Now Loading

Bab 36

Untuk kesekian kalinya Raja merasakan sesuatu yang aneh mendesak dari rongga dada, turun ke perutnya dan kemudian mengalir berputar-putar di seluruh tubuhnya. Raja seolah kerasukan sesuatu yang tak kasat mata karena kemudian gerakannya berubah hebat. Pemuda yang sedari remaja memang belajar ilmu bela diri silat ini sebenarnya tidak menyadari bahwa gerakan silatnya sekarang jauh sekali berbeda dengan apa yang sudah dipelajarinya.

Lagipula sejago-jagonya Raja tekun berlatih silat di padepokan silat dekat rumahnya di Bandung, tak akan mungkin dia sejago seperti sekarang ini. Mungkin butuh puluhan tahun baginya berlatih sampai bisa menguasai gerakan-gerakan aneh yang digunakannya saat ini melawan 3 orang pengeroyok berbadan kekar ini.

Raja dengan lincah mengelak dari serangan-serangan gencar para pengeroyoknya. Apabila serangan itu datang berbarengan dan tak sempat lagi untuk dihindari, Raja akan beradu tangan dengan orang-orang yang tubuhnya nyaris 2 kali lipat tubuhnya sendiri. Hasilnya? Setiap kali beradu tangan atau kaki, para pengeroyok pasti mengaduh-aduh kesakitan sambil memegang lengan atau kaki yang langsung membiru lebam.. Sedangkan Raja sendiri dengan santai terus bergerak seolah tak merasakan apa-apa.

Barulah Kedasih sekarang mengerti kenapa Citra bersikap tenang. Pemuda itu memang sangat tangguh sehingga tidak perlu dicemaskan keselamatannya. Bahkan saat ini Raja berhasil menjatuhkan 2 lawannya sekaligus. Sebuah pukulan tangan kiri yang telak bersarang di leher salah satunya, dan sebuah tendangan keras mengenai dada satu lainnya. Kedua orang itu terkapar tak berdaya. Tak sanggup bangkit lagi untuk terus bertarung. Hanya tersisa 1 orang yang mulai terlihat keder dan jerih meski masih melanjutkan serangan-serangannya.

Gian Carlo, pria bule yang sedari tadi hanya menonton itu raut mukanya mulai memucat. 3 orang ini adalah para jawara yang disewa oleh Ibu Minister kenalan Robert Van Der Meer khusus untuk menemaninya menelusuri jejak manuskrip yang dirampok Hoa Lie dari tangannya beberapa saat yang lalu. Sekaligus juga bertujuan mengambil paksa manuskrip bagian ke kedua yang telah berhasil diambil paksa oleh Hoa Lie dari Bli Gus Ngurah di Bali.

Gian Carlo mendapatkan informasi bahwa 1 manuskrip yang tersisa masih berada di tangan Trah Pakuan. Kelanjutan informasi itu mengarah kepada sebuah alamat di jalan BKR Bandung. Di sebuah toko buku kecil yang terjepit di antara ruko-ruko besar. Dia dan orang-orang sewaannya menemukan alamat itu pagi ini dan berniat mendobrak ke dalam sebelum akhirnya pemuda luar biasa itu menggagalkan upaya mereka.

Gian Carlo mengambil sebuah keputusan pendek yang jarang dipergunakannya dalam mengambil langkah, pemuda itu terlalu tangguh dan seharusnya segera dibungkam atau dilenyapkan.

Lelaki dari Italia itu mengeluarkan sepucuk pistol dari kantong jaketnya. Bertepatan dengan saat dia hendak menarik pelatuk, satu-satunya pengeroyok Raja yang tersisa terjungkal dalam keadaan pingsan setelah perutnya terkena hajaran bogem Raja dua kali.

Citra yang dari kejauhan melihat pria asing tinggi kurus itu membidikkan pistolnya ke kepala Raja, menjerit nyaring karena kejadian itu begitu cepat serta sama sekali tidak diduganya.

Daaarrr! Daarrrr!

Terdengar 2 kali letusan senjata. Citra menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ngeri membayangkan peluru itu menghantam kepala Raja dari jarak sedekat itu. Kedasih juga sama histerisnya, namun apa yang dilihatnya dengan mata kepala sendiri itu membuatnya tak percaya. Sin Liong sendiri terlonjak bangun setelah mendengar bunyi letusan. Pemuda ini mengucek-ucek matanya dengan kesadaran yang belum pulih.

Kedasih melihat Raja memiringkan tubuh dan kepalanya. Wanita itu tidak bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi karena kecepatan peluru memang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang begitu saja. Kedasih hanya bisa memastikan Raja tidak apa-apa karena pemuda itu masih tegak berdiri sambil menggenggam sesuatu yang terjepit di sela-sela jarinya. Pemuda itu melemparkan secara asal peluru yang berhasil ditangkapnya tadi ke arah Gian Carlo. Dua buah peluru itu melesat ke sasaran secepat jika ditembakkan dari laras senjata. Bedanya hanya tidak berbunyi saja.

Kecuali tentu bunyi jerit kesakitan Gian Carlo yang kedua lengannya langsung terkulai sehingga pistol dalam genggamannya terlepas. Dua peluru itu masing-masing menembus lengan Gian Carlo. Kanan dan kiri. Nampak rembesan darah membasahi jaket Gian Carlo.

Kedasih tidak sadar bahwa sedari tadi dia memegang lengan Citra dengan sangat erat saking tegangnya melihat kejadian demi kejadian menakjubkan itu. Raja bisa menangkap peluru! Dan balik menaklukkan penembaknya menggunakan pelurunya sendiri!

Citra yang merasa agak kesakitan dengan genggaman erat Kedasih membuka mata dan menurunkan kedua telapak tangannya. Berharap tidak menemukan tubuh Raja tergeletak dengan kepala berlumuran darah. Matanya bertemu dengan mata Raja yang memberi isyarat agar semuanya masuk ke toko Babah Liong karena si babah sendiri sudah membuka pintu dan menyuruh mereka cepat-cepat masuk.

Raja masih sempat menelpon layanan darurat dan memberikan informasi bahwa ada beberapa orang yang membutuhkan bantuan medis di jalan BKR, sebelumnya akhirnya masuk paling terakhir ke toko buku kecil itu.

Di dalam toko, Sin Liong berbisik lirih minta penjelasan kepada Kedasih apa yang sebenarnya terjadi tadi. Kedasih hanya tersenyum dan memberi tanda nanti aku ceritakan. Karena dilihatnya muka orang tua Chinese menyiratkan kecemasan yang dalam sebelum akhirnya berkata dengan suara pelan namun jelas.

“Mereka bisa memantau dan mengganggu kalian menggunakan mantra-mantra tempo dulu yang sangat dikuasai oleh reinkarnasi Nyai Calon Arang di masa kini. Wanita itu sangat berbahaya. Apalagi jika dipadukan dengan Mada yang memiliki berbagai benda pusaka termasuk Pengilon Sekti. Keberadaan kalian sangat telanjang. Aku tidak tahu darimana Mada mendapatkan perantara. Putri Calon Arang harus punya sebuah perantara dari milik pribadi salah satu dari kalian untuk bisa melihat melalui Pengilon Sekti yang telah dimantrainya.”

Mereka saling berpandangan. Ingatan Raja langsung melayang ke kejadian saat dia dan Sin Liong mengintai Bukit Bubat lalu dirinya digigit anjing pemburu Mada. Dia juga masih bisa mengingat dengan jelas betapa saat itu dia hampir sepenuhnya kehilangan kontrol terhadap dirinya sendiri jika saja Citra tidak bertindak cepat menyelamatkannya dan bahkan kemudian membenamkan cincin berkepala harimau itu ke jarinya. Raja melirik tato melingkar di jari manisnya. Tato inilah tadi yang membuatnya mampu mengalahkan para pengeroyok dan sekaligus sanggup menangkap peluru dair jarak dekat! Diam-diam Raja masih tak habis pikir dengan apa yang baru saja terjadi.

“Iya Babah. Darah Rajalah yang dijadikan perantara Mada. Bahkan dulu lelaki itu sempat hendak menjadikan Raja menjadi boneka melalui teluhnya yang diperantarai juga oleh darah Raja.” Citra kemudian bercerita secara singkat kenapa Mada sampai bisa menyimpan darah Raja.

Babah Liong menghela nafas panjang.

”Pantaslah kalau begitu. Tapi tenanglah, kalian aman di sini. Hanya sayangnya 3 orang yang aku kirim untuk menghalangi mereka agar tidak terus memburu kalian di Nagrek, 2 di antaranya tewas setelah meledakkan mobil tangkinya. Pengorbanan yang sangat besar meski 2 mobil yang mengejar kalian juga ikut meledak. Putri, apa rencanamu selanjutnya?”

Semua terhenyak mendengar berita dari Babah Liong. Jadi benar mobil tangki itu memang meledak. Sengaja diledakkan agar para pemburu itu tidak bisa mengejar terus karena mobil mereka ikut meledak. Pantas saja tadi suara ledakan itu terdengar luar biasa keras. Citra dan Raja saling berpandangan dengan sedikit masgul. Semakin banyak saja korban berjatuhan.

”Babah tahu siapa yang hendak mendobrak masuk ke toko ini tadi?” Raja bertanya penasaran. Apalagi tadi ada juga keterlibatan orang asing.

”Aku tidak tahu persis. Tapi jelas mereka bukan bagian dari Trah Maja. Aku menduga mereka adalah sindikat internasional pemburu harta . Manuskrip Kuno itu super berharga. Bisa membuka Gerbang Waktu yang artinya juga membuka akses bagi harta karun yang tak ternilai harganya di masa lalu.”

Kembali Raja dan Citra saling berpandangan. Semakin banyak pihak yang terlibat. Itu artinya jalan mereka semakin terjal dan berbahaya.

Babah Liong seperti bisa membaca jalan pikiran Raja dan Citra.

”Memang. Banyak pihak yang terlibat dalam palagan nanti di Bubat. Aku akan menceritakan semua kepada kalian. Tapi sebaiknya itu di dalam ruang observasi.” Babah Liong beranjak. Semua mengikuti.

* * * ******