Now Loading

Rahasia Si Bad

Sejak kencan pertama dengan Kak Hamidah, resto di Kandahar menjadi tempat saya menghabiskan waktu senggang kalau sedang tidak tugas di Singapura. Sekali-kali saya juga bertemu dengan Asep yang janjian dengan Laila di sini. Namun lebih sering lagi saya hanya sendiri dan kemudian bertemu dan ngobrol dengan Kak Hamidah. Sesekali kami berdua jalan-jalan saja ke berbagai tempat wisata di Singapura.

Sore itu, kebetulan saya sudah selesai tugas. Diam-diam saya kembali bertandang ke Kandahar Street. Belum waktunya makan malam sehingga resto belum terlalu ramai. Saya kemudian dipersilahkan duduk di salah satu meja yang kosong sambil menikmati teh tarik dan roti canai. Sementara Hamidah sedang berganti pakaian untuk rencana kami jalan-jalan ke Pulau Sentosa.

Tiba-tiba saja sepasang lelaki dan perempuan masuk ke restoran dan kemudian duduk di pojok, di sebuah meja sekitar 3 meter dari tempat saya. Mula-mula saya tidak memperhatikan mereka namun sekitar 5 menit mereka datang, tiba-tiba lelaki tadi berjalan dan mendekat kemudian menegur saya.

“Assalamualaikum, Maaf ini Zai kah?”

“Saya Bad, kita ketemu di Masjid Gadong sebelum kamu berangkat ke Singapura?” Lanjut lelaki itu lagi.

Akhirnya saya pun ingat akan Si Bad yang telah menemukan tas kecil saya sehari sebelum keberangkatan saya ke Brunei lalu. Suatu kebetulan bahwa kami bertemu lagi di Singapura ini.

“Siapa perempuan itu?”, Tanya saya sambil memberi isyarat dengan jempol ke arah perempuan yang duduk di pojok”, sekilas saya perhatikan perempuan ini cukup cantik dan berusia 30 tahunan. Kulitnya kuning langsat dengan rambut terurai dan melihat dandanannya mirip perempuan Tionghoa.

“Ah, Saya lupa, Ayo saya perkenalkan”

Bad mengajak saya duduk bertiga di meja perempuan itu. Pesanan martabak dan roti canai serta teh tarik mereka juga kebetulan baru dihidangkan. Saya segera memindahkan makanan dan minuman saya ke meja itu.

“Ini Meilani, kata Bad, dia dari Indonesia juga”,

“Saya Zai. Zainuddin”, kata saya memperkenalkan diri pada Meilani.

“Saya dari Jakarta dan kebetulan sedang bertugas di Singapura”, tambah saya lagi

“Saya dari Medan”, kata Meilani sedikit tersenyum malu.

Selama duduk saya tidak atau masih enggan bertanya, apa hubungan antara Bad dengan Meilani. Yang satu dari Brunei, yang satu dari Medan dan bertemu di Singapura dan kelihatannya hubungan mereka cukup mesra seperti orang pacaran. Padahal sewaktu ketemu d Brunei Bad bercerita sudah punya istri dan 4 orang anak.

Rupanya si Bad memaklumi keheranan saya dan kemudian memberi isyarat agar saya mengikutinya keluar restoran dan ngobrol sebentar di depan resto. Persis di kaki lima yang berubin antik peninggalan era kolonial Inggris.

“Zai, mungkin kamu bertanya-tanya siapa Meilani itu. Baiklah akan saya ceritakan”, Kata Bad.

Bad kemudian bercerita bahwa dia selain bekerja di RTB Brunei sebenarnya mempunyai usaha ekspor impor sehingga sering ke Singapura. Paling tidak dalam sebulan dia bisa sekali atau dua kali ke negeri Singa ini.

Secara kebetulan beberapa hari lalu Bad sedang cari angin di Lucky Plaza dan kemudian bertemu dengan Meilani. Meilani sendiri baru datang dari Medan ke Singapura. Niatnya mencari kakak sepupunya yang di tinggal di Bukit Timah Meilani sendiri baru saja mengalami kejadian menyedihkan. Kebetulan dia seorang janda dan tokonya di Medan mengalami penjarahan pada kerusuhan tanggal 6 Mei lalu. Akhirnya karena rumah tokonya dibakar massa, dia pindah ke rumah saudaranya dan kemudian memutuskan untuk sementara mengungsi ke Singapura sampai keadaan di Indonesia aman lagi.

Bad juga melanjutkan, pada saat ketemu di Lucky Plaza, Meilani belum berhasil menemukan alamat saudaranya yang karena terburu-buru sempat hilang. Akhirnya karena kasihan Bad untuk sementara menampung Meilani di sebuah apartemen di Eunos. Dia menyewa apartemen tersebut dari seorang kenalan bisnis di Singapura.

Selain itu Bad juga bercerita bahwa hubungan mereka berdua mulai menjadi dekat karena sering bertemu, walau dalam dua hari lagi Bad harus kembali ke Brunei.

“Zai, ayo kita berangkat”, Tiba-tiba saja Kak Hamidah muncul dan sudah tampil cantik sekali. Mau tidak mau saya juga kemudian memperkenalkan Hamidah kepada Zai.

Zai sendiri kaget ketika mengetahui saya ternyata mempunya hubungan istimewa dengan Kak Hamidah, pemilik resto di Kandahar Street ini.

Sebelum saya akhirnya pergi meninggalkan Bad dan Meilani, Bad sempat menarik saya ke sudut restoran dan berkata:

“Zai, biarlah ini menjadi rahasia kita masing-masing”.

Dalam taksi yang membawa saya dan Hamidah ke Pulau Sentosa, saya berkata kepada diri sendiri tidak menyangka kalau Bad juga punya simpanan di Singapura.

 

Bersambung