Now Loading

BAB XIV. DI BALIK TIRAI (TAMAT)

“Apa katamu?” Petrus melompat sambil menggebrak meja. “Apa maksudmu mesin ini tidak bekerja? Bagaimana kehidupan seperti ini bisa begitu lama jika benda terkutuk ini sudah rusak dari dulu?"

Petrus mengarahkan laras pistolnya ke Pengawas tua, “Katakan yang sebenarnya! Jawab!"

Pengawas melihat pistol yang diarahkan padanya. Devi terkejut melihat bahwa tidak ada sinar ketakutan di matanya, bahkan tatapannya menyiratkan kerinduan pada maut.

“Saya berharap Anda menarik pelatuknya sekarang, Nak. Saya bersungguh-sungguh. Selama ini, saya selalu terlalu pengecut untuk melakukannya sendiri,” desah Pengawas sambil kembali duduk di kursinya. Tak tampak lagi aura Pengawas darinya. Matanya menatap kecewa saat pistol itu turun ke pinggang Petrus.

“Jadi, Anda tidak akan melakukannya? Anda ingin mendengar seluruh kebenaran? Sebenarnya, saya datang ke sini dua puluh tahun yang lalu dengan cara yang sama seperti Anda semua. Saya melarikan diri—dengan mencabut keping kendali dari leher saya dan datang ke sini dengan tujuan untuk menghancurkan KHAN22. Saya menyusup menjadi Pengawas di sini. Saya mempelajari semua yang perlu diketahui tentang keberadaan yang menyedihkan ini dan bagaimana hal itu terjadi. Suatu hari, ketika hanya sedikit Pengawas yang menjaga komputer ini—saya menghancurkannya. Selama dua puluh tahun, benda ini tidak pernah lagi mengeluarkan perintah atau Undang-undang, tapi apakah keadaan berubah? Apakah saya membebaskan—setidaknya satu orang? Tidak. Tidak ada yang berubah."

Pengawas itu mengusap matanya.

“Tapi, sebenarnya, semuanya berubah. Menghancurkan komputer membuat segalanya menjadi lebih buruk. Ketika Pengawas lain mengetahui komputer rusak dan tidak beroperasi, mereka bersukacita. Sejak saat itu, mereka menjadi pembuat undang-undang. Kita di tangan orang gila - itulah hasil kerja saya. Tidak ada lagi tertib hukum, tetapi para Pengawas tahu bahwa mereka dapat mempertahankan kendali jika mereka mempertahankan ilusi bahwa ada kekuatan besar di balik tindakan mereka, mesin rasional yang membuat keputusan yang 'terbaik untuk umat manusia'. Saya ingin menghancurkan kotak Pandora, tapi malah melepaskan isinya. Jadi saya memilih untuk tinggal di sini. Tidak banyak kegiatan lagi di sini lagi, seperti yang Anda lihat. Terkadang Pengawas berkeliaran, tetapi tidak sering dan hanya sebentar—seperti hari ini. Semua Pengawas ada di luar sana menjadikan dunia milik mereka. Saya sudah lama di sini. Semua anak muda itu mengira saya punya kekuasaan, padahal tidak. Saya pengecut. Saya orang tua yang pengecut."

Dia memandang Devi. “Kakek Anda menciptakan KHAN22 dengan tujuan melayani manusia, 3556P. Dia tahu bahwa keadaan tidak terkendali begitu para Pengawas ditugaskan menjadi pasukan penjaga Perdamaian Bumi. Maka dia meninggalkan dunia ilmu pengetahuan dan mendalami agama. Saya menghancurkan ciptaannya yang mampu mengendalikan para Pengawas, dan pada gilirannya, mereka membunuhnya. Saya benar-benar minta maaf untuk itu. "

Devi menatap kedua tangannya. Keputusasaan yang dia rasakan sebelumnya belum seberapa dibandingkan dengan apa yang dia rasakan sekarang. Dia datang untuk tidak melakukan apa pun.

"Tapi," sela Arsanto, “tidakkah para Pengawas tahu betapa mereka akan jauh lebih baik jika dunia ini seperti sebelumnya? Jika mereka berhenti saja dan menikmati hidup?”

Orang tua itu menatap ke langit-langit sebelum menjawab.

“Pernahkah Anda mendengar ungkapan bahwa lebih baik ditakuti daripada dicinta?” dia bertanya.

“Il Principe, Machiavelli,” jawab Arsanto.

"Nah. Pengawas tahu bahwa jika mereka meletakkan senjata, mereka akan diburu. Mereka melatih anak-anak muda untuk menjadi pembunuh—anak-anak yang tidak tahu apa-apa dan seharusnya tidak melakukan pekerjaan seperti itu. Mereka membangun generasi untuk melaksanakan cara mereka. Lingkaran setan yang tak pernah berakhir—mereka ditakuti, dan mereka takut akan keselamatan mereka. "

Devi mendongak, menanyakan pertanyaan yang tak perlu lagi ditanyakannya.

"Jadi semua ini tak berguna?" dia berbisik. “Semuanya ... sia-sia?”

Orang tua itu memandang Devi dengan simpatik. “Ketakutan telah menguasai dunia dalam bentuk manusia, 3556P. Mungkin suatu hari akan ada pemberontakan, tapi saya tidak berharap melihatnya di masa hidup kita."

Orang tua itu sekali lagi bangkit dari kursinya. "Saya hanya penasaran, di mana salahnya?" Dia tidak bertanya pada siapa pun.

Dia membuka laci mejanya dan mengeluarkan pistol yang terlihat kuno. Petrus mengangkat pistolnya, tetapi sama seklai tidak perlu karena pria itu meletakkan laras pistol ke pelipisnya sendiri.

“Saya tidak takut lagi.” katanya, menarik pelatuk.

Petrus mencoba menutup mata Devi agar tidak melihat kematian pria itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Devi menyaksikan dalam gerak lambat separuh kepala orang tua itu meledak dan dia jatuh ke lantai.

Devi, Petrus, dan Arsanto duduk di kursi mereka, menyaksikan genangan darah merah gelap membesar besar di sekitar tubuh pria tua itu. Devi memasang telinga untuk mendengar apakah ada Pengawas yang akan masuk karena suara letusan, tetapi tak ada suara lain, selain desah napas mereka bertiga.

Tidak ada yang berbicara selama berjam-jam.

Tak ada yang perlu dibicarakan.

Devi bangkit dari kursinya saat darah mulai mendekati kakinya. Dia menuju jendela tempat lelaki tua itu melepas potongan kain dengan motif garis merah putih dan bintang-bintang dalam kotak biru dan mengambilnya dari lantai. Petrus dan Arsanto menyaksikan saja membentangkannya di atas mayat.

Kemudian gadis itu menatap keluar jendela dan melihat puing-puing bangunan yang berserakan. Petrus dan Arsanto diam-diam bergabung dengannya, dan mereka bertiga memandang sisa-sisa peradaban di depan mereka.

 

TAMAT

Bandung, 1 Januari 2021