Now Loading

Bab IV

Raja yang baik adalah rajanya hati
Tak pernah mau lari meski badai menghampiri
Tak pernah mengelak meski kemarau menghentak
Tak sudi berserah pasrah meski raga terkulai lelah
Raja sebuah kerajaan       
Adalah rajanya jiwa yang kadang terlunta-lunta
Lebih sering relakan lumbung padinya
Untuk memberi makan rakyatnya meski laparnya harus tertunda

Bab IV

1254 Saka.  Kerajaan Galuh Pakuan adalah kerajaan di tlatah Sunda yang gemah ripah makmur sejahtera.  Hasil bumi berlimpah ruah.  Sawah tidak pernah kekeringan dengan panen yang teratur.  Ternak beranak pinak dengan cepat.  Penduduknya terdidik dengan baik.  Padepokan dan perguruan menjamur subur.  Jalan jalan di kota begitu lebar dan bersih.  Sedangkan akses menuju desa desa juga bagus.  Pada saat itu kerajaan Galuh Pakuan dipimpin oleh seorang raja yang baik, Raja Linggabuana.  Sang Raja memimpin dengan arif dan bijaksana.  Selalu memperhatikan apa yang menjadi keluhan rakyatnya.  Sering turun ke pasar-pasar, desa-desa untuk mengetahui apa saja permasalahan paling terkini dari rakyatnya.  Sang Raja mempunyai seorang putri dari permaisuri dan beberapa putra dan putri dari selir-selirnya.  Putri Dyah Pitaloka adalah putri satu-satunya dari Permaisuri.  Sedangkan dari sekian banyak selir yang ada, terlahir empat putra dan 2 putri.  Pangeran Bunga yang merupakan anak dari selirnya yang kedua adalah anak yang sangat disayangi Sang Raja.  Mungkin karena bakatnya yang hebat di bidang sastra membuat Sang Raja menjadi bangga karenanya. 

Raja Linggabuana adalah raja yang cinta damai.  Perang adalah cara paling terakhir yang akan dilakukannya untuk mempertahankan kerajaannya.  Oleh sebab itu, sejak sang raja dinobatkan lima belas tahun yang lampau.  Beliau langsung mengirimkan utusan ke Majapahit untuk menyatakan niat baik dan mengirimkan upeti-upeti yang indah kepada Sang Raja Majapahit.  Mahapatih Gajah Mada yang merupakan penentu kebijakan perang di Majapahit juga sangat menghargai dan menghormati kerajaan Galuh Pakuan, karena sang Mahapatih tahu bahwa Kerajaaan Galuh Pakuan bukanlah merupakan ancaman.  Bahkan bisa menjadi sekutu yang cukup kuat jika kelak ada serangan musuh dari arah barat.

Raja Linggabuana mempunyai orang kepercayaan yang cerdik dan berwawasan jauh ke depan,  Panglima Candraloka.  Sang Panglima tahu dan sadar bahwa perdamaian dengan Majapahit mungkin sewaktu-waktu bisa berubah menjadi sebuah perang.  Oleh karena itu, diam-diam sang panglima menyusun kekuatan.  Tapi tidak dengan cara menambah pasukan.  Namun membentuk sebuah pasukan khusus yang diambil dari orang-orang sakti dan berilmu tinggi di kalangan dunia persilatan.  Pasukan khusus ini diberi nama Garda Kujang dan dipimpin oleh Ki Mandara, seorang tokoh sakti luar biasa yang terkenal dengan sebutan Iblis Tua Galunggung.  Tokoh sakti aliran putih yang sebenarnya masih seperguruan dengan Aswangga, salah satu dedengkot dunia hitam di tanah Jawa. 

Puluhan tahun lalu, keduanya berguru kepada tokoh misterius yang jarang sekali muncul di dunia persilatan, Si Bungkuk Misteri.  Saking misteriusnya, kedua tokoh yang menjadi muridnya inipun bahkan tidak pernah bertatap muka dengan sang guru.  Mereka diajarkan ilmu-ilmu hebat dengan cara mempelajari kitab-kitab kuno.  Setiap sebulan sekali, sang guru datang ke padepokan di lereng Merbabu untuk melihat kemajuan murid muridnya dan mengajarkan bagaimana cara mempelajari kitab-kitab tersebut hanya melalui suara, tanpa pernah menampakkan wujudnya!

Di bawah pimpinan Ki Mandara, Garda Kujang menjadi kekuatan rahasia yang sangat disegani di kalangan dunia persilatan.   Tingkat kejahatan di kerajaan Linggabuana nyaris nol.  Karena Garda Kujang tidak akan segan-segan menggantung para penjahat kelas berat di gerbang kota.  Bagian lebih elit lagi dari Garda Kujang adalah pengawal Raja dan keluarga kerajaan.  Nama sandi dari pasukan elit ini adalah Garda Kujang Emas.  Kujang Emas dipimpin oleh anggota keluarga kerajaan yaitu putera Raja Linggabuana dari selir pertama sekaligus anak angkat Ki Mandara yang bernama Andika Sinatria.  Seorang pemuda sakti berusia dua puluhan tahun yang digembleng sendiri bertahun-tahun oleh Ki Mandara. 

Pagi itu, langit benar-benar penuh warna biru. Tak ada setitikpun gumpalan awan terlihat.  Matahari menyengat kulit tanpa pandang bulu.   Ibukota kerajaan Galuh Pakuan ramai oleh lalu-lalang orang.  Hilir mudik kereta kuda para pedagang kain dan kulit membuat gaduh jalanan.  Alun-alun kota dipenuhi oleh para penjual makanan.  Anak-anak kecil berlarian kesana kemari.  Para orang tua sibuk belanja kebutuhan sehari-hari. 

Sesosok tubuh langsing namun padat berisi ikut membaur di kegaduhan itu.  Wajahnya yang cantik jelita terlihat ceria.  Usianya mungkin baru sekitar lima belas tahun.  Namun rasa percaya diri yang terpancar dari gerakan tubuhnya, melebihi umurnya yang masih muda.  Dewi Mulia Ratri setelah sepuluh tahun berlalu, benar-benar berubah menjadi seorang yang selalu menarik perhatian orang di sekelilingnya.  Hasil gemblengan sang ayah dan Ki Biantara tidak sia-sia.  Selain memperoleh ilmu kanuragan yang sakti, dia juga mendapatkan pelajaran luar biasa dari ilmu kesukaannya, yaitu ilmu sihir putih tingkat tinggi.  Sikap jahilnya masih tetap ada.  Sehingga hubungannya dengan Pangeran Bunga, yang adalah saudara seperguruannya semakin memburuk.  Pangeran Bunga bahkan nampak sangat membencinya.  Dia tidak mau menegur sapa meskipun setiap hari bertemu di tempat latihan.

Hari itu Dewi Mulia Ratri mendapatkan tugas dari ayahnya untuk mengantarkan surat dari padepokan Sanggabuana ke Ibukota Kerajaan.  Surat itu harus disampaikan langsung ke tangan Panglima Candraloka.  Pendekar Sanggabuana tidak bisa mempercayai orang lain untuk mengantar surat sepenting itu selain putrinya.  Dewi Mulia Ratri sudah sanggup menjaga dirinya sendiri.  Tingkat kesaktiannya sudah sangat mumpuni.  Pernah suatu ketika, saat Dewi Mulia Ratri masih berusia sekitar tiga belas tahun, Padepokan Sanggabuana mengadakan uji tanding dengan seluruh padepokan di lingkungan Kerajaan Galuh Pakuan.  Tidak ada satupun utusan dari dua puluh padepokan yang bisa menandingi kecakapannya bertempur!  Meskipun lawan yang dihadapinya rata-rata jauh lebih tua sepuluh tahun darinya. 

Dewi Mulia Ratri menghentikan langkahnya.  Pintu gerbang istana sebenarnya sudah tak jauh dari hadapannya.  Namun dia tertarik melihat sebuah kerumunan di ujung alun-alun itu.  Dia menyelinap di antara orang-orang yang berdesakan, ingin tahu apa yang terjadi. Ada sebuah panggung terbuka cukup besar di sana.  Sepertinya sebuah gelanggang untuk beradu tanding ilmu kanuragan.  Di belakang panggung terdapat deretan tempat duduk yang sepertinya untuk orang-orang penting dari istana. 

“Ayo...ayo...pasang taruhanmu....siapa yang bisa bertahan melawan Pangeran Andika Sinatria selama lebih dari lima jurus akan dijadikan calon pengawal istana...!”

“Daftar di sini...di hulubalang istana...”

“Cepat...cepat...ujian akan segera dimulai!”

“Yang sudah daftar harap berbaris di sebelah kiri panggung...”

Dewi Mulia Ratri semakin tertarik.  Matanya berbinar-binar cerah.  Pengalamannya turun gunung padepokan tidak akan sia-sia hari ini.  Sebelum menyerahkan surat itu, dia akan menonton dulu acara ini hingga puas.  Tunggu dulu, kenapa cuma menonton?  Dia segera bergeser ke tempat pendaftaran.

“Dewi Mulia Ratri...Padepokan Sanggabuana...urutan ke berapa?”

Hulubalang pendaftaran mengangkat mukanya.  Dahinya berkerut penuh tanya,”Neng, ini pertandingan serius yang bisa menyebabkan luka sungguhan.  Jangan main-main...”

Dewi Mulia Ratri mencengkeram ujung meja sambil mendelik ke arah hulubalang. Diremasnya ujung meja yang terbuat dari kayu jati sekeras marmer itu. Hulubalang itu membelalakkan matanya ketakutan,”baiklah baiklah...Dewi Mulia...urutan ke 25.”  Dewi Mulia Ratri menyunggingkan senyum simpul dan berlalu sambil meniupkan serpihan kayu itu ke arah hulubalang.  Meja itu sekarang tidak lagi berbentuk bulat sempurna.  Salah satu ujungnya hancur selebar seperdelapan meja. 

Peserta pertama yang dipanggil segera melompat ke atas panggung.  Seorang pemuda kekar brewokan tinggi besar.  Dewi Mulia Ratri bengong tak berkedip ketika dilihatnya seorang pemuda tinggi gagah berusia dua puluhan juga ikut melompat ke atas panggung dari deretan kursi belakang.  Jadi inilah Pangeran Andika Sinatria yang terkenal itu. 

Tampan bukan main!  Jantungnya tanpa dapat dicegah dag dig dug tidak karuan melihat penampakan si pemuda.  Pipinya memerah jengah ketika menyadari dia semakin maju ke dekat panggung.  Perhatiannya teralihkan saat uji tanding dimulai.  Pemuda kekar brewok itu mengayunkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi.  Angin bersiutan saking kuatnya tenaga yang dikerahkan.  Andika Sinatria terlihat tenang menghadapi.  Dia tidak berusaha menangkis pukulan dan tendangan kuat itu.  Tubuhnya hanya bergeser ringan ke kanan dan ke kiri.  Semua pukulan itu luput tepat sebelum mengenainya.  Inilah yang disebut Lampah Dangdaunan.  Jurus kuno yang diajarkan oleh Ki Mandara. 

Dua jurus telah berlalu. Si pemuda brewok semakin ganas melancarkan pukulan demi pukulan.  Semakin ringan pula Andika Sinatria melayaninya.  Begitu memasuki jurus ketiga, saat sebuah tendangan ke ulu hati dilepaskan oleh pemuda brewok itu, Andika Sinatria tidak lagi menghindar.  Jari tangan kanannya disentilkan ke arah pergelangan kaki sang lawan.  Terdengar bunyi keras ketika si pemuda brewok jatuh berdebam di panggung.  Mencoba bangkit berdiri namun tidak bisa tegak lagi karena kaki kanannya bengkak hebat.  Sambil membungkuk mengakui kekalahannya pemuda brewok itu terpincang pincang turun dari panggung.

Berturut-turut kemudian naik ke atas panggung sepuluh orang peserta.  Dan semuanya tidak ada yang sanggup melewati dua jurus melawan Andika Sinatria.  Baru orang ke sebelas lah yang sanggup melayani adu tanding sampai jurus ke empat.  Tapi tetap saja, memasuki jurus kelima, orang ini bahkan terlempar keluar panggung setelah menerima dorongan Lampah Dangdaunan di pundaknya.  Dewi Mulia Ratri semakin bertambah kekagumannya terhadap pangeran ganteng ini.  Sekaligus juga penasaran untuk beradu ilmu dengannya. 

Belum ada satupun peserta yang sanggup lolos melawan pangeran tampan itu hingga melewati jurus ke lima.  Wajah-wajah bangga namun kecewa tampak di barisan bangku belakang panggung.  Seorang lelaki gagah dengan baju panglima yang mentereng terlihat menghela nafas berkali-kali.  Dia berbisik-bisik dengan seorang tua berambut dan berjanggut putih,”Paman Mandara, jika kualitas orang-orang ini hanya seperti yang kita saksikan tadi, sulit bagi kita untuk memperkuat Kujang Emas.”

Yang disebut Mandara balik berbisik,”Tunggulah Candraloka, aku melihat ada beberapa orang yang akan sanggup menandingi Andika Sinatria.” Matanya beredar di sekeliling para penonton dan peserta dengan yakin.

Adu tanding ke dua puluh empat.  Kali ini yang maju adalah seorang tua berbaju compang-camping.  Seorang tokoh lama yang dijuluki Raja Pengemis Bertongkat Perak.  Pangeran muda itu tidak terlihat kelelahan sama sekali.  Dia melayani raja pengemis itu dengan tenang.  Gerakannya kini berubah tidak lagi bertahan.  Namun menyerang dengan dahsyat.  Tubuhnya yang kuat melompat kesana kemari dengan garang seperti harimau kelaparan dan sedang berburu mangsa.  Kali ini bukan jurus Lampah Dangdaunan, tapi jurus khas kuno dunia Sunda.  Lengkah Maung Kalaparan.  Raja Pengemis benar-benar kerepotan menghadapi jurus menyerang yang ampuh bukan main itu.  Pada langkah ke lima belas jurus ke empat, tongkat peraknya terpelanting setelah lengan kanannya terkena cakaran Andika Sinatria.  Selanjutnya bisa ditebak, giliran tubuhnya yang terpelanting keluar panggung setelah pukulan ringan pangeran muda itu mengenai perutnya sebelah kiri. 

Gilirannya! Dewi Mulia Ratri sudah bersiap melompat ke atas panggung,  namun belum sempat hulubalang menyebutkan namanya dan Andika Sinatria juga belum kembali ke kursinya, berkelebat bayangan merah dan tahu-tahu berdiri seorang gadis manis luar biasa berusia belasan tahun di atas panggung.  Gadis itu tersenyum mengejek ke arah pangeran tampan itu,”jangan dulu jumawa pangeran jelek! Coba kita lihat seberapa lama kau sanggup bertahan melawan aku..!”

Andika Sinatria terkesima sesaat.  Namun segera memperbaiki sikapnya dan berkata,”Hulubalang...apakah ini peserta selanjutnya?” 

Hulubalang hanya tergagap gagap.  Apalagi diliriknya gadis cantik yang tadi menghancurkan meja melotot ke arahnya.

“Sudahlah jangan banyak omong pangeran...ayo kita mulai!” Gadis manis berbaju merah itu menyergah dengan ketus.

“Hmmm...sebutkan dulu namamu....aku tak bisa bertanding dengan orang yang tidak mau menyebut nama.......” Belum juga selesai kalimatnya, sesosok bayangan putih melompat ke atas panggung dan berdiri di hadapannya.  Pangeran tampan itu lagi-lagi terkesima.  Di hadapannya kini berdiri seorang gadis cantik jelita yang lain lagi!  Tiga orang muda yang sama-sama rupawan sekarang berdiri saling berhadapan dalam sebuah formasi segitiga tempur.

“Hey bocah ingusan! Sekarang adalah giliranku.  Kau tidak bisa seenaknya saja menyerobot giliran orang!...” Dewi Mulia Ratri melotot ke arah gadis berbaju merah itu, yang juga balik melotot ke arah Dewi Mulia Ratri,”aku tidak punya urusan denganmu gadis cilik...atau kau ingin wajahmu yang cantik itu kugores dengan kuku jariku.”

Andika Sinatria sejenak kebingungan.  Dia menoleh ke arah hulubalang, lalu ke Panglima Candraloka dan setelah itu ke gurunya, Ki Mandara.  Sebelum dia membuka mulutnya, Ki Mandara dan Panglima Candraloka bersamaan melompat ke atas panggung.

“Pangeran, buatlah ini menjadi lebih menarik.  Kalian bertiga boleh saling bertempur.  Aturannya tetap sama.  Siapa di antara dua gadis ini yang sanggup bertahan lebih dari lima jurus di atas panggung ini, maka dia berhak untuk diterima sebagai pengawal istana...” Ki Mandara mengedipkan matanya ke Panglima Candraloka.  Sang Panglima yang paham kewaskitaan sang mahaguru, mengangguk anggukkan kepalanya,”Sang Mahaguru Ki Mandara yang kali ini akan menjadi wasitnya secara khusus...”

Suasana menjadi tegang sekarang.  Dewi Mulia Ratri mundur dua langkah.  Andika Sinatria juga melakukan hal yang sama.  Gadis manis berbaju merah bahkan mundur lebih dari tiga langkah.  Ketiganya saling menatap bergantian dengan waspada.  Meskipun masih muda, Andika Sinatria tahu bahwa dua orang gadis jelita ini bukanlah lawan sembarangan.  Dia tidak mau ceroboh dan dipermalukan di depan umum.  Jurus Lampah Dangdaunan sepertinya cocok untuk situasi sekarang.  Dia akan bertahan terhadap semua serangan sekaligus juga akan memanfaatkan kesempatan pada saat lawan-lawan lemah dengan menggunakan jurus Lengkah Maung Kalaparan. 

Dewi Mulia Ratri  terlihat berseri seri.  Inilah kesempatan langka yang dicari-carinya.  Menguji ilmu yang digemblengnya selama bertahun-tahun di padepokan Sanggabuana.  Dan tentu saja, kesempatan untuk menguji apa yang diajarkan oleh Ki Biantara, Sang Pendekar Pena Menawan.  Dia tidak mau main-main.  Jurus Pena Menggores Langit disiapkannya untuk menghadapi pertandingan segitiga ini.  Dikeluarkannya sebuah alat lukis dari balik bajunya.  Jurus ini hanya cocok digunakan dengan senjata unik ini.  Gadis manis berbaju merah yang misterius itu juga terlihat sangat serius.  Memasang kuda-kuda yang terlihat sangat kokoh.  Kaki kiri tertekuk ke belakang, tangan kanan di depan dada dan tangan kiri memegang sebuah kipas berwarna merah.  Kipasnya diayunkan pelan-pelan.  Namun suara menderu pelan keluar dari angin yang ditimbulkannya. 

Ki Mandara terperanjat bukan main! Dia sudah menduga bahwa dua gadis ini pastilah bukan murid orang sembarangan.  Namun tidak menyangka sama sekali bahwa hari ini dia akan menyaksikan kemunculan ilmu-ilmu yang telah dikenalnya dengan baik sejak puluhan tahun lalu. 

Gadis cantik berbaju putih itu pasti murid tokoh yang dikenalnya dengan baik, Ki Biantara sang Pendekar Pena Menawan.  Sedangkan gadis manis berbaju merah itu malah lebih mengherankannya.  Angin menderu pelan yang keluar dari gerakan kipasnya tidak salah lagi adalah jurus Badai Laut Utara.  Gadis ini pasti murid Laksamana Utara! Tokoh penting yang terkenal di dunia persilatan sejak kegagalan invasi kekaisaran Cina puluhan tahun lalu.  Dia semakin tertarik menyaksikan akhir pertandingan yang pasti sangat seru ini.

Gadis berbaju merah memulai serangannya dengan dahsyat kepada..... Dewi Mulia Ratri!  Kipasnya membentuk gerakan melingkar-lingkar luar biasa.  Tiupan angin yang ditimbulkannya benar-benar seperti badai lautan.  Dewi Mulia Ratri awalnya kaget bukan kepalang.  Namun dia segera bersikap tenang dan melayani serangan itu dengan gerakan jurus Pena Menggores Langit.  Alat lukis di tangannya berubah menjadi gulungan hitam ketika jurus itu dimainkan.  Jurus ini terlihat begitu lembut dan gemulai.  Seperti gerakan orang melukis pemandangan yang indah.  Namun di saat lain, berubah menjadi sangat garang, seperti orang yang sedang melukis kemarahan. 

Andika Sinatria menyaksikan ini dengan hati kagum.  Lawan-lawan yang berat pikirnya.  Dia ingin menyaksikan pertandingan ini sampai sejauh mana sebelum terjun ke dalamnya.  Namun dia terperanjat bukan main ketika secara bersamaan dua gadis itu mengarahkan serangan kepadanya!  Sambil meloncat ke belakang menghindari serangan, pangeran tampan itu mulai memainkan jurus Lampah Dangdaunan.  Terjadilah pertandingan yang luar biasa seru! Bergantian mereka saling serang.  Di suatu saat, Dewi Mulia Ratri saling serang dengan gadis berbaju merah.  Saat lain, gadis berbaju merah itu menyerang Andika Sinatria.  Saat lain lagi, sang pangeran tampan menyerang Dewi Mulia Ratri.  Begitu terus bergantian seperti tak ada habis-habisnya.

Belasan jurus telah berlalu.  Belum ada tanda-tanda siapa yang terdesak.  Pertandingan semakin meningkat dengan hebat.  Angin yang ditimbulkan kipas gadis berbaju merah itu semakin lama semakin berwujud dahsyat! Angin puting beliung! Alat lukis di tangan Dewi Mulia Ratri juga semakin besar dan lebar gulungannya.  Membentuk awan hitam berbentuk naga yang sedang marah.  Dewi Mulia Ratri mulai memasukkan sihirnya dalam setiap serangan yang dilakukannya.  Andika Sinatria tidak mau kalah.  Dua jurus andalannya sekarang digabung menjadi satu.  Lampah Dangdaunan digabung dengan Lengkah Maung Kalaparan.

Pemandangan dari pertempuran dahsyat itu sangat indah.  Awan hitam berbentuk naga besar berkibar-kibar dihantam angin ribut, dipadu dengan raungan kencang seeekor harimau yang melompat kesana kemari tanpa henti.  Lima puluh jurus berlalu.  Masih juga belum ada tanda tanda siapa yang terdesak.  Ki Mandara dan Panglima Candraloka kagum bukan main! Tiga orang muda yang hebat! Pikir mereka dengan takjub.  Namun Ki Mandara menyadari bahwa jika pertandingan ini dilanjutkan, maka satu di antara mereka pasti ada yang terluka hebat atau bahkan tewas.  Dia maju ke depan.

“Cukup!! Hentikan! ......” Tangannya didorongkan ke depan.  Tiga orang muda yang sedang bertanding ini seperti didorong oleh kekuatan yang tidak terlihat. 

Ketiganya kini berdiri berjajar menghadap ke arah Ki Mandara yang tersenyum lebar sambil bertepuk tangan,”luar biasa...luar biasa!  Kalian anak anak muda yang hebat!” 

Sambil melompat ke arah panggung dan melanjutkan perkataannya,”anak baik, apa hubunganmu dengan Padepokan Sanggabuana dan Biantara?” tatapnya ke Dewi Mulia Ratri.  Beralih ke gadis berbaju merah,”dan apa hubunganmu dengan sang perkasa Laksamana Utara?”  

“Saya putri dari Pendekar Sanggabuana Ki, Pendekar Pena Menawan adalah guru saya.” Jawab Dewi Mulia Ratri sambil membungkukkan tubuhnya dengan sopan.  Dia mengerti sekarang bahwa yang ada di hadapannya adalah tokoh nomor satu di lingkungan Garda Kujang.

“Nama saya Putri Anjani Kek...Laksamana Utara adalah ayah saya.” Giliran gadis manis berbaju merah membungkukkan tubuhnya ke arah Ki Mandura.

“Hmmmmm....Andika Sinatria.  Kita kedatangan tamu-tamu penting.  Kita sudahi saja adu tanding ini.  Mereka jelas-jelas telah lulus untuk menjadi bagian dari pengawal khusus istana.  Aku yang akan atur selanjutnya.  Bukan begitu Panglima Candraloka?”

“Setuju Paman Mandara.  Mari kita berbincang di dalam istana..”

Panglima Candraloka berjalan mendahului.  Memasuki gerbang istana diikuti oleh yang lain.  Uji tanding pencarian pengawal istana dihentikan.  Tidak ada satupun yang lolos dalam ujian selain dua gadis luar biasa itu.  Para penonton pun bubar dengan masih menyisakan bisik-bisik tentang kejadian luar biasa hari ini. 

Di dalam istana khusus markas Garda Kujang Emas, dua gadis itu dijamu oleh Ki Mandara.  Setelah membersihkan badan dan berganti pakaian.  Mereka berkumpul di ruang makan sambil berbincang-bincang.  Dewi Mulia Ratri kini terlihat kikuk.  Tempat duduknya persis di sebelah kanan sang pangeran tampan.  Tapi hatinya juga jengkel.  Karena ternyata di samping sebelah kiri Andika Sinatria, duduk si gadis manis berbaju merah. 

Siapa tadi namanya? Hmmm Putri Anjani.  Saingan yang berat pikir Dewi Mulia Ratri.  Pipinya tiba-tiba merona merah.  Kenapa dia berpikir saingan sekarang? Aduuhh, hatinya kacau seperti diaduk-aduk sekarang.  Diliriknya gadis itu acuh tak acuh saja menikmati makanan.  Sempat sesekali mata mereka bersirobok bertatapan.  Keduanya sama-sama melengos dan mencibir sinis. Dewi Mulia Ratri teringat sesuatu.  Dirogohnya saku baju dan dikeluarkannya surat penting yang harus diserahkan kepada sang panglima.

“Paman Candraloka, ayah menitipkan ini untuk Paman.  Mohon diterima dengan baik.” Dewi Mulia Ratri berdiri dan mengangsurkan surat itu dengan sopan.  Namun ternyata ada tangan lain juga yang melakukan hal yang sama.

”Paman Panglima, saya juga mendapatkan amanat untuk menyerahkan surat ini kepada Paman.  Dari ayah saya...” Sergah Putri Anjani yang dengan sengaja menepis tangan Dewi Mulia Ratri.  Kedua tangan halus itu kemudian saling tepis dengan gerakan terlatih dan mahir.  Hawa kekuatan dari kedua tangan itu bahkan membuat meja makan bergetar-getar.  Dewi Mulia Ratri melotot marah.  Dia melompat ke tengah ruangan,

”Huh! Putri Cumi cumi...kamu memang sengaja memancing keributan denganku.  Ayo kita selesaikan saja di sini!”

Putri Anjani tersenyum mengejek dan melompat juga ke tengah ruangan,”Siapa sih yang takut kepadamu Dewi Pemarah...”

Andika Sinatria melompat di tengah ruangan dan seperti tidak sengaja menyentuh tangan Dewi Mulia Ratri. Tersenyum dan berkata pelan,

”Sudahlah Dewi.  Kita tidak perlu saling berkelahi lagi.  Ada urusan lebih penting yang patut kita bicarakan di sini bersama-sama.” Kemudian membungkukkan tubuhnya ke arah Putri Anjani dan tersenyum manis,

”Putri yang baik, mohon bisa mengendalikan diri.  Kalian sama-sama diterima sebagai tamu kehormatan kami...”

Dewi Mulia Ratri tersentak seperti disentuh aliran petir saat tangannya bersentuhan dengan tangan pangeran tampan itu.  Wajahnya memerah seperti udang rebus sekarang.  Tanpa bisa berkata apa-apa lagi, kembali duduk, namun tetap merengut ke Putri Anjani meski jantungnya terasa berdentam-dentam dan berbunga-bunga. 

Di lain pihak, Putri Anjani tersipu malu dipandangi dengan cara begitu oleh pangeran gagah dan tampan itu.  Diapun kembali ke tempat duduknya sambil melirik dengan penuh ejekan ke Dewi Mulia Ratri.

“Ha ha ha...kalian anak-anak muda memang berdarah panas.  Tunda dulu kemarahan kalian.  Candraloka, apa tidak sebaiknya kau terima dan baca surat-surat penting itu dan beritahu aku apa isinya.  Aku yakin ini pasti ada kaitannya dengan Kerajaan Majapahit dan Galuh Pakuan.” Ki Mandara tertawa terbahak sambil berkata.

“Baiklah Paman.  Dewi dan Putri, terimakasih telah menyampaikan surat-surat ini kepadaku.” Sahut Panglima Candraloka sambil membuka dan membaca surat surat itu,

”Paman dan Pangeran, surat-surat ini penuh dengan nada persahabatan.  Dan juga peringatan akan ancaman dari timur yang kelihatannya semakin nyata..”

Panglima Candraloka menghela nafas sejenak,”kita harus memperkuat Garda Kujang dengan lebih cepat namun juga lebih hati-hati.  Banyak mata-mata dan telik sandi yang sekarang berkeliaran di ibukota negeri ini.”

“Situasinya memang terasa lebih genting sekarang Panglima.  Andika Sinatria, kau harus memperkuat pengawalan kepada keluarga istana.  Dua gadis tangguh ini pasti akan sangat berguna bagi Kujang Emas.  Bagaimana menurutmu?” Iblis Tua Galunggung bertanya kepada Andika Sinatria. 

Yang ditanya menatap dan tersenyum ke Dewi Mulia Ratri dan Putri Anjani bergantian,”Saya akan dengan senang hati didampingi mereka memimpin pengawalan istana Guru.  Tapi sebaiknya kita mendengar langsung dari para bidadari sakti dan cantik ini apa pendapat mereka.” 

Kedua pipi gadis itu memerah dipuji oleh pangeran tampan itu.  Dewi Mulia Ratri merasakan bunga di jantungnya semakin mekar.  Putri Anjani sepertinya juga merasakan hal yang sama.  Senyuman mengejek hilang dari wajahnya.  Digantikan oleh tatapan malu-malu.  Siapa sih yang tidak bangga dipuji oleh pangeran sakti dan setampan ini? Melihat Putri Anjani tersipu-sipu malu, dada Dewi Mulia Ratri serasa mau meledak.  Benar-benar mencari perkara bocah ini denganku.  Hatinya semakin panas saat dilihatnya sang pangeran sekilas menatap mesra kepada Putri Anjani. 

Putri Anjani juga memperhatikan ini.  Namun hatinya juga panas ketika dia melihat sang pangeran juga menatap mesra kepada Dewi Mulia Ratri.  Di istana laut utara, setiap hari dia dikelilingi pemuda-pemuda tampan yang memujanya.  Namun tidak ada yang bisa membuat hatinya terguncang seperti saat bertemu pangeran ini.  Ah tapi sekarang dia punya saingan.  Berat pula. 

Putri Anjani menghentikan lamunannya dan berkata,”Mahaguru, saya tidak keberatan dengan tawaran ini.  Tapi saya harus pulang dulu bertemu ayah untuk mohon ijin....dan saya punya satu syarat....”

“Syarat apa itu anakku?”

“Saya tidak mau satu pasukan dengan dewi menyebalkan itu...”

Dewi Mulia Ratri mendelikkan matanya dengan cepat,”Saya punya syarat yang sama Mahaguru.  Saya tidak sudi satu pasukan dengan putri cumi-cumi itu...”

“Baiklah anak-anakku.  Syarat itu kuterima.  Aku dan Candraloka akan mengaturnya.  Masing-masing dari kalian akan mengepalai satu unit pasukan khusus pengawal istana.  Tapi komando tetap dipegang oleh Andika Sinatria.  Dewi Mulia Ratri akan menjadi pimpinan pengawal khusus Baginda Raja.  Putri Anjani akan menjadi pimpinan khusus pengawal permaisuri dan putra-putri raja.  Kalian boleh memilih sendiri pasukan itu begitu kalian kembali kesini dan siap bertugas.”

Secara bersamaan, kedua gadis jelita itu mengambil nafas lega.  Tidak bergabung menjadi satu adalah kelegaan bagi mereka.  Akan tetapi yang lebih dari itu adalah, tidak ada satu pun dari mereka yang bergabung dan dekat dengan Andika Sinatria.  Diam-diam keduanya telah tertarik secara dalam kepada pangeran tampan itu.  Dan tentu saja tidak akan rela jika saingannya lebih dekat dengan sang pangeran.

Keesokan harinya, dua gadis cantik itu meninggalkan ibukota kerajaan menuju tujuan masing-masing.  Tentu saja mereka mengambil jalan yang terpisah. Karena sama-sama tidak mau mengambil jalan yang sama.

****