Now Loading

Ikrar Kedua di Makam Hang Kesturi

Sudah lewat tengah hari ketika saya cek in di sebuah hotel di kawasan Jonker Street Melaka. Ini adalah perjalanan pertama saya ke Melaka dan ternyata kawasan ini sangat kental dengan budaya Tionghoa Peranakan. Saya beristirahat sejenak dan kemudian mengirim SMS ke Muthiah mengabarkan kalau saya baru tiba di Melaka.

Sekitar 10 menit setelah itu baru jawaban dari Muthiah masuk.

“Alhamdullilah Bang Asep sudah tiba dengan selamat, baiklah kita ketemu sekitar 30 menit lagi di Jonker Street. Kita ketemu di dekat Makam Hang Kesturi. Bang Asep tanya saja kalau belum tahu lokasinya.”

Saya segera bersiap-siap dan kemudian bertanya ke resepsionis lokasi makam Hang Kesturi. Ternyata sangat dekat dari hotel saya, paling 5 menit jalan kaki. Saya pun segera keluar dan menuju lokasi itu, biarlah saya tahu dulu tempatnya dan setelah itu bisa melihat-lihat tempat lain dan kembali sekitar waktu yang sudah ditentukan.

Tidak sulit menemukan makam itu. Lokasinya masih di Jonker Street dan di dekatnya ada sebuah kelenteng tua. Makamnya tidak terlalu luas dan warna putih sangat dominan. Ketika saya sampai di sana tidak ada orang di dekat makam kecuali orang-orang yang memang kebetulan lewat dan tidak bertujuan ziarah.

Karena masih ada waktu sekitar 15 menit lagi, saya kemudian kembali ke Jonker Street yang sebenarnya bernama jalan Hang Jebat untuk sekedar melihat-lihat Kota Melaka. Lumayan mengasyikkan karena kita seakan-akan kembali ke zaman lampau. Apa lagi suasana di tempat ini yang penuh dengan bangunan tua berusia ratusan tahun.

Setelah puas jalan-jalan sendiri, saya kemudian kembali ke Makam Hang Kesturi. Persis di depan pintu gerbang makam, Muthiah sudah menunggu. Melihat saya datang, Muthiah segera memeluk saya erat-erat. Namun karena dia sadar bahwa kami berada di tempat umum, Muthiah hanya menggenggam tangan sambil melampiaskan rasa rindu.

“Baru seminggu tidak jumpa, seperti sudah lima tahun,” kata saya menggoda.

Muthiah melepaskan genggaman tangannya dan mencubit perut saya lumayan kencang.

Kemudian saya mulai berbicara agak serius kepada Muthiah menanyakan mengapa dia memanggil saya tiba-tiba dan lebih cepat dari rencana semula.  Karena sesuai janji sebelumnya di Pulau Ubin, Saya baru akan ke Melaka sebelum kembali ke Jakarta sekitar pertengahan Juni.  Masih sekitar satu bulan lagi.

“Saya hanya sudah tidak sabar dan takut Bang Asep akan meninggalkan saya,” jawab Muthiah.

Muthiah kemudian mengajak saya mendekat ke makam. Dia kemudian menengadahkan tangan dan seakan berdoa. Saya hanya diam terpaku di samping Muthiah dan mencoba ikut menengadahkan tangan walau pikiran saya melayang ke mana-mana.

Sekitar 3 atau 4 menit, Muthiah selesai berdoa dan kemudian berkata:

“Saya telah mohon restu agar Wira Melayu seperti Hang Kesturi ini turut menjaga hubungan kita,” kata Muthiah.

Saya kemudian bertanya apa hubungan Muthiah dengan Hang Kesturi. Bukankan Hang Kesturi, Hang Jebat, Hang Lekiu, Hang Tuah, dan Hang Nadim sebenarnya hanya legenda.  Namun Muthiah berkata, menurut ayahnya dia sendiri masih ada keturunan para Sultan dan juga mungkin para wira yang saya bilang hanya legenda itu.

Muthiah kemudian mengajak saya mampir ke sebuah restoran peranakan halal dan menikmati makan siang berupa makanan lokal Malaka. 

“Ayo Abang mampir ke rumah saya!”

Ajakan Muthiah ini bagaikan petir di siang bolong. Namun kali ini saya tidak bisa menolak.  Kami kemudian naik taksi ke Kampung Morten, sebuah perkampungan tradisional Melayu di tepi Sungai Melaka yang jarak nya hanya sekitar 1,5 kilometer dari Jonker Street.   

Sesampai nya di rumah Muthiah, saya dipersilahkan duduk di ruang tamu dan tidak lama kemudian muncul seorang perempuan berusia lebih dari 50 tahunan. Muthiah memperkenalkan perempuan itu sebagai ibunya. 

Barulah saya tahu bahwa ayah Muthiah sudah meninggal beberapa tahun lalu. Dan di rumah ini hanya ada ibu Muthiah dan kakak perempuan Muthiah berserta suaminya.  Kebetulan Kak Wahidah, demikian nama kakak perempuan Muthiah sedang keluar rumah. Demikian juga suaminya.

Ibu Muthiah sangat ramah dan baik, saya langsung merasa nyaman mengobrol. Dia tidak terlalu banyak bertanya dan hanya berharap bahwa saya bisa menjaga hubungan dengan Muthiah baik-baik. Ibu Muthiah juga berharap saya tidak menyakit Muthiah karena dia baru saja bersedih ditinggal nikah oleh pacar sebelumnya. 

Namun walau tidak secara terang-terangan, Ibu Muthiah sebenarnya berharap bahwa saya bersedia untuk melangkah lebih serius dengan Muthiah. Bahkan kalau mungkin, orang tua saya sesekali berkunjung juga ke Melaka.

Saya hanya terdiam dan mengangguk mengiyakan. Walau terasa nyaman, tetap saja hati merasa tersiksa kalau mengingat Laila.  Hati saya masih terbelah dan bercabang dua,

Saya hanya bertamu sekitar 45 menit di rumah Muthiah. Setelah itu Muthiah mengajak saya berjalan-jalan menikmati berbagai tempat wisata yang sudah terkenal di Melaka Benteng A Famosa.

Malam hari baru saya mengantar pulang Muthiah dan kemudian kembali ke hotel. Muthiah juga tetap berharap saya ke Melaka lagi sebelum kembali ke Jakarta. Pada saat itu saya akan dikenalkan dengan Kak Wahidah dan suaminya.

Di hotel baru saya termenung memikirkan hubungan saya dengan Muthiah dan Laila.

Sementara SMS dari Jakarta ternyata sudah bisa masuk sejak pagi tadi.  Namun semua berita dari Jakarta menceritakan tentang kejadian yang membuat hati sedih.

Besok siang saya akan kembali ke Singapura. Dan Malam itu saya sudah bermimpi ketemu Laila.

Bersambung