Now Loading

Tertangkap Basah

Selesai makan pagi, saya pamit dengan Dita dan Sully untuk pergi bertugas. Saya juga janji sekitar jam 7 sudah ada di hotel untuk bersama menengok Bang Juki dan Mpok Leha di Pasir Ris.

“Bang Zai, nanti saya dan Sully akan jalan-jalan bareng Meilani, biar ada teman melihat-lihat Singapura, tapi sebelum jam 7, sudah pulang ke hotel,” tambah Dita sebelum saya pergi.

“Kring, kring, kriiiiiiiing……” Baru saja saya akan turun, telepon di kamar berbunyi nyaring.

Ternyata Asep memberi tahu bahwa dia sebentar lagi akan turun dan menanti di lobi untuk berangkat bareng. Sementara Azwar dan Eko mungkin tugas siang atau libur.

Baiklah, kalau berdua, kita bisa naik taksi saja ke Office, kata saya dalam hati dan sekalian bisa ngobrol sama Asep , maklum sudah beberapa hari kami berdua jarang bertemu dan masing-masing sibuk sendiri.

Di dalam taksi, saya membuka percakapan:

“Asep, bagaimana perkembangan hubungan kamu dengan Laila?,” tanya saya wajah penuh selidik.

“Baik-baik saja, sepertinya makin serius, Saya sudah diajak ke Keramat leluhur Laila di Fort Canning,” jawab Asep.

“Tapi dengar-dengar kamu juga suka pergi dengan gadis Melaka, siapa tuh namanya?” tanya saya lagi.

“Namanya Muthiah, dia juga manis dan sangat mirip dengan Laila, saya sendiri bingung Bang,” tambah Asep.

“Bagaimana dengan Bang Zai sendiri, sepertinya suka ke Kandahar Street dan kemudian jalan-jalan sama Auntie Hamidah, Bisa-bisa nanti jadi uncle Zai,” Asep mulai menggoda.

“Siapa mau punya keponakan yang bandel macam kamu,” kata saya sambil tersenyum kecut.

“Sore nanti, saya mau ke Kandahar Street, Bang Zai mau ikut?’ tanya Asep.

“Lihat saja nanti.” Jawab saya.

Sore hari sekitar jam 4. Asep sudah siap-siap pulang dari Office dan seperti katanya tadi pagi, dia mau mampir ke Kandahar karena ada janji dengan Laila. Asep kembali mengajak saya untuk ikut. Tadinya saya mau langsung pulang ke hotel dan beristirahat. Khan nanti malam sekitar jam 7 ada janji dengan Dita untuk ke Pasir Ris. Tapi saya pikir, masih sempat juga kalau sebentar mampir ke Kandahar Street. Sudah kangen juga dengan Kak Hamidah.

Dengan taksi kamu berdua ke Kandahar Street. Ternyata Laila sudah menunggu Asep dan mereka berdua langsung pamit dengan saya dan Kak Hamidah untuk pergi entah ke mana. Sementara saya sendiri yang datang tanpa janji disambut dengan gembira oleh Kak Hamidah.

Tanpa minta persetujuan saya, kak Hamidah langsung berkata:

“Zai, tunggu saya ganti pakaian sebentar, antarkan saya ke Mustafa Centre di Little India.”

Bagi saya ini adalah perintah, tidak ada kesempatan untuk berkata tidak. Paling-paling nanti saya akan bilang tidak bisa lama-lama karena ditunggu istri di hotel jam 7.

Dalam taksi menuju Little India yang letaknya tidak terlalu jauh dari Kandahar Street, baru saya bilang ke Kak Hamidah bahwa Dita, istri saya datang ke Singapura kemarin sore dan malam nanti akan bertandang ke rumah abang saya di Pasir Ris.

“Jangan takut, saya tidak lama belanjanya,” jawab Kak Hamidah sambil mencubit pundak kanan saya.

Kak Hamidah kemudian berbelanja berbagai kebutuhan sehari-hari dan juga berbagai bumbu masakan. Saya hanya mengikuti nya sambil membawa keranjang belanjaan.

“Mustafa Centre yang Syed Alwi Road ini baru buka April 3 tahun lalu.” Kata Hamidah lagi.

Sesuai janji, Hamidah cukup cepat berbelanja dan pukul 6, 15 taksi sudah sampai kembali di Kandahar Street. Saya membantu membawakan barang belanjaan masuk ke restoran. Namun saya terkaget-kaget ketika melihat Dita, Sully dan Meilani sedang makan di salah satu meja.

Melihat saya masuk membawa barang belanjaan bersama Kak Hamidah, Dita langsung berdiri dan berkata:

“Bang Zai, lagi ngapain di sini, katanya dari Office langsung ke hotel?”

Saya hanya terdiam tidak menemukan kata-kata yang pas dan jitu untuk membela diri. Sampai kemudian Kak Hamidah yang tidak sengaja mendengar pertanyaan Dita mendekati Dita dan berkata:

“Kenalkan saya Hamidah, Oh ini Dita istri Zai yang kemarin datang dari Jakarta? Dik Zai hanya menemani belanja sebentar, maklum belanjaan saya banyak,” nada suara Kak Hamida datar dan yakin serta sama sekali tidak merasa bersalah.

Namun DIta tidak dapat mengendalikan emosinya. Dia langsung menangis dan bahkan bilang ke Meilani mau segera pulang dari restoran ini. Mau ke hotel hanya untuk mengambil koper dan malam ini mau menginap di rumah Mpok Leha saja di Pasir Ris. Dita tidak mau menemani saya di Peninsula Hotel.

Saya benar-benar merasa tertangkap basah. Dita dan Meilani serta Sully segera meninggalkan saya dan Kak Hamidah di Kandahar Steet. Mereka pergi ke hotel untuk mengambil barang-barang Dita dan Sully.

Bahkan tangis Sully yang memanggil-manggil saya tidak dihiraukan Dita. Rasa cemburu sudah membuat diri Dita tidak mau melihat saya lagi. Setidaknya untuk sementara.

Saya sendiri yang tahu tabiat Dita yang keras, hanya diam saja. Dalam dua tiga hari juga biasanya DIta akan baikan lagi, pikir saya.

Bersambung