Now Loading

Anjangsana ke Melaka

Seusai membicarakan kemungkinan datangnya Muallif ke Singapura karena kerusuhan besar melanda Jakarta, Laila minta diantar langsung ke Ang Mo Kio. Namun dia juga minta saya langsung kembali saja ke hotel dan tidak usah mampir ke apartemen.

Karena sudah cukup lelah, saya kembali ke hotel naik MRT. Di sepanjang jalan malam itu saya masih mencoba menghubung teman-teman di Jakarta. Namun hingga malam belum ada sambungan yang bisa masuk. Hubungan telepon masih terputus. Tidak juga ada SMS dari Jakarta atau kantor pusat. Mungkin mereka semua juga tutup.

Tiba-tiba masuk sebuah SMS dari nomor ponsel dengan kode +63. Setelah saya buka ternyata dari Muthiah:

“Bang Asep, bagaimana kalau besok malam kita jumpa di Melaka. Saya tahu Abang off dua hari besok dan lusa. Lokasinya sekitar Jonker Street, Salam Muthiah,” demikian isi pesan singkat dari Muthiah yang sempat membuat saya kaget.

Saya sempatkan membaca pesan teks itu dua tiga kali. Tidak ada yang salah. Saya sebenarnya belum siap untuk pergi ke Melaka apabila agendanya ketemu orang tua Muthiah seperti ikrar di Pulau Ubin beberapa hari lalu. Tetapi kalau hanya bertemu dan jalan-jalan atau kencan di Melaka bersama gadis secantik Muthiah. Asep pantang mundur. Lagi pula dalam beberapa hari ke depan, Laila memang menyarankan saya untuk tidak bertemu karena Muallif kemungkinan akan datang.

Dengan yakin, saya kemudian menjawab:

“Ya. Tunggu Abang di Jonker Street, Adek yang manis.”

Saya kemudian segera ke concierge untuk mencari info transportasi ke Melaka dan juga hotel di Melaka di kawasan Jonker street. Singkatnya saya kemudian sudah bisa mengatur keberangkatan saya ke Melaka besok pagi, menginap semalam dan pulang lusa siang.

Setelah semuanya diatur, tidak lupa saya menginformasikan Bang Zai dan Eko serta Azwar. Kebetulan semua sudah pulang di hotel malam itu dan Empat Sekawan mengobrol sampai tengah malam di kamar Bang Zai. Kami mendiskusikan apa yang terjadi di tanah air sambil menonton berita tentang kerusuhan dan ramainya ‘pengungsi’ ke Singapura.

“Saya akan ke Melaka besok, kebetulan libur dua hari,” kata saya dengan nada datar.

“Kamu mau ketemu Si Muthiah yang mirip Laila itu?” tanya Bang Zai.

“Mau jalan-jalan saja. Kalau ketemu mungkin bonus.” Jawab saya.

“Baiklah, yang penting kita besok tetap pantau situasi di tanah air dan saling update kalau ada berita,” komentar Bang Zai sedikit lesu. Tampaknya Bang Zai masih khawatir dengan Dita dan anak-anaknya.

Sementara Azwar dan Eko hanya senyum-senyum kecil.

“Enak ya punya pacar dua, Laila lagi berhalangan, ada Muthiah,” tambah Azwar

“Baiklah, saya mau istirahat dulu, besok harus tugas pagi,” kata Bang Zai setengah mengusir kami dengan sopan.

Saya pun kembali ke kamar saya. Meletakan badan di tempat tidur.

Malam itu saya bermimpi bertemu dengan Muthiah di Melaka.

Bersambung