Now Loading

Kandahar Street

‘Kring. Kring. Kriiiiiiing., Telepon di kamar saya berbunyi nyaring. Saya terbangun dan segera mengangkat telepon itu. Rupanya dari Bang Zai yang mengajak untuk segera makan pagi di restoran hotel. Ini adalah hari pertama tugas kami di Singapura, dan ada baiknya kami tidak terlambat.

Saya segera mandi dan kemudian berpakaian. Lalu menyusul Bang Zai dan teman-teman yang ternyata sudah makan terlebih dahulu. Saya juga ingat bahwa tidak seperti di Brunei dimana kita mendapat fasilitas antar jemput. Di sini, kita hanya mendapat uang transport dan mesti pulang atau pergi sendiri dengan taksi atau angkutan lainnya.

Baru sebentar saya makan, Bang Zai, Azwar, dan Eko, sudah balik ke kamar masing-masing dan bilang agar saya cepat-cepat bersiap. Kami berempat akan naik taksi bersama.

“Jangan lupa titipan untuk bibinya  Laila, Dari Office kita langsung ke Kampong Glam”, Kata Bang Zai lagi

Hari pertama di Office, kami hanya melapor diri untuk tugas dan kemudian ada pembagian roster tugas sehingga untuk selanjutnya Empat  sekawan bisa tidak bersama-sama lagi dalam tugas. Singkatnya hari pertama ini, selepas makan siang kami sudah boleh pulang  dan besok baru masuk sesuai jadwal masing-masing.

Jam satu siang kami berempat sudah ada di kawasan kampong Glam dan mencari alamat di Kandahar Sreet yang ternyata tidak jauh Dari Sultan Mosque. Kami menyusuri jalan yang siang itu tidak terlalu ramai dan terkagum-kagum dengan bentuk arsitektur rumah-rumah berbentuk rumah toko tua yang rata-rata berlantai dua. Rumah tua yang sangat apik dan cantik dengan cat yang warna-warni. Bahkan lantai di kaki limanya juga sangat antik karena masih asli dari era kolonial.

Ketika sampai di alamat yang dituju. Kami sempat ragu karena merupakan sebuah rumah makan Melayu dan Minang yang terlihat lumayan ramai siang itu. Walau tidak terlalu besar. Kami segera masuk dan seorang lelaki pelayan restoran mempersilahkan kami duduk sambil memberikan daftar menu.

Ketika kami menyampaikan bahwa kami mencari seseorang yang bernama Kak Hamidah, lelaki itu tertegun dan berkata untuk menunggu sebentar.

Tidak lama kemudian, dari tangga atas muncul seorang perempuan berusia sekitar 35-40 tahun. Masih terlihat cantik dengan pakaian model Melayu. Tetapi rambutnya dibiarkan terurai.

Ketika saya menyerahkan bungkusan dari Mbak Titiek, perempuan itu segera membuka dan kemudian membaca surat yang ditulis Mbak Titiek. Kemudian dia tersenyum lebar dan berkata:

“Panggil saja saya Auntie Hamidah”, katanya lagi dan dia segera memerintahkan lelaki tadi untuk menyediakan minuman.

“Kecuali saya boleh panggil Kakak saja”, Kata Bang Zai menggoda.

Auntie Hamidah tertawa kecil, mengambil sebuah kursi dan duduk bergabung bersama kami.

“Adek Adek, ayo kita makan dulu sambil menunggu Laila pulang“ Kata Auntie Hamidah lagi sambil memberi isyarat kepada lelaki yang tadi menyambut kami untuk menyiapkan makanan.

Walau mula-mula menolak, akhirnya kami tidak menolak makan siang gratis yang lumayan lezat. Kami berempat makan sambil saya sekali-kali melirik ke jalanan berharap Laila segera datang.

“Yang mana nih yang bernama Asep?” Tanya Auntie Hamidah.

Saya tersenyum mengacungkan tangan seperti anak SMP di absen bu guru. Sementara Eko dan Azwar juga ikut mengacungkan tangan.

“Wah yang mana nih, pasti kamu yang paling ganteng”, kata Auntie Hamidah sambil tersenyum dan menunjuk saya.

Ternyata feeling Auntie Hamidah cukup tajam. Setelah itu saya memperkenalkan satu demi satu teman saya dimulai dari Bang Zai yang paling senior, dan kemudian Azwar dan Eko.

Selesai makan, seraya  menikmati kopi hangat, kami berempat terus bercakap-cakap dengan Auntie Hamidah walau sesekali dia harus melayani pembeli yang membayar. Tetapi restoran sudah mulai agak sepi sehingga kami lebih bebas duduk dan berbicara tanpa banyak gangguan.

Sekitar pukul 2.30, tiba-tiba saja Laila masuk ke ruangan restoran dan mengucapkan salam buat kami semua. Ternyata Laila hanya sorang diri tanpa ditemani Irma dan Noor.

Laila segera memberi tanda kepada saya untuk ikut dia ke luar. Saya keluar dan kami berdua berbicara di trotoar di depan restoran.

“Bang Asep, Laila rindu sama Bang Asep”

“Saya juga”

Saya kira Laila mau bicara yang penting. Tetapi ternyata hanya ingin menyatakan rindu

“Mana Irma dan Noor?” Tanya saya

“Mereka ada di Singapura, tetapi tidak tinggal di sini dan Auntie Hamidah juga tidak tahu kalau mereka ikut”

“Bang Asep, Bang Asep punya pacar baru yah di Singapura sini?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Saya hanya terkejut bagaimana Laila bisa tahu hubungan saya dengan Muthiah.

Selain itu, saya juga masih heran mengapa keberadaan Irma dan Noor seakan-akan dirahasiakan sehingga Auntie Hamidah bahkan tidak tahu.

Bersambung