatkan nyawaku berkali-kali Kak Puspa...terimakasih ya.”

Dyah Puspita menatap mata pemuda itu dalam dalam,” sama-sama Arya, boleh aku minta satu hal padamu?,”

Arya Dahana mengangguk tegas.

“Jangan panggil aku lagi kak...kamu panggil aku Puspa saja..bagaimana?” mata bening gadis cantik menatap penuh harap.

“Tentu saja kak...eh Puspa...” Arya Dahana tersenyum manis.  Namun alisnya mendadak berkerut sangat dalam.  Dyah Puspita yang masih menatap bahagia mendengar jawaban Arya Dahana, mengikuti arah mata pemuda itu.  Tidak seberapa jauh dari mereka, dari arah tengah lautan yang sedikit berkabut.  Terdengar ringkik kuda yang sangat kencang.  Tidak hanya satu kuda.  Kedengarannya lebih dari dua atau tiga kuda meringkik bersama-sama.  Namun Dyah Puspita dan Arya Dahana tidak melihat apapun di sana.  Dyah Puspita yang tadinya sudah melupakan kengeriannya, sekarang merinding lebih hebat lagi.  Dia mendekatkan tubuhnya ke Arya Dahana dan menempel erat ke sisi pemuda itu. 

Jika ada yang mengenal siapa Dyah Puspita dan tahu betapa lihainya gadis cantik itu, pasti akan merasa heran bukan main.  Gadis itu sekarang dengan manjanya meminta perlindungan kepada seorang pemuda hijau sakit-sakitan dengan kemampuan dan pengalaman yang masih beberapa tingkat di bawahnya.

Suara ringkik kuda semakin keras dan membahana.  Memecah kesunyian yang tadinya mencekam menjadi hiruk-pikuk penuh kengerian.  Dan laut tersibak perlahan saat sepasang kuda muncul ke permukaan.  Diikuti sepasang yang lain.  Dan sepasang lagi yang lain.  Sampai akhirnya 4 pasang kuda muncul di permukaan laut.  Menarik sebuah kereta kencana yang berkilau-kilau mewah dan megah.  Dyah Puspita dan Arya Dahana mematung terpukau melihat pemandangan langka ini.  Sampai tidak disadari bahwa mereka saling menggenggam tangan dengan erat.  Berdebar-debar menanti apa yang selanjutnya akan terjadi.

Kereta kuda itu berhenti di pantai yang landai dengan anggun.  Kuda-kuda itu terlihat sangat perkasa.  Tinggi besar dan gagah.  Keretanya sendiri tak terbayangkan mewahnya.  Semuanya terbuat dari emas yang berkilauan.  Pintu kereta kencana itu terbuka perlahan.  Keluarlah dua orang perempuan yang sangat cantik dan berbaju ringkas hijau-hijau.  Keduanya mengambil sikap di kanan kiri pintu belakang kereta yang masih belum terbuka.  Dan pintu itupun terbuka dari dalam.  Seorang lagi wanita berbaju panjang kebaya menampakkan dirinya.  Yang ini lebih cantik lagi dibanding dua yang pertama.  Baju kebayanya yang juga berwarna hijau berkibar-kibar saat dia turun dari kereta.  Dia menunggu di luar sembari membimbing sebuah tangan yang terulur dari dalam.  Dan keluarlah wanita ke empat dari kereta itu. 

Dyah Puspita dan Arya Dahana yang semenjak tadi sudah terbengong-bengong, kali ini tidak bisa lagi menyembunyikan kekagumannya.  Wanita terakhir yang keluar dari kereta itu luar biasa cantik dan anggunnya.  Berbaju sutera putih panjang mewah.  Bertubuh begitu sempurna.  Wajahnya sangat anggun dan menawan hati siapapun yang melihatnya.  Arya Dahana sampai melongo lupa menutup mulutnya.  Sampai-sampai Dyah Puspita mencubit lengannya sambil cemberut dan berkata lirih,” ih..memalukan! seperti tidak pernah melihat perempuan cantik saja...huh!” 

Arya Dahana tersipu malu ditegur seperti itu.  Dia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain sambil meringis menggosok-gosok lengannya yang sakit bukan main akibat cubitan marah tadi. 

Wanita cantik luar biasa dan anggun itu melambaikan tangannya ke arah Sima Lodra.  Si harimau putih berjalan perlahan sambil menunduk menghampiri.

“Sima Lodra, sudah saatnya kau pulang ke rumah.  Aku tahu tuanmu sudah mati.”

Sima Lodra menggosokkan tubuhnya ke kaki wanita cantik itu dan menoleh ke belakang ke arah Arya Dahana.  Mulutnya menggeram lirih seperti sedang berkata-kata kepada wanita itu.

“Hmmmm...kamu tahu aku selalu datang kesini setiap tanggal ini.  Aku tahu kamu membutuhkan pertolonganku sehingga kamu berani membawa manusia-manusia ini untuk bertemu denganku.  Hey pemuda tampan...kesinilah.  Coba aku periksa luka-lukamu.”  Wanita cantik itu menatap ke arah Arya Dahana sambil melambaikan tangannya.

Sebelum Arya Dahana melangkah ke depan, Dyah Puspita maju menghalanginya dan berkacak pinggang,” bagaimana aku yakin kau akan mengobati pemuda ini? Kami sama sekali tidak mengenalmu.”

Dua wanita cantik ini saling berhadapan.

“Hmmmm....aku tidak ada urusan denganmu.  Sima Lodra hanya mohon bantuanku untuk pemuda itu.  Bukan kamu.  Aku tadi telah berbaik hati untuk tidak minta bayaran atas pertolongan yang akan aku lakukan.  Tapi melihat sikapmu, aku sekarang minta syarat agar aku mau menyembuhkan luka pemuda itu.”

Dyah Puspita mendidih hatinya.  Tapi dia coba menahan diri dan berkata halus,

”Sebutkan dulu siapa kamu dan apa syarat yang kau minta itu?”

Wanita itu maju selangkah lagi ke depan,

”Kamu cantik...berilmu tinggi juga.  Kamu layak jadi dayang-dayangku di istana.  Namaku Ratu Laut Selatan.  Syaratku menjadi lebih berat lagi sekarang.  Karena sikapmu sama sekali tidak sopan terhadapku.  Aku mau menyembuhkan luka hebat pemuda itu dengan syarat dia mau ikut denganku ke istana laut selatan...”

Dyah Puspita memerah mukanya menahan amarah,

”Aku tidak setuju dengan syarat itu.  Aku akan membawanya pergi dari sini sekarang juga.  Aku akan mencari pertolongan orang lain saja untuknya.  Dan tolong dicatat! Aku tidak sudi menjadi dayang-dayangmu!”  Diraihnya tangan Arya Dahana sambil melangkah pergi.

“Tunggu! Aku yakin kamu akan mengatakan begitu.  Aku tahu kamu sangat mencintainya.  Kalau begitu syaratnya aku balik.  Aku mau menyembuhkan dia tapi dengan syarat kamu ikut aku ke istanaku.” Ratu Laut Selatan mengatakan dengan senyum mengejek di sudut mulutnya.

“Hmmm baiklah. Aku akan melakukan apapun demi kesembuhannya dan ya..aku mencintainya.  Aku setuju dengan.....”

Belum selesai Dyah Puspita menyampaikan persetujuannya, Arya Dahana menyela dengan cepat,

”Tidak! Aku tidak menyetujui syarat itu Ratu.  Syarat apapun juga.  Aku tidak mau ikut denganmu atau Puspa ikut denganmu.  Aku tidak mau disembuhkan olehmu Ratu.  Biarkan kami pergi berdua dari sini.  Sima Lodra juga bebas menentukan dengan siapa dia ikut.”

Wajah Ratu Laut Selatan yang cantik jelita itu mengeras sekarang.  Dikibaskan tangannya ke arah Arya Dahana.  Pemuda itu terkejut saat merasa ada sambaran angin sedingin es menuju ke tubuhnya.  Dia menggerakkan tangannya menangkis serangan itu sambil mengerahkan tenaga ke lengan kanannya.

“Buuukkk...dessss!”

Arya Dahana terpelanting dengan keras ke belakang.  Di lain pihak, Ratu Laut Selatan terhuyung sedikit tubuhnya.  Ratu cantik itu sedikit terkejut mukanya.  Tidak disangkanya pemuda polos ini sanggup menerima pukulannya bahkan bisa membuatnya terhuyung.  Hatinya semakin marah.  Dia adalah Ratu Laut Selatan.  Tokoh gaib yang sangat ditakuti di seantero dunia persilatan.  Perasaannya yang angkuh dan tidak mau terkalahkan menambah amarah di hatinya.  Dia bergerak maju menyerang Arya Dahana dengan pukulan yang lebih mematikan.  Namun di depannya telah berdiri Dyah Puspita.  Mata gadis cantik itu berapi-api. 

“Ratu! kau langkahi mayatku dulu sebelum kau bisa menyentuh Arya Dahana!”

Amarah Ratu Laut Selatan semakin berkobar.  Dia memberi isyarat kepada dua dayang dan satu pembantu kepercayaannya.  Tiga orang wanita laut selatan yang sedari tadi hanya berdiri menyaksikan tanpa berani bergerak sebelum ada perintah itu, kini bersama-sama bergerak ke arah Arya Dahana dengan maksud menyerang si pemuda. 

Terdengar geraman keras ketika Sima Lodra melompat di depan Arya Dahana untuk melindunginya dari serangan.  Ratu Laut Selatan terbelalak matanya melihat kejadian ini.  Dia benar-benar luar biasa marah kali ini.  Wajahnya menghadap ke laut.  Mulutnya komat kamit dan....laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak di suatu tempat.  Golakan itu bergulung menuju pantai dengan cepat.  Ketika sudah menyentuh bibir pantai....blaaaarrr!!! 

Seekor binatang raksasa menampakkan dirinya dengan sangar.  Badannya sebesar pohon mahoni yang sudah berusia ratusan tahun.  Tangan-tangannya seperti sulur-sulur lengan gurita.  Seekor Gurita yang aneh karena mempunyai empat kaki besar untuk berjalan di tanah.

Binatang raksasa itu bergerak mendekati gelanggang.  Matanya yang besar dan aneh menatap Dyah Puspita dan Arya Dahana dengan garang.  Sulur-sulur lengannya bergerak memukul dan mengibas bergantian.  Mereka dengan cepat berlompatan menghindari sulur lengan sebesar batang kelapa itu.  Suara berdebum keras terdengar berkali-kali ketika lengan-lengan raksasa itu menghantam pohon atau tanah.  Dyah Puspita dan Arya Dahana hanya bisa menghindar saja dari serangan bertubi-tubi ini.  Mereka tidak tahu bagaimana cara melumpuhkan binatang raksasa ini.

Ratu Laut Selatan dan para pembantunya menyaksikan ini dengan tersenyum mengejek.  Mereka melihat betapa sibuk dan terdesaknya Dyah Puspita dan Arya Dahana.  Sima Lodra mengawasi semuanya dari tempat yang agak jauh.  Harimau putih ini sadar dia tidak akan bisa banyak membantu.  Dia hanya bersiaga jika sewaktu-waktu para pembantu Ratu Laut Selatan ikut mengeroyok sepasang muda-mudi ini.

Pertarungan aneh ini sudah memakan waktu beberapa lama.  Dyah Puspita dan Arya Dahana semakin terdesak mundur.  Arya Dahana melirik ke belakang.  Mereka sudah sangat dekat dengan rimbun pepohonan.  Terlintas sesuatu di pikiran Arya Dahana,

”Puspa!....pohon-pohon!” 

Dyah Puspita sepertinya mengerti apa yang dipikirkan oleh Arya Dahana.  Dia menyambar lengan Arya Dahana dan melesat ke belakang ke arah pepohonan.  Gurita aneh ini tidak menaruh curiga.  Binatang ini mengejar sambil tetap terus menghantam-hantamkan lengan-lengan raksasanya ke arah mereka.  Sima Lodra berlari mengikuti dari belakang Arya Dahana dan ikut masuk ke rimbun pepohonan. 

Ratu Laut Selatan menggerutu panjang pendek melihat ini,

”Dasar binatang bodoh.  Mau saja dipancing seperti itu..huh!”

Pikiran cerdas Arya Dahana membuahkan hasil.  Gurita itu sekarang tidak leluasa lagi melakukan serangan karena terhalang rapatnya pepohonan.  Dyah Puspita mempunyai kesempatan sekarang untuk membalas serangan.  Kedua tangannya membara saat dirinya merapal pukulan Braja Musti.  Dia menoleh kepada Arya Dahana,

”Arya...panas..” teriaknya bersemangat. 

Arya Dahana yang cerdik segera memahami apa yang dimaksud Dyah Puspita.  Meskipun masih dalam keadaan belum pulih sepenuhnya, dia mengerahkan kemarahannya dan menyalurkan tenaga ke lengan kanan menggunakan pukulan Geni Sewindu.  Lengan kanannya diselimuti api kebiruan.  Muda-mudi ini saling berpandangan kemudian mengangguk dan menghantamkan pukulan secara bersamaan pada pangkal sulur lengan gurita yang sedang  berusaha melepaskan diri dari belitan pepohonan.

“Bresssssss.....”

Dua pukulan yang sama-sama berhawa panas ini mengenai dengan telak sulur lengan tersebut.  Terdengar lengking tinggi mengerikan yang keluar dari mulut Gurita itu.  Sebuah sulur lengannya terbakar hangus dan langsung terlepas dari tubuhnya.  Tapi rupanya Dyah Puspita dan Arya Dahana tidak berhenti sampai di situ.  Berturut-turut mereka melepaskan pukulan secara bersamaan terhadap sulur-sulur lengan yang lain.  Teriakan gurita itu semakin kencang kesakitan.  Ke delapan sulur lengannya habis terpenggal oleh kedahsyatan pukulan-pukulan sakti itu.  Gurita itu melolong-lolong kesakitan.  Dengan perlahan binatang raksasa itu beringsut kembali ke bibir pantai dimana Ratu Laut Selatan menyaksikan dengan kening berkerut dan alis bertaut.

Dyah Puspita dan Arya Dahana saling berpandangan dan tersenyum lebar.  Mereka bisa mengalahkan binatang raksasa itu!  Dyah Puspita mendekatkan mulutnya ke telinga Arya Dahana dan berbisik,

”Ayo kita pergi dari sini.  Ratu Lautan Selatan tidak bisa diukur kekuatan ilmunya.”

Arya Dahana mengangguk.  Tapi sebelum keduanya berlari pergi, tahu-tahu di depan mereka telah berdiri sang ratu.  Wajahnya yang luar biasa cantik itu begitu dingin dan bengis.  Siapa saja yang melihat pasti akan jeri hatinya.

“Kalian tidak bisa begitu saja pergi setelah mempermalukanku seperti ini.  Harus ada yang menerima hukuman atas apa yang telah kalian perbuat,”

Sambil berkata, Ratu Laut Selatan mengibaskan tangan kanannya.  Keluarlah semacam kabut berwarna kebiruan mengarah kepada muda-mudi itu.  Dyah Puspita dan Arya Dahana mencium bau amis air laut yang sangat pekat bahkan sebelum kabut itu mencapai mereka.  Menyadari bahwa kabut itu sangat berbahaya, Dyah Puspita mengebutkan kedua tangannya ke depan untuk menahan kabut itu.  Arya Dahana tidak tinggal diam.  Dia melakukan hal yang sama.  Namun terlambat.  Rupanya kabut itu menyebar begitu cepat di sekeliling mereka.

Dyah Puspita dan Arya Dahana terbatuk-batuk keras.  Kabut itu telah memasuki pernafasan mereka.  Keduanya bernafas tersengal-sengal dengan leher seperti tercekik.  Muka mereka membiru, telinga berdenging, dan akhirnya tubuh lemas tak bertenaga.  Keduanya menggelosoh di tanah tak berdaya.  Merasakan siksaan yang luar biasa di sekujur tubuh. 

Dengan sekuat tenaga Dyah Puspita mencoba bertahan dengan mengerahkan hawa murni.  Tapi rupanya kabut aneh itu memang luar biasa.  Meskipun dia berusaha sekuat tenaga untuk mendorong keluar kabut yang sudah terlanjur masuk dalam tubuhnya, dia tidak berhasil.  Arya Dahana bernasib sama.  Dia sekarang hanya bisa terduduk diam.  Sambil menahan sakit tak terkira di sekujur tubuhnya.

“Hmmmm... kalian telah terkena pukulanku yang dinamakan Kabut Misteri Laut Selatan.  Kalian tidak terluka dalam karena itu kabut sihir.  Sekali dalam tujuh hari kalian pasti akan mengalami siksaan yang sama seperti ini.  Kalian tidak bisa berkumpul dengan banyak orang lagi jika sedang kambuh.  Kalian akan seperti orang gila.  Pada hari itu, kalian akan mengalami kegilaan sementara.  Semua kenangan buruk dan bayangan ketakutan akan sesuatu hal yang pernah kalian alami, akan berkumpul semua dalam ingatan dan menyerang jiwa kalian dari dalam.”

“Aku hanya akan meninggalkan obat ini satu saja.  Kalian boleh berunding, bertengkar, atau bertarung untuk memutuskan siapa di antara kalian yang minum obat ini.  Itu terserah kalian....”

Suara lembut Ratu Laut Selatan terdengar begitu dingin mengerikan saat menjelaskan semua itu.  Dikeluarkannya sebuah botol kecil dari sakunya.  Dilemparkannya ke depan muda-mudi itu sambil melangkah pergi.

“Aku kagum pada keberanian kalian.  Aku beri petunjuk cara menyembuhkan diri dari sihirku selain obat itu.  Hanya ada dua orang di muka bumi ini yang bisa menyembuhkan sihir itu.  Setan Sihir Negeri Seberang dan Si Bungkuk Misteri.  Nah...selamat berusaha dan rasakan siksa karena telah berani menantang Ratu Laut Selatan..” suara itu menggema mengiringi lenyapnya kereta kuda yang telah membawanya pergi.

Dyah Puspita dengan susah payah meraih botol itu.  Didekatinya Arya Dahana yang masih terduduk tak berdaya.

“Arya, minumlah.  Kamu lebih memerlukan ini daripada aku...”

Arya Dahana menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Minumlah Puspa.  Aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi.  Aku tidak rela kamu mengalami kegilaan aneh itu.  Aku hanya sebatang kara di dunia ini.  Sedangkan kamu... masih banyak orang yang memerlukanmu.  Minumlah Puspa...” 

Dyah Puspita duduk disamping Arya Dahana dan mengangsurkan botol itu.

“Minumlah Arya. Aku mohon kepadamu.  Aku sangat menyayangimu.  Aku masih lebih kuat darimu.  Aku yakin aku bisa mengendalikan diri saat kegilaan nanti menyerangku.”  Dibukanya tutup botol itu dan diraihnya wajah Arya Dahana mendekat.  Dia berusaha membuka mulut pemuda.

“Baiklah Puspa. Aku akan meminumnya tapi dengan satu syarat.”

“Syarat apapun akan aku penuhi Arya.  Katakan saja.”

“Setelah minum obat ini, bolehkan aku mencium bibirmu sebagai tanda sayangku kepadamu?” Arya Dahana mengucapkan kalimat ini dengan wajah bersemu merah.  Dyah Puspita yang masih lemas sekali terbelalak mendengar permintaan aneh ini.  Wajahnya tersipu-sipu malu.

“Mmmmm....ah...aapaaa...? Baiklah Arya.....  Aku sudah bilang apapun itu. Sekarang minumlah...”

Arya Dahana menerima botol itu kemudian menenggaknya sekaligus.  Diraihnya gadis cantik itu ke dalam pelukannya.  Diangkatnya wajah jelita itu mendekat dan diciumnya bibir merah itu dengan sepenuh hati.  Dyah Puspita memejamkan mata sambil melingkarkan lengannya di pinggang pemuda yang telah menjatuhkan hatinya ini.  Dia merasakan kehangatan yang luar biasa menjalari sekujur tubuhnya.  Jantungnya berdetak tidak karuan.  Aliran darahnya mengalir dengan sangat cepat.  Ada rasa panas yang bergolak di perutnya.  Sampai seusia ini dia belum pernah berdekatan dengan laki-laki.  Dan sekarang dia bukan hanya dekat. Tapi dicium dengan begitu mesranya! 

Jadi begini rasanya dicium itu?  Sangat menyenangkan dan menggairahkan.  Tapi kenapa ada rasa pahit dari bibir Arya Dahana ya...? Pikir Dyah Puspita,”...Ah barangkali memang beginilah rasa ciuman...pahit namun menyenangkan....”  Tubuhnya yang tadinya lemas tak bertenaga pulih dengan cepat.  Dorongan hatinya sangat menghangat.  Semakin erat saja lengannya memeluk Arya Dahana.  Sambil masih memejamkan matanya, Dyah Puspita bisa merasakan bahwa dunia sedang tersenyum kepadanya.  Ingin dia selamanya begini.  Begitu tenang, damai dan menyenangkan. 

Agak kaget ketika tiba-tiba Arya Dahana melepaskan pelukannya dengan nafas tersengal-sengal.  Dyah Puspita membuka matanya.  Dia melihat Arya Dahana sedang tersenyum manis kepadanya.  Rupanya mereka berdua sudah pulih dari pengaruh kabut sihir tadi.  Dyah Puspita balas tersenyum.  Dicobanya menggerakkan tubuh dan melompat.  Bisa.  Diraihnya tangan Arya Dahana untuk segera pergi dari tempat ini.  Dia masih bergidik dengan kemampuan Ratu Laut Selatan dan tidak mau berurusan lebih lanjut dengan Ratu Gaib itu. 

Namun saat dia sudah mulai berjalan menggandeng Arya Dahana.  Tubuh pemuda itu menjadi seberat gajah.  Dilihatnya pemuda itu mengerenyit kesakitan.  Tubuhnya terseret olehnya.  Bahkan tadi hampir terjatuh.  Wajahnya pucat pasi dengan tubuh yang masih lemas ternyata.  Sambil merebahkan tubuh Arya Dahana yang lemas, Dyah Puspita mengerutkan keningnya.  Kenapa dia cepat pulih dan Arya Dahana tidak?  Apakah itu obat palsu sehingga seharusnya malah tidak perlu minum?  Apakah justru pengaruh sihir itu bisa pulih dengan sendirinya?  Apakah Ratu Laut Selatan sengaja mempermainkan mereka?

Dengan rentetan pertanyaan yang masih menghuni benaknya, Dyah Puspita memeriksa keadaan Arya Dahana.  Denyut nadinya lemah, mata terpejam dengan nafas yang tidak teratur.  Namun tiba-tiba mata itu terbuka lebar dan terbelalak penuh ketakutan saat melihat ke arahnya.  Pemuda itu kejang-kejang sambil menunjuk kesana kemari tidak jelas.  Bibirnya bergetar-getar mengeluarkan kata-kata dan desis lirih yang tidak ada artinya.  Tubuhnya meringkuk seperti bayi yang sedang menahan dingin dan ketakutan yang amat sangat.  Terlihat sekali bahwa Arya Dahana mengalami persis apa yang disampaikan oleh Ratu Gaib itu tadi.  Tidak lama kemudian pemuda itu jatuh pingsan. 

Dyah Puspita yang sedari tadi hanya terpaku, kembali memeriksa tubuh pemuda itu dengan hati-hati dan seksama.  Tubuhnya dingin sekali seperti es.  Wajahnya yang sangat pucat masih menampakkan sisa-sisa kengerian yang teramat sangat.  Bibirnya bergemeletukan menahan perasaan dan tubuh yang menggigil.  Bibir hangat dan pahit yang tadi dengan mesra mencium bibirnya. 

Bibir...??! Pahit...??! Hati Dyah Puspita mencelus seperti terjatuh ke dalam jurang yang sangat dalam setelah menyadari sesuatu.  Air matanya menetes-netes tanpa disadarinya. 

Jadi inilah kenapa ciuman itu tadi terasa pahit.  Arya Dahana sengaja menciumnya agar bisa memasukkan obat lewat mulutnya tadi tanpa dia sadari sama sekali, karena dia sangat menikmati hangatnya ciuman pertama kalinya.  Pantas saja dia cepat pulih dan pemuda ini tidak.  Dyah Puspita semakin terisak. Pemuda ini selalu mengorbankan diri untuknya.  Dia meletakkan kepala pemuda itu di pangkuannya sambil tetap terisak-isak.  Terdengar suara di sampingnya.  Sima Lodra yang sedari tadi hanya menonton dari jauh, berbaring di sisi Dyah Puspita sambil menjilat-jilat pipi Arya Dahana. 

Dyah Puspita mengelus kepala harimau putih itu sambil masih terisak,” Dia selalu mengorbankan dirinya untukku Sima? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Penyakit aneh yang bisa membunuhnya setiap saat kalau dia salah mengerahkan tenaga saja belum sembuh, sekarang ada satu lagi penyakit aneh yang hinggap di tubuhnya.  Apa yang harus kulakukan Sima....ohhhh...??”

Suara yang memelas dan penuh rintihan pilu itu membuat si harimau menggeram lirih. Kepalanya semakin menunduk sampai hampir rapat dengan tanah.

Dyah Puspita mengusap air mata yang membasahi pipinya.  Suaranya serak ketika dia berkata menggugah semangatnya sendiri,” Sima...kau dengar apa kata Ratu Siluman tadi?  Ada dua orang yang bisa kita cari untuk kita mintai pertolongan.  Si Bungkuk Misteri dan Setan Sihir Negeri Seberang!  Aku akan mencarinya hingga dapat.  Aku tidak peduli seberapa sulitnya pun!  Apakah kamu mau menemani kami Sima?”

Harimau putih itu ikut tergugah semangatnya mendengar kalimat yang mengalir deras dari Dyah Puspita.  Bangkit berdiri, menegakkan kepalanya dan menggeram kuat-kuat.  Suaranya menggelegar hingga masuk ke dalam hutan.  Terdengar gemerisik gaduh saat hewan-hewan berlarian.  Burung-burung yang sedang bertengger tenang terbang berhamburan.  Bahkan saking paniknya, dua ekor rusa saling bertabrakan.

*********