Now Loading

Reuni Empat Sekawan

Sudah dua tiga hari sejak kencan saya terakhir dengan Laila di Fort Canning dan Pulau Sentosa. Sore itu, sepulang tugas, tanpa sadar kaki melangkah menuju ke Kandahar Street untuk bertemu Laila. Maklum rasa rindu sudah membuncah.

Sesampainya saya di Kandahar Street Laila mengajak jalan-jalan ke Suntech City dan sekalian melihat Fountain of Wealth. Kebetulan saya sendiri belum pernah berkunjung ke tempat ini.

“Laila sudah pernah ke sana?” Tanya saya

“Belum Bang, kata teman pemandangannya sangat cantik di malam hari ketika ada pertunjukan Laser”

Kami naik taksi ke Sunctech City, makan malam dulu di salah satu gerai fast food dan kemudian ketika hari mulai gelap mulai menyaksikan pertunjukan Laser.

“Air mancur ini konon dirancang sesuai dengan aturan Fengshui sehingga diyakini membawa keberuntungan dan kekayaan bagi Singapura dan juga orang yang mengunjunginya. Karena itu dinamakan ‘Fountain of Wealth’.” kata Laila sambil menirukan gaya pemandu wisata.

Dia juga kemudian mengajak saya tawaf mengeliling air mancur ini sebanyak 3 kali seraya menyentuh cipratan airnya. Kemudian Laila juga meminta saya mengucapkan permohonan dalam hati agar hubungan kami berdua langgeng. Menurut Laila, penduduk Singapura sangat percaya akan faktor keberuntungan yang ada pada air mancur terbesar di dunia ini.

Walau setengah percaya, untuk menyenangkan hati Laila, saya bahkan mengucapkan keinginan agar hubungan kami berdua langgeng dengan suara yang cukup keras sehingga bukan hanya Laila, tetapi pengunjung lain pun ikut mendengarnya. Betapa romantisnya kami berdua berjalan sambil bergandengan tangan di bawah cipratan air mancur dengan disinari lampu-lampu yang menawan.

Sekitar jam 9 malam, Laila mengajak saya mengantarnya pulang ke Apartemen di Ang Mo Kio. Dengan taksi kami berdua segera menuju ke apartemen di HBD 123 Ang Mo Kio. Tidak seperti biasanya, kali ini Laila mengajak saya turun dan mampir ke atas. Kami naik lift menuju ke lantai 8. Dan ketika kami masuk ke ruang tamu, saya terkejut karena di sana sedang duduk Azwar dan Eko. Dan tentu saja ada dua gadis yang pasti adalah Irma dan Noor.

“Wah Irma dan Noor sudah lebih dahulu mengundang pacar ke sini,”, kata Laila

Azwar dan Eko terlihat kaget dan saling berpandangan. Lalu Eko berdiri sambil memeluk Noor.

“Jadi kamu ini Noor dan bukan Siti?”

Sementara Azwar terdiam, lalu tertawa getir.

“Pantas Mar pun sangat mirip dengan Irma”, Azwar juga langsung memeluk Irma.

“Dilarang bermesraan di sini,” kata Laila lagi sambil mempersilahkan saya duduk dan menawarkan kopi kepada saya.

“Oh Jadi Irma dan Noor sempat menyamar sebagai Mar dan Siti untuk menguji kesetiaan Azwar dan Eko. Dan Ternyata Azwar dan Eko sudah gagal,” kata Laila sambil tersenyum.

Irma dan Noor hanya tertawa kecil sambil memeluk Azwar dan Eko dengan mesra.

Baru saja saya mencicipi dua seruput kopi yang nikmat buatan Laila, tiba-tiba saja pintu terbuka dan muncul Auntie Hamidah yang bergandengan mesra dengan Bang Zai.

Mereka berdua cukup kaget melihat kami berenam. Auntie Hamidah segera memindahkan dua kursi dari meja makan dan menyediakan Bang Zai duduk.

“Wah ini dia reuni Empat Sekawan,” ujar Bang Zai sambil tertawa lebar.

Benar juga, selama di Singapura kita belum pernah berkumpul berempat seperti ini. Apalagi dengan pasangan masing-masing. Tetapi kemudian saya bertanya-tanya, apakah Dita sudah baikan dengan Bang Zai, atau masih ngambek dan mengungsi di Pasir Ris. Namun saya tidak enak menanyakan kepada Bang Zai. Ini urusan pribadi dan keluarga, biar Bang Zai yang menyelesaikannya.

Bersambung