Now Loading

Satu Hari Dua Cinta (Bagian II)

Kereta MRT East West Line berjalan terus ke arah timur. Clementi, Dover, Buona Vista, satu demi satu stasiun dilewati. Kereta terus berjalan hingga stasiun Tiong Bahru, Outram Park,  dan Tanjong Pagar, Satu demi satu stasiun dilewati. Tiba-tiba saja seseorang menepuk pundak saya .

“Bang Asep, Bang Asep”

Suara yang tidak asing menyapa saya dan saya terkaget-kaget mendengarnya. Gadis cantik dari Melaka yang mirip Laila ini tiba-tiba berdiri di samping saya. Di dalam gerbong yang lumayan ramai ketika kereta baru saja berhenti sebentar di Stasiun Tanjong Pagar.

“Muthiah dari mana?” Tanya saya.

“Habis jalan-jalan saja sendirian," Jawabnya

“Mau pulang ke hotel ya?” Tanya Muthia lagi.-

“Ya, mau istirahat dulu, tadi habis jalan-jalan ke Chinese Garden

Sendiri saja???. Pertanyaan ini penuh selidik sehingga ada penekanan pada kata sendiri.

“Ya". Mau tidak mau saya harus berbohong. Barang kali sudah nasib punya dua kekasih yang sangat mirip.

“Bang Asep, nanti malam temani Muthiah ke Night Safari yah, Rosma dan Fitri tadi bilang tidak mau pergi. Saya tidak ada yang menemani”

Walau sebenarnya saya ingin istirahat dan makan dekat hotel saja malam ini, tetapi naluri dan insting saya langsung memerintahkan kepala untuk mengangguk tanpa menjawab. Kereta pun tiba di stasiun City Hall.

Kami berdua segera berjalan beriringan ke hotel. Namun Muthia kemudian menggandeng lengan saya ketika kami sudah muncul di permukaan di kaki lima North Bridge Road dan menyeberang Zebra Cross.

Kami bergandengan sampai ke lobi hotel dan Muthiah baru melepaskan tangan ketika kami menunggu lift.

“Jam 7, Saya tunggu di lobi ya Bang Asep”, Kata Muthiah sambil keluar lift ketika sudah sampai di Lantai 8. Saya sendiri langsung ke lantai 9, masuk ke kamar dan merebahkan tubuh yang lumayan lelah.

Asep. Mengapa kamu tidak menolak ajakan Muthiah, Bagaimana kalau Laila sampai tahu, Bukankah tadi siang sudah berjanji hanya ada Laila di hatimu? Begitu kira-kira suara Asep yang lain menegur saya.

Que Siera siera, apa yang terjadi, terjadilah, Demikian suara Asep yang satu lagi menjawab.

Jam 7.10 saya sudah siap di lobi dan ternyata Muthiah belum ada. Sekitar 5 menit menunggu, barulah bidadari dari Melaka itu turun. Malam ini tampak lebih cantik dengan dandanan jin dan kaos. Dia lebih mirip gadis Singapura dibandingkan gadis Malaysia.

“Waduh, Muthiah cantik sekali malam ini, Abang sampai pangling tidak kenal”, tidak sengaja rayuan maut keluar dari mulut saya.

“Awas yah kalau merayu lagi”, Kata Muthiah sambil mencubit perut saya. Walau sakit, tapi terasa nikmat.

Kami segera keluar dan hotel dan naik taksi yang kebetulan sedang menunggu penumpang.

“Night Safari Uncle”, kata saya kepada Sopir taksi yang kebetulan berusia sekitar 50 tahunan.

Singkat kata malam itu kami menghabiskan petualangan berdua yang sangat mengesankan. Bercanda dan bergembira di taman hiburan bersama hewan-hewan liar di kawasan sebelah utara Pulau Singapura. Saya sendiri sudah melupakan Laila dan Muthiah sendiri kian dekat kepada saya. Walau kalau dihitung-hitung kami baru saling mengenal sekitar 24 jam lalu.

Malam itu pula, ketika makan malam di Night Safari, Muthiah sudah menyatakan sayangnya kepada saya. Pernyataan cinta kilat yang datang bak halilintar ini tidak dapat saya tolak. Walau tidak menjawab dengan kata-kata, tetapi gerak gerik dan tingkah laku saya seakan-akan sudah memberi jawab yang meyakinkan Muthiah.

Malam itu, seluruh hewan di Night Safari seakan-akan menjadi milik kami berdua.

Sekitar pukul 11 malam barulah kami kembali ke hotel. Singkatnya malam ini saya lebih banyak mengenal mengenai Muthiah. Bahkan lebih dari Laila yang masih banyak menyimpan misteri.

Namun masih ada satu tanda tanya besar buat saya. Mengapa keduanya begitu mirip.

Apa pun yang terjadi, hari ini saya sudah menjadi petualang Satu Hari Dua Cinta.

Bersambung