Now Loading

Ikrar di Pulau Ubin

Sesampainya di hotel saya langsung menuju kamar saya dan ketika membuka pintu, ada sebuah amplop terhampar di lantai. Ternyata sebuah surat dari resepsionis yang di dalamnya berisi sebuah amplop kecil warna biru muda.

Sambil merebahkan diri di tempat tidur dan menonton TV Prime 12 yang menyiarkan berita tentang kejadian-kejadian regional dan juga berita tentang makin memburuknya situasi politik dan ekonomi di tanah air, saya mulai membaca surat itu:

Bang Asep yang tersayang,

Besok malam Muthiah akan kembali ke KL. Berakhir sudah liburan beberapa hari di Singapura dengan teman-teman. Namun ada satu hadiah yang saya dapat dari perjalanan ini, yaitu perkenalan dengan Bang Asep.

Kalau Abang besok pagi hingga siang ada masa, bolehlah kita bersama berwisata ke Pulau Ubin. Anggaplah perjalanan besok bersama sebagai perjalanan perpisahan kita. Karena Saya tidak tahu bila kita bisa berjumpa lagi. Namun ada satu hal penting yang akan saya katakan. Siapa tahu bisa menjadi pembuka pintu harapan bahwa di suatu waktu, kita bisa bertemu lagi baik di Malaysia maupun di Indonesia.

Bila Abang bersedia, Muthiah tunggu pukul 8 pagi di lobi, sesudah makan pagi kita langsung berangkat.

Salam Sayang Selalu

Singapura, 6 Mei 1998

Muthiah

Betapa rumit sebenarnya kisah cinta ini. Tetapi tidaklah elok menolak ajakan yang sangat menantang ini. Biarlah besok saya akan menemani Muthiah untuk jalan-jalan ke Pulau Ubin, kebetulan besok pagi sampai siang saya memang ada waktu luang. Demikian Asep yang satu berbicara dengan Asep yang lain. Untuk sementara lupakan Laila.

Besok pagi, saya makan pagi sekitar jam 7, restoran di hotel juga masih sepi. Sehingga sebelum jam 8 saya sudah siap menunggu Muthiah di Lobi.

Namun kali ini ketika saya tiba di lobi, ternyata Muthiah sudah menunggu dan begitu melihat saya dia langsung bangun, dan setengah berlari menyongsong dan memeluk saya. Saya sendiri agak kaget namun membiarkan saja seraya berkata:

“Ayo kita berangkat, Muthiah sudah tahu naik apa ke sana?” Kata saya

“Tadi saya sudah tanya ke concierge, kita bisa naik MRT ke Tanah Merah dan kemudian naik bus no. 2 atau kalau lama menunggu, bisa naik taksi ke Changi Pier”, kata Muthiah

Kami berdua segera berjalan lumayan cepat menuju ke stasiun MRT City Hall. Dari sana naik MRT arah ke timur dan terus hingga ke stasiun Tanah Merah. Kami  beruntung ketika turun dari stasiun Tanah Merah ke halte, belum dua menit menunggu, bus no. 2 ke Changi Village Terminal sudah muncul.

Kami segera naik bus SBS bertingkat itu dan duduk di kursi paling depan di atas. Kebetulan bus sangat sepi penumpangnya, hanya ada saya dan Muthiah di tingkat atas.  Sambil bersantai, kita berdua dapat menikmati pemandangan yang lumayan indah di pinggiran pulau Singapura,

"It's like we rent the bus just for the two of us", Kata Muthiah sambil bersandar di dada saya dengan mesra. 

"Malu, nanti uncle sopir melihat kita", Kata saya ke Muthiah sambil menunjuk ke kaca spion yang ada di depan tempat duduk.

Bus melewati Changi Prison, Changi Chapel Museum, dan juga Changi Golf Course, setelah sekitar 20 menit, kami pun tiba di Terminal Changi Village.  Setelah jalan kaki tidak jauh dengan hanya melihat petunjuk jalan, kami sampai ke Changi Point Ferry Terminal.

Sesampainya di pier sudah ada perahu atau Bumbuoat yang sedang mengetem menuju ke pulau Ubin. Ternyata perahu tidak mempunyai jadwal yang pasti, kalau penuh 12 orang , perahu pun berangkat. Untungnya ketika kami sampai sudah ada 8 orang yang menunggu, sehingga dengan kami naik sudah 10 orang dan hanya perlu menunggu sekitar 5 menit lagi untuk penuh 12 orang.

Perjalanan ke Pulau Ubin dari Changi Pier hanya kurang dari 10 menit. Sesampainya di dermaga, kami seakan-akan bukan berada di Singapura. Pulau Ubin mirip dengan kampung-kampung di Sumatra pada tahun 1960 atau 1970-an. Suasana nya sangat asyik. Kami berdua menyewa sepeda dan kemudian berwisata ke berbagai tempat yang menarik.

Berdua di Pulau Ubin yang sepi, kami menikmati saat-saat terakhir kebersamaan ini. Kami bersepeda menuju ke barat. Suasana makin sepi, dapat dibilang bukan lagi suasana perkampungan melainkan seperti masuk ke hutan.

Kemudian ada petunjuk jalan menuju sebuah kelenteng yang disebut Toapekong. Kami mengayuh sepeda mengikuti petunjuk dan tiba di sebuah kelenteng tua yang kecil dan cukup menarik.

Tiba-tiba saja Muthiah berhenti di depan kelenteng dia mengajak saya turun. Dia menggandeng tangan saya dan kemudian berkata:

“Bang Asep, Saya mau bercerita mengapa Muthiah mengajak Abang ke sini. Kita baru berkenalan beberapa hari, namun hati saya sudah dicuri oleh Abang”, Begitulah Muthiah memulai kisahnya.

Kemudian dia melanjutkan bahwa Orang tua nya sudah sangat berharap agar Muthiah cepat menikah. Bahkan sudah ada yang melamar tapi Muthiah masih menolak karena ingin menemukan pasangan sendiri. Dan yang paling mengagetkan adalah pernyataan Muthiah sambil memeluk saya:

“Bang Asep, maukah bulan depan, sebelum abang pulang ke Indonesia, mampir ke rumah saya di Melaka dan ketemu orang tua saya?”

Sejenak saya tidak bisa menjawab. Saya hanya terdiam.

“Kenapa Abang diam saja? Abang tidak sayang sama Muthiah”, katanya sambil merajuk dan berlari meninggalkan saya.

Saya kemudian mengejar Muthiah, Menggenggam kedua tangannya dan berkata:

“Baiklah Muthiah, Abang akan usahakan datang ke Melaka setelah selesai tugas di Singapura dan sebelum kembali ke Jakarta”,

Muthiah tersenyum manis dan kembali memeluk saya.

Kami kemudian mengayuh sepeda kembali, melanjutkan perjalanan ke Kampung Melayu. Dan melihat suasana yang khas perkampungan. Ada penduduk yang memelihara ayam, bebek, dan banyak pohon buah-buahan seperti nangka, cempedak, pisang, dan srikaya.

Hari sudah menjelang siang. Akhirnya kami kembali mengayuh sepeda ke Ubin Town. Makan lontong di warung Pak Ali yang rasanya sangat lezat dan nikmat. Apalagi dalam keadaan perut lapar dan suasana hati penuh gejolak habis disuruh melamar gadis pujaan.

Setelah makan kami segera kembali ke dermaga untuk menunggu perahu menyeberang ke Changi.

Bersambung