Now Loading

BAB XII. LUBANG HITAM (BAGIAN 2)

Petrus menatap Devi bingung. "Bagaimana kamu tahu dia Pengawas Barak F?"

"Aku mengenalinya. Aku kenal mata—" kalimatnya terhenti ketika dia melihat sesuatu yang lain. Apa itu di tangannya?

Devi menunjuk ke tangan kiri Pengawas yang mengepal selembar kertas. Petrus membungkuk dan berusaha melepaskan kertas itu dari cengkeraman si mayat.

"Sialan," gumamnya. “Lepaskan, bro—kamu tak butuh benda ini lagi.”

Petrus akhirnya berhasil mengambil kertas itu dan membukanya.

"Terlalu gelap," katanya. Dia melihat ke langit malam. Bulan mengintip dari balik awan. Petrus pindah ke tempat cahaya malam menerang.

Devi berdiri di sebelah Petrus ketika kata-kata di kertas menjadi lebih jelas:

PELANGGARAN BARAK F

SUBJEK: 3556P

AKSI: MELARIKAN DIRI DARI SEKTOR (BARAK F) PADA 17 AGUSTUS 2065

PERINTAH: JIKA DITEMUKAN, JANGAN DIHABISI. BAWA KE KAMP 13 UNTUK INTEROGASI

Devi membaca ulang tulisan di kertas itu setidaknya enam atau tujuh kali. Matanya terpaku pada kata-kata "JANGAN DIHABISI." Dia tidak pernah merasa serendah itu sebagai manusia.

Tubuhnya menggigil, bukan karena udara dingin, tapi karena dia kini benar-benar ketakutan. Dia bertanya-tanya dalam hati apakah Pengawas sebenarnya selalu hadir di dekat mereka, mendengarkan pembicaraan dia dan teman-temannya.

Dia merasa begitu putus asa. Kemarahan membanjiri benaknya—mengapa nenek membuatnya berjanji untuk melarikan diri? Apakah neneknya ingin dirinya mati di Kamp 13?

Devi belum pernah marah kepada nenek sebelumnya—atau kepada siapa pun—tapi sekarang dia tidak bisa menahannya.

Kenapa dia repot-repot bertarung dalam pertempuran yang tak mungkin dimenangkannya? Mengapa tidak menyerah saja sekarang … sebelum para Pengawas mendapat kesempatan untuk menyiksanya?

Air mata panas keputusasaan membasahi wajah Devi. Dia merasa sangat lelah.

Petrus merangkul pundaknya dan memeluknya erat-erat. Dia mencium ubun-ubun Devi dengan lembut, dan gadis itu membalas dengan menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Sebuah perasaan lain merayap di hatinya. Saat airmatanya membasahi bahu Petrus dan tangan pria itu membelai punggungnya, Devi merasakan cinta. Berbeda dengan cinta yang dia rasakan untuk neneknya, ini adalah sejenis cinta yang hanya dia dengar dari cara nenek menceritakan tentang suaminya. Perasaan yang belum pernah dia rasakan.

Perasaan Itu memberikan dorongan yang kuat untuk tetap hidup, mengubah keputusasaannya, mengenyahkan keinginan untuk menyerah dari pikirannya dan menggantinya dengan sebuah rencana.

Dia mendongak dari bahu Petrus dan memperhatikan bahwa di pipi pria itu juga mengalir air mata.

"Aku tahu apa yang harus kita lakukan untuk masuk ke dalam tanpa diketahui," katanya.

Petrus menutup matanya, mencoba menghentikan mata air yang merembes. "Baiklah." Nadanya menunjukkan bahwa dia sudah putus harapan.

“Bawa aku masuk dengan kertas ini. Mereka akan mengira kamu menangkapku. Mereka tidak akan membunuhku, hanya ingin menginterogasi. Jadi setidaknya kita bisa masuk ke dalam, dan mungkin cukup dekat dengan komputer untuk melakukan sesuatu sebelum kita ketahuan. Juga, Arsanto tidak akan sendirian.”

Petrus menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa membawamu ke sana, Devi…”

Devi melepaskan tubuhnya dari pelukan Petrus dengan marah. “Lalu kamu mau kita melakukan apa? Tetap di sini dan menunggu datangnya kematian? Kita harus masuk ke sana sekarang. Apa kamu punya ide lain supaya kita tetap hidup? Karena kenyataannya, kita mungkin akan mati malam ini. Lebih baik mati karena berjuang daripada terbunuh tanpa melakukan apa-apa!”

Petrus tampak kaget, dan yang membuat Devi semakin kesal, seulas senyum tipis tersungging di bibir pria itu. “Baiklah sayang. Kita akan mengikuti caramu. Yang perlu kamu sadari, tindakanku semata-mata karena instingku adalah melindungimu. Dan pikiran bahwa aku membawamu masuk ke sana menghancurkan hatiku, karena itu sama saja dengan aku menyerahkanmu kepada mereka. Paham, kan?”

Devi mengangguk. “Aku tahu, tapi ini satu-satunya cara.”