Now Loading

Jakarta Membara dan Rencana Muallif ke Singapura

Rabu, 13 Mei 1998

Sudah sejak awal Mei sebenarnya suasana kehidupan politik di Indonesia mendapat perhatian khusus di Singapura ini. TV dan berita terus menyiarkan nya. Belum lagi sebagian masyarakat Singapura juga bisa mengikuti siaran TV Indonesia seperti SCTV yang suka menyiarkan secara langsung peristiwa-peristiwa hangat dari tanah air.

Kerusuhan dalam skala besar pertama meletus di Medan pada 6 Mei yang menyebabkan Meilani mengungsi ke Singapura. Pada 12 Mei kemarin, peristiwa penembakan mahasiswa di kampus Trisakti membuat suasana tambah panas.

Pada tanggal 13 Mei ini, saya sangat kawatir dengan Jakarta, keluarga di Bandung serta adik saya yang masih mahasiswa dan kuliah di Jakarta. Sejak siang ini, banyak berita simpang siur tentang kerusuhan besar di Jakarta dan juga Solo.

Saya mencoba menghubungi kantor pusat dan teman-teman di Jakarta, namun hubungan telepon ke Jakarta sama sekali putus. Demikian juga dengan Bang Zai yang terus mencoba menelepon Dita di rumahnya di Depok. Hubungan telepon tidak pernah tersambung sepanjang hari. Singkatnya selama sehari itu hubungan dengan Jakarta terputus.

Yang ramai adalah berita di TV Singapura tentang pengungsian besar-besaran ekspatriat dan etnis Tionghoa dari Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan Singapore Airlines sendiri menambah banyak penerbangan ekstra yang berangkat kosong dari Singapura dan penuh dari Jakarta. Banyak berita tentang mereka yang diwawancara di TV dimana mereka membawa apa saja yang bisa dibawa ke bandara dan bahkan menjual mobil dengan harga miring untuk membeli tiket dan membayar fiskal yang sejuta rupiah per kepala.

Jakarta membara dan Empat Sekawan terdampar di Singapura tanpa mengetahui nasib keluarga di Jakarta. Walau tetap bertugas, pada hari itu, sepanjang hari, kami terus khawatir dan memikirkan perkembangan di tanah air. Berita tentang kerusuhan, pembakaran pusat perbelanjaan dan penjarahan juga membuat orang-orang di Singapura bereaksi bermacam-macam. Ada yang simpati, namun ada juga yang sinis terhadap kami.

Sore itu, kebetulan Empat Sekawan bisa bersama-sama dan berkumpul di Kandahar Street. Selain kami berempat, tentu saja ada Laila dan juga Auntie Hamidah. Seperti biasa, Noor dan Irma tidak pernah hadir di Kandahar Street. Saya sendiri pernah bertanya kepada Laila namun tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan.

“Zai, apa sudah ada kabar dari Dita?” tanya Auntie Hamidah.

“Sejak pulang kemarin pagi dari Singapura, Dita belum memberi kabar. Saya sendiri kemarin belum telepon, tapi sejak pagi mencoba telepon dari Office dan juga telepon umum ke rumah sama sekali tidak ada sambungan,” jawab Bang Zai.

“Bang Asep, ada yang mau saya bicarakan berdua saja.”, kata Laila

Laila kemudian mengajak saya pergi dan kami minta izin kepada Bang Zai, auntie Hamidah dan juga Azwar dan Eko. Kami berdua hanya berjalan kaki santai melalui Arab Street dan terus menyeberang sampai ke Victoria Street dan akhirnya ke Bugis Street.

“Ayo kita mampir di Food Court,’ kata Laila. Kami berdua tidak memesan makanan melainkan hanya minuman Es kacang yang lumayan besar porsinya. Bisa makan segelas berdua. Hanya minta dua sendok plastik saja. Saya sendiri sebelumnya sudah membeli Es potong seharga 1 SGD yang dijajakan oleh uncle-uncle yang menggunakan gerobak dorong. Es potong ini merupakan makanan khas Singapura favorit saya selain minuman Soya Bean.

“Baiklah, ada apa Laila?’ tanya saya. Di sepanjang jalan tadi Laila tidak mau berbicara tentang hal yang akan dibicarakan.

"Muallif akan datang ke Singapura, sebenarnya semalam dia mengirim teks kepada saya. Dia kebetulan ada di Jakarta sejak beberapa hari untuk berbisnis,” Laila memulai ceritanya. Kemudian Laila juga bercerita karena perkembangan situasi di Jakarta yang kian memburuk, Muallif memutuskan untuk pulang ke Brunei. Letak permasalahannya adalah Muallif memutuskan untuk mampir barang semalam dua malam di Singapura sebelum ke Brunei. Laila juga mengatakan bahwa Muallif kemarin sedang berusaha mencari tiket untuk ke Singapura yang sejak beberapa hari ini sangat sulit karena banyak orang berusaha keluar dari Jakarta.

“Saya belum ada berita lagi kapan Muallif akan tiba di Singapura, tetapi sewaktu-waktu dia bisa muncul di Kandahar Street.” Kata Laila dengan wajah sedikit sedih.

“Kalau begitu saya dan nanti juga saya akan bilang ke Bang Zai dan teman-teman agar tidak muncul di Kandahar Street atau apartemen di Ang Mo Kio dalam beberapa hari ke depan,” komentar saya santai walau hati agak kaget dan sedih.

“Apa boleh buat, saya juga belum tahu apakah Muallif sudah tahu bahwa Abang berempat juga ada di Singapura,” kata Laila lagi.

Bersambung