Now Loading

Kejutan di Ang Mo Kio

Sudah lebih seminggu Empat Sekawan di Singapura, Karena kami tinggal dalam kamar yang berbeda maka kami jarang bertemu kecuali kebetulan bareng makan pagi atau memiliki tugas yang sama. Bang Zai dan Asep bahkan lebih sering pergi sendiri entah ke mana. Mungkin ke Kandahar Street kencan dengan Auntie Hamidah dan Laila.

Bahkan saya dengar kemarin bahwa Dita, istri Bang Zai yang baru datang ke Singapura sudah ngambek dan kabur ke Pasir Ris karena Bang Zai sibuk pacaran.  Sementara Saya dan Eko sudah lumayan rindu dengan Irma dan Noor. Namun tidak tahu bisa ketemu mereka dimana.

Sore itu saya dan Eko kebetulan baru pulang dari office bersamaan dan karenanya kami berdua janjian untuk makan malam bersama di Food Court di Newton.

Sekitar jam 6.30 sore, kami sudah meninggalkan hotel menuju ke Stasiun MRT City Hall untuk lanjut naik MRT ke Stasiun Newton. Dari sini tinggal jalan kaki sekitar 7 menit saja sampai ke food court atau nama resminya Newton Food Centre.

Di sini banyak gerai yang menjual berbagai jenis makanan, termasuk juga sea food atau sate. Kami akhirnya memesan makanan dan duduk di sebuah meja.

Ketika sedang duduk menanti pesanan, dua orang gadis yang pernah bertemu dengan kami di Kereta Api Tanah Melayu menegur dan ikut duduk bersama.

“Abang berdua yang dulu ketemu di KTM?” tanya salah seorang gadis itu kalau tidak salah yang bernama Mar. 

“Ya, kebetulan, kita ketemu lagi. Barangkali sudah jodoh,” kata Eko sedikit menggoda

“Ayo pesan makanan, kata saya,” beberapa penjual datang dan memberikan menu.  Mar dan Siti kemudian memesan sate dengan lontong dan minumannya soya bean dengan es batu. 

Kami berempat kemudian mengobrol lebih banyak. Mar dan Siti menjelaskan bahwa mereka tinggal di Ang Mo Kio bersama seorang teman lagi dari Brunei yang sedang akan belajar di Singapura.

Makin lama Mar dan Siti berbicara, saya memperhatikan betapa miripnya mereka dengan Irma dan Noor. Yang membedakannya hanya cara berpakaian mereka. 

“Apakah Mar dan Siti kenal dengan Irma dan Noor, mereka dari Brunei dan juga ada di Singapura tidak lama karena menemani teman yang akan belajar di Singapura,” tanya saya saking penasaran.

“Bahkan wajah Mar sangat mirip dengan Irma dan Siti sangat mirip dengan Noor,” tambah Eko lagi.

Mar dan Siti hanya tersenyum saja penuh arti.

“Kalau begitu, bagaimana kalau Abang berdua ikut kami ke apartemen di Ang Mo Kio selepas makan ini. Mungkin rahasia ini akan terjawab di sana.” Tambah Siti dengan penuh semangat.

“Baiklah.” Kata saya.   Tidak ada ruginya ikut kedua gadis ini, Siapa tahu dapat jadi teman dekat selama kami di Singapura, kata saya kepada diri saya sendiri sambil memberi syarat kepada Eko agar setuju juga.

“Oke, Kita jalan-jalan ke Ang Mo Kio,” Eko pun berkata dengan nada senang.

“Kita bisa naik MRT ke stasiun Ang Mo Kio. lalu jalan kaki sedikit,” kata Siti sambil menghabiskan soya bean di gelasnya.

Selesai makan, kami berempat berjalan ke Stasiun MRT Newton dan kemudian naik kereta menuju ke stasiun Ang Mo Kio.   Kami berempat berjalan santai dari stasiun turun ke jalan dan kemudian menyeberangi  Ang Mo Kio Avenue 8 . Menyusuri sedikit Ang Mo Kio Avenue 3 dan belok kanan di Ang Mo Kio Av 6.

“Apartemen kami di HDB Blok 123, “ kata Siti sambil menunjuk ke sebuah bangunan apartemen dan ternyata di ketika mau masuk ke HDB ini  Eko melihat sebuah masjid di seberang dengan menara sebuah menara yang cukup tinggi.

“Azwar, bagaimana kalau kita ke masjid dulu, sepertinya azan Isya sebentar lagi.” Eko berkata sambil menunjuk ke sebuah masjid yang lumayan besar dan megah yang terletak di Ang Mo Kio Avenue 6 ini.

“Baiklah Bang, nanti kami tunggu di dekat-dekat sini,” kata Mar sambil menunjuk ke bangunan HDB.

Saya dan Eko berjalan menuju masjid. Masjid ini lumayan bagus dan besar dan ternyata bernama Masjid Al-Muttaqin.   Ketika kami masuk ke Masjid Azan Isya baru saja selesai bergema. Walau tidak terlalu ramai, banyak juga yang salat berjamaah di sini.

“Eko, kamu sedikit sok alim nih di depan cewek,”  kritik saya sama Eko sesudah selesai salat. Biasanya Eko jarang mengajak saya ke masjid.  Eko hanya tersenyum-senyum saja.

Kami kembali ke tempat tadi dan ternyata Mar dan Siti masih menunggu sambil bercakap-cakap dengan dua orang perempuan muda. Mungkin tetangga di apartemen.  Melihat kami berdua datang, Mar dan Siri segera menghampiri dan dua perempuan tetangga tadi berjalan pergi.

Kami kemudian naik lift dan menuju ke lantai 8. Lalu tidak lama menuju ke sebuah unit apartemen. Mar membuka kunci dan kami dipersilahkan duduk di ruang tamu.

Sebuah apartemen yang cukup luas karena ternyata terdiri dari dua tingkat, Saya melihat ada tangga menuju ke lantai 9 yang juga masih merupakan unit mereka.  Ruang tamu nya sederhana. Ada beberapa perabotan seperti sofa yang lumayan antik dan sebuah TV juga lemari es. Ruang makan juga menjadi satu dengan ruang tamu ini dan di pojok ada dapur.

“Abang mau minum apa?” tanya Mar lagi.

“Apa saja’, kata saya

Tak lama kemudian, Mar  muncul dengan  dua cawan kopi dengan satu toples kue cincin yang di bawah pada sebuah nampan.

“Sila dicoba kue cincin dari Brunei ini”, kata Mar lagi.

Saya langsung teringat dengan kue cincin yang pernah diberikan Irma kepada saya di Kota Batu Desember lalu. Namun saya diam saja dan sedikit melamun.

Kemudian kami berempat mulai lagi mengobrol panjang lebar di ruang tamu. Bercerita banyak tentang pengalaman kami di Brunei kecuali kisah-kisah dengan Irma dan Noor. 

Sekitar 30 menit mengobrol, tiba-tiba saja pintu dibuka dan muncullah dua orang teman kami yang membuat kami terkaget-kaget. 

Asep dan Laila.

Bersambung