Now Loading

BAB XIII. IMMUMARE

Petrus membawa Devi layaknya seorang algojo menggiring tahanan ke tiang gantungan.

Tudung kepalanya terpasang, membuatnya tak berbeda dengan Pengawas lainnya. Satu tangan memegang lengan Devi, tangan yang lain memegang secarik kertas yang menjadi tiket masuk mereka ke dalam gedung tersebut.

Devi sangat tenang. Mengetahui bahwa dia mungkin akan segera mati membuatnya merasa persaannya ringan, seolah-olah semua beban telah terangkat.

Ketika mereka semakin dekat ke pintu besar, dia menundukkan kepalanya, berdoa memohon kekuatan. Petrus tetap diam, tapi cengkeramannya pada lengan Devi menegang saat mereka akhirnya berdiri di depan pintu.

Tanpa berkata sepatah kata pun, dia membuka pintu dan memimpin Devi masuk. Devi menyadari betapa gelapnya selasar di depan mereka, hanya cahaya redup. Dia juga terkejut melihat tidak ada Pengawas yang menjaga aula di depan mereka. Dia tahu Petrus juga bingung, karena dia dengan kikuk menolaknya ke lorong penghubung yang sama gelapnya. Setidaknya, dari ujungnya terdengar suara-suara.

Petrus menarik napas dalam-dalam ketika dua Pengawas muncul di ujung lorong dengan senapan teracung.

“Apakah ini gadis itu?” salah satu Pengawas bertanya, mengarahkan senjatanya ke Devi.

Petrus mengangguk. "I—ya," suaranya pelan.

"Ikuti kami." Pengawas yang tadi berbicara berbalik dan memimpin Petrus dan Devi menuju sebuah ruangan dengan pintu ganda yang besar. Pengawas membuka pintu dan Petrus memimpin Devi masuk.

Ruangan itu gelap, seperti bangunan lainnya. Sebuah meja dengan lampu di belakang di atas kepala, di depan jendela besar yang ditutupi potongan kain yang compang-camping.

"Ah, senang menyambut kedatanganmu, 3556P," terdengar suara dari meja. Devi dan Petrus melompat mundur kaget.

Pemilik suara itu mencondongkan tubuh ke depan. Dibantu cahaya lampu di belakangnya, Devi bisa melihat bahwa dia adalah seorang Pengawas. Matanya tidak tertutup, hanya hidung dan mulutnya. Dia menatap Devi dan Petrus sejenak sebelum melambai tangan, menunjuk dua kursi di depan mejanya.

“Duduklah, kalian berdua pasti lelah.”

Devi dan Petrus mengikuti instruksi Pengawas tersebut dan duduk di depan meja.

“Saya yakin Anda kenal dengan teman Anda ini.” Pengawas menunjuk ke sisi lain meja, tempat Arsanto duduk. Sekali lagi Devi melompat. Dia bahkan tidak sadar dia duduk tepat di sampingnya. Dia terlalu sibuk dengan memikirkan mengapa Pengawas berbicara dengannya dengan cara yang aneh dan akrab—cara yang hampir menyenangkan, seolah-olah dia mengundang mereka semua untuk menikmati minum teh.

Pengawas menghela nafas, dan melepaskan tudung dan masker dari wajahnya. Dalam cahaya redup, Devi bisa melihat bahwa dia adalah pria tua, lebih tua dari neneknya jika masih hidup. Garis-garis di bawah matanya dan kulit leher yang kendur membuatnya tampak lelah dan putus asa.

Devi duduk tegak dan baru menyadari bahwa dia menahan napas terlalu lama. Dia memperhatikan Petrus juga tidak bersuara, dan Arsanto pucat seakan darah tak mengaliri di urat wajahnya, kontras dengan jubah hitamnya.

“Anda boleh melepas tudung kepala, 19L, saya tahu rasanya tidak nyaman.” kata Pengawas pada Petrus.

Petrus menurut, melepas kerudungnya dan melemparkannya ke atas meja. Wajahnya merah berkeringat, dan Devi melihat sepatu bot kirinya mengetuk gugup di sampingnya.

Pengawas mengusap rambut putihnya yang mulai menipis dan bersandar di kursinya.

“Menurut laporan yang saya terima, kalian bertiga telah melakukan banyak hal belakangan ini. Anda telah berhasil melarikan diri, yang sebenarnya mustahil, menghindari penangkapan, dan bahkan memilih beberapa Pengawas. Satu-satunya korban dari pihak Anda ... kematian salah satu teman Anda.”

Sang Pengawas berhenti sejenak, melihat wajah mereka yang duduk di depannya satu demi satu.

"Sekarang Anda," katanya sambil menunjuk ke Devi, "menurut saya cukup menarik. Nenek Anda dieksekusi karena mendidik Anda tanpa izin, yang Anda tanggapi dengan melarikan diri. Cukup menarik … Saya berasumsi bahwa dia menceritakan semua tentang masa lalu, sebelum kelahiran KHAN22, dan betapa semua orang bebas merdeka. Apakah saya benar?"

Devi mengangguk perlahan.

“Saya juga berasumsi bahwa dia meninggalkan detail penting dari pelajaran sejarahnya. Saya menduga dia tidak memberi tahu Anda siapa ilmuwan muda itu yang menemukan dan menyempurnakan KHAN22, bukan?"

Devi menyipitkan matanya pada pria tua di depannya, lalu menggelengkan kepalanya.

“Nah, 3556P, penemu mesin itu tidak lain tidak bukan adalah kakek Anda. Anda tahu, sebelum dia menjadi pemuka agama, dia pakar teknologi. Dia dikenal sebagai pencipta KHAN22."

Devi berdiri dari duduknya. "TIDAK! Kamu bohong!" Telunjuknya yang gemetar menuding orang tua itu.

Petrus meraih Devi dan menariknya kembali ke kursinya. Kemarahan Devi tidak mengganggu lelaki tua itu, yang melanjutkan ceritanya.

“Kakekmu membangun KHAN22 di sini. Penajam, Borneo, Indonesia, di bawah perjanjian rahasia antara Presiden Amerika dan Presiden Indonesia. Alasannya, karena di sini lebih aman daripada di Amerika yang saat itu sedang mengalami krisis parah. Semuanya berlangsung lancar sampai Presiden Amerika meninggal.” Dia menarik napas panjang sebelum melanjutkan ceritanya.

 “Jadi setelah nenek Anda memberi tahu bahwa ada jalan menuju kebebasan, Anda keluar dari sektor Anda—bagus sekali menurut saya—dan membebaskan tuan-tuan ini,” dia menunjuk ke Petrus dan Arsanto, “dan satunya lagi, yang terbunuh di barak pelatihan." Jeda. "Turut berdukacita."

Sekali lagi dia memandang para pendengarnya, seolah-olah mengharapkan pertanyaan.

“Dan kalian bertiga melakukan perjalanan ke sini, ke Kamp 13. Apakah semuanya sudah benar?”

Petrus menjadi sangat kesal, "Kalau kamu mau mengeksekusi kami, tunggu apa lagi?" dia meludah Pengawas tua itu.

Sang Pengawas memiringkan kepalanya ke belakang dan tertawa pelan. “Tidak, tidak ... Tidak ada yang akan membunuh kalian. Anda bisa tenang, 19L. Anda belum tahu kalau Anda mungkin paling aman di sini, di Kamp 13? Ironi—atau tragedi—di lihat dari sudut pandang mana pun. Tidak ada yang akan mengeksekusi Anda di sini.”

Pengawas tua itu bangkit dari kursinya dan berdiri di depan jendela. Dia menurunkan potongan kain yang menutupinya dan Devi memperhatikan bahwa kain lusuh dan pudar itu berbentuk persegi panjang dengan garis-garis merah putih dan kotak biru dengan sejumlah bintang.

"Apa yang terjadi? Di mana komputernya?" tanya Arsanto. Suaranya serak, terlalu lama diam.

Pengawas tua itu memandang Arsanto dari jendela dan terkekeh lagi. "Komputer ... KHAN22? Nama yang lucu. Nama kakek Anda Salim Khan, 3556P. Tapi dikaitkan dengan tokoh antagonis musuh seorang kapten pesawat antariksa dari serial televisi utopia seabad silam. Benda itu ada di sana." Pengawas menunjuk ke layar lebar hitam berdebu di atas kotak perak besar di atas meja kecil di sebelah meja. Devi menoleh, dan melihat kotak perak itu telah retak.

"Karya agung kakek Anda," kata Pengawas kepada Devi.

"Tak berfungsi sejak bertahun-tahun silam tanpa ada yang bisa memperbaikinya."

________

*Immumare: terpenjara di antara 4 dinding tanpa kemungkinan bebas