Now Loading

Bab VII

Rasa kehilangan adalah pengorbanan bagi rasa memiliki
Rasa duka dilahirkan akibat rasa suka yang diminta
Rasa letih muncul saat bahagia kembali tercampakkan
Rasa sunyi datang ketika riuh baru saja ditinggalkan
Begitulah hitam putihnya dunia....
Tanpa abu-
abu di dalamnya....

Bab VII

Tepian Ranu Kumbolo. Arya Dahana menurunkan Dyah Puspita di dalam gua.  Di ruangan kecil tempat Ki Gerah Gendeng juga berada.  Dia memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan gadis jelita itu.  Tidak terasa apa-apa.  Wajahnya pucat seperti mayat.  Dengan panik Arya Dahana memeriksa denyut nadi di leher gadis itu sambil memusatkan seluruh perhatian.  Masih terasa namun sangat halus sekali.  Arya Dahana sangat kebingungan.   Dicari-carinya obat-obatan yang ada di kotak obat Ki Gerah Gendeng.  Dia masih ingat dahulu orang tua itu pernah mengajarinya mengenai obat mempertahankan nafas terakhir  menggunakan obat yang bentuknya seperti rerumputan kering.  Ini dia kotak obatnya! 

Arya Dahana buru-buru menyalakan api, merebus air panas untuk mencairkan rumput yang dingin beku itu.  Diliriknya Sima Lodra menggeram-geram lirih di samping Ki Gerah Gendeng yang nafasnya juga tinggal satu-satu.  Terdengar gerakan halus.  Mendadak Ki Gerah Gendeng bangkit dari tidurnya. Terbatuk-batuk dan memanggil Arya Dahana.

“Iya Ki?..”

“Kesini sebentar cucuku...aku ingin memberitahumu sesuatu...”

Arya Dahana mendekat di samping Ki Gerah Gendeng yang terlihat sangat kepayahan.

“Kawanmu itu tinggal menunggu waktu.... Obat rumput itu tidak banyak berguna sekarang....jika kau biarkan seperti itu...satu-satunya jalan memperpanjang hidupnya hanya jika ada aliran tenaga murni masuk ke dalam tubuhnya dengan tepat...”

“Kau tidak terlatih untuk itu...tapi kau tidak punya pilihan...alirkan tenaga dalammu melalui dadanya...jangan punggungnya...”

“Pergunakan sebisa mungkin hawa murni yang seimbang...jangan terlalu panas atau dingin...sedikit saja keseimbangannya berubah...nyawamu sendiri yang menjadi taruhannya...”

“Hidupku tidak lama lagi Arya...semuanya sudah digariskan...gadis itu telah menyelamatkan nyawamu berkali-kali...jagalah dia meski dengan taruhan nyawamu...itulah sebaik-baiknya balas budi...”

Sambil tersengal-sengal, Ki Gerah Gendeng menjelaskan secara panjang lebar bagaimana cara menyelamatkan gadis itu.  Tubuh tuanya bergetar berkali-kali.  Sepertinya menahan sekuat tenaga agar tidak terjatuh.  Dan akhirnya orang tua itu menyerah.  Tubuhnya terguling dari dipan dalam posisi masih terduduk.  Arya Dahana melompat menahan tubuh itu agar tidak terjatuh ke lantai gua.  Disangganya tubuh sedingin es itu dengan mata berkaca-kaca. 

Orang tua yang mengasuhnya sekian lama ini telah berpulang.  Dibaringkannya tubuh tua itu di sudut gua, ditutupinya dengan selimut secara baik-baik.  Sima Lodra duduk di sebelahnya menunggui mayat itu sambil menggeram-geram lirih dan kepala tertunduk.  Binatang itu rupanya juga merasakan kehilangan yang besar. 

Arya Dahana berbalik mengangkat tubuh Dyah Puspita ke atas dipan.  Tubuh gadis itu tidak dibaringkan, namun didudukkannya bersila dengan punggung bersandar di dinding. Diingat-ingatnya semua yang telah dipesankan oleh Ki Gerah Gendeng. 

Arya Dahana merasa mukanya panas dan risih.  Gadis itu sudah seperti orang yang telanjang bulat.  Baju dalamnya robek-robek tidak karuan.  Meskipun sepucat mayat namun masih terlihat jelas kecantikan dan kemolekan gadis itu.  Arya merobek baju dalam bagian atas sehingga tubuh gadis itu sekarang polos di bagian atas.  Sambil menahan debar di dadanya yang berdentam-dentam melihat pemandangan yang luar biasa itu, Arya Dahana menempelkan kedua telapak tangannya ke dada gadis itu.  Dia harus berkonsentrasi tingkat tinggi dengan cara memejamkan mata. 

Dibuangnya jauh-jauh pikiran ngawur yang mulai berkembang di otaknya.  Dicobanya sekuat tenaga mengendalikan dua hawa murni bertentangan yang bergolak dalam tubuhnya.  Dia harus menyalurkan hawa panas melalui tangan kanan dan hawa dingin melalui tangan kiri.  Dia mengerahkan daya ingat apa yang sudah dikatakan panjang lebar oleh  Ki Gerah Gendeng.  Beberapa kali dia gagal memusatkan tenaga yang berlainan jenisnya itu di dalam pusar.  Kegagalan itu lebih disebabkan pada rasa jengahnya akibat sentuhan tangan langsung dengan dada gadis itu. 

Satu satunya cara untuk membuat hawa murni berlainan itu terpisah jalurnya adalah dengan membuat kemarahan menguasai hatinya.  Itu yang diajarkan oleh Ki Gerah Gendeng tadi.  Dibukanya kenangan memilukan yang hidup dalam benaknya.  Dirinya sudah sebatangkara sejak kecil.  Ayahnya terbunuh dalam pertempuran yang curang sepuluh tahun yang lalu.  Terkena pukulan mengerikan dua datuk hitam persilatan.  Terluka parah dan diselamatkan gadis yang sekarang sekarat di depannya.  Dihadang gerombolan penjahat dan menyaksikan gadis ini hampir diperkosa dengan keji.  Hawa amarah bangkit dengan cepat saat pikirannya memasuki bagian ini.  Dibayangkan betapa beratnya perjuangan Dyah Puspita dulu membawa dirinya ke lereng Arjuna dan berusaha mempertemukannya dengan Ki Gerah Gendeng. 

Diselamatkan orang tua aneh ahli obat itu.  Diajak mengembara selama bertahun-tahun mencari cara menyembuhkan penyakit anehnya. Akhirnya mengetahui bahwa Dyah Puspita selalu datang dengan setia setiap tahunnya di lereng Arjuna.  Untuk mencari dirinya.  Memenuhi janjinya.  Kesedihan hinggap di hati Arya Dahana.  Kesedihan yang bercampur dengan kemarahan yang makin lama makin menghebat.  Tubuhnya memanas dan mendingin dengan cepat.  Bergantian mengisi pusarnya. Makin lama makin cepat.  Seperti pusaran angin yang makin lama makin besar.  Mengaliri darahnya.  Mengisi jantungnya.  Kemudian berpencar di kedua lengannya.  Telapak tangan kanannya berubah menjadi warna merah, sedangkan telapak kirinya berwarna pucat kehijauan. 

Tubuh mulus gadis itu tersentak ke belakang saat aliran hawa murni dari kedua tangan Arya Dahana memasuki tubuhnya.  Kedua matanya yang tertutup tiba-tiba membuka dan terbeliak hebat.  Kemudian tubuhnya mengejang keras.  Arya Dahana yang memejamkan mata tidak memperhatikan perubahan ini.  Dia benar-benar hanyut dalam mengalirkan hawa murni.  Matanya terpejam dengan tenang.  Keringat sebesar bulir bulir jagung mengalir deras di dahinya.  Setelah beberapa kejap, keadaan Dyah Puspita jauh membaik.  Wajahnya mulai berwarna kemerahan.  Arya Dahana merasakan perubahan yang terjadi karena kulit dada yang disentuh oleh tangannya kini menghangat.  Diteruskannya pengobatan ini karena Ki Gerah Gendeng berpesan dia baru boleh berhenti ketika Dyah Puspita telah siuman dari pingsannya. 

“Plakkk...plakkk...plakkk...” tubuh Arya Dahana terguling ke belakang ketika tamparan berkali-kali hinggap di wajahnya.  Mulutnya memuntahkan darah segar berkali-kali.  Tamparan tiba-tiba dan rasa terkejut telah mengganggu pengendalian terhadap hawa murni yang dialirkannya kepada Dyah Puspita.  Hawa murni itu membalik bersamaan menghantam tubuhnya.  Sangat telak.  Dyah Puspita yang tadi siuman tiba-tiba dan merasakan tubuhnya dialiri hawa yang sangat hangat membuka mata dan terkejut bukan main ketika dilihatnya Arya Dahana duduk di depannya dengan kedua tangan menyentuh kedua payudaranya sambil memejamkan mata.  Kontan saja tangannya tadi bergerak cepat menampar Arya Dahana berkali-kali karena didorong oleh rasa jengah dan malunya.  Rasa keterkejutannya berlipat-lipat ketika Arya Dahana memuntahkan darah segar berkali-kali.  Dia tidak menggunakan tenaga dalam sama sekali saat menampar tadi.  Kenapa Arya Dahana bisa terluka hebat seperti itu? 

Setelah mengambil kain seadanya untuk menutupi tubuh bagian atasnya.  Dyah Puspita memeriksa keadaan Arya Dahana sambil membenahi benaknya yang bertanya-tanya.  Dia masih teringat dirinya terkena pukulan hebat Argani dan Aswangga.  Aaaaahhh!! Dia terluka  sangat parah tadi dan sekarang dia tidak merasakan sakit apa-apa di tubuhnya!  Arya Dahana tadi mengobatinya! 

Pantas saja tamparannya yang tidak memakai tenaga dalam tadi memukul telak Arya Dahana.  Hawa sakti yang mengobati dirinya tadi membalik dan menyerang Arya Dahana sendiri karena dia memutuskan alirannya secara tiba-tiba! 

Hati Dyah Puspita tercekat.  Air mata berjatuhan dengan deras di pipinya.  Pemuda ini tadi mati-matian mengobatinya hingga sembuh dan dia malah memukulnya!  Dipangkunya tubuh lemas pemuda itu.  Diciuminya wajah yang pucat dan membiru itu.  Didekapnya kepala Arya Dahana di dadanya sambil menangis sesenggukan.  Dia tidak peduli betapa darah yang mengalir dari mulut dan wajah Arya Dahana sekarang ikut melumuri tubuhnya.  Pemuda itu masih beberapa kali memuntahkan darah sebelum akhirnya benar-benar pingsan di pelukan Dyah Puspita. 

Dyah Puspita semakin sesenggukan.  Dia tidak tahu harus berbuat apa.  Hanya satu yang ada dalam pikirannya.  Jika pemuda ini sampai mati.  Dia bertekad akan mengakhiri hidupnya juga.  Dekapannya semakin kuat dan erat.  Air matanya membasahi Arya Dahana.  Bercampur dengan darah di wajahnya sehingga tercipta pemandangan yang sangat mengibakan sekaligus mengerikan. Dyah Puspita tersentak kaget ketika ada bulu-bulu kasar menyentuh lengannya.  Sima Lodra menggosokkan pipinya ke lengannya sambil menggeram-geram lirih.  Tubuhnya dibaringkan dan lidahnya menjilati wajah Arya Dahana dengan lembut.  Ekornya digoyang-goyangkan seperti hendak memberi tahu sesuatu. Bangkit, berjalan ke arah pintu keluar, menjilat wajah Arya Dahana kemudian berbaring lagi.  Dyah Puspita menghapus air mata yang memenuhi wajahnya.  Harimau sakti ini ingin dia berbuat sesuatu!

Setelah beberapa saat diperhatikannya Sima Lodra melakukan gerakan yang sama berulang-ulang akhirnya Dyah Puspita mengerti.  Sima Lodra ingin dia membaringkan tubuh Arya Dahana di punggungnya dan membawanya keluar.  Dyah Puspita segera bertindak.  Dibaringkannya tubuh Arya Dahana ke atas punggung Sima Lodra.  Harimau itu menggeram pelan tanda puas kemudian melangkah keluar dengan hati-hati.  Dyah Puspita memakai baju Arya Dahana yang sedikit kebesaran bagi tubuhnya lalu mengangkat mayat Ki Gerah Gendeng keluar gua.  Tenaganya telah pulih sepenuhnya.  Digalinya lubang kuburan untuk Ki Gerah Gendeng.  Menguburnya dan memberi tanda kuburan itu menggunakan batu besar yang banyak terdapat di situ.  Sima Lodra dengan setia menunggu hingga Dyah Puspita menyelesaikan pekerjaannya.  Setelah semuanya beres.  Sima Lodra berlari pelan turun gunung menerobos jalan setapak.  Dyah Puspita yang tadinya sudah putus asa, lari mengikuti Sima Lodra dengan semangat baru.  Harimau putih itu sepertinya tahu apa yang harus dilakukannya.  Dia akan memastikan itu semua berjalan dengan lancar. 

*******