Now Loading

Dita dan Meilani

Tanggal 10 Mei 1998 sore, saya pergi ke Bandara Changi menjemput Dita dan si bungsu Sully yang sudah berusia tiga setengah tahun di Bandara Changi. Sementara Sella dan Selly tidak bisa ikut karena masih harus sekolah dan kini ditemani mbak Sri dan nenek nya di rumah. Dita memang sudah berencana mau ikut begitu tahu bahwa saya mendapat kamar sendiri di Singapura.

Ketika pesawat Singapore Airlines SQ 957 mendarat di Terminal 2, saya sudah menunggu dan tidak sabar menanti di terminal kedatangan. Sekitar setengah jam setelah pesawat mendarat, barulah saya melihat Dita dan Sully. Ketika melihat saya, Sully segera berlari dan memeluk ayahnya. Saya pun sudah sangat kangen karena sudah lebih 3 minggu tidak berjumpa. Demikian juga dengan Dita yang segera kupeluk dengan mesra.

Dalam perjalanan dengan taksi menuju hotel, Dita bercerita banyak tentang bagaimana kangennya Selly dan Sella yang sebenarnya mau ikut, Selain itu, Dita juga bercerita tentang situasi ekonomi yang kian parah di tanah air tentang harga-harga yang meroket, tentang BBM yang baru saja naik pada 4 Mei lalu dari Rp. 700 menjadi Rp. 1200 yang sontak mengakibatkan demo mahasiswa dimana-mana. Belum lagi kerusuhan yang melanda Medan pada 6 Mei kemarin ketika banyak pertokoan, terutama milik etnis Tionghoa, yang dijarah dan dibakar. Saya hanya mendengarkan dengan hati ikut sedih. Sebagian sudah saya baca baik di Surat Kabar The Straits Times maupun muncul di berbagai TV lokal Singapura. Namun tetap tidak selengkap versi Dita.

“Bahkan Tarif Dasar Listrik juga dinaikkan pemerintah”, tambah Dita lagi.

“ Mungkin karena tekanan IMF. Ini tanda Pak Harto tidak lama lagi akan jatuh”, kata Saya

“Ah Bang Zai seperti peramal saja”.

Setelah istirahat sejenak  di hotel, kami kemudian jalan-jalan naik MRT ke kawasan Orchard Road. Sully sangat senang naik MRT karena belum pernah naik kereta api di dalam tanah. Untuk makan malam saya mengajak Dita dan Sully ke food Court di Lucky Plaza, ada pojok makanan halal dengan menu masakan Padang yang lumayan enak. Untuk minuman saya lebih suka membeli Soya Bean yang merupakan susu kacang kedelai yang segar dan sejuk.

Ketika saya habis memesan minuman dan kembali ke tempat duduk, saya melihat Dita dan Selly duduk ditemani seorang perempuan berumur 35 tahunan.

“Bang Zai, perkenalkan ini Meilani, dia teman SMA saya dulu di Tangerang, Kebetulan ketemu di sini”.

“Oh ini Bang Zai yang beberapa hari lalu ketemu di Kandahar Street?”, kata Meilani lagi.

“Kalian sudah saling kenal?”, tanya Dita dengan nada penuh selidik.

“Ah, cuma kebetulan saja, Bang Zai ini temannya Bang Bad, teman saya dari Brunei, nanti saya ceritakan," kata Meilani lagi.

Saya sempat tertunduk dan sedikit bingung bagaimana menjelaskan ke Dita nanti. Tapi Dita dan Meilani sudah ngobrol panjang lebar sementara saya mengantar Sully yang mau pergi ke toilet untuk cuci tangan.

Ketika saya balik kembali ke meja, Mereka sudah selesai makan dan masih bercakap-cakap.

“Bang Zai, besok-besok kalau Bang Zai bertugas, Meilani yang akan menemani saya dan Sully jalan-jalan.”

“Baiklah," jawab saya dengan lirih.

"Kapan kita ke rumah Bang Juki?,"tanya Dita.

"Bagaimana kalau besok malam saja, sekarang sudah kemalamam dan Sully juga cape," jawab saya.

Bersambung