Now Loading

Dua Gadis di Kereta Api Tanah Melayu

Saya dan Eko akhirnya pamit juga dari Kandahar Street meninggalkan Bang Zai dan Auntie Hamidah. Alasannya ingin istirahat di hotel dan jalan-jalan.

Kami berdua meninggalkan Kandahar Street langsung belok ke Muscat Street dan kemudian Arab Street.  Di dekat Sultan Mosque, tiba-tiba saja Eko mempunyai usul untuk jalan-jalan ke Johor Bahru.

“:Azwar, Saya kebetulan belum pernah ke Malaysia. Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke Johor Bahru dan nanti malam kembali ke Singapura. Kebetulan tadi bawa paspor khan?”

“Ya Kebetulan tadi bawa”, Kata Saya dan setuju saja untuk jalan-jalan.

“Kamu tahu dari mana bisa naik bus ke Johor?, Saya pernah dengan ada terminal dekat Queen Street sini”, kata Eko.

“Saya pernah ke Johor dua tahun lalu. Kita bisa naik dari Bansan Bus Terminal, Kalau tidak week end gak terlalu ramai” , jawab saya.

Kemudian kami berdua terus menyusuri Arab Street menyeberang North Bridge Road dan Victoria Street hingga sampai ke persimpangan Queen Street dan sampai di terminal bus ke Johor. Di sini banyak yang menjual kartu imigrasi Malaysia seharga 10 Sen dan saya membeli dua lembar.

“Ini untuk kita isi sehingga nanti lebih cepat mengantre di imigrasi Malaysia”

Tidak berapa lama bus pun berjalan dan dalam waktu sekitar 45 menit kita sudah menyeberang causeway dan masuk ke Johor Bahru.

Sampai di Johor Bahru, kami segera mencari money changer untuk menukar uang Ringgit Malaysia. Nilai tukarnya sekitar 1,6 Ringgit untuk setiap Dollar Singapura. Kemudian kami berdua hanya berjalan-jalan saja di sekitar pertokoan. Kami sempat melihat ada bioskop dan mencari makan sore menjelang malam. Yang jelas harga makanan di Johor jauh lebih murah dibandingkan di Singapura.

Selesai makan kami terus berjalan dan sempat mampir ke sebuah toko buku di sudut jalan. Secara tidak sengaja Eko menemukan buku Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer yaitu Bumi Manusia, Anak Segala Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Harganya hanya sekitar 10- 15 Ringgit sehingga akhirnya Eko membeli semua buku itu.

“Eko, buku itu khan dilarang di Indonesia?”

“Karena itu saya mau baca”, Jawab Eko lagi sambil menyerahkan buku itu ke kasir dan kemudian membayarnya.

"Sepertinya cukup jalan-jalan di Johor Bahru, yuk kita balik ke Singapura"  kata saya.

Saya dan Eko berjalan kembali menuju terminal dan secara tidak sengaja melihat petunjuk arah menuju stasiun KTM.

“Bagaimana kalau kita kembali ke Singapura naik kereta  api saja, Ini KTM atau Kereta Api Tanah Melayu dan nanti akan sampai di stasiun Tanjong Pagar di Singapura”, kata saya.

Kami berdua segera masuk ke stasiun dan mengecek jadwal keberangkatan ke Singapura. Ternyata ada kereta ke Singapura dalam waktu 45 menit lagi. Kami segera membeli tiket yang harganya hanya 1 Ringgit seorang. Dan setelah itu masuk ke ruang tunggu.

Di dalam ruang tunggu ini ketika kami sedang melihat-lihat suasana stasiun tiba-tiba melihat dua orang gadis yang juga ingin ke Singapura.

“Eko, lihat dua orang gadis itu!”, Kata saya kepada Eko

Eko langsung saja mendekati keduanya dan menegur mereka. Namun saya perhatikan bahwa dua gadis itu sempat menggelengkan kepala dan kemudian menjauh.

Eko kemudian kembali ke saya dan berkata:

“Mereka bukan Irma dan Noor, Hanya mirip saja”.

Tidak lama kemudian, kereta pun datang dan kami segera naik ke kereta. Kereta tidak terlalu ramai kami berdua segera duduk di kursi.

Baru saja duduk sekitar semenit, tiba-tiba saja dua gadis tadi duduk di kursi tepat di hadapan kami.

Rupanya sudah jodoh sehingga ketemu lagi, kata saya dalam hati.

“Akhirnya dalam perjalanan di kereta api tanah melayu dari Johor Bahru ke Tanjong Pagar itu, saya dan Eko bisa berkenalan dengan dua gadis yang mirip dengan Irma dan Noor itu. Namanya Mar dan Siti. Ternyata mereka berdua habis jalan-jalan saja di Johor dan tinggal di Ang Mo Kio.

Sesampai di Tanjong Pagar, Saya dan Eko naik bus no. 145 menuju kembali ke hotel sementara kami kehilangan jejak dengan dua gadis itu sewaktu antrean di imigrasi.

Hari sudah malam ketika kami kembali ke hotel.

Di kamar sambil berbaring, saya hanya berpikir mengapa begitu banyak kebetulan sehingga bisa ada dua orang yang sangat mirip dengan dua orang lain seperti kasus Irma dan Noor dan dua gadis yang menemani kami dalam Kereta Api Tanah Melayu menuju Tanjong Pagar.

Bersambung