Now Loading

Bab 29

British Airways
Doha-London


Masih 1 jam lagi. Cecilia mencondongkan tubuhnya ke Akiko yang sedang tekun berkomunikasi dengan Cathy.

"Akiko, bagaimana rasanya membunuh?”

Akiko mengangkat mukanya dengan pandangan heran.

"Tentu biasa saja Cecilia. Kau membunuh pasti punya alasan yang sama kuat dengan keinginan untuk hidup. Prinsip membunuh paling tepat adalah prinsip di dunia predator. Membunuh hanya karena ingin bertahan hidup. Bukan untuk bersenang-senang atau karena tidak senang.”

Cecilia tertegun. Dokter dari Jepang ini punya prinsip hidup yang menurutnya sedikit menyimpang dari orang kebanyakan.

"Darimana kau belajar semua? Termasuk kemampuan bela diri yang menakjubkan itu?”

Akiko menghela nafas. Melihat ke kanan kiri sebentar. Tersenyum tipis lalu tanpa merasa risih membuka sedikit baju bagian belakangnya yang longgar. Memperlihatkan bahu dan punggungnya.

Cecilia terbelalak. Bahu dan punggung Akiko penuh dengan tato menyambung bergambar pedang samurai yang dililit kalajengking. Tato menakjubkan dan mengerikan untuk dipunyai seorang perempuan segemulai Akiko.

"Yakuza….”terdengar desis lirih di belakang Akiko. Andalas memandang sekilas lalu memalingkan wajah.

Akiko berdehem pendek. Dia memberi isyarat dengan kedipan mata kepada Cecilia. Ini saatnya mengorek informasi tentang Andalas.

Cecilia mengerti maksud Akiko. Dia membalikkan tubuh dan menatap tajam mata Andalas.

"Andalas, kau adalah seorang penyintas. Kau tidak terinfeksi bakteri BA meskipun nyata-nyata kau tertular. Apakah kau punya sebuah rahasia yang bisa kau ceritakan kepadaku? Ini sangat penting artinya bagi kelangsungan hidup manusia lainnya.”

Andalas enggan membalas tatapan Cecilia. Lelaki itu tetap menunduk namun matanya secara berkala mengerling kesana kemari. Waspada.

"Aku tidak tahu dari sisi medis dokter. Hanya saja sesaat setelah Leopard itu melukaiku, aku merasakan hawa panas dan dingin yang menyakitkan berbarengan menyerang tubuhku. Aku hanya berusaha menahannya seperti dulu saat aku nyaris mati beberapa kali oleh serangan Malaria.”

Cecilia semakin tertarik. Menunggu kelanjutan cerita Andalas. Ini adalah bagian penting yang tidak boleh terlewatkan.

"Semasa kecil dulu aku sering ikut tinggal di pinggiran hutan bersama ayahku. Kami berladang di sebuah pedalaman dekat hutan Bukit Barisan di Sumatera. Aku terserang penyakit Malaria Tropika. Ayahku hanya memberiku ramuan daun-daunan dan akar-akaran yang semuanya luar biasa pahit sesuai ajaran turun temurun keluarga kami. Ladang kami sangat jauh dari fasilitas rumah sakit.”

Andalas menjeda ceritanya sejenak. Matanya menatap tajam 2 orang calon penumpang baru datang yang mengambil tempat duduk cukup jauh dari mereka.

"Beberapa kali aku kambuh dan nyaris mati. Yang paling kuingat adalah aku kambuh dengan kondisi sangat parah justru ketika aku sedang berada di sekolah. Aku masih SD saat itu.”

Andalas berhenti lagi. Berdiri dan menggeliatkan tubuhnya lalu pura-pura sedang merasa pegal dan ingin berjalan-jalan. Mata Cecilia dan Akiko mengekori langkah-langkah perlahan Andalas memutari ruang tunggu yang cukup ramai itu.

Setelah berjalan dari sudut ke sudut, Andalas kembali ke tempat duduknya. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Padahal Cecilia dan Akiko sangat penasaran ingin tahu apa yang telah membuatnya curiga.

"Kebetulan waktu itu ada penyuluhan yang dilakukan petugas WHO ke sekolah kami. Malaria sedang menjadi epidemi di negeriku sehingga WHO merasa mempunyai kewajiban untuk melakukan penyuluhan tentang pentingnya pencegahan. Setelah salah satu petugas WHO yang seorang dokter memeriksaku, aku dibawa ke Jakarta karena mereka pikir aku dalam kondisi yang kritis dan berbahaya. Ternyata berbahaya dalam kategori WHO adalah karena aku bukan sakit malaria biasa.”

Andalas kembali mengedarkan pandangannya ke beberapa titik. Lalu melanjutkan.

"Aku diidentifikasi tertulari unknown virus dari hutan primer yang baru saja dibuka. Dan itu sangat menular. Waktu itu aku masih kecil jadi kurang paham dengan apa yang aku dengar. Tapi setelah melihat apa yang terjadi di sini, mungkin mirip dengan itu.”

Cecilia manggut-manggut. Rasional dan masuk akal. Andalas pernah terkena patogen dari hutan tropis. Peluangnya untuk imun pada AB sangat besar.

"Saat nyaris mati itulah aku diselamatkan oleh ayah angkatku. Adli Aslan. Dialah petugas WHO yang bertugas di Jakarta saat itu.”

Akiko semakin penasaran. Tapi dia terpaksa menunda pertanyaan karena Andalas berdiri lalu dengan agak terburu-buru pergi. Penerbangan akan boarding setengah jam lagi.

Terdengar kegaduhan sesaat ketika beberapa petugas keamanan bandara datang ke ruang tunggu dan menyergap seorang laki-laki muda berkebangsaan Arab yang baru saja masuk sambil menenteng tas besar.

Pemuda itu berusaha melarikan diri namun petugas berhasil meringkusnya. Pemuda itu digelandang beberapa petugas dan dibawa pergi dari ruang tunggu. Andalas tiba-tiba muncul lagi.

"Pemuda yang diringkus tadi adalah salah satu anak buah kepercayaan Sang Eksekutor. Aku melaporkan kepada petugas bahwa dia membawa senjata dan narkoba.”

"Benarkah dia membawa senjata dan narkoba?” Akiko bertanya.

"Senjata yang tidak terbuat dari metal sudah pasti iya. Tapi narkoba aku tidak tahu,”Andalas menjawab ringkas.

"Lalu bagaimana dengan keluargamu saat kau dibawa ke Jakarta dan dirawat oleh Dokter Adli Aslan? Apakah mereka tidak keberatan?”Akiko mencoba mengurai rasa penasarannya yang tadi tertunda.

"Saat aku dibawa ke Jakarta, seluruh keluargaku ternyata sudah meninggal dunia semua. Bahkan satu kampung kami nyaris habis tewas terkena wabah yang sama.”

Cecilia dan Akiko bengong. Perjalanan hidup orang Melayu ini ternyata cukup mengenaskan. Mereka tidak ingin bertanya apa-apa lagi. Sudah cukup untuk saat ini.

Apalagi pengumuman boarding membuat mereka harus segera bersiap-siap. Orang-orang sudah mulai berdiri. Andalas menggamit lengan Akiko.

"Kita boarding belakangan. Pakai ini. Perhatikan orang-orang yang aku tembak dengan laser pointer ini. Ingat postur dan wajah mereka kalau memungkinkan.”Andalas menyerahkan sebuah kacamata biasa berwarna hitam kepada Akiko.

Sebelum mengenakan kacamata itu, Akiko berbisik tanpa melihat Andalas.

"Bukankah orang-orang akan curiga saat kau menembak mereka dengan laser pointer?”

Baru kali ini Akiko melihat Andalas tersenyum. Sangat tipis.

"Ini laser pointer khusus yang tidak memancarkan cahaya apa-apa bila dilihat dengan mata telanjang. Hanya dengan kacamata itu kau bisa melihatnya.”Akiko mengangguk paham. Dikenakannya kacamata yang cukup keren itu.

Seorang pria yang sangat necis, wanita umur tiga puluhan yang sibuk dengan barang bawaannya, pemuda bertopi dan berkacamata hitam, wanita yang mengenakan pakaian dan perhiasan mahal dari brand terkenal, seorang pria paruh baya bermata sangat sipit, dan lelaki gondrong yang manggut-manggut mendengarkan musik dari headphone besar yang menutupi telinganya.

Akiko mencatat ciri-ciri orang-orang itu dalam hati. Mereka tentu adalah orang-orang yang sangat berbahaya. Dia percaya sepenuhnya kepada Andalas sekarang. Akiko hendak melepas kacamatanya.

"Tunggu! Ada 2 lagi!”

Akiko terperanjat. Titik laser Andalas menyorot punggung 2 orang pramugari yang menyeret tasnya dengan tergesa-gesa. Sepertinya mereka terlambat datang ke tempat tugas.

* * *********