Now Loading

Que Sera Sera

Malam itu, saya membiarkan Dita ngambek dan kabur ke apartemen Bang Juki di Pasir Ris. Saya sengaja tidak menemaninya pulang ke hotel dan mencegahnya untuk kabur. Saya pikir kalau esok saya menjemputnya di Pasir Ris dan minta maaf, Dita pasti akan memaafkan saya dan ikut bersama saya kembali ke hotel.

Sore ini, selesai tugas di Office saya langsung menuju ke Pasir Ris, tujuan pertama menjemput Dita dan Sully.

Dengan MRT saya menuju ke stasiun terakhir di East West Line dan kemudian menuju ke apartemen dengan jalan kaki. Sebelum, itu saya mampir dulu ke White Sand Shopping Mall, tepatnya ke NTUC Fair Price untuk membeli cokelat dan makanan kecil buat Sully.

Saya berjalan perlahan sambil memasukkan tangan kiri di saku celana sementara tas kerja dicangklongkan ke bahu kanan sekaligus membawa bungkusan plastik berisi barang belanjaan di NTUC. Pikiran saya masih mencari kata-kata yang tepat untuk diucapkan ke Dita agar dia mau memaafkan saya. Namun strategi utama saya adalah dengan menggunakan Sully agar sang anak yang kangen dengan ayahnya pasti langsung mendekat dan bisa jadi jalan agar sang ibu pun luluh hatinya.

“Zai, Zai,” tiba-tiba suara seorang lelaki yang sangat saya kenal memanggil. Ternyata Bang Juki juga baru pulang kantor dan kebetulan berjalan menuju apartemen. Dari kejauhan dia sudah melihat saya dan mempercepat jalannya untuk menyusul.

“Bang Juki, saya mau jemput Dita dan Sully,” kata saya perlahan.

“Ayo ikut saya ke apartemen,” jawab Bang Juki. Wajahnya terlihat sedikit kurang cerah walau mencoba tersenyum.

“Tampaknya rumah tangga kamu dalam bahaya,” tambah Bang Juki lagi seraya berjalan cepat menuju lift.

Kami berdua diam saja dan terus berjalan menuju apartemen. Saya sendiri tidak sabar ingin ketemu dengan Sully dan juga Dita.

Mpok Leha mempersilahkan saya duduk di kursi di ruang tamu. Saya menyapu pandangan sambil mencari-cari keberadaan Sully dan Dita.

“Mpok Leha, mana Dita dan Sully?” tanya saya penuh selidik. Mungkin mereka berdua sedang keluar atau berjalan-jalan dengan Meilani, terka saya dalam hati.

Namun jawaban Mpok Leha membuat saya terkejut:

“Dita dan Sully sudah pulang ke Jakarta tadi pagi, saya dan Bang Juki tidak mampu menahannya. Ada apa dengan kamu Zai? Saya dengar kamu punya hubungan spesial dengan seorang janda di Kampong Glam?” Mpok Leha memberondong saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang menghakimi dan sulit dijawab. Saya hanya tertunduk lesu. Saya lalu memberikan bungkusan berisi coklat dan makanan kepada Mpok Leha sambil berkata bahwa makanan itu buat si Alfian, anak semata wayang Mpok Leha dan Bang Juki yang usianya sekitar 7 tahun.

Mpok Leha terus menasihati saya dan kemudian memberikan sebuah surat dalam amplop putih kepada saya. “Ini dari Dita, dia menulisnya tadi pagi sebelum pergi ke bandara.”

Saya menerima surat itu dan kemudian memasukkannya ke saku baju saya. Saya tidak mau membacanya di depan Mpok Leha atau Bang Juki.

Saya pun segera pamit dari apartemen Bang Juki dengan alasan ingin istirahat dulu menenangkan pikiran. Saya kembali berjalan menuju stasiun MRT dan tidak lama kemudian kereta pun tiba. Di dalam kereta yang penumpangnya agak sepi saya duduk termenung dan kemudian setibanya di stasiun Simei, saya mulai membuka surat itu.

Bersamaan dengan pengumuman “Next Station , Tanah Merah, Tanah Merah, Tanah Merah” Saya membuka surat itu dan mulai membaca.

Bang Zai yang tersayang,

Sambil meneteskan air mata, saya menulis surat ini. Dengan berat hati Dita dan Sully harus kembali ke Jakarta , ke rumah kita di Depok pagi ini. Walau rencana awal akan tinggal di Singapura sekitar satu minggu lebih, ternyata kami berdua hanya bisa tinggal selama dua malam.

Apa yang saya saksikan dengan mata kepala sendiri di Kandahar Street membuat keputusan menyedihkan ini harus Dita ambil. Kalau Abang lebih suka dengan janda nan cantik itu, Dita rela abang ceraikan. Yang jelas Dita tidak mau dimadu dengan janda yang usianya bahkan beberapa tahun lebih tua dari Bang Zai sendiri.

Karena itu, kalau Abang masih mau memberi penjelasan dan memperbaiki hubungan kita, Dita tunggu kedatangan Abang hingga akhir Mei walau tugas di Singapura sendiri sampai pertengahan Juni. Abang bisa pulang sehari atau dua hari di waktu libur.

Teriring salam untuk teman-teman Abang, Asep, Azwar dan Eko.

Singapura , 12 Mei 1998

“Doors are closing,” demikian pengumuman ketika kereta baru saja meninggalkan stasiun Payah Lebar ketika saya selesai membaca surat itu. Saya memasukkannya kembali ke dalam amplop dan kemudian menaruh di dalam saku baju. Penumpang kereta sudah mulai ramai dan tiba-tiba saja saya memutuskan untuk turun di Bugis. Saya akan mampir ke Kandahar Street sambil mendiskusikan hal ini dengan Kak Hamidah.

Ketika sampai di Kandahar Street, saya sempat bertemu dengan Asep dan Laila yang baru saja akan keluar dan jalan bersama, Saya tidak bertanya ke mana mereka akan kencan. Sementara Kak Hamida sangat senang saya datang lagi. Kak Hamidah langsung menyuruh saya menunggu dia ganti pakaian karena mau mengajak jalan-jalan ke China Town.

Akhirnya saya tidak sempat menceritakan kepulangan Dita ke Jakarta termasuk tentang surat yang ada di saku saya,

Que Sera Sera, biarlah  apa yang akan terjadi, terjadilah. Saya akan nikmati dulu keberadaan saya di Singapura ini.

Malamnya saya mengantar Kak Hamidah pulang ke apartemen di Ang Mo Kio dan terkaget-kaget ketika empat sekawan ternyata lengkap berkumpul di Ang Mo Kio.

Sementara berita tentang situasi Jakarta yang kian mencekam menemani saya malam itu, ketika nonton TV di kamar selepas pulang dari Ang Mo Kio bersama Asep. Azwar dan Eko.

Bersambung