Now Loading

Satu Hari Dua Cinta (Bagian I)

 

Laila menarik saya keluar dari restoran  dan kemudian mengajak sejenak jalan-jalan di sepanjang Kandahar Street. Laila masih tampak kesal dan terus bertanya mengenai siapa gadis yang saya baru kenal di Singapura. Gadis yang tadi malam berkencan dengan saya.

“Siapa gadis itu Bang, Apa dia lebih cantik dari Laila?"

“Dia bukan siapa-siapa, Hanya teman yang mengajak jalan-jalan. Tentu saja Laila yang paling cantik dan selalu bersemayam di hati Abang,” jawab saya merayu.

“Baiklah, kalau begitu sore ini Abang harus mengajak Laila jalan-jalan. Ke mana saja di Singapura ini untuk menebus dosa Abang."

Kami berdua segera kembali ke restoran dan pamit kepada Auntie Hamidah serta Bang Zai. Kami minta izin untuk jalan-jalan dulu menikmati senja. Membuang duka dan mencari suka serta mendekatkan dua hati yang selama ini terpisah.

Setelah izin dengan Auntie Hamidah dan Bang Zai, kami berdua kembali jalan kaki santai sepanjang Kandahar Street dan langsung belok ke Muscat Street tepat di Sultan Mosque. Mengitari masjid ini dengan berbelok di Arab Street.

Laila masih berdiam diri sepanjang perjalanan. Dia tampaknya masih sedikit kesal dengan saya sampai akhirnya saya bertanya untuk memecah kesunyian.

“Putri Laila yang cantik mau ke mana sore ini?” “Biar Abang yang mengiringi."

“Saya mau pergi ke negeri Cina, melihat taman-taman yang cantik dan melupakan gundah gulana selama di Brunei dan juga di Singapura ini."

“Bagaimana kalau kita ke Chinese Garden saja,” kata saya lagi.

“Baiklah, Laila ikut saja,” jawabnya sambil mulai menggandeng tangan saya. Ketika itu kami sudah ada di Victoria Street.

“OK, Kita naik MRT saja,” jawab saya lagi.

Kami berdua berjalan menuju Stasiun MRT Bugis yang ada di bawah pertokoan Bugis Junction. Dan tidak lama kemudian sudah ada di dalam kereta yang meluncur cepat ke bagian barat pulau Singapura.

Sekitar 30 menit kemudian, kereta sudah sampai di Stasiun MRT Chinese Garden dan kami pun turun. Suasana menjelang sore tidak terlalu ramai dan kami berdua berjalan menuju ke taman yang cukup luas sambil menikmati panorama yang indah. Selain itu juga wisata di Chinese Garden ini gratis.

Sambil menikmati pemandangan danau, pagoda dan juga berjalan-jalan di Taman Bonsai, Laila mulai banyak bercerita bahwa dia merasa ada seseorang yang berusaha merebut saya dari dirinya.

Saya berjanji bahwa tidak akan ada perempuan lain di hati saya dan hanya ada Lala seorang. Laila juga bercerita bahwa dia baru saja mengurus pendaftaran di Nanyang Politechnic dan kemungkinan belajar baru dimulai bulan depan. Karena itu dia akan punya banyak waktu untuk jalan-jalan selama saya juga ada di Singapura sampai pertengahan Juni.

“Tapi lumayan jauh kalau kamu tinggal di Kandahar Street?,"  tanya saya.

“Oh tidak, saya dan Auntie Hamidah tinggal di sebuah apartemen di kawasan Ang Mo Kio, tidak terlalu jauh dari kampus.”

“Lalu ke mana Irma dan Noor?” Tanya saya penuh selidik dengan mimik sedikit penasaran.

“Mereka ada, tapi memang tidak saya kenalkan dengan Auntie Hamidah di Kandahar Street. Tidak lama lagi mereka muncul nih”

Dari Bonsai Garden Kami berdua berjalan memutari danau menuju Patung Confucius. Dari kejauhan patung yang sedang menjura itu kelihatan sangat agung memukau. Dan ketika kami mendekat, tiba-tiba saja muncul dua orang gadis yang sudah saya cari sejak kemarin, yaitu Irma dan Noor,

“Irma, Noor!  Azwar dan Eko sejak kemarin mencari kalian berdua”, kata saya lagi

“Tak apa, besok juga kami akan jumpa dengan Bang Azwar dan Eko”, jawab Irma

Kemudian mereka bertiga berjalan ke tepi danau dan terlihat asyik berbicara.

Kemudian Laila mendekati saya dan berkata:

“Kami bertiga mau balik ke apartemen di Ang Mo Kio”, Ayo balik ke stasiun MRT.

Kami berempat segera berjalan santai menuju stasiun MRT. Hari belum terlalu sore, matahari masih bersinar dan saya melirik ke jam saya yang menunjukkan pukul 5.10 menit.

Sesampainya di stasiun, kami kemudian naik kereta ke arah timur, Namun baru saja naik Laila kemudian berkata lagi:

“Kami bertiga mau turun di Jurong East dan pindah kereta menuju ke Ang Mo Kio. Kalau Abang mau ikut silakan, tapi kalau Abang lelah, boleh langsung saja ke hotel dan turun di stasiun City Hall."

“Kalau Abang mau ketemu Laila lagi bisa datang di Kandahar Street lusa sekitar pukul 5.30," tambah Laila sambil bertiga turun ketika kereta sampai di stasiun Jurong East.

Rupanya Laila tidak perlu jawabannya saya karena dia sudah tahu bahwa saya memang mau ke hotel dulu karena sudah sejak pagi bepergian dan bahkan dia sudah tahu bahwa besok saya jadwal penuh bekerja dan ada waktu luang lusa.

Kereta saya berjalan terus ke arah timur. Clementi, Dover, Buona Vista, satu demi satu stasiun dilewati, dan pikiran saya masih dipenuhi teka-teki akan Laila yang telah mencuri hati saya namun tetap penuh misteri yang belum terpecahkan.

Apalagi dengan dua pendampingnya yang setia, Irma dan Noor.

Bersambung