Now Loading

Malam Nan Mesra di York Hotel

Seusai makan di resto Kak Hamidah di Kandahar Street,  Laila datang menemui Asep.  Tidak lama mereka berdua izin ke Kak Hamidah untuk jalan-jalan ke Bugis Junction.

Lima menit kemudian, giliran  Azwar dan Eko yang pamit dengan alasan ingin kembali ke hotel dan setelah itu jalan-jalan.

Saya setengah terpaksa menemani Kak Hamidah mengobrol sebentar.  Berdua saja dan ternyata tanpa terasa kami berdua cepat akrab. Lagi pula dari segi usia, Kak Hamidah ini mungkin satu dua tahun lebih tua dari saya .

Pembicaraan kami panjang lebar mengenai pekerjaan saya di Brunei dan juga Singapura. lumayan asyik ngobrol di rumah makan ini di waktu menjelang senja mumpung pelanggan belum banyak.

“Kak Hamidah, Saya pamit dulu yah, ingin istirahat di hotel" kata saya ketika waktu mendekati pukul 5 sore.

"Baiklah dik Zai, tapi kalau Dik Zai sempat, bolehkan nanti malam sekitar pukul 8 setengah ke sini  lagi. Restoran akan tutup sekitar pukul 9 dan kita bisa ngobrol sambil jalan-jalan ke mana saja. Kakak sudah lama tidak ada yang ajak jalan-jalan."

Saya kaget setengah mati ketika Kak Hamidah mengajak berkencan. Tetapi tidak enak juga kalau menolak. Apa lagi walau sudah hampir berusia 40 tahun, Kak Hamidah ini lumayan cantik.

“Memang suami kakak tidak marah", Tanya saya.

“Saya sudah tidak punya suami, Nanti malam saya ceritakan”, Kata Kak Hamidah lagi.

Saya kemudian pamit dan pulang ke hotel. Cukup jalan kaki ke stasiun MRT Bugis lalu naik MRT ke stasiun City Hall dan dilanjutkan dengan jalan kaki dua ratus lima puluh meter ke hotel.

Sesampainya di hotel saya berbaring di kamar dan pikiran pun melayang. Saya berbicara kepada diri sendiri dan sempat marah mengapa tadi tidak menolak undangan Kak Hamidah untuk mampir dan diajak jalan-jalan malam ini. Mengapa kamu masih mau berkencan dengan perempuan yang lebih tua? Bukankah sudah ada istri di Jakarta dan juga sudah ada Laili di Brunei yang masih kinyis-kinyis?, demikian diri saya yang lain sempat menasehati.

Namun pesona Kak Hamidah tidak dapat saya tolak dan keinginan untuk sekedar berpetualang membuat saya tetap menepati janji.

Malamnya sekitar jam 8 saya kembali bersiap-siap. Dandan lumayan ganteng dengan stelan gaya anak muda. Tidak lupa juga  menyemprotkan parfum ke tubuh saya. Tidak sampai 20 menit saya sudah sampai di Kandahar Street. Suasana malam di Kampong Glam lumayan ramai dan restoran juga masih cukup ramai.

Ketika saya masuk, Hamidah ternyata sedang berdandan dan setelah menunggu sekitar 10 menit,  dia keluar menyambut saya dengan senyum yang manis.

"Wah, Kak Hamidah cantik sekali", tanpa sadar saya memuji.

“Ayo kita pergi katanya.” Katanya sambil menyembunyikan rona kemerahan di pipi bak gadis belasan tahun dirayu pacar.

“Bagaimana dengan restorannya”, Tanya saya lagi.

“Oh nanti ada staf saya yang mengurusi”

Kami berjalan sepanjang Kandahar Street dan kemudian naik taksi menuju ke kawasan Orchard Road. Tepatnya ke Mount Elizabeth.  Taksi berhenti di depan York Hotel dan kemudian menuju ke Carriage Bar.  
Kak Hamidah juga bercerita bahwa dulu sering ke sini bersama suami. 

“Di sini lagu-lagunya enak. Banyak lagu lama yang dimainkan dan kita bisa berdansa Kata Kak Hamidah lagi.

“Wow", Kata saya, Ketika kami masuk lagu-lagu Beatles sedang dimainkan dan yang juga mengasyikkan adalah pengunjung bar ini yang kebanyakan berusia di atas 40 sampai 50 tahunan. 

Setelah memesan makanan dan minuman, kami berdua sempat berdansa dan kemudian Kak Hamidah mulai bercerita sedikit tentang rahasianya.

“Zai, sesuai janji, akan kakak ceritakan sedikit mengenai kehidupan kakak”. Kakak dulu sudah bersuami . Namun perkawinan kita tidak langgeng. Hanya berusia 3 tahun dan suami meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Kami belum punya anak dan sejak saat itu saya menjanda.

“Mengapa kakak tidak bersuami lagi, Khan masih muda dan cantik?”, Kata saya

Walau dalam sinar lampu yang remang-remang, terlihat wajah Kak Hamidah yang merona merah mendengar pujian saya.

"Ah, Kamu sangat pintar merayu., Dik Zai punya anak berapa?"

Saya terdiam sejenak. Ingin rasanya menjawab belum beristri.  Namun kali ini saya tidak bisa berbohong karena Laila pun sudah tahu.
"Saya punya anak 3 orang", jawab saya.

"Kalau saja .....", Kata Kak Hamidah lagi seakan-akan berandai-andai. 

“Kalau saja apa?”, Tanya saya lagi.

“Atau saya mesti menjawab saya masih bujangan’, kata saya menggoda.

“Bisa saja kamu",  Kata Kak Hamidah sambil mencubit lengan saya dengan manja.

Tiba-tiba saja Lagu Saturday Night Fever nya John Travolta menggema di dalam ruangan dan banyak orang-orang sudah siap untuk berjoget. Hamidah juga segera mengajak saya untuk ikut berjoget ria.

Tidak berasa waktu sudah menunjukkan hampir pukul 11.30 malam ketika Hamidah bilang sudah waktunya untuk pulang.

Dari depan hotel kami naik taksi dan Hamidah menyebutkan suatu tempat di daerah Ang Mo Kio.

"Kenapa kita tidak ke Kandahar Street?"

"Saya tinggal di Apartemen di Ang Mo Kio sini. Laila juga tinggal bersama saya. Di Kandahar Street hanya ada restoran saja, jawab Hamidah lagi.

Ketika taksi sampai di Ang Mo Kio, Hamidah turun dan meminta sopir taksi untuk terus mengantar saya ke Peninsula Hotel di Coleman Street.

"Lain kali panggil saya Midah Saja!", kata Hamidah sebelum taksi saya jalan dan dia melambaikan tangan dengan mesra.

Suatu malam yang luar biasa. Kencan dengan Kak Hamidah dan mengintip sedikit mengenai rahasianya.

Bagaimana dengan Asep dan teman-taman yang lain. Ah selama di Singapura ini, karena kita mempunyai kamar masing-masing, biar lah mereka dengan acara masing-masing.

Selamat tidur Hamidah, semoga mimpi indah!

Bersambung