Now Loading

Ziarah ke Keramat di Fort Canning

Sesuai janji, dua hari setelah kencan singkat di Chinese Garden, saya kembali berkunjung ke Kandahar Street.  Saya naik MRT sampai Bugis lalu berjalan kaki.  Sekitar pukul 2 siang saya sudah masuk dan menunggu di salah satu meja resto yang kosong.

Auntie Hamidah juga sedang sedikit sibuk melayani pembeli yang sedang membayar.

“Tunggu sebentar Dek Asep, Laila sedang dandan dulu, sudah janjian yah?” Tanya Auntie Hamidah

Saya hanya mengangguk mengiyakan.

Sekitar delapan menit menunggu, baru Laila muncul menuruni tangga dari lantai dua dan langsung menyapa saya dengan manja.

“Abang sudah makan siang?”

Tanpa basa-basi Laila menyiapkan nasi dan lauk pauk seperti ikan dan rendang.

Lucunya Laila sendiri tidak ikut makan dan mengaku sudah makan sebelumnya.

Tidak lupa saya memuji penampilannya yang lumayan manis siang itu. 

Setelah makan Laila mengajak jalan keluar dan ketika saya bertanya kemana, dia hanya berkata:

“Kali ini Abang ikut saja ya!”,

Ketika sampai di North Bridge Road Laila memberhentikan taksi warna biru muda yang kebetulan lewat. Kami berdua langsung naik.

“Fort Canning, Uncle”, kata Laila kepada sopir taksi. 

Taksi segera melaju di keramaian kota Singapura, menuju ke barat di North Bridge Road, melewati St.Andrew Cathedral dan kemudian belok kanan di Coleman Street dan terus menanjak si Coleman Rise dan akhirnya berhenti di dekat kantor “Registry of Marriage”. 

“Wah Kita mau kawin nih?” Tanya saya ketika baru saja turun dari taksi dan melangkah masuk ke Fort Canning.

Laila langsung mencubit perut saya sambil tersenyum marah.

“Tidak, Laily mau ajak Abang ke kuburan”

“Mana ada kuburan di sini, ini Khan cuma taman yang luas dengan pepohonan kuno”, kata saya sok tahu. Sebenarnya saya sendiri belum pernah masuk ke kawasan Fort Canning ini.

“Baiklah, Abang diam dan ikuti saja Laila”.

Laila terus berjalan di jalan setapak di antara  pepohonan besar nan rindang. Fort Canning memang merupakan salah satu taman yang menjadi paru-paru kota Singapura.

Kami terus berjalan dan makin mendaki. Kontur tanah di sini memang sedikit berbukit dan tiba-tiba saja ada petunjuk jalan bertuliskan “Keramat”.

“Laila, ini keramat apa?” Tanya saya kemudian.  Tidak lama kemudian kami sampai ke sebuah bangunan berbentuk pendopo. Di dalamnya ada makam yang tampak tua.  Walau di siang hari suasana di sini cukup seram dan sakral. Apalagi tidak ada siapa-siapa sejak di sekitar sini kecuali saya dan Laila.

Laila hanya diam saja dan memberi isyarat kepada saya agar diam dengan meletakkan telunjuknya di mulut. 

Saya hanya ikut saja mendekati makam dan kemudian duduk bersimpuh. Mulut Laila berkomat-kamit seakan merapal doa atau Mantera.

Laila lalu membuka tas nya dan kemudian mengeluarkan kembang 7 macam yang rupanya sudah dipersiapkan dari Kandahar Street.

Sebagian kembang langsung ditabur di atas pusara dan sebagian lagi diserahkan ke saya agar saya juga ikut menabur.

Sekitar 7 menit Laila duduk bersimpuh sambil berdoa dan saya terpaksa ikut bersimpuh manis di sebelahnya. Kami bagaikan sepasang pengantin muda yang baru saja minta restu dan ziarah ke makam leluhur. Kata saya dalam hati.

Setelah  Laila selesai berdoa, dia kemudian bangkit berdiri dengan takzim dan kemudian memberi isyarat kepada saya agar ikut meninggalkan pusara. 

Setelah itu saya baru tahu bahwa ini adalah makam Sultan Iskandar Syah yang merupakan salah satu sultan yang memerintah Singapura pada abad ke 14.

“Menurut cerita ayah saya, ayah masih keturunan sultan Iskandar Syah ini”, kata Laila lagi.

Laila kemudian bercerita bahwa dia hanya menurut perintah ayahnya agar ziarah ke keramat ini. 

“Saya juga minta restu ke leluhur agar kita berdua bisa menjadi suami istri”, tambah Laila lagi sambil menggandeng tangan saya dan berjalan menuju ke tempat taksi berhenti tadi. Tidak jauh dari kantor pencatatan pernikahan.  

“Laila, tapi apa di Singapura orang Melayu juga dicatat pernikahan di kantor ini, atau ada Office khusus seperti KUA di Indonesia?”

“ Saya pun belum tahu,..... Apa itu KUA?” Laila menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.

“Nanti saja dijelaskan kalau kita mau menikah di Indonesia”, jawab saya . 

Laila makin kesal dan kembali mencubit perut saya. Kali ini jauh lebih sakit, tetapi saya selalu senang dicubit perempuan, apa lagi di perut.

Waktu menunjukkan sekitar pukul 4 sore dan Laila kembali menghentikan taksi.

“Cable Car di Harbour Front”, demikian kata Laila kepada sopir Taksi.

Di dalam taksi Laila menjelaskan bahwa sore ini ingin berdua saja menikmati wisata Pulau Sentosa dan kami akan menuju ke sana dengan naik Cable Car.

Sore hingga malam itu kami berdua menikmati kencan yang indah, berdua saja dan saya juga benar benar makin sayang kepada Laila.

Tiba-tiba saja saya ingat Muthia si Gadis Melaka. Apakah dia masih di Singapura, atau sudah pulang?  

“Saya tahu Abang masih memikirkan gadis lain yang baru abang kenal di Singapura sini”, tiba-tiba saji Laila merajuk.

“Tidak, hanya ada Laila di hati Abang”, kata saya lagi.

“Awas ya kalau main-main dengan perempuan lain, arwah leluhur Laila ikut mengawasi”, kata Laila setengah mengancam setengah tersenyum.

Hari sudah pukul 10 malam ketika saya mengantar Laila pulang ke apartemen di Ang Mo Kio, namun Laila meminta saya langsung pulang dengan taksi yang sama karena tahu esok harus tugas pagi.

Sehari yang penuh dengan kejutan. Dari Keramat di Fort Canning hingga Pulau Sentosa.

Bersambung