Now Loading

Bab VIII

Sehebat-hebatnya datang kesulitan
Sesulit-
sulitnya mempertahankan perjuangan
Seputus-
putus asanya semangat dan harapan
Terkadang kita mendapatkan keajaiban.
Tuhan tak pernah tidur
Diberinya cobaan dan ujian
Dianugerahkannya pula keajaiban
Karena itu...
Jangan sekalipun pernah kau lupakan Tuhan.

Bab VIII

Tengah Danau Ranu Kumbolo.  Gelombang dan badai semakin keras.  Perahu-perahu yang ada di tengah danau itu seperti mainan yang dihempas kesana kemari.  Rupanya dari arah lain banyak juga perahu-perahu lain yang datang bergabung.  Perahu-perahu berwarna merah dengan orang-orang berbaju merah di atasnya.  Perkumpulan Malaikat Darah mengirimkan juga utusannya untuk memperebutkan kitab ajaib itu.  Puluhan perahu itu terombang ambing dahsyat dihantam badai dan gelombang yang semakin menggelora.  Anehnya, persis di titik pusat danau seluas 100 lingkaran perahu besar, airnya sangat tenang seperti cermin. 

Orang-orang berusaha sedapat mungkin mendekati titik pusat danau itu.  Namun kencangnya angin dan tingginya gelombang membuat usaha itu seperti sia-sia.  Belum ada satu perahu pun yang sanggup sampai di tengah-tengah danau.

Dewi Mulia Ratri tidak terkecuali.  Dia harus mengerahkan kemampuannya agar perahu itu tidak terbalik.  Dia memperhatikan sekeliling.  Di dekatnya ada perahu Andika Sinatria, Ardi Brata, Laksamana Utara dan putrinya serta beberapa perahu bercat merah. 

Tiba-tiba cuaca berubah cerah.  Badai berhenti mendadak dan gelombang berubah sangat tenang.  Puluhan perahu didayung cepat-cepat menuju tengah danau. 

Belum juga masuk hitungan beberapa jenak, terdengar suara bergemuruh yang luar biasa datang dari pinggir danau.  Sebuah dinding air yang sangat tinggi mendatangi dengan cepat.  Gelombang yang sangat tinggi seperti tembok raksasa yang runtuh.  Semua orang menjadi pucat bukan main.  Alam memang tidak bisa dipermainkan.  Alam jika sedang marah akan menunjukkan bagaimana jika Tuhan sedang marah. 

Semua orang bersiap-siap.  Sebentar lagi gelombang tinggi itu akan menyapu mereka semua.  Dewi Mulia Ratri ingat beberapa teknik yang dia pelajari waktu dulu masih sering bermain ombak di pantai utara.  Dia bersuit ke arah Andika Sinatria dan Ardi Brata.  Mereka menoleh dan memperhatikan Dewi Mulia Ratri justru menyongsong datangnya gelombang raksasa itu.  Perahunya meluncur cepat mendaki ketinggian gelombang.  Dia harus mengerahkan semua kemampuannya agar perahu itu tidak oleng.  Perahunya diarahkan mendaki tidak tegak lurus, namun menyamping.  Diliriknya dua pemuda itu melakukan hal yang sama.  Dengan kesal, tidak seberapa jauh dilihatnya Laksamana Utara dan si putri cumi-cumi itu juga melakukan hal yang sama. 

Tak lama kemudian, Dewi Mulia Ratri telah sampai di puncak gelombang.  Diikutinya alur gelombang itu.  Dia hanya harus menjaga agar tetap di puncak gelombang.  Sangat menakjubkan! Seperti gambaran seorang bidadari yang menunggang awan.  Dia berdiri di atas perahunya melihat ke bawah.  Terlihat belasan perahu yang masih menunggu di bawah karena tidak mampu memanjat ke atas atau barangkali mencoba teknik lain menaklukkan gelombang. 

Dewi Mulia kembali memperhatikan sekeliling.  Andika Sinatria dan Ardi Brata ada di sebelah kirinya.  Lebih jauh lagi dilihatnya Laksamana Utara dan Putri Anjani.  Kemudian  Raja Iblis Nusakambangan, Madaharsa, Argani, Aswangga berjejer di sebelahnya lagi.  Dewi Mulia Ratri menoleh ke kanan.  Dia hampir terguling kaget.  Gurunya dan Ki Mandara sedang tersenyum kepadanya sambil menaiki papan bekas perahu dan bukan perahu utuh! 

Didengarnya bisikan lirih dari Pendekar Pena Menawan,” Dewi, saat gelombang nanti bertemu topan, jangan panik.  Usahakan tetap berdiri di atas perahu.  Jangan duduk...kamu akan tersapu topan jika duduk...”

Dewi mengangguk mengerti.  Dilihatnya Ki Mandara juga sedang komat-kamit.  Pasti orang tua sakti itu sedang mengirimkan pesan yang sama kepada muridnya. 

Suara menderu-deru semakin menghebat.  Tepat seperti perkiraan Ki Biantara.  Nampak sebuah Angin Lesus bergerak maju dari depan menyongsong datangnya gelombang.  Dewi Mulia Ratri melihat kepanikan di bawah sana.  Belasan perahu merah tersapu angin badai mengerikan itu.  Beberapa yang masih bertahan bisa menghindarkan diri dari kaki badai itu, sekarang pasrah saja ketika gelombang raksasa itu menggulung mereka seperti remah-remah tanah yang disiram hujan deras. 

Jeritan dan teriakan menggiriskan hati terdengar dari sana-sini.  Dewi Mulia Ratri bersiaga penuh.  Kaki badai itu mendekat dengan cepat.  Dia tetap berdiri sesuai pesan dari gurunya.  Kini dia paham.  Kalau dalam posisi duduk, dia akan kesulitan mengendalikan perahunya menghindari kaki badai itu. 

Dan akhirnya kaki badai yang mengerikan itu tiba.  Dewi Mulia Ratri menggerakkan perahunya meluncur cepat ke kanan untuk menghindari kaki badai.  Dia berhasil!  Dilihatnya Andika Sinatria dan Ardi Brata juga berhasil.  Hanya satu orang yang gagal menghindari kaki badai.  Madaharsa terlempar keluar perahunya karena kurang cepat menghindari kaki badai.  Tubuhnya tertelan air gelombang. 

Badai itu menghantam gelombang.  Terdengar bunyi memekakkan telinga saat dua kekuatan raksasa itu bertumbukan.  Sungguh ajaib! Pertemuan dua unsur alam menakjubkan itu justru meredakan semuanya.  Gelombang berantakan dan kembali tenang, sedangkan badai langsung mengecil hingga tinggal semilir angin yang ditinggalkan.  Danau itu kembali setenang kaca. 

Setelah semuanya kembali normal, hanya sedikit sisa orang yang masih bertahan.  Tokoh-tokoh sakti seperti Raja Iblis Nusakambangan, Laksamana Utara, Putri Anjani, Pendekar Pena Menawan, Iblis Tua Galunggung, Iblis Jompo Laut Timur, Bangka Sakti Merapi, dua orang Malaikat Neraka pembantu Malaikat Darah Berbaju Merah masih di atas perahu dan papan masing-masing, selain juga tentu saja Dewi Mulia Ratri, Andika Sinatria dan Ardi Brata.  Kini mereka semua memandang ke titik pusat danau Ranu Kumbolo.  Menunggu apa yang terjadi selanjutnya. 

Beberapa saat kemudian, yang terjadi adalah keheningan.  Bahkan bunyi daun jatuh di kejauhan pun serasa mengagetkan.  Kecipak air saat ikan melompat menyambar belalang juga mengejutkan.  Namun tidak lama kemudian, bumi seperti diaduk kala getaran gempa luar biasa terjadi tiba-tiba.  Dalam hitungan sepersekian kejap, pepohonan di pinggir danau riuh bertumbangan.  Tanah terbelah di beberapa tempat.  Titik pusat danau bergolak hebat.  Anehnya! Hanya titik pusatnya saja.  Air seukuran satu perahu kemudian memancar dengan derasnya ke atas dari titik pusat itu.  Persis seperti air mancur. Sebuah benda berbentuk peti terlihat berada di atas air tersebut.  Peti kecil itu terus terbawa ke atas sampai air akhirnya berhenti dengan tinggi sekitar 50 kaki.  Begitu air stabil di ketinggian itu, gempa dahsyat yang menakutkan itu pun berhenti. 

Semua orang kini memandang air mancur ajaib itu tanpa berkedip.  Semua mata tertuju pada peti kecil yang mengambang dengan aneh di ujung air mancur.  Tidak seorangpun memulai gerakan.  Masing-masing masih tetap di perahunya.  Dewi Mulia Ratri yang begitu takjub dengan semua hal yang terjadi, sangat yakin bahwa inilah kitab sakti yang dicari-cari orang dari segala penjuru persilatan.  Ramalan mantra Si Bungkuk Misteri benar-benar terjadi. 

Raja Iblis Nusakambangan yang berangasan dan tidak sabaran itu memulai gerakan dengan menyambitkan potongan papan yang banyak berserakan di permukaan air sekitar situ.  Potongan papan itu melesat menghantam peti.  Peti itu sama sekali tidak terusik atau bergoyang.  Seolah peti itu juga terbuat dari air.  Menyusul kemudian sesosok bayangan melompat tinggi mencoba meraih peti.  Laksamana Utara mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang tertinggi.  Namun ajaib! Begitu tangan Laksamana Laut Utara hampir menyentuh peti itu, air bertambah tinggi sekian kaki sehingga sambaran itu luput. 

Akhirnya pecahlah keributan yang hampir lucu.  Semua orang berusaha menggunakan segala macam cara agar peti itu dapat diambil atau terjatuh.  Tidak ada satupun yang berhasil.  Dewi Mulia Ratri terbengong-bengong melihat peristiwa itu.  Dia masih tak bergeming sedikitpun dari atas perahu.  Andika Sinatria dan Ardi Brata rupanya juga penasaran ingin mencoba peruntungan.  Keduanya melesatkan perahunya ke depan dan dengan sekuat tenaga mendorongkan kekuatan tenaga dalam ke pangkal air mancur itu.  Berharap air mancur terpotong dan peti itu terjatuh.  Namun gagal! Air mancur tetap mengalir ke atas dengan gagahnya.

Raja Iblis Nusakambangan mencoba peruntungannya lagi dengan menciptakan seekor burung gagak dari sebuah papan.  Dilambainya burung gagak ciptaan dari sihir itu.  Dengan berkoak keras burung itu terbang ke atas mencoba menyambar peti.  Anehnya setiap cakar atau paruh gagak itu mendekati, peti itu bergerak sendiri menghindar.  Begitu berkali-kali hingga burung gagak itu rupanya merasa lelah dan bosan, lalu menabrakkan dirinya ke peti agar peti itu terjatuh.  Sebelum tubuh burung hitam itu menyentuh peti, air tiba-tiba memecah dan menghantam tubuhnya dengan keras.  Burung itu lenyap tak berbekas tertelan air. 

Kini kebingungan menguasai semua orang yang ada di situ.  Semua hal sudah dicoba.  Tidak ada satupun yang berhasil.  Dewi Mulia Ratri  tersenyum geli melihat semua ini.  Untung dia tidak mencoba melakukan apa-apa.  Yang sangat diyakininya tidak akan berhasil.  Biarlah dia menjadi penonton saja.  Lagipula dia tidak akan bosan.  Ada Andika Sinatria di sini, pikirnya dengan sedikit jengah.  Dia tersentak kaget ketika tanpa disadarinya kepala dan tubuhnya diguyur air sedingin es dari atas.  Matanya terbelalak marah.  Dalam kondisi seperti ini, masih saja ada orang jahil yang coba mengerjainya.  Sebelum mulutnya mendamprat dengan kata makian, kembali air sedingin es itu menyiram sekujur tubuhnya.  Matanya mencari-cari siapa orang jahil itu.  Namun tidak satupun sedang menatapnya.  Semua masih terkonsentrasi melihat ke atas.  Lagi-lagi air mengguyur tubuh Dewi Mulia Ratri.  Gadis jelita ini tidak mau kecolongan.  Sudah ketiga kalinya pikirnya geram.  Dia menyiagakan semua urat saraf. 

Begitu didengarnya ada suara berdesir dari atas, dia segera melompat ke samping dan sudah bersiap-siap untuk memberikan pukulan hukuman.  Namun air itu seperti tahu arah pergerakannya.  Tetap saja tubuhnya terkena guyuran dengan telak.  Dewi Mulia Ratri semakin jengkel.  Dia menggeser perahunya menjauhi bawah air mancur itu.  Keluar dari lingkaran orang-orang yang masih putus asa memandang ke atas.  Dia tidak peduli lagi dengan kitab.  Dia tidak mau lagi memikirkan air mancur sialan itu.  Dia harus menemukan orang jahil itu.  Tubuhnya basah kuyup sekarang.  Tiga empat kali tamparan rasanya belum akan memuaskan hatinya.  Dari posisi ini sepertinya akan cukup jelas untuk mengetahui darimana asal muasal air menjengkelkan itu. 

Kehebohan kemudian terjadi.  Air mancur itu bergerak!  Benar-benar bergerak maju! Semua orang menggerakkan perahu dan papannya masing-masing mengikuti arah gerakan air mancur itu.   Dewi Mulia Ratri yang masih sibuk dengan pencarian orang jahil, terus saja bergerak mendayung menjauhi titik pusat danau.  Dia tidak sadar bahwa ternyata air mancur itu mengikuti kemanapun dia bergerak. 

Pendekar Pena Menawan kemudian menyadari sesuatu.  Dia lalu menggerakkan papannya mendekati Dewi Mulia Ratri dengan posisi melindungi.  Iblis Tua Galunggung melihat gelagat.  Dia juga menggerakkan papannya dan mengambil posisi yang sama.  Andika Sinatria dan Ardi Brata mengikuti langkah guru-gurunya.  Dewi Mulia Ratri yang sekarang kebingungan.  Kenapa orang-orang bersikap aneh dengan mengelilinginya seperti ini?

Belum pulih dari rasa bingungnya, kembali Dewi Mulia Ratri mendapatkan hadiah siraman air untuk yang kesekian kalinya.  Kali ini dia benar-benar geram bukan main.  Dipelototinya Andika Sinatria yang kebetulan bertemu tatapan dan tersenyum manis kepadanya.  Diambilnya sepotong papan kecil dari dasar perahunya kemudian disambitkannya ke arah kepala sang pangeran.  Yang disambit tidak sepenuhnya menyadari karena konsentrasinya penuh tertuju pada kecantikan dan bentuk tubuh Dewi Mulia Ratri yang basah kuyup.

“Pletakkkk...duuuhhhh,” suara pangeran tampan ini mengaduh kesakitan setelah tahu-tahu kepalanya benjol terkena papan kecil itu.  Tentu saja Dewi Mulia Ratri tidak bermaksud menyakiti sang pujaan hati.  Dia hanya ingin memberi sedikit pelajaran agar tidak lagi jahil kepadanya. 

“Byuuuurrrr....byuuuurrr...byuuurrrr...” kali ini Dewi Mulia Ratri gelagapan karena siraman air sekarang bertubi-tubi mengguyur tubuhnya.  Sambil berusaha sedapat mungkin menghindar dengan menggerakkan perahunya ke kanan dan kiri, dia mengangkat tangan meminta maaf kepada Andika Sinatria.  Jelas jelas bukan dia atau yang lain yang telah mengguyur air sedari tadi. Ternyata semua ini perbuatan si air mancur ajaib itu. 

Dewi Mulia Ratri memajukan perahunya sekencang mungkin ke depan.  Karena guyuran air itu ternyata mengejar dirinya.  Semakin cepat dia mendayung perahunya, semakin cepat juga air mancur itu mengejarnya sambil tetap mengucurkan air mengguyur tubuhnya.  Andika Sinatria yang masih mengelus-elus kepalanya menjadi kasihan melihat Dewi Mulia Ratri tergopoh-gopoh dikejar air aneh itu.  Dia menggerakkan perahunya mengejar gadis cantik itu.  Mencoba mengganggu si air mancur dengan meliuk-liukkan perahunya di antara perahu Dewi Mulia Ratri dan si air. 

Permainan aneh yang disaksikan banyak orang itu berlangsung untuk sekian lama.  Akhirnya Dewi Mulia Ratri kehilangan kesabaran.  Dia mengerahkan seluruh kekuatannya dan menghantamkan pukulan ke badan si air mancur sekuatnya.  Badan air mancur itu hancur berantakan terkena pukulan Dewi Mulia Ratri.  Peti kecil yang ada di atas jatuh...ke perahu gadis cantik itu.

Sontak saja Dewi Mulia Ratri diserbu oleh banyak orang.  Laksamana Utara dan Putri Anjani menyerang dari kiri, Raja Iblis Nusakambangan mencoba menyergapnya dari belakang, sedangkan Argani dan Aswangga menyerbu dari depan dan dua Malaikat Neraka menyerangnya dari kanan.  Semuanya berburu cepat memperebutkan peti berisi kitab sakti yang sekarang ada di perahu Dewi Mulia Ratri.  Ki Biantara menggerakkan papannya menghadang pergerakan Laksamana Utara dan putrinya.  Ki Mandara  menahan Argani dan adik seperguruannya sendiri, Aswangga.  Andika Sinatria menghadapi Raja Iblis Nusakambangan dan Ardi Brata menghadang dua Malaikat Neraka.  Terjadilah pertempuran langka di atas air antara tokoh-tokoh sakti dunia persilatan tanah Jawa. 

Ranu Kumbolo betul-betul bergolak hari ini.  Bahkan meskipun matahari tinggal menampakkan tubuhnya yang berwarna merah di ujung barat.  Sebentar lagi kegelapan akan menguasai tempat ini.  Tapi sepertinya orang-orang itu tidak peduli.  Pertarungan dahsyat terus berlangsung.  Ki Biantara memang lebih tinggi tingkat ilmunya dibanding Laksamana Utara.  Tapi perbedaan itu hanyalah tipis adanya.  Sehingga ketika Putri Anjani yang sudah mendekati tingkatan ayahnya ikut mengeroyok, terdesaklah pendekar nyentrik ini.  Ki Mandara juga sekarang mencoba bertahan saja.  Argani dan Aswangga adalah lawan-lawan yang tangguh.  Dia bisa mengalahkan mereka jika bertarung satu lawan satu.  Tapi jika dengan keroyokan seperti ini, dialah yang terdesak.  Raja Iblis Nusakambangan mempunyai tingkatan yang sama ilmunya dengan Ki Mandara,  sehingga tidak aneh Andika Sinatria juga terdesak hebat.  Sementara di tempat lain, hal yang sama terjadi.  Ardi Brata hanya bisa menahan cukup lama agar dua Malaikat Neraka ini tidak mendekati perahu Dewi Mulia Ratri saja.

Dewi Mulia Ratri sendiri nampak kebingungan.  Dia sadar pihaknya kalah kuat.  Tapi dia tidak tahu harus membantu yang mana.  Selain itu, tadi gurunya sempat berpesan agar dia tetap di tempat dan tidak boleh bergerak membantu.  Sesuatu berdenging di telinganya seperti suara lebah.  Dia tidak bisa mendengar dengan jelas karena riuh rendahnya pertempuran di sekitarnya.  Suara berdenging itu makin kuat dan jelas setelah dia mengerahkan konsentrasi ke telinganya.

“Buka peti itu...... simpan kitabnya di dalam saku bajumu.  Lalu buang peti itu ke air dan pergilah dari sini.....”

Dewi Mulia Ratri menoleh ke kanan kiri siapa kiranya yang telah mengirimkan pesan suara misterius itu.  Tidak mungkin guru atau yang lainnya di sini.  Semuanya sedang sibuk bertempur.  Pastilah orang misterius itu ada di sekitar sini.  Hanya orang dengan kemampuan luar biasa sakti yang sanggup mengirimkan pesan suara jarak jauh dari tempat yang sangat berjauhan. 

Dengan agak ragu, Dewi Mulia Ratri membuka tutup peti kecil itu.  Nampak sebuah kain berwarna kuning lusuh di dalamnya.  Di dalam kain itu terdapat sebuah buku kecil yang berwarna hitam mengkilat seperti baru saja dicetak.  Buku inilah yang diperebutkan orang-orang hingga berdarah-darah ratusan tahun yang lalu. Dan berulang lagi sekarang. 

Diambilnya buku kecil itu dengan hati-hati.  Terasa hangat di tangannya.  Disimpannya di balik bajunya yang kuyup. Diraihnya peti kecil itu dan dilemparnya ke air.  Terjadi peristiwa paling aneh dari semua rangkaian kejadian aneh hari itu.  Air danau terbelah.  Air menyibak menciptakan sebuah lorong kecil.  Dewi Mulia Ratri melompat keluar perahunya dan berlari cepat melewati lorong itu.  Air menutup kembali di belakangnya begitu dia lewat.  Sampai akhirnya tiba di daratan, lorong di belakangnya telah hilang. 

Orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu dari awal, menghentikan pertempuran dan mencoba mengejar.  Namun kecepatan air menutup itu tidak memungkinkan siapapun mengejar.  Sehingga dengan aman, Dewi Mulia Ratri sekarang berdiri seorang diri di pinggir danau menyaksikan orang-orang berusaha mengejarnya menggunakan perahu.

“Pergilah dari tempat ini...kitab sihir Ranu Kumbolo itu itu berjodoh denganmu...pelajarilah baik-baik...”

Terdengar lagi bisikan lirih di telinga Dewi Mulia Ratri.  Meskipun keinginan hatinya adalah menunggu sang pangeran tampan menemaninya pulang,  pikiran yang terang saja membuat pipinya memerah.  Gadis cantik itu menggerakkan kakinya meninggalkan tempat itu dengan cepat menuju arah pulang Padepokan Sanggabuana.

********