Now Loading

Bab VI

Air itu mengalir dari hulu
Melewati ribuan batu-
batu
Membawa serta kisah suka dan pilu
Berlabuh di muara antara madu dan sembilu.
Api itu menyala dari timbulnya bara
Membakar kasih, dendam dan cinta
Ke dalam kehangatan tanpa jelaga
Atau menjadi abu tanpa remah yang tersisa

Bab VI

Lereng Gunung Arjuna. Sepuluh tahun kemudian. Dyah Puspita tiap tahun pada purnama ke-1 setelah kejadian itu selalu kembali ke sini.  Setiap tahunnya pula dia tak pernah berjumpa dengan Ki Gerah Gendeng maupun Arya Dahana.  Dia menunggu sampai berhari-hari di gua pertapaan itu.  Dengan penuh harap yang setiap tahun semakin menipis.  Dia tahu bahwa yang menulis surat itu adalah seorang tokoh yang aneh.  Mungkin dia salah mengerti tentang isi surat itu. 

Dia menghela nafas panjang.  Dia rindu ingin tahu kabar anak itu.  Dia sudah berusia dua puluh delapan tahun sekarang.  Pasti usia anak itu sudah belasan tahun sekarang jika masih hidup.  Jika masih hidup?! Dyah Puspita berpikir dengan getir.  Tidak! Dia yakin anak itu masih hidup!  Ki Gerah Gendeng adalah tokoh nomor satu di bidang pengobatan.  Dibukanya kertas surat lusuh dari Arya Prabu.  Lima tahun lagi dia harus membawa Arya Dahana ke puncak Gunung Merapi sesuai amanat yang tertulis di surat itu. 

Dia sudah menggembleng diri habis-habisan semenjak sepuluh tahun yang lalu.  Ilmunya meningkat pesat.  Semua ilmu telah diwarisi dari ayahnya, Ki Tunggal Jiwo.  Dirinya sudah bisa disejajarkan dengan kemampuan tokoh-tokoh nomor satu sekarang.  Bahkan kini dialah orang nomor dua di Sayap Sima setelah ayahnya. 

Dia bukan lagi seorang gadis cantik yang lugu.  Tapi telah beranjak menjadi wanita dewasa yang matang.  Kecantikannya sama sekali tidak berkurang.  Bahkan lebih berlipat sekarang karena ditunjang oleh aura percaya diri yang tinggi berkat latihannya yang berat dan keras.  Sudah banyak sekali pemuda yang meminang untuk menjadi suaminya.  Terakhir bahkan keponakan Sang Mahapatih Gajahmada sendiri yang melamarnya.  Namun Dyah Puspita sama sekali tak tergerak hatinya.  Hatinya seperti membatu.  Pesan terakhir Arya Prabu benar-benar telah mempengaruhi hatinya sedemikian rupa. 

Lamunannya terusik oleh suara gemerisik semak dan dedaunan.  Dengan waspada diikutinya gerakan mencurigakan itu dengan ujung matanya.  Itu pasti langkah berat seekor binatang.  Benar saja, tak lama muncullah si harimau putih!  Harimau itu juga berubah sekarang!  Besarnya tak lagi dua kali lipat harimau biasa, tapi tiga kali lipat sekarang.  Benar-benar mengerikan bagi siapapun yang melihatnya. 

Mata harimau itu bertemu dengan mata Dyah Puspita.  Hidungnya terlihat kembang kempis mengendus-endus udara.  Matanya yang tadi menatap curiga kini melunak.  Bahkan geramannya sangatlah lirih.  Harimau itu mengibaskan ekornya kemudian berbalik ke belakang dan melompat pergi.  Dyah Puspita tercekat.  Kalau ada harimau peliharaannya ini pasti tuannya tak jauh dari situ sekarang.  Dia melesat mengejar harimau itu dengan cepat.

Harimau itu ternyata berlari dengan sangat cepat.  Tubuhnya yang raksasa tak mempengaruhi sedikitpun gerakannya.  Dia berlari menuju ke suatu arah yang tetap.  Dyah Puspita mempercepat larinya.  Tubuhnya melayang ringan seperti tidak menjejak tanah.  Kejar-kejaran itu berlangsung cukup lama.  Bahkan telah menjauhi Gunung Arjuna di belakang dan mulai mendaki Gunung Semeru di hadapan.  Hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah padang rumput yang cukup luas.  Sebuah danau yang indah terlihat dari kejauhan.  Ranu Kumbolo! Pikir Dyah Puspita.  Danau mistis yang menjadi tempat bagi banyak orang mencari ilmu kesaktian dan senjata-senjata hebat. 

Harimau putih itu berhenti dengan tiba-tiba di pinggir danau, di bawah sebuah tebing terjal yang dipenuhi hutan bambu.  Kemudian berbalik menghadap ke Dyah Puspita yang juga telah tiba di tempat itu.  Dyah Puspita mengedarkan pandangnya ke sekeliling.  Ini sebuah pantai yang landai dan cukup luas.  Di latarbelakangi oleh sebuah gua raksasa yang sedikit tersembunyi dari pandangan jika tidak mendekat.  Harimau itu membaringkan tubuhnya di pasir yang empuk  sambil memperhatikan ke tengah danau dingin itu.  Terlihat sekali bahwa binatang menakjubkan itu sangat menikmati momen kejar-kejaran yang cukup menguras tenaga tadi. 

Dyah Puspita mengikuti arah pandangan si harimau.  Di tengah-tengah danau, nampak sebuah perahu kecil yang sedang terayun-ayun dibuai riak Ranu Kumbolo.  Dyah Puspita menajamkan pandangannya.  Ada sesosok tubuh sedang memancing di perahu itu.  Sosok tubuh laki-laki muda jika dilihat dari perawakannya.  Dyah Puspita mengerahkan ajian Sidik Paningal.  Ajian yang bisa melipatkan kemampuan melihat dari jarak yang sangat jauh.  Sosok laki-laki muda itu mempunyai tinggi yang sedang, bertubuh kurus dan berwajah menarik.  Hatinya tercekat sesaat.  Samar-samar tercipta sebuah bayangan bocah kecil kurus yang sedang pingsan di pelukannya.  Matanya berkaca-kaca.  Arya Dahana masih hidup!

Ingin rasanya dia sekarang menghambur ke danau dingin itu, mendatangi perahu dan  memeluk si pemuda tanggung.  Tapi ditahannya perasaannya.  Dia akan menunggu di sini sampai Arya Dahana pulang ke daratan.  Pasti dia akan kembali kesini.  Harimau itu jelas-jelas memberikan petunjuk kepadanya.  Tapi kemana gerangan orang tua aneh ahli obat itu?    

Dyah Puspita mendekati mulut gua.  Dia ragu untuk memasukinya.  Siapa tahu ada sesuatu di dalamnya yang tidak terduga.  Dia tidak takut pada apapun.  Tapi pengalamannya sebagai telik sandi handal mengharuskan dia selalu berhati-hati setiap saat.  Sesuatu yang yang kelihatannya damai dan tenang, terkadang malah menimbulkan kejutan yang luar biasa hebat dan sukar untuk dikendalikan. 

Setelah memastikan bahwa tidak ada kejutan apapun di dalam berdasarkan ketajaman pendengarannya, Dyah Puspita memasuki mulut gua.  Gua itu ternyata sangat terang.  Sangat luas dan mempunyai ruang sangat lebar.  Langit-langitnya tinggi sehingga tidak pengap.  Bernafas pun bisa dengan mudah dilakukan.  Dia memperhatikan dengan seksama seluruh isi gua.  Tidak ada apa-apa kecuali tumpukan kotoran burung di sudut ruangan.  Matanya berhenti di sudut yang agak gelap.  Ada sebuah ruangan yang lebih kecil lagi di sana.  Karena terletak di pojok, ruangan itu kebagian cahaya lebih sedikit dari yang lain sehingga hanya terlihat remang-remang. 

Dyah Puspita memasuki ruangan itu.  Bau obat-obatan sangat menyengat di dalam sini.  Dilihatnya sesosok tubuh kurus kering tergeletak di sebuah dipan kecil.  Dyah Puspita mendekat.  Tidak salah lagi, sosok ini adalah Ki Gerah Gendeng.  Tubuhnya betul-betul tinggal tulang belulang dibalut kulit tipis.  Masih hidup, tapi sepertinya sudah tidak sanggup apa-apa lagi.  Dia tertidur dengan nafas pendek-pendek dan tidak teratur.  Sang ahli pengobatan sedang sekarat.  Dyah Puspita meraba leher orang tua itu.  Denyut nadinya sangat lemah sekali. 

“Heiiiiii! Apa yang kau lakukan di sini. Pergi dan jangan ganggu kami lagi...”  Suara itu mengejutkan Dyah Puspita. Dia kurang waspada tadi hingga tak mendengar ada orang di belakangnya.  Dia membalikkan tubuhnya siaga.  Di hadapannya berdiri  Arya Dahana bertelanjang dada dengan air masih menetes-netes di tubuhnya.  Dyah Puspita memandang tak berkedip.  Matanya mulai mengembun,”Arya, kk..a..u.. tidak ingat aku?” Suara Dyah Puspita tercekat di tenggorokan.  Arya Dahana maju beberapa langkah kemudian menarik tangan Dyah Puspita keluar ruangan kecil itu. 

Di ruangan gua yang luas, Arya Dahana memandang lekat-lekat wanita cantik jelita di depannya.  Kemudian tersenyum lebar dan menghambur ke pelukan Dyah Puspita,”Kakak Puspaaaaa....akhirnya kau datang juga.” 

Tubuh Dyah Puspita menegang sesaat.  Dia belum pernah dipeluk oleh lawan jenisnya sebelum ini.  Tapi tangannya secara otomatis membalas pelukan pemuda tanggung itu.  Bahkan lebih erat dari Arya Dahana memeluknya.  Sebutir airmata jatuh di pipinya.  Sebuah getaran aneh menjalar dari jantungnya.  Membuat sekujur tubuhnya merinding.  Cepat-cepat dilepaskan pelukannya.  Wajahnya memerah. Menambah kecantikannya yang sungguh jelita diterpa sinar matahari sore. 

Arya Dahana tidak henti-hentinya memandangi wajah Dyah Puspita.  Sambil bercerita panjang lebar bahwa dia dibawa mengembara oleh Ki Gerah Gendeng selama bertahun-tahun.  Mulai dari Ujung Blambangan hingga Ujung Kulon.  Terus berpindah-pindah tempat.  Ki Gerah Gendeng tanpa kenal lelah mendatangi setiap kenalannya yang berilmu tinggi di seluruh pelosok pulau Jawa.  Berharap ada yang mampu menyembuhkan sakitnya yang aneh.  Karena sakit yang dideritanya tidak bisa disembuhkan oleh obat atau ramuan yang Ki Gerah Gendeng adalah dewanya.  Sakit itu hanya bisa diobati jika ada ilmu yang bisa menggabungkan dua hawa murni yang berlawanan menjadi satu.  Tak satupun yang sanggup memenuhi permintaan Ki Gerah Gendeng.  Hanya ada satu petunjuk kecil yang didapat oleh Ki Gerah Gendeng ketika mengunjungi Pendekar Pena Menawan di padepokannya;

“Sakitnya ini misterius Ki.  Sepertinya satu-satunya jalan adalah anak ini harus menelan mustika naga.  Itupun hanya salah satu dari dua macam mustika itu.  Air atau api.  Jika kelak yang ditemukannya adalah mustika bumi atau udara, maka itupun tidak akan bisa.” Demikian nasehat pendek dari Ki Biantara waktu itu.

Akhirnya memasuki tahun ke sepuluh, raga Ki Gerah Gendeng tak mampu lagi menahan desakan usia.  Orang tua itu jatuh sakit berkepanjangan.  Mereka menetap di Ranu Kumbolo setahun terakhir ini.  Arya Dahana merawat Ki Gerah Gendeng dengan penuh hormat.  Sadar apa yang telah dilakukan selama bertahun-tahun untuk kesembuhannya. 

Hanya saja ternyata wilayah Ranu Kumbolo ada yang menguasai, yaitu Perkumpulan Malaikat Darah.  Sebuah perkumpulan rahasia yang dipimpin oleh seorang tokoh yang menggemparkan dunia persilatan karena kekejiannya.  Seorang tokoh yang sangat membenci perempuan meski dirinya adalah perempuan.  Bahkan sebenarnya dia adalah seorang perempuan bangsawan saudara tiri Raja Hayam Wuruk.  Tokoh yang telah membuang nama aslinya dan memanggil dirinya dengan julukan Malaikat Darah Berbaju Merah. 

Perkumpulan Malaikat Darah sudah lama didirikan oleh Malaikat Darah Berbaju Merah.  Semakin lama kekuatannya semakin besar.  Pusat gerakannya ada di Gunung Semeru. Sehingga ketika Ki Gerah Gendeng dan rombongannya menetap di Ranu Kumbolo, mereka diharuskan membayar pajak.  Mereka tahu bahwa Ki Gerah Gendeng adalah tokoh pengobatan nomor satu di dunia.  Oleh karena itu mereka memanfaatkannya dengan tidak mengganggunya.  Jika sewaktu-waktu ada anggota perkumpulan ini yang sakit, maka Ki Gerah Gendenglah tabibnya.  Gratis.

Selain itu, mereka juga memberikan perintah ke Arya Dahana untuk selalu mencarikan mereka ikan dan binatang buruan setiap hari sebagai bahan makanan anggota perkumpulan itu.  Tidak ada yang tahu tepatnya letak markas perkumpulan ini karena hanya Malaikat Darah Berbaju Merah dan beberapa pembantu terpercayanya saja yang tahu.  Ribuan anggota perkumpulan yang lain disebar di ratusan titik wilayah Gunung Semeru.  Setiap harinya, Arya Dahana selalu menyetorkan hasil buruan dan pancingannya kepada pos terdekat perkumpulan itu.  Pemuda itu selalu ditemani oleh Sima Lodra.  Karena itu tidak ada yang berani mengganggu atau mengusiknya.  Pemimpin di pos itu sangat jeri setiap kali melihat harimau itu mengawal Arya Dahana mengirimkan upeti. 

Mahapatih Gajahmada sebenarnya beberapa kali mengirimkan pasukan termasuk juga Sayap Sima untuk menumpas perkumpulan itu.  Namun tingkat keberhasilannya sangat rendah.  Karena hanya berhasil membersihkan puluhan pos saja yang tak lama kemudian juga berdiri lagi. 

Hal ini terjadi karena jantung perkumpulan belum bisa ditemukan.  Berkali kali Majapahit mengirimkan telik sandi, namun puluhan telik sandi itu tak pernah kembali.  Entah mati terbunuh atau justru malah membelot.  Oleh sebab itu Mahapatih Gajahmada mengubah strategi.  Pasukan yang cukup besar dengan orang-orang yang terlatih dan didampingi oleh minimal 3 orang dari Sayap Sima ditempatkan di desa-desa sekitar Gunung Semeru.  Tujuannya tentu saja untuk memperlemah pasokan logistik ke markas perkumpulan itu.  Harapannya, jika kebutuhan hidup tidak bisa terpenuhi lagi maka anggota perkumpulan itu akan kocar-kacir dengan sendirinya.

Mahapatih Gajahmada tidak tahu bahwa Malaikat Darah Berbaju Merah adalah wanita yang sangat cerdik.  Dia telah membangun sebuah gudang logistik yang besar di sebuah terowongan di puncak Semeru.  Semua perbekalan selama setahun disembunyikan di sana.  Untuk memenuhi kebutuhan hidup anggotanya yang tersebar di hutan hutan Semeru, para anggota tersebut diperintahkan untuk berkebun, merampok, mencuri, atau memelihara budak yang bisa disuruh berburu dan memancing ikan.  Seperti halnya yang dilakukan oleh Arya Dahana.

Setelah bercerita panjang lebar, Arya Dahana kemudian mengajak Dyah Puspita masuk ke dalam ruang kecil tempat Ki Gerah Gendeng.  Dengan telaten, Arya Dahana membersihkan tubuhnya, mengganti pakaian, menyuapkan makanan dan sedikit obat.  Setelah semua selesai dilakukan, Arya Dahana menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Dyah Puspita.  Membakar ikan hasil tangkapan tadi siang kemudian duduk di luar gua sambil menghangatkan tubuh di depan api.  Sima Lodra mendapatkan bagiannya juga.  1 keranjang ikan besar-besar menjadi santap malamnya.

“Arya, bagaimana kau mengendalikan apa yang ada dalam tubuhmu itu kalau sampai sekarang kau belum mendapatkan caranya?” Dyah Puspita membuka percakapan.

Arya Dahana menambahkan kayu ke dalam api,” tidak bisa dikendalikan Kak Puspa.  Satu satunya cara agar hawa dalam tubuhku ini tidak menyakitiku atau membunuhku adalah dengan tidak membiarkan amarah menguasaiku.  Hawa amarah akan memicu hawa panas dan racun di tubuhku bereaksi.  Oleh sebab itu, Ki Gerah Gendeng mengajariku bersamadi dan berbagai macam cara mengendalikan amarah.”

Dyah Puspita menatap tubuh kurus itu dengan iba.  Tubuh yang menyimpan kekuatan luar biasa dahsyat namun yang bersiap juga membunuhnya setiap saat.  Selama bertahun-tahun Arya Dahana menderita seperti itu.  Hidup dan matinya dipertaruhkan setiap hari dengan beda setipis kulit ari.  Dia bertekad akan menemani Arya Dahana mendapatkan Mustika Naga agar bisa sembuh seutuhnya. 

Pipinya bersemu merah membayangkan dirinya menghabiskan hari-hari bersama pemuda itu.  Aaaahhh, kenapa aku jadi begini?  Sudah puluhan pemuda gagah tampan dan kaya mencoba menggerakkan hatinya tapi tak sedikitpun yang bisa.  Sekarang pemuda dengan usia jauh di bawahnya, dekil, lusuh dan kurus ini membuat pipinya menjadi merah, hatinya menjadi jengah, jantungnya berdebar-debar tak karuan.  Dyah Puspita tak tahan lagi berpikir lebih jauh.  Dibaringkannya tubuhnya di dekat api, meletakkan pikirannya dalam-dalam, kemudian jatuh tertidur dengan gelisah. 

Melihat Dyah Puspita meringkuk tertidur, Arya Dahana mengambil selimut dari dalam gua dan menyelimutinya dengan hati-hati.  Digeletakkannya tubuhnya tak jauh dari Dyah Puspita dan mulai merajut mimpi.

Saat pagi menyapa dengan riang.  Burung-burung berdendang tak henti-henti.  Kabut yang menyelimuti Ranu Kumbolo perlahan-lahan terangkat dari permukaannya yang setenang kaca.  Dyah Puspita terbangun dengan tubuh sesegar melati.  Rupanya dia tertidur sangat pulas. Malam tadi sebenarnya sangatlah dingin namun dia merasa hangat sekali.  Diangkatnya selimut dari tubuhnya dan mencari-cari Arya Dahana dengan sudut matanya. 

Dilihatnya pemuda itu masih telungkup lelap tertidur di sebelahnya.  Lengan kanannya memeluk pinggang Dyah Puspita sedangkan lengan kirinya memeluk satu kaki Sima Lodra.  Dyah Puspita tidak mau membangunkan Arya Dahana dengan menyingkirkan tangannya.  Lagipula pelukan itu membuatnya sangat nyaman. Pemuda polos itu pasti memeluknya semalaman untuk menghangatkan tubuhnya karena api sudah lama mati. 

Dyah Puspita menatap langit yang masih temaram jingga.  Udara dingin masih menggigit dengan kejamnya.  Rasa panas merambat dari lehernya menuju muka.  Duuuh Gusti, kenapa dia harus jatuh cinta dengan orang yang salah.  Tertusuk oleh kenyataan itu, menghela nafas panjang, Dyah Puspita bangkit berdiri tiba-tiba.  Sontak Arya Dahana pun terbangun kaget.  Bahkan Sima Lodra pun tersentak kaget dan menggeram lirih. 

Tanpa menoleh, Dyah Puspita melangkah menuju danau dengan niat membersihkan diri.  Arya Dahana yang terbengong-bengong bingung lalu meraih perlengkapan pancingnya dan bersiul pelan pada Sima Lodra,” jaga dia Sima...” sambil tangannya menunjuk arah perginya Dyah PuspitaHarimau putih itu mengaum pelan dan berjalan lambat sesuai arah yang ditunjuk Arya Dahana.

Dyah Puspita mencari tempat yang cukup tersembunyi untuk mandi.  Dia adalah salah seorang pejabat tinggi Sayap Sima.  Selalu tinggal di istana, lengkap dengan segala fasilitasnya.  Kadangkala dia juga merasa risih jika harus mandi di tempat terbuka seperti ini.  Tapi dia juga adalah orang yang kenyang melanglalang di dunia persilatan!  Dibuangnya pikiran risih jauh-jauh.  Dibukanya baju dan celana luarnya dan cepat-cepat menceburkan dirinya ke dalam air danau yang luar biasa dingin. 

Dengan sedikit mengerahkan hawa murni di tubuhnya, hawa dingin itu terasa nyaman bagi Dyah Puspita.  Sambil memanfaatkan dingin dan sepi pagi itu untuk melatih ajian Braja Musti yang legendaris warisan Ki Tunggal Jiwo.  Ajian Braja Musti sangat sesuai dilatih di dalam air.  Sesuai namanya, ajian ini mengandalkan kekuatan panas sehingga tempat paling mudah mengukurnya adalah di dalam air.  Semakin cepat mendidih air maka semakin hebat ajian itu.  Bahkan Ki Tunggal Jiwo sendiri telah sampai pada tingkatan membuat air menguap! Tidak sekedar mendidih.

Sambil berkonsentrasi dan memejamkan mata.  Dyah Puspita mulai membuat gelembung-gelembung air di sekelilingnya.  Kabut yang tadi melayang di atas permukaan air sekarang telah menghilang.  Digantikan oleh asap yang mengepul tipis.  Semakin lama udara di sekitar Dyah Puspita menghangat dan air mulai mendidih.  Siapapun akan takjub melihat pemandangan ini! Tubuh molek dan wajah jelita kemerahan seolah terpanggang api.   Dyah Puspita seperti mandi di sebuah pemandian air panas!  Saking asyiknya berlatih, dia sama sekali tidak sadar bahwa beberapa orang melotot menahan nafas di tempat persembunyian mereka.  Takjub, takut sekaligus bergairah melihat pemandangan langka ini.  Salah seorang di antara mereka bahkan mengendap-endap menuju batu tempat Dyah Puspita menyimpan buntalan bajunya.

Suara auman yang menggetarkan tiba-tiba memecahkan kesunyian tempat itu.  Sima Lodra melompat dari balik semak-semak yang lebat dan menggeram berkali-kali ke arah orang-orang yang sedang mengintip dengan pikiran cabul itu.  Kontan saja orang-orang itu kocar kacir tidak karuan melihat binatang raksasa dan perkasa itu meraung marah pada mereka. 

Dyah Puspita yang mulai menyadari situasi.  Segera melompat keluar danau, namun secepat itu pula kembali melompat ke air karena dilihatnya buntalan bajunya telah lenyap!  Orang-orang sinting dan kurang ajar! Rutuknya dalam hati.  Dilihatnya Sima Lodra meraung-raung penuh kemarahan ke sekumpulan orang berbaju merah yang sekarang memberanikan diri menghadapi harimau putih itu. 

Semua orang telah meloloskan senjata berupa pedang panjang di tangan kanan dan pedang pendek di tangan kiri.  Dyah Puspita teringat satu hal dan kemarahannya sekarang memuncak.  Perkumpulan Malaikat Darah! Pikirnya geram.  Tapi saat ini dia tidak bisa berbuat apa-apa.  Dia sedang setengah telanjang terendam dalam air.  Bajunya dengan sengaja telah diambil oleh kawanan pengecut itu.  Suasana menjadi mencekam sekarang.  Sima Lodra dikepung dan dikelilingi oleh sekitar 20 orang bersenjata lengkap. 

Harimau putih itu sama sekali tidak terlihat gentar.  Tubuhnya merunduk rendah di tanah.  Siap menerkam siapa saja yang mendekat.  Dyah Puspita ngeri membayangkan tubuh Sima Lodra akan dicabik-cabik orang-orang kejam ini.  Jika saja yang mengepung dan mengeroyoknya hanya 4 atau 5 orang.  Harimau putih itu akan dengan mudah menghadapinya.  Tapi ini 20 orang.  Dyah Puspita tidak berpikir panjang lagi.  Dia melompat keluar dari air dan mulai membuka kepungan itu.  Tidak peduli bahwa semua orang memandangnya dengan mata melotot penuh nafsu.  Bagaimana tidak?  Tubuhnya benar-benar seperti telanjang.  Baju dalamnya tidak bisa menyembunyikan bentuk tubuhnya yang menggairahkan karena tercetak oleh basahnya air.

Sebuah keuntungan bagi Dyah Puspita karena orang-orang itu kemudian menjadi sangat lengah.  5 orang sudah terpelanting ke kanan kiri saat dengan mudahnya Dyah Puspita mendaratkan pukulan dan tendangan.  Pemimpin gerombolan itu lalu sadar dan berteriak memperingatkan anak buahnya untuk waspada dan hati-hati.  Perempuan jelita yang mereka hadapi bukanlah perempuan biasa.  Tapi terlambat,  kepungan itu kocar-kacir berantakan dihajar oleh Dyah Puspita dan Sima Lodra.  Situasi berbalik sekarang.  Kini gerombolan yang babak belur itu semakin terpukul mundur.  Dyah Puspita yang marah hati tak memberi mereka kesempatan untuk kabur.  20 orang itu benar-benar diberinya pelajaran yang mahal. 

Saat gerombolan itu sudah tak berkutik lagi dengan sebagian besar terluka parah sedangkan sisanya malah sudah kehilangan nyawanya.  Terdengar teriakan penuh kemarahan dari kejauhan.  Kemudian nampak kelebatan bayangan-bayangan merah yang menuruni gunung dengan cepat.  Secepat teriakan itu dimulai secepat itu pula bayangan-bayangan itu sudah berdiri di hadapan Dyah Puspita.   

Lima orang berdiri berjajar di depan Dyah Puspita dan Sima Lodra.  Kelimanya mengenakan topeng berbentuk mengerikan.  Empat orang di kanan kiri nampak jelas sebagai laki-laki tinggi besar.  Sedangkan di tengah sepertinya adalah pimpinan mereka.  Sesosok tubuh langsing tinggi dengan rambut panjang terurai ke belakang.  Dyah Puspita bisa menduga secara pasti bahwa ini para pemimpin Perkumpulan Malaikat Darah.  Yang di tengah tentulah Malaikat Darah Berbaju Merah sendiri.

“Perempuan lancang!! Berani-beraninya kau mengacau di tempat ini! Siapa kamu dan apa tujuanmu?!”  Hardik Malaikat Darah Berbaju Merah dengan bengis.

“Aku tidak lancang dan aku tidak mengacau tempat ini! Anak buahmulah yang kotor dan perlu dibersihkan dari bumi ini!” Dyah Puspita menyahut dengan tidak kalah tegas.

“Hei perempuan binal! Melihatmu berbaju macam itu, siapa laki-laki yang tidak berpikiran kotor!  Dasar jalang!!” Malaikat Darah Berbaju Merah makin terbakar hatinya melihat wanita itu tidak takut sedikitpun dengannya. 

Tubuhnya melayang maju dan menyerang Dyah Puspita dengan ganasnya.  Tidak hanya bajunya yang berwarna merah, namun pukulan-pukulannya pun ternyata juga mengandung angin pukulan yang berwarna merah.  Pukulan Malaikat Berdarah!  Ilmu tingkat tinggi yang diperolehnya dari hasil pengembaraan selama bertahun-tahun di negeri-negeri seberang.  Gerakan-gerakannya pun aneh dan tak terduga. 

Pada awalnya Dyah Puspita sempat kerepotan karena tidak mengenal gerakan-gerakan aneh ini.  Namun dia adalah anak tunggal sekaligus murid kesayangan Ki Tunggal Jiwo.  Salah satu dari jajaran tokoh-tokoh nomor satu dunia persilatan di Pulau Jawa.  Dia segera mengimbangi jurus-jurus aneh itu dengan mengembangkan jurus andalannya dan sekaligus balas menyerang dengan pukulan sakti Braja Musti.  Terjadilah pertandingan yang seru, berimbang dan menegangkan! 

Sudah lebih dari puluhan jurus dua wanita ini saling bertukar pukulan dan tendangan.  Namun belum nampak sedikitpun ada pihak yang terdesak.  Keempat pembantu kepercayaan Malaikat Darah Berbaju Merah saling bertukar pandang kemudian bersama-sama maju ke depan membantu pimpinannya mengeroyok Dyah Puspita.

Sima Lodra mengaum keras dan ikut terjun di medan pertempuran membantu Dyah Puspita.  Empat orang kepercayaan Malaikat Darah Berbaju Merah itu adalah orang-orang berilmu tinggi yang masih satu perguruan.  Mereka dijuluki Malaikat dari Neraka karena kekejaman dan keganasannya.  Ilmu mereka masing-masing hanya kalah satu tingkat dari Malaikat Darah Berbaju Merah sehingga bisa dibayangkan bagaimana kerepotannya Dyah Puspita melayani mereka berlima.   Dia masih sanggup dan percaya dapat mengalahkan gembong pemberontak perempuan itu.  Namun dengan masuknya empat orang pembantunya dalam pertempuran dia terdesak hebat.  Saat Sima Lodra juga menerjunkan diri dalam pertempuran sengit itu, Dyah Puspita sangat terbantu.  Dua orang di antara mereka memisahkan diri untuk menghadapi Sima Lodra. 

Kini pertempuran terpisah menjadi dua gelanggang.  Sima Lodra terdesak dikeroyok oleh dua orang sedangkan Dyah Puspita kepayahan digempur bertubi-tubi oleh tiga orang.  Beberapa kali Dyah Puspita sudah terkena pukulan dan tendangan.  Tubuhnya benar-benar nyaris telanjang sekarang.  Baju dalamnya berlubang-lubang hangus terserempet pukulan Malaikat Darah Berbaju Merah.  Sima Lodra pun demikian.  Meskipun cakarnya berhasil melukai satu pengeroyoknya namun tubuh raksasanya juga berkali-kali harus menerima pukulan mereka. 

Tiba-tiba melesat bayangan putih memasuki gelanggang pertempuran membantu Dyah Puspita.  Seorang gadis cantik jelita muncul dan langsung menyerang Malaikat Darah Berbaju Merah dengan dahsyat. 

Tak salah lagi.  Dara cantik itu adalah Dewi Mulia Ratri.  Menyusul kedatangannya, tak lama kemudian satu sosok bayangan juga muncul dan membantu Sima Lodra menghadapi dua orang Malaikat Neraka.  Bayangan yang kedua ini adalah seorang pemuda tampan berperawakan sedang berbaju putih.  Dengan kedatangan dua bala bantuan ini arah pertempuran kemudian berubah.  Gantian gerombolan baju merah yang sekarang terdesak hebat.  Gabungan kekuatan anak-anak muda itu memang luar biasa.  Pemuda yang baru datang itupun ternyata berilmu sangat tinggi.  Senjata yang digunakan juga sangat unik.  Sebuah pena sepanjang satu depa.  Pukulannya melingkar lingkar tidak beraturan seperti orang yang sedang melukis.  Satu orang anggota Malaikat Neraka yang dihadapinya benar-benar terdesak hebat.  Sima Lodra yang sekarang tinggal menghadapi satu orang pun menjadi sangat leluasa menyerang lawannya dengan gerakan-gerakan seekor binatang buas yang sedang marah.

Sementara di gelanggang lainnya, Dewi Mulia Ratri menghadapi Malaikat Darah Berbaju Merah dan Dyah Puspita menghadapi dua orang anggota Malaikat Neraka.  Dewi Mulia Ratri mendesak mundur perempuan bangsawan jahat itu dengan jurus-jurus Pena Menggores Langit dibarengi dengan kekuatan sihir hebat yang  dinamakan Mancala Sukma.  Sihir yang memperkuat jurusnya seolah mengandung suara halilintar di setiap pukulannya.   Meskipun sang tokoh jahat berusaha sekuat tenaga untuk  bertahan dengan mengeluarkan semua jurus-jurus Malaikat Berdarah, namun tetap saja perlahan-lahan dia terdesak oleh serangan-serangan gadis jelita itu. 

Dua orang Malaikat Neraka juga tak lagi mampu berbuat banyak menghadapi Dyah Puspita.  Keduanya kini sibuk mempertahankan diri agar tidak terkena pukulan Braja Musti yang akibatnya pasti mengerikan.  Apalagi dua orang ini adalah laki-laki normal yang perhatiannya sering terpecah pada tubuh molek Dyah Puspita yang setengah telanjang itu.  Beberapa pukulan Dyah Puspita telah mengenai dua orang ini.  Suatu saat, bahkan dengan telak mengenai dada salah seorang di antaranya.  Orang itu menjerit keras dan terlempar keluar gelanggang pertempuran.  Bajunya terbakar dan dadanya gosong menghitam.  Sebelum jatuh ke tanah, nyawanya sudah menghilang dari raganya. 

Temannya menggeram hebat penuh kemarahan.  Dia menerjang seperti badai yang mengamuk.  Namun Dyah Puspita kini bahkan lebih enteng menghadapinya.  Hanya soal waktu saja orang ini juga akan menemui ajal yang sama dengan temannya.

Si pemuda tampan juga berhasil mendesak mundur lawannya.  Tapi rupanya pendekar muda yang satu ini punya hati welas asih yang besar.  Meskipun jauh di atas angin, dia tidak mau menjatuhkan tangan maut.  Dia sepertinya hanya ingin menjatuhkan lawan tanpa melukai terlalu parah.  Dan ini cukup sulit.  Karena lawan yang dihadapi bukanlah lawan yang ringan.  Oleh karena itu, pertempuran ini sepertinya akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.  Apalagi si pendekar muda seringkali mencuri pandang ke pertempuran sebelah dimana Dewi Mulia Ratri sedang bertarung dengan sengit.  Lirikannya bernada keheranan karena dia mengenal betul jurus-jurus yang sedang dimainkan oleh dara jelita itu.  Benar-benar persis seperti yang sedang dia mainkan sekarang.

Terdengar jeritan yang sangat keras ketika Malaikat Darah Berbaju Merah terhuyung-huyung terkena  pukulan Dewi Mulia Ratri.  Pangkal lengannya terluka cukup parah oleh jurus Pena Menggores Langit.  Sebelum Dewi Mulia Ratri bertindak lebih jauh, tiba-tiba Dyah Puspita meninggalkan lawannya dan menerjang ke arah Malaikat Darah Berbaju Merah sambil mengirimkan pukulan Braja Musti.  Malaikat Darah Berbaju Merah sedapatnya berusaha mengelak namun kecepatan pukulan itu mendahului kecepatannya mengelak.  Dengan telak pukulan Braja Musti mengenai pundak sebelah kirinya.  Malaikat Darah Berbaju Merah terpelanting keras hingga ke pinggir air.  Tokoh jahat itu pingsan saking hebatnya luka yang dialami.  Malaikat Neraka yang kini tinggal tersisa 4 orang segera meninggalkan lawan-lawannya dan berlari ke arah pimpinan mereka. 

Dyah Puspita, Dewi Mulia Ratri, Pendekar Muda tak dikenal dan Sima Lodra membiarkan saja kejadian itu.  Karena mendadak di depan mereka telah berdiri orang-orang aneh yang menatap mereka dengan pandangan bermusuhan.  Argani, Aswangga, Madaharsa bersama puluhan orang di belakang mereka yang dari seragamnya diketahui sebagai pasukan Sayap Sima bermunculan.  Tanpa peringatan lagi, tiga dedengkot dunia hitam itu merangsek maju menyerang anak-anak muda itu diikuti oleh puluhan orang di belakang mereka.

Pertempuran baru kembali pecah.  Argani menyerang Dewi Mulia Ratri.  Aswangga menyerang si pemuda tampan terpelajar.  Madaharsa menyerang Dyah Puspita.  Sementara puluhan orang menyerbu Sima Lodra dengan teriakan-teriakan bergemuruh.  Tidak heran jika tiga tokoh dunia hitam menyerang Dewi Mulia Ratri dan si pemuda tampan terpelajar.  Sudah jamak jika tokoh-tokoh dunia hitam selalu berusaha melenyapkan orang-orang dari dunia putih jika ada kesempatan.  Namun yang paling mengherankan tentu saja adalah kenapa tiga tokoh itu bernafsu betul ingin menghabisi Dyah Puspita.  Dyah Puspita adalah putri pimpinan mereka di Sayap Sima.  Tentu mereka mengambil resiko dengan menyerangnya.

Jauh sebelum menerjunkan diri ke pertempuran hidup mati ini, mereka sudah menonton pertempuran antara anak-anak muda itu dengan Perkumpulan Malaikat Darah sedari tadi.  Mereka kemudian berunding apa yang akan mereka lakukan.  Ketiganya sepakat bahwa anak-anak muda tangguh itu harus disingkirkan.  Karena selain menghilangkan musuh alami mereka, juga agar mereka lebih mudah memperebutkan sesuatu yang maha penting yang akan muncul dari dasar danau misterius itu. 

Tidak banyak yang tahu bahwa hari ini adalah hari yang istimewa bagi dunia persilatan.  Hanya segelintir orang yang tahu bahwa hari ini adalah kemunculan dari sebuah kitab sakti yang telah lama hilang.  Aswangga adalah satu dari sedikit orang yang tahu mengenai hal itu.  Dia kemudian mengajak sekutu-sekutunya untuk mendapatkan kitab itu dengan alasan Mahapatih Gajahmada mengutus mereka mendapatkan kitab itu dan membawanya ke Sang Mahapatih.  Argani dan Madaharsa adalah orang-orang yang sangat licik.  Tentu saja mereka mau ikut karena kepentingan mereka sendiri juga.  Selain itu, ketiga tokoh itu juga bersepakat bahwa inilah saat yang tepat untuk menghabisi Perkumpulan Malaikat Darah karena mereka dalam kondisi kepayahan setelah pertempuran hebat melawan anak-anak muda itu.

Kali ini Dewi Mulia Ratri mendapatkan lawan yang luar biasa tangguh.  Argani adalah tokoh sakti yang sangat berpengalaman, licik dan memiliki banyak cara untuk memenangkan pertempuran.  Meskipun dari segi ilmu, dara jelita itu hanya sedikit kalah kuat, namun pengalaman akhirnya menentukan segalanya.  Semakin lama Dewi Mulia Ratri semakin terdesak hebat.  Dia hanya sanggup bertahan dengan mengerahkan semua ilmunya.  Jurus Pena Menggores Langit dipadukan dengan ilmu sihir Mancala Sukma dan sekaligus juga dia memainkan jurus kuno dari Padepokan Sanggabuana yang disebut Ajian Lembu Sakethi. 

Dia berharap ilmu sihir Mancala Sukma adalah keuntungannya.  Tapi Dewi Mulia Ratri tidak tahu bahwa tokoh yang dihadapinya ini adalah seorang ahli sihir tingkat tinggi juga sehingga ilmu sihirnya sama sekali tidak membantu. Puluhan jurus berlalu, Dewi Mulia Ratri kini hanya bertahan sambil berharap ada keajaiban akan datang.

Pemuda tampan terpelajar dalam kondisi yang kurang lebih sama.  Aswangga masih terlalu tangguh baginya.  Keadaannya kini bahkan lebih buruk dari Dewi Mulia Ratri.  Pukulan Wedhus Gembel kini mengurung tubuhnya.  Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai dia terkena pukulan yang mengerikan itu.

Hanya Dyah Puspita yang masih sanggup mengimbangi Madaharsa.  Wajar, karena Dyah Puspita cukup punya pengalaman bertempur dan dia cukup tahu seperti apa kesaktian tokoh pemetik bunga itu. 

Tak jauh dari tempat itu, Arya Dahana sedang menarik perahunya ke pinggir.  Telinganya yang tajam kemudian mendengar teriakan-teriakan sengit dan suara auman yang sudah dikenalnya.  Sima Lodra terluka dan mengaum penuh kegeraman! Ya Tuhan, Dyah Puspita! 

Pikiran itu membuat Arya Dahana berlari secepat mungkin ke arah datangnya suara auman itu.  Begitu dia tiba di tempat pertempuran, wajahnya memucat dan memerah bergantian.  Dilihatnya ada tiga gelanggang pertempuran sengit tengah berlangsung.  Matanya langsung terpaku ke arah Dyah Puspita yang sedang bertempur dahsyat  dengan seorang pria tampan klimis bermata liar.  Hatinya lega melihat Dyah Puspita tidak sedang dalam kesulitan.  Dia menoleh ke gelanggang yang lain.  Seorang pemuda tampan kelihatan terdesak hebat melawan seorang kakek yang luar biasa gendut.  Lalu seorang dara cantik jelita yang juga terdesak oleh serangan-serangan seorang tua tinggi kurus yang terlihat bengis.  Sima Lodra sendiri dilihatnya sudah terluka sana sini karena dikeroyok oleh puluhan orang berbaju seragam loreng loreng. 

Arya Dahana kebingungan.  Kemudian segera memutuskan. Dia harus membantu Sima Lodra terlebih dahulu dan berikutnya Dyah Puspita.  Selama sepuluh tahun terakhir dia mempelajari kitab kecil peninggalan ayahnya dibantu oleh Ki Gerah Gendeng.  Tokoh tua ahli obat itu memang bukan tokoh berilmu kanuragan tinggi.  Namun dia adalah seorang terpelajar yang sangat mudah membaca dan memahami kitab apapun.  Dia kemudian memberikan petunjuk kepada Arya Dahana bagaimana cara mempelajari kitab tersebut.  Meskipun dalam kondisi aneh karena penyakit yang dideritanya belum sembuh, namun ternyata Arya Dahana bisa mendalami kitab tersebut dengan sempurna. 

Hawa murni panas dalam tubuhnya meningkat pesat karena ilmu warisan ayahnya adalah ilmu api yang sejalan dengan hawa api dalam tubuhnya.  Hanya saja dia harus berhati-hati sesuai dengan pesan Ki Gerah Gendeng.  Tidak boleh ada amarah menguasai hatinya.  Sebab jika hawa api terlalu dominan di dalam tubuhnya maka nyawanya akan terancam bahaya.

Ajian Geni Sewindu warisan ayahnya adalah satu-satunya ilmu yang dia tahu.  Sekarang dia akan menggunakannya.  Tapi tidak boleh dengan amarah di hatinya.  Arya Dahana maju membantu Sima Lodra dengan menggunakan jurus-jurus langka itu.  Seluruh lengan kanannya terbungkus oleh api yang menyala-nyala berwarna biru terang.  Itu tingkat ilmu Geni Sewindu yang sudah hampir mencapai puncaknya.  Para pengeroyok Simo Lodra yang rata-rata adalah orang-orang berilmu tinggi terperanjat bukan main begitu pemuda dekil ini memasuki arena pertempuran.  Hawa panas yang memancar dari lengannya luar biasa hebat.  Bahkan lengan itu dengan berani menangkis senjata-senjata yang dipergunakan oleh mereka. 

“Kraaakkk!...Wuuusss... Desss...Desss!...”

Senjata-senjata berpentalan dan patah seperti daun kering tertiup angin.  Si empunya senjata juga menjadi korban ilmu hebat itu.  Lima orang berjatuhan diterjang hawa panas yang membakar dahsyat. Belasan lainnya sedikit jeri menyaksikan kejadian itu.  Namun mereka meredakan kejerian itu dengan menyerang secara bersama-sama ke arah pemuda aneh itu.  Arya Dahana sembari tersenyum melayani serbuan curang itu dengan tenang.  Kini dia memainkan jurus-jurus Geni Sewindu seutuhnya.  Api yang pada awalnya hanya berkobar di lengannya sekarang menyelimuti seluruh tubuhnya.  Gerakannya sangat pelan namun penuh tenaga. 

Gelanggang pertempuran bertambah menjadi empat sekarang.  Dyah Puspita yang sempat menyadari kedatangan Arya Dahana berusaha memperingatkan saat dia melompat menghindari serangan Madaharsa sambil mendekat,” hati hati Arya...bertempurlah di dekatku agar aku dapat mengawasi dan melindungimu,” tangannya menyentuh lengan Arya Dahana dengan lembut.  Arya Dahana terperangah namun girang bukan kepalang, tersenyum manis ke arah Dyah Puspita,” jangan khawatir Kakak Puspa.  Aku akan selalu di sampingmu...”

Mendengar jawaban polos dari Arya Dahana, Dyah Puspita memerah jengah pipinya.  Keduanya kini berdiri berdampingan.  Harimau putih besar itu rupanya tak mau kalah. Sambil mengaum gembira dia melompat ke sebelah Arya Dahana dan berdiri di sampingnya.  Madaharsa dan belasan orang pasukan Sayap Sima berdiri di hadapan mereka. Pemuda tampan terpelajar dan Dewi Mulia Ratri melihat juga kejadian ini.  Mereka pun melompat tinggi dan berdiri satu lingkaran dengan Arya Dahana dan Dyah Puspita.

Kini, empat anak-anak muda dan Sima Lodra berdiri bersisian. Menghadapi tiga tokoh sakti dunia hitam beserta pasukan tangguh Sayap Sima.  Dua pihak saling mengukur kekuatan.  Argani yang sering bertindak sebagai pimpinan di antara mereka berkata lirih,” Mereka cukup tangguh.  Kita tidak akan bisa membereskan ini dengan cepat.”

Dia menoleh setengah berbisik ke anggota pasukan Sayap Sima,” sampaikan ke Laksamana di pos timur dan Raja Iblis di pos barat.  Kita perlu bantuan besar di sini.”  Dua orang yang diperintah mengangguk takzim dan segera meninggalkan tempat itu dengan cepat.

Suasana menjadi hening sejenak.  Tidak ada yang memulai serangan.  Mereka bahkan tidak menyadari bahwa sedari tadi kelompok Malaikat Darah telah meninggalkan tempat itu dengan diam-diam.  Bahkan Argani merutuk diri sendiri kenapa tidak segera bertindak menghabisi mereka tadi.  Hilang sudah bayang-bayang penghargaan yang tentu akan diterimanya jika mampu menumpas habis dedengkot perkumpulan pemberontak itu.  Dilampiaskannya kekesalan hatinya dengan menghardik anak-anak muda yang berdiri waspada sepuluh depa di hadapannya.

“Kalian para pemberontak cilik! Kalian sudah bersekongkol dengan perkumpulan jahat pemberontak antek Malaikat Darah Berbaju Merah.  Kami adalah Pasukan Sayap Sima dari Kerajaan Majapahit sudah mencatat kesalahan kalian dan sesuai dengan kewenangan yang ada pada kami maka dengan ini kalian dijatuhi hukuman mati!”

Dyah Puspita sampai terbengong-bengong mendengar pemutarbalikan fakta yang terang-terangan ini.  Dia maju ke depan sembari berkacak pinggang.  Tidak sadar bahwa perbuatannya ini membuat tubuhnya yang setengah telanjang terlihat makin molek dan menggairahkan.  Bahkan Madaharsa sampai melotot melihat pemandangan ini.

“Bedebah kurang ajar kau Iblis Jompo! Aku adalah pimpinan kedua tertinggi dari Sayap Sima setelah Ki Tunggal Jiwo.  Apa buktinya kami memberontak dan kewenangan macam apa yang kau punya sampai-sampai kau berani menjatuhkan hukuman kepada kami...?!” Bentak Dyah Puspita dengan gagah sambil membusungkan dadanya yang penuh.  Namun buru-buru membenahi sikapnya ketika sadar hampir semua mata melotot ke arah tubuhnya.

Dewi Mulia Ratri tersenyum mengejek dan maju ke depan,” Hei orang tua buruk rupa!  Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan mereka.  Aku juga tidak peduli dengan Majapahit.  Jangan asal tuduh seenaknya saja!”

Kali ini yang terbengong-bengong melihat gadis jelita ini marah-marah hanya dua orang, yaitu Arya Dahana dan pemuda tampan terpelajar.  Keduanya menatap Dewi Mulia Ratri dengan tak berkedip.  Arya Dahana baru menyadari ada gadis cantik ini di pihak Dyah Puspita.  Dia tidak mengenalnya sama sekali.  Tapi jantung di dadanya seperti terkena aliran petir melihat kecantikan dan keberanian gadis ini.  Dyah Puspita yang tanpa sengaja melihat sikap pemuda ini kemudian bergerak ke samping dan berdiri di depan Arya Dahana untuk menutupi pandangannya ke arah Dewi Mulia Ratri.

Pemuda tampan terpelajar itu lebih aneh lagi.  Dia seperti orang linglung menatap Dewi Mulia Ratri.  Bahkan mulutnya ternganga terbuka tanpa dia sadari sedari tadi. Seandainya lalat masukpun dia pasti tidak akan menyadarinya sebelum tersedak terbatuk-batuk karenanya.

Argani tertawa terbahak-bahak.  Otaknya yang licik memang sengaja menyuruhnya mengulur waktu.  Dia tahu bahwa jika pertempuran saat ini dilanjutkan akan membutuhkan waktu yang cukup lama, meskipun dia yakin bahwa pihaknya pasti menang.  Dia akan menunggu sebentar lagi sampai bala bantuan datang.  Dia akan mengambil kesempatan pada saat pertempuran terjadi nanti untuk mencapai tengah danau terlebih dahulu karena waktu yang dimantrakan oleh Bungkuk Misteri mengenai kemunculan kitab sakti itu telah hampir tiba.  Yaitu saat matahari bermandikan jingga di sudut Semeru.  Dua temannya bukannya tidak tahu rencana di balik otak licik itu, namun mereka pun masing-masing telah menyiapkan rencana tersendiri untuk merebut kitab sakti itu.

“Gadis cilik...aku sudah memutuskan atas nama Sayap Sima.  Kalian semua dan kucing hutan itu adalah pemberontak kerajaan Majapahit.  Tidak ada hal apapun yang bisa mengubah keputusanku ini!”

Dyah Puspita memegang tangan Dewi Mulia Ratri ketika dilihatnya dara jelita itu sudah akan menerjang Argani,” Sabar adik cantik...jangan terburu nafsu.  Aku tahu ada sesuatu yang sedang direncanakan iblis licik itu.”

Dewi Mulia Ratri menatap Dyah Puspita.  Dilihatnya sorot mata tulus di situ.   Dia mengangguk maklum dan mundur dari tempatnya.  Dyah Puspita berpikir sejenak, dia sangat mengenal mereka sebagai orang-orang yang sangat licik.  Hanya saja dia tidak yakin kenapa mereka belum juga memulai serangan meskipun posisi mereka amatlah kuat sekarang.  Ada sesuatu yang salah di sini.  Sebelum dia berpikir dan menganalisa lebih jauh.  Terdengar derap banyak kaki kuda menuju tempat itu.  Didahului oleh kelebatan-kelebatan bayangan beberapa sosok yang telah tiba dan berdiri di samping Argani

Awalnya Dyah Puspita berseri senang melihat siapa yang datang.  Laksamana Utara beserta rombongannya.  Tetapi wajahnya memucat ketika dari arah berlawanan juga tiba rombongan lain yang dipimpin oleh seorang pria gagah setengah baya berbadan tinggi besar.  Raja Iblis Nusakambangan! 

Biang onar berangasan dari pantai selatan itu pastilah tidak bermaksud baik hingga jauh-jauh datang ke sini. Raja Iblis Nusakambangan adalah tokoh yang mau bekerja hanya demi bayaran.  Majapahit pasti membayarnya dengan mahal sehingga dia mau bersusah-susah membantu.  

Dyah Puspita maju ke depan dan memberi hormat kepada Laksamana Utara,” salam hormat Paman Laksamana.  Semoga paman sehat dan baik-baik saja.”  Yang disapa adalah seorang pria paruh baya bertubuh tinggi tegap dengan dandanan ala militer.  Menganggukkan kepala dengan angkuh, sang laksamana menyahut,” salam putri Ki Tunggal Jiwo.  Aku mendengar kabar tak sedap mengenai dirimu.  Aku tak menyangka pimpinan tinggi Sayap Sima bisa berbuat seperti yang kamu lakukan.  Pengkhianatan itu dosa tak terampunkan anakku...dan lihatlah bagaimana caramu berpakaian sekarang......hmmmmmm....”  Dyah Puspita terperanjat mendengar tuduhan tegas dari Laksamana Utara.  Tapi dia tidak mau membantah.  Semuanya sudah diatur sedemikian rupa oleh para dedengkot hitam itu.  Dia sekarang berhitung jumlah dan kekuatan.  Mereka berlima betul-betul di bawah angin sekarang. 

Seorang gadis manis di samping Laksamana Utara menuding Dewi Mulia Ratri sambil tersenyum mengejek,” Aku sudah menduga gadis penyihir itu pasti berkomplot dengan mereka ayah.  Padahal dia adalah calon yang dipilih untuk menjadi kepala pengawal Raja Galuh Pakuan.”

Dewi Mulia Ratri yang tidak menduga bahwa di antara rombongan itu ternyata ada Putri Anjani terbelalak marah dan menjawab dengan sengit,” Heyyy!! Putri cumi cumi! ternyata kau adalah salah satu biang busuk yang suka menuduh orang sembarangan.  Siapa sih yang takut kepadamu dan rombongan ikan laut ini?! Ayo kita selesaikan semua di sini....!”

Gadis manis berbaju merah itu maju ke depan dan tanpa ba bi bu lagi menyerang Dewi Mulia Ratri.  Serangannya sangat dahsyat dan mengerikan.  Dewi Mulia Ratri yang tahu lawannya sangat tangguh juga tidak mau main-main.  Dilayaninya serangan itu dengan tidak kalah dahsyat.  Seperti dikomando, yang lain segera mengikuti.  Argani bersama dengan Aswangga menyerang Dyah Puspita.  Madaharsa menyerang pemuda tampan terpelajar.  Sedangkan orang yang dijuluki sebagai Raja Iblis Nusakambangan itu bergerak ke depan menyerang Arya Dahana.  Sima Lodra menggeram marah.  Dia meraung dan melompat ke depan untuk membantu Arya Dahana.  Namun gerakannya tertahan karena Laksamana Utara menghadang dan menyerangnya.  Dimulailah pertempuran yang ke sekian kalinya di bibir danau Ranu Kumbolo hari itu.

Terang saja, anak-anak muda itu terdesak hebat.  Yang mereka hadapi adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi di kalangan dunia persilatan.  Dyah Puspita benar-benar kerepotan dikeroyok oleh dua tokoh hitam yang sebenarnya adalah tokoh-tokoh Sayap Sima bersama dengan dirinya.  Melawan Argani sendiri saja dia kewalahan, apalagi kini Aswangga ikut mengeroyoknya.  Setelah lewat dari dua puluh jurus, dia sudah beberapa kali jatuh bangun terkena serempetan pukulan dan tendangan dua tokoh itu.  Untung saja pukulan dan tendangan yang mengenainya belum berakibat fatal karena sesungguhnya kekuatan tenaga dalam Dyah Puspita sudah mencapai tingkat yang sangat tinggi.  Sehingga dia masih mampu bertahan sampai sejauh ini.

Dewi Mulia Ratri bertarung dengan seimbang melawan Putri Anjani.  Keduanya terlibat saling serang dengan ganas.  Maklum saja, persaingan di antara keduanya sudah terjadi beberapa kali.  Yang paling utama tentu saja adalah persaingan memperebutkan cinta sang pangeran tampan dari Kerajaan Galuh Pakuan, Andika Sinatria.  Jika tidak ada suatu hal yang istimewa, pertempuran antara dua gadis jelita akan berlangsung sangat lama.

Sima Lodra kini menghadapi seorang tokoh berilmu sangat tinggi yang jarang muncul di dunia persilatan.  Binatang terlatih ini tentu saja tidak mampu menghadapi kemampuan Laksamana Utara.  Dalam beberapa jurus saja harimau raksasa ini sudah jungkir balik dihantam pukulan badai utara yang melegenda itu.  Untung saja, Laksamana Utara memang tidak berniat membunuh Sima Lodra.  Dia hanya sedikit bermain-main dan berniat melumpuhkan Sima Lodra.

Kondisi Arya Dahana kurang lebih sama.  Dia hanya sanggup menangkis sana-sini.  Melompat sana-sini menghadapi tokoh yang punya kesaktian mengerikan ini.  Meskipun telah mengerahkan semua jurus Geni Sewindu, namun tokoh jahat itu dengan senyum mengejek melayaninya dengan tenang tanpa terdesak sama sekali.  Sama seperti Laksamana Utara, Raja Iblis Nusakambangan adalah salah satu tokoh yang jarang sekali muncul di dunia persilatan.  Dia mempunyai sebuah padepokan seram di pulau Nusakambangan.  Ilmunya masih lebih tinggi dua tingkat dibanding Madaharsa dan setingkat lebih tinggi jika dibandingkan dengan Argani maupun Aswangga.  Hanya Ki Tunggal Jiwo, Laksamana Utara, Iblis Tua Galunggung, Pendekar Pena Menawan dan Hulubalang Setan Tanah Baluran lah di antara sedikit tokoh yang bisa mengimbanginya saat ini.

Terdengar jeritan panjang saat sesosok tubuh terlempar dari gelanggang pertempuran.  Arya Dahana mengenali suara itu.  Dia berjumpalitan menghindari serangan Raja Iblis Nusakambangan sambil mendekati tubuh yang sekarang terkapar tak berdaya.  Hati Arya Dahana seperti dicabut dari dalam tubuhnya.  Dyah Puspita tergeletak di tanah dengan darah segar muncrat dari mulutnya.  Tubuhnya tak bergerak dengan nafas tinggal satu-satu.  Dia menggeram penuh kemarahan dan berbalik ke arah Argani dan Aswangga yang tersenyum-senyum penuh kemenangan. 

Didorong oleh perasaan yang luar biasa perih karena mengira bahwa dia telah kehilangan orang yang selama ini telah begitu baik dengannya, terjadi perubahan mengerikan pada Arya Dahana.  Tubuhnya menyala dahsyat.  Api kebiruan menyelubungi seluruh bagian kanan tubuhnya.  Sedangkan tubuh kirinya berkilauan aneh.  Kaku hijau kepucatan dan seperti susah digerakkan karena terlihat membeku.  Disertai raungan yang mengerikan, Arya Dahana mendorongkan kedua tangannya ke arah dua tokoh jahat yang memandang remeh dengan tawa mengejek melihat apa yang terjadi di depannya.  Senyum dan tawa itu tiba-tiba lenyap dari wajah keduanya.  Keduanya terdorong ke belakang seperti diterjang angin badai yang dahsyat.  Beruntung mereka segera mengerahkan tenaga dalam mereka untuk menahan pukulan aneh mengerikan itu.  Masing-masing menancapkan kuda-kuda dengan kuat ke tanah dan balik mendorong ke arah Arya Dahana yang masih berdiri dengan tangan terpentang. 

Akibatnya sangat luar biasa.  Terjadi ledakan yang sangat keras ketika tangan kedua tokoh itu bertemu dengan tangan Arya Dahana.  Suara ledakan itu bahkan menghentikan seluruh gelanggang pertempuran.  Semuanya menoleh untuk melihat apa yang sedang terjadi. Begitu ledakan dan kepulan asap berhenti, semua orang terperanjat.  Argani jatuh terduduk dan memuntahkan darah dari mulutnya.  Aswangga tetap berdiri namun dengan terhuyung-huyung.  Dari hidung dan telinganya mengalir darah segar.  Kedua tokoh itu buru-buru duduk bersila untuk memulihkan diri karena luka dalam yang mereka derita cukup hebat.

Arya Dahana sendiri tetap berdiri tegak.  Matanya melotot ke arah dua tokoh itu.  Saat dia hendak mendorongkan lagi dua tangannya dengan penuh kemarahan dan nafsu membunuh yang hebat, telinganya yang sekarang menjadi luar biasa tajam mendengar bisikan lirih.

“Ar..rya..ba..ba..wa... a..a..ku.. per..gi..da..ri..si..ni..”

Jantungnya seperti mau runtuh.  Dia berbalik cepat ke arah Dyah Puspita yang masih terbaring tak bergerak.  Digendongnya tubuh yang bergelimang darah segar itu.  Sambil menatap ke sekeliling dengan tatapan ganas, Arya Dahana berkata penuh ancaman,” Kalau terjadi apa-apa dengan Kakak Puspa...masing-masing dari kalian akan aku cari satu persatu...aku akan cabut jantung kalian dari dada...kuberi makan ke Sima Lodra....ayo macan...kita pergi dari tempat terkutuk ini...”

Sambil tetap mengedarkan pandangan penuh ancaman, wajah Arya Dahana yang nampak sangat mengerikan itu mengangguk ke arah Dewi Mulia Ratri dan Pendekar Pelajar,” Terimakasih...aku tidak akan melupakan budi kalian...ayo Sima...” Sambil menggendong tubuh yang terkulai lemas itu, Arya Dahana berlari cepat diikuti oleh Sima Lodra yang berlari terpincang-pincang.

Dewi Mulia Ratri yang sedari tadi mengikuti kejadian mengerikan dan mengharukan itu, matanya berkaca-kaca.  Dia sudah mulai menyukai gadis cantik yang perkasa itu.  Hatinya tersentuh melihat betapa pemuda kurus dekil itu sangat terpukul.  Dalam hati Dewi Mulia Ratri mendoakan agar gadis cantik itu bisa pulih, meski dia meragukannya karena luka yang dideritanya tadi nampak sangat parah.  Dia masih terngiang-ngiang wajah mengerikan pemuda tadi.  Separuh wajahnya merah membara dan separuhnya lagi hijau pucat seperti mayat dibekukan.  Sorot matanya membayangkan kedukaan yang begitu dalam.  Mengerikan tapi sangat menyentuh! 

Suasana kembali tegang.  Dewi Mulia Ratri berpaling kepada pemuda di sampingnya,” Hey, bersiaplah.  Sepertinya akan tiba giliran kita sekarang...”

Pemuda itu terlonjak seperti disengat kalajengking,

”Orang menyebutku Pendekar Pelajar tuan puteri. Tapi kamu boleh memanggilku Ardi Brata.” Jawabannya sangat lembut dengan tutur kata yang begitu sopan. 

Dewi Mulia Ratri mengerutkan keningnya sejenak, namun mengangguk acuh kepada  pemuda itu.  Sambil diam-diam melepas ikat pinggangnya, dengan berkacak pinggang dia maju ke depan,” Ayo kapan kita mulai lagi puteri cumi cumi!....”

Dijatuhkannya ikat pinggang itu sambil mengerahkan kekuatan sihirnya.  Ikat pinggang itu perlahan-lahan berubah menjadi seekor Ular Kobra yang sangat besar.  Sambil mendesis-desis mengangkat sebagian tubuhnya dan menempatkan diri di sebelah Dewi Mulia Ratri.  Kemudian Dewi Mulia Ratri juga mencopot  perhiasan emas di dadanya yang berupa perak berkilauan.  Kembali sihir tingkat tinggi dikerahkannya.  Dilemparkannya perhiasan itu ke atas dan menjelmalah seekor elang yang sangat besar.  Elang itu mengoak keras sambil mengepak-ngepakkan sayapnya yang lebar.  Suara menderu deru muncul seiring suara kepakan sayap itu.  Belum selesai sampai di situ.  Dewi Mulia Ratri juga melempar senjata penanya ke tanah.  Dan....muncullah seekor beruang besar yang sangat pemarah.  Taring dan cakarnya berkilauan diterpa sinar matahari yang sudah semakin meninggi.

Laksamana Utara mengangkat tangannya ketika dilihatnya Putri Anjani dan Madaharsa hendak maju melayani tantangan tersebut.  Keduanya menahan langkah melihat isyarat tangan itu. 

“Ha ha ha ha....ini lumayan...ini lumayan...ha ha ha....” terdengar ketawa parau memekakkan telinga ketika Raja Iblis Nusakambangan maju selangkah sambil menatap Dewi Mulia Ratri dengan seksama,” Gadis manis...kamu layak jadi muridku....ha ha ha...”

Tangannya diayunkan ke arah pepohonan.  Ajaib! Pohon-pohon yang dilambai itu tiba-tiba seperti hidup.  Mencerabut sendiri akar-akarnya lalu bangkit dan maju ke depan dengan pelan dan kikuk.  Dahan dan rantingnya bercuitan seperti raksasa baru bangun tidur yang sedang menggeliat.  Pohon-pohon itu bergerak dan mengeluarkan suara-suara aneh! 

Dewi Mulia Ratri tertegun sejenak.  Ini adalah pertunjukan sihir yang luar biasa!  Tapi juga mengerikan!  Orang ini bisa membuat pasukan pohon sebanyak-banyaknya kalau dia mau.  Dewi Mulia Ratri bergidik.  Tapi dia tidak takut.  Dia bersiap siaga sepenuhnya.  Tahu bahwa lawan yang akan dihadapi ini benar-benar orang luar biasa hebat. 

Ardi Brata melompat maju ke samping Dewi Mulia Ratri dan mencabut senjata alat lukisnya.  Dewi Mulia Ratri melirik pemuda tampan itu sambil sedikit melemparkan senyum terimakasih.  Ardi Brata balik tersenyum dengan canggung.  Demi Tuhan, kenapa dia harus salah tingkah menghadapi gadis jelita ini.

Pasukan pohon itu berjumlah sekitar selusin.  Meskipun bukan jenis-jenis pohon yang tinggi dan besar.  Namun tetap saja pemandangan ganjil itu menggiriskan nyali.  Saat pohon pertama mulai menyerang Dewi Mulia Ratri dengan cabang dan rantingnya yang kokoh menyeramkan, mendadak sebuah bayangan putih berkelebatan di antara pasukan pohon itu.  Terdengar bunyi dahan patah berkali-kali dan dedaunan berhamburan ke segala arah.  Begitu keriuhan itu berhenti. Nampak pohon-pohon itu gundul dan bertumbangan.  Seorang lelaki sangat tampan berdiri dengan gagah sambil memegang pedang panjang yang berkilat-kilat saking tajamnya. 

Dewi Mulia Ratri hampir berteriak memanggil dan lari mendekat.  Tapi niatnya diurungkan setelah sadar bahwa itu adalah tindakan yang sangat memalukan.  Tapi matanya terbelalak lebar ketika dilihatnya Putri Anjani sudah berlari mendekati sang pangeran dan memegang tangannya dengan mesra.

“Tuanku Pangeran, syukurlah kau datang.  Kami agak kewalahan tadi melawan nenek sihir itu...” suaranya terdengar sangat manja dan sengaja digenit-genitkan.  Matanya melirik ke arah Dewi Mulia Ratri dengan sorot mengejek.  Dewi Mulia geram bukan kepalang melihat adegan ini.  Dilambaikannya tangannya ke arah beruang dan elang raksasa di sampingnya.  Keduanya bergerak menyerang....Andika Sinatria! 

Yang diserang terperanjat bukan main. Melompat kesana kemari menghindari serangan.  Beruang dan elang itu menyerang bertubi-tubi,” Dewi...Dewi...hentikan...tolonglah,” pangeran tampan itu berkata sembari sibuk menangkis dan menghindari serangan.  Dia kemudian melompat jauh ke samping Dewi Mulia Ratri, memegang tangannya lembut dan berbisik mesra,” Dewi...apa salahku?  Aku di sampingmu...aku akan membelamu apapun yang terjadi.”

Dewi Mulia Ratri terperangah dengan pipi memerah.  Dilambaikannya tangan ke arah Beruang dan Elang untuk menghentikan serangan ke pangeran tampan itu....dan jarinya menunjuk ke Putri Anjani.  Kontan dua hewan ciptaan itu berbalik dan menyerang Putri Anjani dengan dahsyat. 

Putri Anjani yang dongkol bukan main melihat sang pangeran bersikap mesra kepada Dewi Mulia Ratri, mencabut pedangnya dan membalas dengan sengit serangan-serangan Beruang dan Elang.  Laksamana Utara mengerutkan alisnya.  Dikebutkannya lengan bajunya ke depan.  Terdengar suara raungan menggetarkan saat di hadapan semua orang muncul makhluk aneh bukan main.  Mukanya mirip sekali dengan ikan hiu.   Namun memiliki banyak sulur-sulur lengan gurita.  Kakinya pendek berselaput.  Mahkluk aneh itu mengeluarkan desis keras dan menyerang Beruang membantu Putri Anjani.

Raja Iblis Nusakambangan sepertinya tidak mau kalah.  Sorot matanya memerah ketika dia melambai ke arah sebuah pohon luar biasa besar tidak jauh dari situ.  Seperti tadi, pohon itu tersihir dan berubah hidup.  Kali ini, karena bentuknya yang raksasa, pohon h