Now Loading

Bab V

Pengembaraan kasih sayang
Selalu saja datang pada setiap orang
Bermula dari sebuah tatapan
Atau sekedar ringannya sapaan.
Petualangan hati
Tak akan pernah berhenti
Sampai pencarian di persinggahan melati
Hingga kembalinya sang bidadari

Bab V

Lereng Gunung Arjuna. Sepuluh tahun yang lalu. Dyah Puspita menggendong tubuh Arya Dahana yang sekarat dan berlari cepat.  Dia mengerahkan semua kemampuan meringankan tubuhnya untuk segera sampai ke sebuah pertapaan kecil di lereng Arjuna.  Tempat seorang tua aneh ahli pengobatan terbaik di pulau Jawa yang dijuluki Ki Gerah Gendeng.  Dia masih ingat pernah dibawa oleh ayahnya dulu semasa kecil untuk mengobati kakinya yang digigit oleh kelelawar berbisa Nusakambangan.

Tubuhnya juga terluka akibat pertempuran dengan Lima Begal Garahan.  Tapi dia tidak lagi mempedulikan semua itu.  Dia harus menyelamatkan anak kecil ini.  Dia tidak tahu sampai berapa lama anak ini bisa bertahan.  Sebentar-sebentar Dyah Puspita meraba denyut nadi si bocah.  Kemudian segera melanjutkan perjalanan dengan cepat setelah memastikan bahwa anak ini masih hidup. 

Makin dekat lereng Arjuna, denyut nadinya juga makin lemah.  Bahkan begitu sampai pertapaan Ki Gerah Gendeng, denyut nadinya seperti sudah tidak ada lagi.  Hati Dyah Puspita seperti melorot sampai pinggangnya.  Airmatanya sudah hampir menetes deras.  Namun dia menguatkan hati.  Dia sudah sampai di depan gua kecil tempat Ki Gerah Gendeng biasa bertapa.  Bau anyir racun dan rempah-rempah sampai ke hidungnya begitu dia memasuki gua kecil itu.  Tubuhnya yang sangat kelelahan tidak kuat lagi menahan beban tubuh Arya Dahana.  Ditambah lagi harapannya yang sirna karena menempuh perjalanan yang sia-sia.  Bocah itu telah tiada.  Meregang nyawa di pelukannya.  Bocah yang telah menyelamatkannya!

Dyah Puspita terguling pingsan tepat di depan seorang tua aneh berjenggot panjang yang sedang terbengong menatapnya.  Orang tua aneh itu sejenak kebingungan. Namun dia segera bangkit dan sebagai seorang yang lihai dalam hal pengobatan dia langsung tahu bahwa anak lelaki kecil itu sudah hampir mati.  Sedangkan gadis cantik yang tadi menggendongnya terluka dalam dan pingsan karena kelelahan. 

Buru-buru diambilnya sebuah botol kecil dari balik lemari dapurnya.  Dibukanya mulut Arya Dahana dan dipaksanya cairan obat itu masuk ke mulutnya dengan memencet hidungnya.  Wajah kecil pucat pasi itu perlahan-lahan berubah kehijauan, kemudian kemerahan, kemudian kehijauan lagi dan kemerahan lagi.  Ki Gerah Gendeng menghela nafas pendek dan menggeleng-gelengkan kepalanya. 

Siapa orang yang sanggup meracuni anak sekecil ini dengan racun sedahsyat ini?  Tapi dia juga terheran-heran anak kecil ini bisa bertahan dari rajanya racun dan pukulan api sehebat itu.  Dirabanya tulang dan perut anak itu dan matanya yang tua berbelalak!  Dua hawa yang saling bertentangan berputar-putar di perut dan dada anak ini!  Hawa panas dan dingin itu sedang berusaha menyatu di tubuh kecil ini.  Dia semakin tertarik setelah dilihatnya lengan kanan si bocah perlahan berubah semerah darah dan lengan kirinya memucat putih kehijauan.  Anak ini butuh sebuah latihan pernafasan yang luar biasa agar bisa menyempurnakan penyatuan dua hawa yang saling bertentangan tersebut.  Obat yang diberikannya sudah cukup agar pertempuran dua hawa murni itu tidak membunuh si bocah.

Ki Gerah Gendeng beralih kepada sosok satunya lagi.  Seorang gadis yang sangat cantik dengan baju yang compang camping tidak karuan.  Jangan-jangan gadis ini juga gila pikirnya.  Secantik dan semolek ini tapi bajunya tidak nggenah.  Ki Gerah Gendeng meraba pergelangan si gadis.  Badannya sangat panas tapi keringat yang keluar sangat dingin.  Orang tua aneh itu terperanjat.  Dia salah menduga dari awal.  Gadis ini juga terluka parah.  Diperhatikannya luka yang diderita si gadis tidak parah-parah amat, tapi kenapa akibatnya begini parah.  Beberapa memar di tubuhnya memang menimbulkan luka dalam tapi tidaklah parah. 

Dengan teliti diperiksanya sekujur tubuh si gadis.  Aaaaahhh ada sesuatu yang ganjil sepertinya.  Terdapat luka karena sabetan pedang agak lebar di atas lengan kirinya.  Luka yang sebetulnya tidak terlalu dalam namun darah yang mengering terlihat aneh dan berwarna kehijauan.  Ki Gerah Gendeng mendekatkan matanya pada darah kering tersebut, mencium baunya, kemudian mendadak teringat sesuatu.  Dia kembali kepada Arya Dahana yang masih tergeletak pingsan.  Di perhatikannya dengan seksama lengan kirinya yang masih menyisakan warna kehijauan.  Hijau yang sama! 

Ki Gerah Gendeng mengrenyitkan dahinya dan muncullah pengertiannya akan apa yang terjadi.  Dyah Puspita menderita luka dalam dan luar yang tidak terlalu parah.  Tapi luka terbuka di lengannya ternyata teracuni oleh racun yang mengendap di tubuh Arya Dahana pada saat dia menggendongnya.  Racun yang ganas! Ki Gerah Gendeng bergidik.

Dia lalu membuat ramuan dari biji dan daun-daun aneh yang entah darimana didapatnya.  Ditempelkannya pada luka-luka dalam yang diderita oleh Dyah Puspita.  Luka terbuka keracunan di lengan Dyah Puspita ditempelinya dengan sebuah batu giok berwarna bening.  Ajaib! Darah kering yang menempel dan luka yang berwarna kehijauan itu perlahan-lahan memudar dan berwarna normal.  Sedangkan batu giok itu berubah warna menjadi hijau gelap. 

Malam itu Ki Gerah Gendeng membuat perapian yang agak besar untuk menjaga kehangatan gua.  Malam memang sangat dingin sekali.  Pepohonan di sekitar gua bahkan ikut-ikutan menggigil menahan dingin.  Gua yang kecil gelap itu seperti menyimpan es satu gunung.  Mulutnya berusaha mengatup agar kedinginan itu abadi.  Sehingga tak perlu lagi meminta salju untuk mendatangi.

Arya Dahana masih pingsan.  Sedangkan Dyah Puspita sudah sadarkan diri namun sangat lemah.  Sehingga hanya sanggup duduk bersila sambil menghangatkan diri di dekat perapian.  Dia belum bisa berkata-kata.  Hanya matanya yang terlihat khawatir terus memandangi tubuh kecil yang meringkuk di dipan.  Mata Dyah Puspita meneteskan bulir-bulir air mata melihat dada kecil itu naik turun dengan teratur.  Hatinya lega tapi tetap was-was karena dilihatnya tubuh itu sama sekali tidak bergerak.  Ki Gerah Gendeng sendiri tak nampak batang hidungnya.  Sedari tadi sebelum Dyah Puspita siuman, dia sudah pergi meninggalkan gua. 

Dyah Puspita terkesiap melihat sekelebat bayangan besar bergoyang-goyang memasuki gua.  Seekor Harimau! Harimau berwarna putih! Dikumpulkannya segenap tenaga yang masih ada.  Digeserkan tubuhnya sekuat tenaga mendekati dipan untuk melindungi Arya Dahana.  Dalam keadaan normal, dia tidak akan takut sedikitpun pada binatang buas. Bahkan dia sanggup menghadapi sekawanan harimau dan mengalahkannya.  Tapi kondisinya sekarang sedang tidak berdaya.  Tetap, dia tidak akan menyerah.  Diraihnya apa saja yang ada di dekatnya untuk mempersenjatai diri.  Tidak ada apapun di sekitar situ yang bisa dijadikan senjata.  Dyah Puspita menetapkan hati.  Seekor binatang buas yang sudah kenyang pasti tidak akan mencari mangsa lainnya.  Dialah mangsa itu untuk menyelamatkan Arya Dahana. 

Harimau putih itu berjalan mendekat dengan langkah waspada. Geramannya rendah namun menggetarkan jantung siapapun yang mendengarnya. Matanya yang kehijauan terkena sinar api seperti menyala.  Dyah Puspita bergidik ngeri.  Harimau ini ternyata besar sekali.  Hampir dua kali ukuran harimau yang biasa dijumpainya.  Bulu dan surainya berwarna putih bersih tanpa ada sedikitpun warna lainnya.  Gigi taringnya yang besar-besar diperlihatkan seolah tersenyum mengejek kepada Dyah Puspita.

“Sima Lodra...mereka adalah tamuku.  Jangan ganggu.”  Sebuah suara mencegah harimau itu maju lebih jauh ke depan.  Sang harimau membalikkan langkahnya dan pelan-pelan menuju sudut gua kemudian meringkuk dengan santai di sana.  Masuklah Ki Gerah Gendeng dengan langkahnya yang gontai sambil membawa sebuah bungkusan daun. 

“Makanlah ini perempuan.  Ini akan memulihkan tenagamu dengan cepat.” Ki Gerah Gendeng berkata pendek sambil menyodorkan bungkusan daun itu kepada Dyah Puspita.  Tidak ada sedikitpun keramahan dalam suaranya. 

Dyah Puspita mengangguk sebagai tanda terimakasih.  Diraihnya bungkusan itu dan membukanya dengan cepat.  Perutnya memang keroncongan sejak tadi.  Matanya terbelalak lebar,

”I..i..ni ca...ca..cing Ki,” suaranya bergetar menahan jijik.

“Itu memang cacing.  Cacing dasar danau Ranu Kumbolo.  Makanlah.  Kalau kau tak suka, buanglah.  Aku jamin kau tidak akan pulih  sampai lebih dari satu purnama.” Ketus Ki Gerah Gendeng.  Dyah Puspita menatap makanan di hadapannya dengan perasaan campur aduk.  Ingin segera pulih, jijik, ingin muntah, menjadi satu dalam perasaannya.  Disingkirkannya rasa jijik dengan cepat.  Dia harus segera pulih.  Sudah terlalu lama dia meninggalkan ibukota dan pekerjaannya.  Selain itu, jika masih sakit, dia tidak akan bisa melindungi Arya Dahana dan memenuhi amanat yang diberikan Arya Prabu. 

Sambil memejamkan mata, diraihnya makanan aneh itu dan dimasukkannya dalam mulut cepat-cepat tanpa mengunyah.  Rasanya memang aneh dan anyir.  Tapi begitu masuk ke dalam perutnya, rasa hangat menjalar di sekujur tubuhnya.  Membuka aliran darahnya yang kacau balau akibat pertempuran dengan Lima Begal Garahan.  Dihabiskannya makanan aneh itu dengan cepat.  Setelah itu dia mulai bersamadi memulihkan diri.

Malam berlalu dengan cepat.  Pagi mengintip malu-malu di ujung timur.  Cahayanya yang redup kesulitan menerobos kabut tebal lereng Arjuna. Dyah Puspita membuka matanya.  Tenaganya sudah hampir pulih sepenuhnya. Cacing aneh itu benar-benar ajaib!  Dia mendekati dipan tempat Arya Dahana berbaring.  Alangkah kagetnya dia! Anak kecil itu tidak ada!  Matanya mengitari ruangan gua itu mencari-cari.  Kosong!  Dyah Puspita melompat cemas keluar gua dengan kecepatan kilat.  Hampir saja dirinya bertabrakan dengan sosok lain yang akan memasuki gua.  Harimau putih itu!  Dyah Puspita bersiaga penuh.  Tapi harimau itu tidak pada posisi mengancam atau hendak menyerang.  Binatang perkasa itu malah mengangsurkan sesuatu dari mulutnya kepada Dyah Puspita.  Sebuah gulungan daun lontar kering.  Dyah Puspita mengambilnya cepat-cepat.  Dibacanya surat itu dengan hati tercekat;

“Perempuan, aku bawa anak ini untuk proses pengobatan selanjutnya.  Dia hanya akan normal kembali jika bisa menyatukan hawa yang saling bertentangan dalam tubuhnya.  Jika tidak mendapatkan pengobatan yang utuh, maka jarak antara hidup dan matinya sangatlah tipis setiap harinya.  Kau boleh mencarinya ke sini setiap tahun.  Dan membawanya pergi jika dia sudah sembuh.  Aku akan selalu di sini pada purnama ke 1 setiap tahunnya.  Salam untuk ayahmu.”

Dyah Puspita tenggorokannya tercekat.  Matanya berkaca-kaca.  Dia merasa ada sesuatu yang hilang dari dirinya.  Dia tak tahu harus gembira atau bersedih.  Sejak kejadian di Alas Garahan, dia merasa hatinya begitu dekat dengan anak itu.  Anak sebatangkara yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.  Sambil menghela nafas panjang, dia berpaling ke harimau putih besar itu yang ternyata telah berlari menjauh menuju bawah gunung.  Diapun menggerakkan tubuhnya meninggalkan tempat itu menuju ibukota Majapahit.

*****