Now Loading

Bab 31

London, 51° 30′ 26″ N, 0° 7′ 39″ W
Heathrow Airport


Di pesawat sebelum mendarat, Cecilia menghubungi Dokter Adli Aslan. Menceritakan kejadian percobaan pembunuhan menggunakan racun Arsenik yang berhasil digagalkan. Dua pramugari gadungan ditawan dan saat ini pingsan di kabin kelas utama.

Tenang Cecil. Kami yang akan urus. Kalian teruslah dengan rencana semula.

Menurut Andalas, dua orang ini suruhan Sang Eksekutor.

Andalas punya mata tajam dan ingatan yang kuat. Kemungkinan besar dia benar.

Bisakah dikorek informasi dari 2 pembunuh ini siapa sesungguhnya di belakang mereka selain Sang Eksekutor dan apa rencananya?

Aku akan mengabarimu saat kalian sudah ada di Washington DC.

Cecilia dan dua temannya turun untuk transit di Heathrow selama 3 jam. Mereka tidak tahu bagaimana cara anak buah Dokter Adli Aslan mengurus kekacauan di kabin utama pesawat yang mereka tumpangi.

Saatnya beristirahat dari itu semua. Cecilia mengajak kedua rekannya duduk bersantai di sebuah cafe khusus teh di bandara. Kopi mungkin bisa meningkatkan adrenalin. Tapi minum teh adalah cara terbaik menstabilkannya.

Akiko dan Andalas berusaha menikmati teh senyaman Cecilia. Setidaknya mereka punya waktu selama lebih kurang 3 jam untuk membebaskan diri dari rasa cemas. Karena itulah Cecilia memilih sebuah cafe kecil yang tidak banyak dipenuhi orang.

Cecilia menimbang langkah berikutnya. Dia sama sekali tidak yakin dengan tidak adanya berita-berita mengenai sebuah penyakit menular yang mulai menjangkiti orang-orang. Ini seperti gunung es yang perlahan-lahan dibakar badai matahari. Mencair pelan-pelan hingga akhirnya mencapai puncaknya dalam sekali kejutan dalam bentuk banjir besar.

Inilah yang sangat dikhawatirkan Cecilia dan yang selalu hadir dalam mimpi-mimpinya.

Kunci untuk menemukan cara membesarkan Mollivirus sibericum agar bisa ditemukan anti virusnya kemungkinan ada pada chip dalam sepatunya. Sedangkan kunci untuk penanggulangan Bacillus anthracis ada pada bayi leopard yang sedang dalam pengiriman ke Pandora. Termasuk juga ada pada Fabumi dan Andalas.

Sebagai ahli virulogi, Cecilia tahu bahwa penelitian untuk menciptakan serum atau vaksin akan membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan. Namun setidaknya sudah ada opsi daripada melangkah dalam buta.

Sekarang adalah waktu untuk berlomba melawan kemungkinan kematian berjuta-juta orang. Dia sedang melakukannya. Hanya sayangnya ada saja pihak-pihak yang punya niatan buruk untuk menggagalkannya. Marc, Ivan, Sang Eksekutor, dan entah siapa lagi.

Untunglah ada 2 orang di sampingnya ini. 2 orang dari latar belakang berbeda tapi selalu siap sedia melindunginya dengan berbagai cara. Walaupun itu harus dengan membunuh dan mencuri harta benda.

Sekitar 12 jam lagi mereka akan mulai menguak tabir Object X yang masih mati suri. Itupun jika Willy Booth berhasil dibujuk untuk membantu. Itupun jika memang ada sebuah cara membaca chip aneh ini. Itupun jika mereka masih selamat hingga saat chip ini bisa dibuka. Cecilia menghirup teh chamomilenya dengan sedikit hampa.

Andalas mengambil sesuatu dari tasnya. Mengambil sebuah tablet kecil dan membukanya. Akiko melongo dan Cecilia nyaris ketawa. Ternyata jagoan dari Asia Tenggara ini juga mengenal teknologi selain senjata.

Andalas tidak peduli dengan keheranan 2 dokter wanita itu. Matanya terpaku pada layar tabletnya yang terus bergulung mencari sesuatu sesuai perintahnya.

Dahinya sedikit berkerut saat dia menemukan apa yang dicari. Tangannya menyentuh layar lagi, lalu menunggu. Mengetikkan sesuatu di gawainya, lalu diam menunggu. Akiko sampai lupa meminum teh di gelas yang berada di tangannya sedari tadi. Takjub sekaligus penasaran. Gunung es ini rupanya juga punya otak.

Andalas menatap cukup lama layar tabletnya dan kembali mengetikkan sesuatu di gawainya. Setelah itu menunggu lagi.

Cecilia yang akhirnya tidak sabar menunggu.

"Apa sih yang sedang kau kerjakan Andalas?”Tangan Cecilia bergerak hendak meraih tablet Andalas. Lelaki itu dengan tangkas menjauhkan tabletnya dari jangkauan tangan Cecilia tapi gagal menghindar saat Akiko menyambarnya.

Akiko meletakkan tablet itu di hadapannya dan juga Cecilia. Hit Man Database. Nampak berjajar wajah-wajah pembunuh di layar itu. Astaga! Akiko langsung mengembalikan tablet itu ke Andalas begitu menyaksikan wajah pertama yang dilihatnya adalah Hitoshi Nakamura. Ayahnya.

Cecilia tidak berminat lagi dan menutup rasa penasarannya. Tapi teriakan lirih Andalas saat menatap gawainya membuat rasa penasaran Cecilia bangkit kembali. Cecilia mengangsurkan tangan meminta. Mereka sudah sepakat tidak ada rahasia jika menyangkut kepentingan misi ini.

Andalas menghela nafas sambil menyodorkan gawai di tangannya.

Kau tahu siapa saja yang pernah disewa Sang Eksekutor?

Yup. Banyak! Buka database pembunuh bayaran. Lihat dari halaman 1 sampai 10. itu semua pernah dipakai jasanya oleh Sang Eksekutor.

Apakah kau punya info siapa sebenarnya yang berada di belakang Sang Eksekutor?

Tidak terlalu yakin. Tapi kabar angin yang beredar mengatakan Sang Eksekutor dibiayai oleh The Organization.

Kemana aku harus mencari orang-orang Organisasi itu?

Kau tidak akan menemukannya. Mereka itu samaran malaikat dan iblis sekaligus dalam satu muka.

Cecilia kebingungan membaca rangkaian chat Andalas. Dia menyodorkan gawai itu kepada Akiko yang langsung memaku matanya di layar. Seperti tadi, Akiko langsung mengembalikan gawai itu kepada Andalas. Ayahnya ternyata ada pada daftar nomor 1 yang sering dipakai jasanya oleh Sang Eksekutor.

"Dengan siapa kau berkomunikasi Andalas? Apakah informasi itu bisa dipercaya?”Cecilia ingin menutup rasa penasarannya sebelum sebentar lagi mereka harus kembali menaiki pesawat.

Andalas hanya menjawab pendek.

"Si Konsultan.”

"Siapa itu?”Desak Cecilia.

"The Consultant. Makelar kematian.”

* * * *