Now Loading

Bab 28

British Airways
Johannesburg-Doha


Kecepatan gerak Andalas menyelamatkan Cecilia. Senjata itu belum sempat meletus karena Andalas berhasil menjatuhkan si penembak yang berdiri sebelum menarik pelatuknya.

Namun Andalas ikut terjatuh dan kakinya tersangkut pada pijakan kaki di kursi. Penembak itu kembali berdiri dan mengacungkan senjatanya ke arah Cecilia yang cuma berdiri terpaku.

Sebelum jarinya menarik pelatuk, tubuh penembak itu sejenak menegang lalu terjatuh meregang nyawa dengan Kaiken menancap dalam di dahinya. Akiko memeluk Cecilia dan menenangkannya. Pemandangan orang mati dengan dahi tertancap pisau bukanlah sebuah pemandangan indah yang akan mudah dilupakan.

Andalas bertindak cepat. Kegaduhan ini akan memancing kedatangan pramugari. Dengan cepat dicabutnya pisau kecil yang luar biasa tajam secara hati-hati agar darah tidak mengucur deras, lalu dibaringkannya sosok kaku itu ke kursi dan ditutupinya selimut sehingga terlihat seperti sedang tertidur. Kursi kelas utama mempunyai partisi sehingga cukup aman dan tak terlihat kalau penumpang itu telah menjadi mayat.

Sebelum meninggalkan mayat itu, Andalas nampak memeriksa beberapa bagian tubuhnya terlebih dahulu.

Akiko mengeluarkan X-One.

Dokter Adli, ada yang hendak mencoba membunuh Cecilia di pesawat. Pelaku mati. Bisakah ada yang mengurusnya saat pesawat ini transit di Doha?

Tentu Akiko. Usahakan jangan ada kegaduhan dulu di pesawat.

Baik Dokter. Any idea siapa kira-kira yang berniat buruk ini?

Aku belum tahu untuk saat ini. Biarkan Andalas yang mengurusnya.


Akiko memperlihatkan layar X-One miliknya ke Cecilia yang terduduk lemas di kursi. Cecilia mengangguk. Mereka berdua memperhatikan Andalas mendatangi lalu berbisik pelan.

"Aku sudah curiga semenjak boarding di pesawat ini bahwa ada yang sedang memata-matai kita. 1 penumpang yang tewas itu. 3 orang di kabin kelas bisnis. Kemudian 3 orang di kabin ekonomi. Aku mengenali yang telah tewas ini sebagai hit man dari Italia. Mungkin dia suruhan Sang Eksekutor.”

Andalas berhenti sejenak untuk mengawasi lorong di belakang mereka. Tidak ada tanda pergerakan. Masih aman. Pesawat jumbo ini juga sedang sedikit terguncang terkena turbulensi ringan.

"6 orang di kabin belakang tidak dalam 1 kubu. Sepertinya masing-masing mengutus 2 orang untuk sekedar memata-matai atau bahkan punya niat membunuh.”

Akiko memandang Andalas penuh selidik,"3 pihak? Siapa saja?”

"Aku hanya sekedar menduga. DGSE, GRU, dan yang satu lagi aku tidak yakin. Bisa jadi kawan dari yang tewas ini atau agensi lain dari kawasan Asia.”

"Asia? China, Jepang? Kau yakin? Atas dasar apa?” Kembali Akiko memberondong dengan pertanyaan. Diam-diam wanita ini kagum pada mata awas Andalas. Untung aku tadi tidak jadi menusuk matanya.

"Sepertinya China atau Korea atau bahkan Jepang. Aku kesulitan membedakan mereka,”Andalas mengangguk lalu berjalan pergi. Ke belakang lagi.

Akiko dan Cecilia saling pandang. Kekacauan ini semakin rumit saja. Seorang pramugari datang dan menawari mereka minuman. Cecilia meraih wine dan menenggaknya sekaligus. Akiko menggelengkan kepala. Dia malah menudingkan telunjuknya ke kompartemen ujung dan berbicara dengan pramugari.

"Tolong jangan diganggu penumpang yang sedang tidur itu. Dia tadi menitipkan pesan kepadaku bahwa dia sedang tidak enak badan. Aku seorang dokter dan aku sudah memeriksanya. Dia sepertinya mengidap suatu penyakit menular. Beritahu temanmu yang lain ya? Aku sudah menghubungi pihak karantina di Doha untuk menjemputnya turun nanti saat kita transit di sana.”

Pramugari itu menunjukkan raut muka terkejut. Lalu mengangguk paham.

Andalas sudah kembali.

"Aku akan pindah duduk di belakang kalian,”ujarnya pendek sambil memberi isyarat bahwa mungkin akan ada pergerakan dari belakang.

Cecilia mengangguk. Kejadian di pesawat ini selain membuatnya shock karena kembali mereka menjumpai kematian, tapi juga sekaligus membuatnya luar biasa senang. Ada penyintas selain Fabumi.

Tapi mereka juga sedang terancam. Dugaan yang disampaikan Andalas tadi selain mengerikan juga banyak menimbulkan pertanyaan di benak Cecilia.

Dia tidak paham dengan yang disebut Andalas sebagai Sang Eksekutor. Tapi dia bisa mengaitkan GRU dengan Ivan dan DGSE dengan Marc. Lalu 1 pihak lagi yang dari Asia?

Cecilia menggaruk hidungnya yang tidak gatal. Kenapa bom waktu berupa wabah ini sangat menarik perhatian begitu banyak orang?

Berdasarkan penyelidikan yang sudah dilakukan oleh Dokter Adli Aslan dan ini sudah disampaikan melalui X-One beberapa hari yang lalu, Marc diduga memiliki hubungan dekat dengan bos raksasa farmasi dari Perancis bernama Pierre. Cathy berhasil melacak pertemuan mereka di Paris berkat kecanggihan peralatan barunya yang terhubung langsung dengan satelit yang bisa memonitor kejadian di bumi secara time series.

Cathy juga berhasil melacak jejak terakhir Fabumi dengan menyadap pembicaraan beberapa tokoh penting DGSE yang sedang mengadakan rapat tertutup di markas mereka. DGSE menduga Fabumi disembunyikan GRU di sebuah tempat rahasia di pinggiran kota Moscow.

Cecilia menghentikan skenario kalang kabut di kepalanya saat terdengar pengumuman dari pramugari bahwa mereka sedang mendekati Qatar dan tak lama lagi akan mendarat di Doha untuk transit dan pengisian bahan bakar. Tanpa sadar Cecilia menoleh ke kompartemen penumpang yang hampir membunuhnya dan sekarang telah menjadi mayat.

Pesawat mendarat dengan mulus di Doha International Airport. Semua penumpang dipersilahkan turun. Penerbangan akan transit selama 3 jam. Andalas, Cecilia dan Akiko turun dari pesawat melalui garbarata khusus penumpang kelas utama. Sampai sejauh ini masih aman.

Di ruang tunggu, Andalas berbicara dengan Akiko dan Cecilia. Wajahnya nampak sangat serius saat berkata bahwa perjalanan lanjutan dari Doha ke London sebagai tempat transit berikutnya akan sangat berbahaya.

Bisa jadi pihak yang mengincar kematian mereka, terutama Sang Eksekutor, menambah lagi pasukan pembunuhnya di pesawat nanti.

Mereka sedang berhadapan dengan Organisasi yang mempunyai kekuatan sumberdaya tak terbatas.

Akiko meraba gagang Kaikennya. Seandainya dia diperbolehkan memegang Katana.

* * ********